WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 170


__ADS_3

Selamat membaca...


***


REIJI


“Kayaknya ada yang beda deh dari kalian?-“


Kalimat itu yang menyambut kedatanganku dan Lia saat kami sampai di rumah orang tua istriku itu, setelah dari Mal kami memutuskan untuk mengunjungi orang tua kami secara bergantian.


“Masa? ...” sahutku pada mama mertua yang masih cantik diusianya, kurang lebih sama seperti mama kandungku juga yang tetap cantik diusianya. Alhamdulillah keduanya pun masih sehat wal afiat.


“Kalau mata batin Mama lihat, sepertinya anak dan menantu Mama dan Papa, keliatan lebih mesra manjalita gimanaa gitu?” kata mama mertuaku dengan menyipitkan matanya padaku lalu pada Lia dengan ekspresi yang bisa membuatku tersenyum lebar.


Begitulah mertua perempuanku itu. Dia dan suaminya-papanya Lia, itu ngocol orangnya.


Tapi kenapa Lia ga mewarisi ‘ngocol’ nya kedua orang mertuaku itu ya? ...


Malah rada jaim-an itu Lia.


---


“Apa si Maa? –“


Lia bersuara sambil cipika cipiki dengan mamanya.


“Tapi emang kayaknya ada yang beda diantara kalian berdua kok Mama perhatiin?”


Kalau ada yang bilang seorang ibu itu peka pada anak – anaknya, ya mungkin itu bisa aku katakan pada mama mertuaku ini.


“Kayaknya aura kalian tuh...” Mama mertuaku yang sudah duduk disamping papa mertuaku itu lanjut bicara. “Kayak aura penganten baru...” kata mama mertuaku lagi. “Bercahaya, sumringah!”


---


Aku tersenyum lebar mendengar ucapan mama mertuaku, perihal auraku dengan Lia yang berbeda katanya.


“Alhamdulillah deh kalo emang kami berdua bagus auranya sekarang. Soalnya anak perempuannya Mama sama Papa udah cinta juga sama suaminya.” Aku tidak bisa menahan diri untuk mengatakannya.


“Alhamdulillah –“ kedua mertuaku itu sama-sama berucap syukur sambil dengan wajah yang berbinar. “Bener itu Lia? –“


Lia yang sudah mengecup pipi papanya seperti halnya yang ia lakukan pada mamanya itupun tersenyum pada kedua orang tuanya sambil ia duduk tepat disampingku, lalu bersandar manja di bahuku.


“Iya, Pa, Ma...” jawab Lia. “Lia udah cinta juga sama Rei. Sama kayak Rei ke Lia,” sambung Lia, tersenyum pada kedua orang tuanya, dan menoleh padaku dengan tetap tersenyum setelahnya.


Lalu kami berempat, sama-sama tersenyum bahagia. “Mudah-mudahan calon cucu cepet muncul ya kalo gitu.”


“Aamiin. Insya Allah.”


**


“Eh iya ngomong-ngomong, bukannya kamu harusnya kerja Li?..”


Papanya Malia buka suara untuk bertanya, dan Malia tak lama mengangguk mengiyakan.


“Harusnya, Pa..” Lalu Malia menyahut.


“Kamu lagi kurang enak badan?”


“Bisa dikatakan begitu,” jawab Malia lagi pada papanya.


Kemudian Malia melirik pada Reiji yang mesam-mesem setelahnya.


Lalu mencebik dan menggumam sebal, dimana cebikan dan gumaman Malia itu tentulah tertuju pada Reiji.

__ADS_1


“Agak kecapean dikit Pa, Ma, Neng Lianya.. Dalam rangka usaha keras buat ngasih cucu dengan cepat buat papa, mama, sama pasangan hebring yang satu lagi.”


“Ish!” Dimana Malia langsung mendesis sebal pada Reiji. “Mulutnya kalo ngomong!“


Sambil meraup bibir Reiji yang Malia kerucutkan kemudian, saking suaminya itu bicaranya blak-blakan pada kedua orang tua Malia yang sontak terkekeh geli setelah mendengar ucapan Reiji-yang mana kedua pria dan wanita paruh baya itu, paham betul maksud menantu mereka.


Dan setelahnya, baik Malia, Reiji serta kedua orang tua Malia itu, terlibat pembicaraan santai di ruang keluarga pada rumah orang tua Malia tersebut.


**


MALIA


Aku dan Rei dipersilahkan papa dan mama untuk beristirahat di kamar kami dalam rumah kedua orang tuaku itu, selepas kami bercengkrama santai saat aku dan Rei datang lagi. Mumpung Rei libur sampai dengan hari minggu, begitu juga aku, kami berdua memutuskan untuk mengunjungi kedua orang tua kami dan menginap satu malam dimasing-masing rumah kedua orang tua kami nanti.


Aku memanfaatkan waktu yang ada untuk benar-benar merebahkan diri, karena memang badanku masih memiliki sisa-sisa rasa pegal dari perbuatan si Reiji Shakeel semalam itu.


Biar aku bongkar nanti tasnya, karena aku curiga dia minum obat kuat. Dan kalau sampai dia membombardirku malam ini seperti semalam lagi, Fix, aku yakin jika Rei mengkonsumsi obat kuat pria.


“Yang –“


Aku terkesiap sekaligus merinding kala suara Rei terdengar begitu dekat di telingaku, berikut hembusan nafasnya yang terasa disebagian pori-pori wajah dan leherku.


“Ish ngagetin aja!”


Aku sontak mencebik dan mengepret lengannya yang merengkuh pinggangku dari belakang itu.


Rei terkekeh kecil.


“Siapa suruh hobi banget bengong?”


“Siapa yang bengong?. Orang aku ngantuk!”


“Yah, baru mau ngajak bikin dedek bayi, sambil mau liat kamu ngepasin itu lingerie..” kata Rei sambil mengecup ringan leherku.


“Apaan ga ada! Ngantuk berat!”


“Canda-“


Rei berujar kemudian, sambil membuatku berbalik hingga berhadapan dengannya.


“Jangan lagi sengaja tidur dengan membelakangi aku,” ucap Rei kemudian. “Kecuali kalo emang ga sengaja saat kita udah saling pulas. Kalo kamu tidur ngebelakangin aku, jadi inget kamu yang di mataku sering terlihat tertekan, waktu kita masih kayak sepasang orang asing yang tinggal satu atap, yang terjebak sama pernikahan atas kesan perjodohan paksa. Dan kamu ‘melayaniku’ hanya atas dasar status, bukan cinta ..“


Rei tersenyum lurus sambil menatapku, lalu menunjuk dada kirinya, kemudian bilang,


“Sedikit banyak, pernah ada perih disini..”


Aku tertohok.


---


“Maaf, Rei-“


“It’s okay, Yang,” tukas Rei sambil merengkuhku yang tergugu, dengan ungkapan kejujuran Rei, atas luka yang pernah dirasa oleh hatinya karena diriku. “Semua kan udah berlalu?”


Rei lanjut berujar sambil mengangkat daguku, hingga aku mendongak dan menatapnya.


“Kamu udah cinta sama aku kan sekarang?” tanya Rei kemudian.


Akupun mengangguk cepat dan tanpa ragu.


“Mungkin ga sebesar rasa cinta yang kamu punya buat aku, tapi aku udah takut kehilangan kamu, Rei ..” jujurku.


Dan aku dapat melihat binar bahagia di mata Rei sambil ia menatap dan tersenyum padaku.

__ADS_1


“I love you ..” bisikku mesra, lalu mengecup sekilas bibir Rei dengan lembut.


“I love you more ..” balas Rei yang memberikan kecupan balasan padaku, lalu tak lama kami sama-sama terlelap.


---


Aku dan Rei terbangun kala waktu maghrib telah tiba.


Setelahnya kami bergegas untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat, berjamaah dengan papa dan mamaku.


Lalu, aku dan mama beserta Bibi, mulai menyiapkan makan malam untuk kami semua. Sementara Papa dan Rei bermain catur sambil menunggu makan malam siap.


Lalu kami berempat bercengkrama lagi, hingga kedua orang tuaku sudah merasa mengantuk dan berpamitan padaku dan Rei untuk duluan beristirahat.


“Kamu masih mau disini kan Rei?” tanyaku pada Rei yang sedang menonton film di ruang keluarga rumah orang tuaku ini.


“Iya, nanggung. Kenapa? .....” Reiji menjawab, lalu balik bertanya.


“Ga apa-apa, aku soalnya mau ngambil hape dulu di kamar-“


“Ohh-“


“Bulet.”


Rei mendengus geli, karena timpalanku.


“Sekalian bawain hape aku juga ya?”


Aku pun mengiyakan permintaan Rei dengan anggukan.


---


Kamu ga kerja hari ini, Lia?


Satu pesan chat itu yang kulihat masuk ke ponselku, diantara beberapa pesannya yang lain.


Yang tadinya enggan aku buka.


Kenapa? Kamu sakit?


Namun melihat angka lebih dari dua tertera di kolom chatnya, aku jadi penasaran kemudian membuka kolom chat dari seseorang yang ingin aku buat jarak dengannya.


Pesan chat dari Irsyad.


Yang tidak membuat aku kaget dengan pertanyaannya yang itu, karena satu rekan kerjaku tadi mengatakan jika Irsyad datang mencariku di kantor.


Hanya saja, aku enggan membalasnya.


Selain itu, pesan chat Irsyad agak banyak dan terkesan tergesa.


Kamu dimana sekarang?


Di Apartemen?


Need something?


Dan pesan yang paling baru dari Irsyad, membuatku menganga kecil.


Bisa turun ga? Suami kamu lagi terbang ga?


Kalaupun dia ada, turun sebentar. Aku di parkiran apartemen kamu. Kangen.


Oh Tuhan.

__ADS_1


---


Bersambung..


__ADS_2