
Selamat membaca...
***
MALIA
“Kamu bilang handphone kamu lowbat – Tapi kok kamu ga charge itu handphone? – Setau aku kalo handphone kamu lowbat, kamu tuh kalang kabut dan buru-buru charge itu handphone ... tapi ini kamu diemin aja ... Jadi aku heran. Handphone kamu beneran lowbat, atau sengaja kamu matiin itu Handphone karena ada sesuatu.”
Aku tergugu dengan rangkaian ucapan Rei barusan itu. Aigo, kenapa Rei bisa sampai begitu memperhatikan hal-hal kecil tentangku sih?...
Aku agak panik sebenarnya. Bagaimanapun aku telah memutuskan untuk tidak mengatakan apa yang aku alami semalam pada Rei. Aku tidak ingin Rei menjadi murka lalu mencari Irsyad untuk menghajarnya.
Toh aku juga sudah tidak ingin lagi ada urusan dengan Irsyad, jadi aku simpan saja perlakuan kurang ajar Irsyad padaku semalam. Rei tak perlu tahu, pun aku tidak ingin Rei berpikir buruk tentangku setelah hubungan kami yang sudah sebaik dan semesra ini.
Dan untuk itu, sekarang-aku coba membuat ekspresi biasa-biasa saja dihadapan Rei. Jadi aku tarik sudut bibirku dan menatap pada Rei. Kugenggam juga tangan satu tangan Rei yang ada di atas meja makan. “Kamu curiga sama aku?” ucapku seraya bertanya kemudian.
Rei menarik sudut bibirnya. “Engga –“
“Tapi ucapan kamu tadi menggambarkan begitu? –“
“Engga, Yang. Engga gitu maksud aku,” tukas Rei. “Sama sekali bukan aku curiga. Cuma agak heran aja, secara kamu manusia jaman now yang ga bisa ketinggalan hp. Grasak-grusuk biasanya kalo hp kamu lowbat.”
“Masa iya?”
Gantian aku yang menukas ucapan Rei.
“Ya emang gitu kan kamu? –“
“Fitnah...” candaku.
“Kenyataannya begitu...”
“Duh, paham banget suami.”
“Reiji Shakeel gitu loh. Coba itu istrinya Abang Rei beruntung banget kan? –“
“Iyaaa –“
“Ga ikhlas amat iya nya?”
Sambil Rei menjawil daguku.
Aku terkekeh kecil. “Nih kalo mau mastiin keraguan kamu.”
Setelahnya aku menyodorkan ponselku pada Rei.
Harap-harap cemas sebenarnya, jika Rei akan menerima kemudian benar-benar mengecek apakah ponselku memang lowbat atau tidak.
Tapi didetik berikutnya aku bisa merasa lega. “Aku ga raguin kamu, Yang... Aku tuh Cuma agak heran aja, kamu yang biasanya kalang kabut kalo hp kamu mati, tapi jadi malah santai aja...”
Karena Rei mendorong kembali ponselku yang aku sodorkan padanya itu.
Aku mengulas senyuman kemudian. “Aku lagi males aja nanggepin Pak Andra----“ alibiku yang merupakan sebuah dusta.
“Lagi ada proyek baru?” tukas Rei seraya bertanya padaku.
“Iya...” jawabku. “Bener nih ga mau cek hp aku?”
Aku mengalihkan sejenak pembicaraan dengan membahas lagi ponselku pada Rei.
Stupid emang aku nih kadang-kadang.
__ADS_1
Seharusnya aku memanfaatkan momen Rei yang sudah menolak untuk mengecek ponselku dengan langsung memasukkan benda pipih itu ke dalam tas kerjaku.
Tapi dari kejadian ponsel lowbatku yang mana ‘lowbat’ adalah alibiku untuk tidak mengaktifkan ponselku dari sejak aku sampai di rumah kedua orang tuaku agar aku tidak diganggu oleh Irsyad yang bisa jadi masih mencoba menghubungi dan mengirimkan pesan chat padaku, maka aku membahas lagi tentang ponsel yang aku tawarkan lagi pada Rei untuk memeriksanya apakah aku bohong atau tidak.
Karena dari hal ini aku jadi tahu, jika Rei benar-benar pemerhati. Dan aku tidak ingin ia beranggapan pembahasan soal Pak Andra itu sebagai pengalihan saja dariku. Padahal sih emang iya. Tapi untung Rei tetap kekeh tidak mau menerima tawaranku. Dan menyuruhku memasukkan ponselku ke dalam tas kerjaku.
“Andra cerewet banget emang kalo di kantor?” lalu Rei kembali bertanya, saat aku sedang memasukkan ponselku ke dalam tas kerjaku.
“Cerewetnya Pak Andra tuh kalo lagi ada proyek baru aja sih.”
“Galak juga?...”
Reiji kembali bertanya.
“Kadang-kadang.”
“Semana galaknya?”
“Suaranya bisa bikin goyang ruang meeting kalo lagi marah pas ada karyawan yang ga becus kerjanya.”
Aku terkekeh kecil setelah menggambarkan kemarahan Pak Andra secara hiperbola, dan Rei pun ikutan terkekeh.
“Jadi penasaran liat marahnya si Andra yang selengean itu,” kekeh Rei.
“Pak Andra ga ada selengeannya tau kalo di kantor Rei,” ucapku. “Makanya aku kaget liat sikapnya pas waktu kamu ada di ruangannya itu-“
Rei tersenyum geli.
“Tapi kamu pernah kena marahnya Andra?”
“Alhamdulillah engga. Tapi dicerewetin sering.”
Aku sudah hendak bersiap untuk berangkat, kala ponsel Rei berdering.
**
“Papa siapa?”
Malia sontak bertanya pada Rei setelah ia mengatakan siapa orang yang menghubungi ponselnya.
“Papa Bram... mau kamu yang terima? –“
“Kamu aja dulu, Rei,” tukasku. “Aku mau naro ini piring kotor dulu.”
Rei mengangguk.
**
“Yang...”
Reiji mendekati Malia yang sudah kembali ke ruang makan setelah berbicara dengan Bibi pengurus di rumah orang tuanya.
Lalu Reiji menyodorkan ponselnya pada Malia. “Papa mau ngomong.”
“Oh iya...”
Malia menyahut seraya menerima ponsel Reiji dari tangan si empunya.
“Halo, Assalamu’alaikum Pah –“
“.......”
__ADS_1
**
MALIA
“Rei...” panggilku pada Rei setelah aku selesai berbicara dengan papa dan juga mamaku disambungan telepon menggunakan ponsel Rei.
“Jadi gimana?...” cetus Rei saat aku mengembalikan ponselnya.
“Gimana apanya? –“
“Masih mau nginep disini apa mau balik ke apartemen? Soalnya papa sama mama kan baliknya masih empat hari lagi?”
“Terserah kamu aja itu sih, Rei,” ucapku setelah penuturan Rei barusan.
“Ke apartemen aja ya?”
Rei mencetuskan usulannya.
“Lagian pakaian aku bekas perjalanan kemarin masih didalem tas.”
Lantas akupun mengiyakan usulan Rei agar kami kembali ke apartemen hari ini.
--
Aku sudah melarang Rei untuk tidak usah mengantarku ke kantor dan sebaiknya ia melanjutkan tidur saja di kamar kami dalam rumah orang tuaku, baru nanti jika memang dia mau menjemputku saat pulang kantor saja.
Bukan apa, aku khawatir jika Rei terlalu lelah meski dia tidak nampak mengantuk sama sekali padahal Rei belum tidur dari sejak ia pulang dinas. Bahkan setelah kami ‘berolahraga’ pun dia juga tidak tidur sama sekali.
Namun Rei keras kepala sekali dan memaksa untuk mengantarku ke kantor baru akan langsung ke apartemen setelahnya biar sekalian istirahat katanya. Yang pada akhirnya aku sulit untuk membantah kekukuhan Rei untuk mengantarku ke kantor.
Saking kukuhnya juga, ketika aku menawarkan biar aku saja yang menyetir sampai ke gedung perkantoran tempatku bekerja pun, Rei tak mau.
Tetap Rei dengan pendiriannya untuk menyetir.
“Nanti siang, pas kamu istirahat, kalau aku belum kirim chat atau telfon kamu, kamu ya yang telfon aku, Yang?”
“Iya, Rei –“
“Tapi kalo aku kira-kira udah bangun sebelum jam 12, kita maksi bareng ya?”
Rei berucap lagi sambil ia menyetir.
“Makan malem aja –“
“Kamu ada janji sama orang pas maksi?”
Rei melirikku dengan tatapan curiga yang dibuat-buat.
“Terus aja istrinya dicurigain...” jawabku dengan canda, lalu Rei terkekeh kecil.
“Bukannya curiga, tapi waspada.”
Rei kemudian berucap seraya ia tersenyum sambil juga mengacak pelan rambutku.
“Sama aja itu sih garis besarnya,” sahutku dengan mencebik.
“Duh, masang banget itu bibir minta dicium,” seloroh Rei, dan setelahnya kami mengobrol santai sepanjang perjalanan menuju kantorku yang sesekali disertai candaan yang membuat aku dan Rei terkekeh bersama.
Aku harap, hubunganku dan Rei akan terus membaik dan mesra seperti ini seterusnya. Dan aku mulai berharap untuk satu nyawa, yang merupakan benih cintaku dan Rei ---- untuk segera hadir di dalam perutku sebelum ia hadir ke dunia untuk melengkapi kebahagiaan pernikahanku dan Rei.
Namun yang utama saat ini, aku berharap jika semalam, adalah kali terakhir aku berurusan dengan Irsyad. Karena aku sudah tidak ingin lagi bertemu dengannya.
__ADS_1
***
Bersambung ...