
Selamat membaca....
****************
“Eenggg ...”
Suara gumaman samar terdengar dari seseorang yang tengah tidur dengan seorang wanita dalam rengkuhannya.
Yang mana suara gumaman itu adalah milik Reiji, yang tidurnya terganggu karena merasa ada pergerakan tepat didekat tubuhnya itu.
Dan orang yang melakukan pergerakan tersebut adalah Malia, yang telah lebih dulu bangun dari tidurnya sebelum Reiji sedang menuju kesadaran itu.
⌛
Malia yang sempat menoleh ke arah belakangnya setelah menyadari ada tangan yang melingkar di perutnya itu --- berikut hembusan nafas teratur yang ia rasakan menyapu tengkuknya, kemudian membeku di posisinya karena sedang merasa sedikit kikuk selain malu --- karena mengingat bagaimana sikap agresifnya dalam melakukan ‘hubungan suami istri’ dengan Reiji sebelum mereka berdua jatuh terlelap.
‘Lia. Udah bangun kan dia? ... tapi kok malah mematung gitu? ...’ Reiji yang sudah mulai kembali ke alam sadarnya saat Malia bergerak sebelumnya itu membatin, namun ia belum lagi bersuara dan menegur Malia.
Reiji kemudian mengulum senyum yang tak Malia lihat pada posisinya yang masih memeluk Malia dari belakang itu.
‘Jangan – jangan efek itu obat masih nyisa, dan Lia kepengen lagi? ... tapi Lia malu – malu buat mulai duluan ... kalo gitu gue yang harus berinisiatif! ...’
Lalu Reiji membuat kesimpulan sendiri, yang tentunya bisa menguntungkan dirinya itu.
⌛
Malia sebenarnya bangun karena gemuruh di perutnya atas rasa lapar yang ia rasakan, tapi karena fakta yang diketahui Reiji berikut Malia memang menunjukkan gelagat jika istri Reiji itu telah sepenuhnya di kuasai obat perangsang sebelum Malia dan Reiji tertidur karena kelelahan setelah beberapa kali main ‘kuda – kudaan’ --- yang Reiji pikirkan adalah, masih ada sisa efek dari obat perangsang yang diberikan Irsyad pada Malia sebelum Reiji datang untuk menyelamatkannya.
“Kalau mau mulai ronde baru lagi, aku siap ...”
Yang pada akhirnya Reiji membuat kesimpulan sendiri, hingga menjalankan insiatif m*sumnya atas Malia.
Dan karena memang juniornya cukup peka dengan gerakan Malia saat istrinya itu mulai siuman beberapa saat sebelumnya.
Lalu semakin peka, saat Reiji menyadari jika ‘si kecil’ miliknya yang dapat menjadi besar secara otomatis itu --- menempel di bongkahan belakang Malia.
“Heu?? ...”
“Ayo, abis di sini nanti kita main di kamar mandi.“
Malia sudah hendak menyergah, namun Reiji keburu telah memposisikan tubuhnya mengukung tubuh Malia dengan satu tangan Reiji yang menopang tubuhnya itu agar tidak menimpa Malia.
'Mati gue!' hati Malia memekik horor.
⌛
REIJI
Setelah sebelumnya aku dibuat melongo karena Lia minta nambah, disaat kami berdua belum lama mendapat pelepasan kami --- kini aku lihat Lia yang melongo setelah aku mengukung tubuhnya dan mengatakan jika aku siap untuk ‘bertempur’ lagi.
Ya kan bukan tanpa sebab aku berpikir seperti itu ...
Dari Ammar aku mendapat informasi jika Lia telah diberi obat perangsang oleh si bibit pebinor b*jingan --- si Irsyad keparat!.
Lalu Lia menunjukkan gelagat jika obat perangsang itu bekerja di tubuhnya, bahkan Lia menjadi sangat liar dari biasanya --- ya memang ga pernah liar sih Lia saat kami sedang bercinta.
Hanya agresif saja --- itupun kadang – kadang.
__ADS_1
Lalu paling – paling kami melakukan sesi bercinta sebanyak dua ronde dalam sehari.
Itu juga akan terjeda dengan aktifitas kecil yang kami lakukan --- makan misalnya. Tapi tadi, Lia benar – benar liar. Bahkan selalunya dia yang meminta ‘nambah’ sampai kami melakukannya hingga tiga ronde, dengan jeda waktu yang amat sangat tipis.
Jadi jangan salahkan aku, jika aku berpikir bahwasanya sisa – sisa efek obat perangsang di tubuh Lia masih ada, ketika aku terbangun dari tidurku yang kelelahan akibat sesi bercintaku dengan Lia yang sampai tiga ronde itu dalam kurun waktu yang cepat jedanya.
--
Aku tak menunggu jawaban Lia, dan langsung menyelusupkan wajahku di lehernya.
“Emhhhh ...”
Lia mengerang samar.
“Rei ...” sebutnya kemudian, sambil menarik pelan kepalaku hingga aku kemudian mengangkat kepalaku dan membuat wajahku dan Lia saling berhadapan.
“Kenapa, hm? ...”
Akupun bertanya.
“Mau di kamar mandi aja sekalian mandi?” Aku bertanya lagi dengan pede dan m*sumnya. “Ayo!” pedeku lagi.
⌛
Reiji sudah terbayang akan ‘menjelajahi’ tubuh Malia di bawah kucuran shower atau mungkin di bathtub dalam penthouse milik salah satu bosnya.
“Rei, aku laper.”
Namun ucapan Malia barusan membuat bayangan m*sum Reiji itu buyar.
‘Ah ya ampun! ... Sampe lupa gue tanya apa Lia dikasih makan sama si bibit pebinor bjingan itu apa engga selama Lia ditawan sama si keparat itu!*’
'Otak mesum lo ga ada akhlak emang, Ji!' rutuk Reiji lagi pada dirinya di dalam hatinya itu.
“Banget.”
Reiji lalu tersenyum geli sendiri.
Merutuki dirinya yang kelewat mesum kalau sudah dekat – dekat dengan Malia, apalagi karena ingat ‘keliaran’ Malia saat ‘menunggangi’ dan ‘ditungganginya’ beberapa saat sebelum mereka berdua jatuh terlelap.
“Ya udah, aku siapin makanan buat kita dulu ...“ tutur Reiji dan hendak beringsut dari atas tubuh Malia. Namun sebelumnya Reiji mengecup ringan kening, kelopak mata, hidung, pipi dan berhenti di bibir ranum Malia yang menjadi candu bagi Reiji. “Ngomong – ngomong, tadi kamu amazing, Yang ...” goda Reiji setelahnya. “Sekali lagi sebelum makan? ...”
Yang mana ucapan Reiji barusan membuat Malia melotot tajam kepada Reiji.
“Istrinya kelaperan inii! ...” dengan Malia menyampaikan keluhannya. “Omesnya disingkirin dulu bisa?????” keluh Malia lagi.
Reiji pun langsung terkekeh geli.
⌛
Reiji beringsut dari tubuh Malia selepas menggodanya sebentar.
“Kamu mau makan apa, Yang? ----“
“Apa aja, Rei. Yang penting bisa nambel perut aku yang keroncongan.”
“Ya udah kalo gitu.”
__ADS_1
Reiji menyahut pada Malia sambil mengenakan pakaian milik si empunya penthouse yang Reiji pinjam.
⌛
MALIA
Aku melirik Rei yang sedang mengenakan pakaian, sementara aku masih bergulung di dalam selimut.
Dan aku rasa masih ada sisa – sisa obat perangsang sialan yang si biadab Irsyad suntikkan ke tubuhku ini, karena aku spontan meneguk air liurku saat melihat tubuh polos Rei saat ia beranjak dari tempat tidur untuk berpakaian.
Badanku sudah rasanya luluh lantak, tapi desir tak berakhlak membuat sesuatu di inti tubuhku berdenyut tanpa permisi ketika melihat tubuh Rei yang polos itu --- padahal aku sudah sangat sering melihatnya begitu.
Tapi untungnya, kali ini aku dapat melawan desir yang hadir atas sisa – sisa obat perangsang yang diberikan Irsyad padaku yang mungkin sudah hampir hilang efeknya --- jadi aku dapat menahan diri untuk tidak ‘menyerang’ Rei.
Lagipun, aku masih merasa lemas saat ini --- meskipun sudah sempat tertidur pulas setelah bercinta beberapa kali dengan Rei, karena dorongan dari obat perangsang yang diberikan oleh si biadab Irsyad padaku.
--
Aku terus memperhatikan Rei yang sedang berpakaian, hingga aku menyadari jika kaos dan celana rumahan yang Rei pakai itu bukan miliknya --- karena aku tahu persis semua barang – barang yang Rei punya.
Dan bicara tentang barang – barang yang Rei punya, yang mana aku tahu satu per satunya.
Aku menjadi teringat satu barang Rei yang aku lihat di suatu tempat sebelum aku akhirnya diculik Irsyad.
Sepatu kerja Rei yang aku lihat di apartemen si bibit pelakor, ketika aku menangkap basah Rei yang ada di sana.
Membuatku jadi teringat seorang bocah laki – laki yang memanggil Rei dengan sebutan ‘Papi’.
Apakah ... anak itu adalah anak tersembunyinya Rei dan sahabat perempuannya itu?
Aku tanyakan sekarang ga ya? ...
Dan apa Rei akan memberikan aku jawaban yang jujur?
Lalu jika benar apa yang aku duga dan takutkan, apa aku bisa menerimanya? ...
Ah, tak tahulah. Aku malas membahasnya sekarang.
“Kenapa Yang? ...” suara Rei membuatku terkesiap. “Ada yang kamu rasa ga enak? ...”
Aku sontak memandang pada Rei yang ternyata sudah duduk di sisi ranjang tempatku berada. “Ga apa – apa ...” jawabku. “Ngomong – ngomong ini dimana Rei? ----“
“Penthousenya salah satu anggota keluarga Sultan, Yang. Dia minjemin ke aku penthousenya ini, karena kamu pingsan tadi.”
Jawaban Rei padaku, sambil ia mengelus lembut rambutku. Dan aku pun ber oh ria. Lalu satu hal terbersit di kepalaku.
“Rei, Irsyad ----“
“Jangan sebut namanya!”
Rei menyergah dengan keras ucapanku dengan rahangnya yang aku lihat mengeras.
“Maaf, tapi ----“
“Udahlah, Yang. Ga usah mikirin keparat itu! Andai kamu ga pingsan tadi, mungkin aku udah menembak kepalanya!” geram Rei. “Tapi kalo nanti ada kesempatan, aku ga akan sungkan menghabisi dia!”
Aku spontan meneguk salivaku. Kali ini dengan rasa takut dalam hati.
__ADS_1
⌛⌛⌛
Bersambung ......