WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 111


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


“Aku bisa melihat dan merasakan kalau kamu ga berbahagia, Lia.”


Irsyad berkata padaku, kala aku menemuinya setelah aku berseteru dengan Reiji di apartemen kami.


Aku dan Irsyad pergi ke Kebun Raya, setelah kami janji bertemu di parkiran gedung apartemennya. Irsyad mengundangku untuk mampir dulu ke dalam apartemennya, dan aku menolak undangannya itu dengan halus.


Dan tanpa memaksa Irsyad pun menghargai penolakanku itu. Lalu ia langsung mengajakku masuk ke dalam mobilnya. Setelahnya Irsyad mengajak untuk ‘mencari udara segar’ di luar Jakarta.


Lalu Kebun Raya yang berada di daerah Bogor itupun langsung saja terbersit di otakku, yang kemudian aku gagaskan pada Irsyad, dan ia pun langsung menyetujui gagasanku itu.


---


“Kak Irsyad sok tau deh....” Aku menanggapi ucapan Irsyad yang mengatakan jika ia melihat dan merasakan bahwasanya aku tidak berbahagia.


“Aku memang tidak bersahabat dengan kamu dari sejak kamu kecil, tapi untuk tahu apakah kamu bahagia atau tidak, aku dapat dengan jelas membacanya, Li.”


Irsyad berkata lagi.


“Oh ya?. Ada tulisan ‘Malia tidak bahagia’ emangnya di muka aku?....”


Lalu aku menanggapi lagi ucapan Irysad dengan mencoba berkelakar, tapi pahit aku rasa.


Irsyad yang seolah peka dengan kadar kebahagiaanku saat ini, mengapa ia tak peka pada perasaanku padanya dulu?....


“Apa yang terjadi dengan kamu, Lia?....”


Dan kelakarku sepertinya tidak ampuh pada Irsyad.


“Yang terjadi dengan aku?” gumamku, balik bertanya pada irsyad.


“Kamu berubah, Lia.... Jangan kamu pikir aku tidak sadar akan itu. Dan perubahan diri kamu yang aku lihat sekarang ini, ga pernah aku bayangkan sebelumnya....”


Irsyad seperti sedang ingin menguak semuanya tentangku saat ini.


Tatapannya padaku mengatakan tentang hal itu, kala ia menghentikan langkah di kala kami berdua sedang berjalan di sebuah taman dalam kawasan kebun raya yang dibangun pada tahun 1884.


“Perasaan Kak Irsyad aja itu sih. Aku masih Malia yang sama kok....”


Aku menanggapi ucapan Irsyad dengan masih tersenyum simpul.


Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah depan, dan mengayunkan kembali kakiku untuk melangkah santai.


Aku tidak mau Irsyad menyadari senyum yang aku paksakan ini.


Tak mau dia menyadari jika aku sedang memakai topeng ‘baik-baik saja’ dihadapannya sekarang, lalu kemudian ia menguak topeng yang kupakai ini, lalu menangis dihadapannya. Menangisi takdir yang membelengguku dalam sebuah perjodohan, meskipun sebenarnya selama kurang lebih lima bulan ini pernikahanku dan Reiji tidak buruk.


Setidaknya sebelum kenyataan tentang wanita yang dicintai Reiji dimasa lalu yang jejaknya ia bawa kedalam kehidupan baru kami, dan sebelum Irsyad datang kembali ke kehidupanku sekarang ini. Dan hubungan apa yang sebenarnya sedang terbangun antara aku dan Irsyad saat ini, atas pertemuan-pertemuan kami yang intens beberapa waktu belakangan, termasuk hari ini.

__ADS_1


“Malia yang dulu aku kenal adalah gadis yang bersemangat, tanpa ada kelesuan sedikitpun di wajahnya ... Dan aku bayangkan jika gadis yang bersemangat, ceria dan terkadang naif yang aku kenal itu menjadi pribadi yang lebih bersemangat dikemudian hari ----”


Aku menarik lebih tinggi sudut bibirku mendengar penuturan Irsyad barusan itu.


“Tapi nyatanya, sekarang jangankan kenaifan untuk berada di puncak tertinggi karir yang kamu inginkan. Kobaran api semangat yang dulu aku lihat dari seorang Malia Leonard sepertinya sangat redup sudah ...”


“Kak Irsyad dah macem motivator yang sedang menyemangati seseorang yang sedang terpuruk –“ Aku kembali berkelakar, dan terkekeh kemudian.


“Kamu tidak sedang berbahagia, dan kamu sedang berusaha menyembunyikannya ...”


Tapi Irsyad tampak serius berbicara padaku.


“Trus kak Irsyad ga ada niatan cari pacar atau istri gitu? ...”


Aku coba untuk mengalihkan topik pembicaraan. Seperti yang selalunya aku lakukan, jika pembicaraan Irsyad mengarah pada kondisi pernikahan yang sedang aku jalani bersama Reiji sekarang.


Dan sungguh saat ini aku sedang melupakan dulu masalahku dengan Reiji, dan biarkan saja hal itu tersimpan di dalam apartemen – tempat tinggalku dan Reiji. Namun kemudian, jawaban Irsyad membuatku membeku.


Seolah topik pembicaraan yang menjadi pengalihanku atas bahasan Irsyad sebelumnya menjadi sebuah bumerang yang mengobrak - abrik hatiku.


“Satu – satunya perempuan yang aku bayangkan dan harap – harap jadi istriku, telah menerima perjodohan untuk menikah dengan orang yang tidak dia cintai....”


Aku terdiam, saat aku dan Irsyad memang sedang berhenti sejenak, lalu ia mengambil gambarku dengan kamera DSLR – nya. Aku menyerap kata – kata Irsyad barusan.


Didetik setelahnya aku membeku.


Karena kemudian aku menyadari, jika perempuan yang ia maksud adalah aku.


Dimana tangan Irsyad tahu-tahu telah menggenggam tanganku.


Dan rasanya, enggan aku tepiskan tangan Irsyad yang menggenggam tanganku itu.


Untuk sesaat aku melupakan, jika aku adalah wanita bersuami, yang tidak seharusnya membiarkan laki – laki lain menggenggam tanganku.


Tapi bagaimana?... aku merindukan genggaman tangan Irsyad ini yang dulu pernah beberapa kali aku rasakan, meski kami tidak memiliki hubungan spesial.


“Dengan hanya bertemu seperti ini saja – meski aku tahu kamu sudah menikah, aku sudah merasa bahagia, Lia. Namun aku sungguh berharap dapat lebih berbahagia lagi, jika seandainya kamu menikah denganku --“


Dan jantungku... Rasanya berhenti berdetak.


---


“Kamu darimana?..”


Satu  kalimat pertanyaan itu yang menyambutku kala aku sampai di apartemen setelah aku menghabiskan waktu hampir seharian bersama Irsyad.


Dan kulihat apartemen yang merupakan tempat tinggalku dan Reiji tak serapih biasanya. Ada kaleng minuman yang tercecer di lantai, serta pintu balkon yang terbuka lebar.


Aku pikir Reiji lupa menutup balkon setelah ia mungkin berada di sana entah untuk berapa lama, sebelum ia kembali ke kamar dan aku pikir – serta aku harapkan sebenarnya, bila Reiji telah tertidur.


Semata – mata untuk menghindari interogasi Reiji padaku yang pergi hampir seharian ini.


Namun nyatanya, Reiji belum tertidur.

__ADS_1


Dan saat aku hendak menutup pintu balkon, aku sungguh terkejut dengan pintu balkon yang tertahan kala aku geser – berikut suara Reiji yang bertanya darimana aku dengan nada suaranya yang datar sambil menatapku, namun ia masih duduk di tempatnya.


“Aku kan udah bilang tadi, ketemu temen!” jawabku acuh tak acuh pada Reiji.


Dan kudengar Reiji menggumam. Gumaman yang pelan, namun masih terdengar oleh telingaku, dan gumaman Reiji itu juga terdengar remeh dan sedikit sinis.


“Temen yang mana?”


“Aku kasih tau juga kamu ga kenal..” Aku menjawab sambil lalu.


“Lia, aku nih lagi ngomong sama kamu!”


Dan nada suara Reiji aku dengar menjadi sedikit naik.


Namun tak aku perdulikan, dan aku melangkahkan kaki menuju kamar kami sambil aku menyahut acuh tak acuh pada setiap ucapan Reiji.


“Temen yang kamu maksud itu, Irsyad namanya?—“


Hingga satu kalimat pertanyaan ketus yang keluar dari mulut Reiji itu membuatku langsung membalikan tubuh dan menatap padanya.


Aku sungguh terkejut mendengar Reiji menyebut nama Irsyad. Bagaimana Reiji tahu tentang Irsyad? ..


Dan aku  pun rasanya gagu, saat kudengar kalimat yang metupakan pertanyaan dari Reiji barusan itu.


Sambil otakku berpikir tentang bagaimana Reiji mengetahui soal lelaki dari masa laluku itu.


“Si Lelaki Im-pi-an-nya Malia?!”


Dan akhirnya aku tahu, darimana Reiji mengetahui soal Irsyad, setelah Reiji berkata seperti itu.


Dari Avi.


Siapa lagi?.


Hanya dia seorang yang tahu tentang Irsyad yang menjadi lelaki impianku selama ini.


“Ngomong apa Avi sama kamu?!” Langsung aku tembak Reiji dengan pertanyaan itu.


“Hanya itu, Irsyad lelaki impianmu!”


Dan memang benar dugaanku, Reiji mengetahui soal Irsyad dari Avi. Karena Reiji tak menyangkal ucapanku yang langsung kuarahkan pada Avi yang bercerita padanya soal Irsyad.


Hanya saja aku memikirkan, kenapa Avi tahu-tahu cerita tentang Irsyad pada Reiji?...


Apa Avi membaca gelagatku yang masih memiliki rasa pada Irsyad sejak aku ceritakan tentang lelaki impianku yang muncul kembali itu?..


Tapi kenapa Avi tidak bertanya lebih dulu padaku, untuk memberitahukan soal Irsyad pada Reiji?....


Apa karena Avi menyadari jika aku masih memiliki rasa pada Irsyad, dan ia memberitahukan pada Reiji sebagai bentuk antisipasi?.


Lalu setelahnya, apa?....


----

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2