WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 216


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


MALIA


Aku ingin bicara sedikit saja, setidaknya sebelum interkom di unit apartemen kami berbunyi.


Lalu resepsionis apartemen mengabarkan jika makanan pesananku dan Rei telah tiba. Namun kiranya waktu yang aku dan Rei punya untuk membahas permintaannya perihal aku yang ia inginkan berhenti kerja itu cukup untuk mengatakan pada Rei, bahwasanya aku tidak bermaksud menolak.


Dan yah, aku rasa insiatifku untuk menghilangkan ketidaknyamanan diantara aku dan Rei adalah sebuah keputusan yang tepat.


Karena setelah aku berbasa – basi ingin mengambil uang untuk tips driver ojol yang mengantarkan pesanan kami, Rei menegur dan menarikku pelan ke dalam rengkuhannya setelah ia menjawab panggilanku dengan lembut.


Kupikir Rei ingin mengajakku bermanja-manja singkat setelah ia menarikku, yang akan aku biarkan saja jika memang itu bisa meredam kesalnya.


Namun Rei meminta maaf.


Dan aku menjawab dengan lembut ucapannya, lalu melingkarkan tanganku ke leher Rei yang langsung mengulas senyuman senang.


Akupun sama senangnya dengan Rei yang tidak perlu berlarut-larut dalam sebuah hal yang bisa dikatakan tidak terlalu krusial, selain memang Rei selalunya banyak mengalah padaku.


Untuk itu aku kecup bibirnya dengan singkat.


Dimana kecupanku itu, membuat Rei membahas hal yang nyerempet ke urusan produksi bayi, yang Rei minta untuk dilakukan setelah makan.


Dasar Rei mesum.


****


Ketidaknyamanan yang sempat terjadi di antara Malia dan Reiji pada akhirnya berakhir dengan sesi panas keduanya di dalam kamar mandi mereka setelah beberapa saat Malia dan Reiji selesai makan, dan memutuskan untuk mandi bersama yang mana pastinya bukan sekedar mandi saja walau alibi Reiji mengajak Malia mandi bersama.


“By the way, Rei,” ucap Malia yang kini sedang merebahkan kepalanya di dada bidang Reiji, dalam posisi ia dan suaminya itu masih berada di dalam bathtub setelah melakukan sesi panas mereka yang kemudian berlanjut ke acara berendam bersama dalam bathtub yang berisikan air hangat dengan campuran aromaterapi untuk relaksasi.


“Hm?...” sahut Reiji yang sedang menikmati kebersamaannya dan Malia di dalam bathtub, sambil seringkali ia memberikan kecupan kecil di pucuk kepala, pipi, hingga bahu polos Malia.


“Tentang aku yang berenti kerja...”


“Ga usah terlalu kamu pikirin ucapan aku yang itu –“


“Itu udah aku pikirin duluan sebelum kamu bahas sebenarnya, Rei.” Malia memiringkan sedikit tubuhnya, lalu mendongak menatap Reiji. “Ya, seperti yang aku pernah bilang ke kamu juga, kalo semua yang kamu minta aku lakukan kalo emang itu buat kebaikan akan aku ikutin...”


Malia lanjut bicara, dan Reiji mengulas senyuman.


“Aku masih inget kok janji aku itu, Rei.”


Reiji tersenyum lebar.


Sebuah kecupan kecil di ujung hidung Malia kemudian Reiji sematkan sebelum merengkuh tubuh polos Malia dalam bathtub.


“Makasih ya, Yang?...” ucap Reiji kemudian.


Malia mengangguk seraya kembali menolehkan kepalanya memandang pada Reiji sambil mengulas senyuman.


“Tapi aku boleh kan pikirin dulu hal itu?...” pinta Malia. “Liat kondisi aku juga maksudnya kalau hamilnya jadi nanti –“


“Insya Allah jadi, Yang.”


Reiji menukas ucapan Malia dengan tetap tersenyum, yang senyumannya itu mendapat balasan dari Malia.


“Aamiin –“


“Pokoknya, aku ga ada maksud maksa kamu buat berenti kerja. Aku cuma khawatir aja kalau nanti  waktu hamil kamu jadi salah satu bumil yang kondisi payah... Kan ada yang begitu, ya? Yang waktu hamil bawaan mualnya ga selesai – selesai? –“


“Iya, ada –“


“Nah itu yang aku khawatirin andai itu terjadi sama kamu, di tambah kamu harus kerja.”


Reiji bertutur perhatian, sambil mengusap dan membelai kepala serta rambut Malia yang ikatannya telah di lepaskan Reiji sebelum mereka melakukan sesi panas di kamar mandi --- selain mengecup sekilas pipi Malia.


“Tapi mudahan sih engga. Mudahan sih aku aja deh yang gantiin kamu mual – mual kalo emang bisa, asal kamunya dan calon anak kita yang mudah – mudahan cepet ada, sehat... kamunya juga bugar terus –“


“Aamiin –“


“Ya udah kalo gitu. Guna membuat debay cepet hadir di perut kamu, ada baiknya kita ulang yang tadi? –“


“Cape ah...”


“Dosa, nolak suami...”


“Ga dosa kalo suaminya ‘doyan’!...”

__ADS_1


“Hahaha –“


“Udah ah, aku mau mandi!” Malia hendak bangkit dari posisinya.


“Abis ini –“


“Rei!...” Pekik Malia karena Reiji membalikkan tubuhnya dengan cepat, selain sudah membuat Malia berada di atas pangkuannya. “Aku – Sshh... R-eii, eumh...”


Malia sudah ‘di kunci’ pergerakannya oleh Reiji untuk beringsut dari bathtub, di mana ‘paku bumi’ Reiji sudah dengan cepat juga ia tancapkan di ‘inti bumi’ nya Malia.


Ah, ya sudah Malia pasrah. Dihindari pun tidak akan bisa, apalagi melawan tenaga Reiji kalau suaminya sudah ‘on’ begitu. Jadi lebih baik Malia menikmatinya saja, selain memberi kenikmatan yang sama pada Reiji sekali lagi.


Yang sayangnya tidak hanya sekali lagi, karena setelah sesi bathtub selesai, Reiji memboyong Malia ke kamar pribadi mereka.


****


MALIA


“Nanti biar aku aja yang ngambil hasil tesnya,” ucap Reiji di kala kami sudah mengosongkan jadwal masing – masing untuk melakukan konsultasi sekaligus pemeriksaan dalam rencanaku dan Rei untuk memiliki momongan dengan segera.


“Bukannya bisa kalo minta dikirim via email aja ya hasil tes kita, Rei? ---- Daripada repot?”  ujarku.


“Ga apa, aku ambil langsung aja. Siapa tau ada yang dokter Dewi mau sampaikan atau tambahkan perihal promil kamu? ..”


“Aku perlu ikut? ..“


Aku sontak bertanya selepas Rei berucap barusan.


“Ga usah, Neng cukup tunggu Abang di rumah, sambil pake baju seksi.”


Dan seperti biasa, celotehan menjurus kepada kemesuman keluar dari mulut Rei dengan longcernya.


---


Ngomong – ngomong soal baju seksi, aku jadi teringat kalau lusa Rei ulang tahun.


“Eh iya, Rei .. lusa nanti kamu ultah kan?“


Jadi aku sontak menanyakan untuk memastikan, walau sebenarnya aku hafal betul tanggal ultah Rei, bahkan tanggal ultah kedua mertuaku serta juga si Avi tentunya.


“Asik mau ngasih kado spesial nih kayaknya?”


Dan Rei langsung menembakku untuk hadiah yang aku tahu kemana arahnya.


Dan dengan santainya juga Rei mengiyakan tebakanku dengan bersikap jahil menggodaku, membuatku mendengus geli saja dengan kelakuan suamiku itu kalau udah nyerempet ke satu pokok bahasan itu.


Yang sudah tidak lagi membuatku jengah, saking udah kelewat terbiasa dengan otak mesumnya Rei.


---


Aku dan Rei serta Avi punya satu kesamaan identik, yakni tidak menganggap hari ulang tahun itu sesuatu hal yang amat spesial. Saat kami balita, ulang tahunku dan Avi memang sering di rayakan. Rei mungkin juga sih, karena saat aku dan Avi berusia balita, Rei sudah di usia yang rasanya setiap anak laki – laki sudah enggan untuk dirayakan lagi ulang tahunnya.


Tapi selebihnya, hanya perayaan kecil – kecilan berupa makan malam keluarga atau terkadang berbagi rezeki ke orang yang membutuhkan dan yayasan yatim piatu.


Baik saat aku ulang tahun, juga saat adik iparku itu berulang tahun. Ulang tahun Reiji pun sama dirayakan dengan cara yang sama seperti aku dan Avi dari sejak kami sudah menolak untuk dirayakan seperti waktu balita.


Makan malam keluarga, yang mencakup keluargaku dan keluarga Rei serta Avi yang kemudian dilakukan, atas nama orang tua kami yang bestie itu jika diantara kami ada yang berulang tahun.


Namun aku memiliki rencana spontan di otakku untuk perayaan ulang tahun Rei di tahun ini, meskipun aku tidak merencanakan untuk memberi Rei pesta kejutan mengingat aku harus repot menghubungi teman – teman Rei untuk mengkordinasikan jika aku ingin membuat pesta kejutan untuk Rei.


Lagipula, aku tidak akrab juga dengan teman – teman Rei.


Jadi pesta kejutan aku skip saja.


“Candle light dinner, mau? ..” Ide itu yang terbersit di otakku untuk ultahnya Rei lusa nanti.


Yang langsung diterima oleh Rei ideku itu, namun ya itu nyerempet lagi ke omesnya.


“Mau tapi dengan satu syarat. Kadonya kamu, dipakein pita.“


Ga jauh – jauh emang dari kemesuman suamiku itu.


“Tanpa ada lain – lain di tubuh kamu ya. Pita, tok!”


Kemesuman yang hakiki. Aku hanya geleng – geleng sambil tersenyum geli saja saat mendengar permintaan Rei itu.


Tapi ucapan mesum Rei itu pada akhirnya aku pakai untuk memang aku jadikan hadiah tambahan untuknya, walau konsep aku yang dipitain ga akan aku pakai.


Hanya akan aku ganti dengan sesuatu yang akan membuat dada si Reiji Shakeel itu berdebar macam lagi dugem setelah melihatnya.


Dan rencana matang pun sudah aku susun sedemikian rupa, dari menyewa satu kamar di sebuah hotel bintang lima tak jauh dari gedung apartemen kami sampai membooking satu meja VIP di restoran dalam hotel yang sama tempat aku membuka kamar.

__ADS_1


Yang bukan tanpa alasan aku membuka satu kamar di hotel yang restorannya akan aku gunakan untuk merayakan ulang tahun Rei berduaan saja denganku--makan malam keluarga nanti akan aku dan Rei atur waktunya di minggu ini juga.


Mempertimbangkan efektifitas, karena aku tidak akan datang berbarengan dengan Rei yang kemungkinan akan pulang di sore hari setelah bertugas dari Denpasar-- dan aku akan sangat membuang waktu jika harus kembali ke apartemen dulu untuk berdandan sedikit spesial sehubungan dengan candle light dinner yang telah aku atur sedemikian rupa, jadi opsi membuka kamar di hotel bintang lima tempatku dan Rei akan candle light dinner, aku lakukan.


Seiring yaaahhhh, hadiah tambahanku akan aku berikan di kamar hotel itu nanti. Hadiah yang akan dimulai dengan gaun seksi yang sengaja aku beli demi nampak menggoda di ultah suamiku hingga mungkin jika Rei melihatku menggunakannya sebelum acara candle light dinner kami, acara makan malam romantis di restoran hotel yang sudah aku atur akan gatot.


Mengingat kalau Pak Pilot suamiku itu nafsuan aja asal melihatku, meski aku menggunakan piyama tertutup saat tidur. Dimana beberapa piyamaku itu sudah banyak yang rusak akibat Rei yang suka main buka sekaligus tanpa mau menghabiskan waktu membuka kancingnya satu – satu.


Termasuk satu lingerie baru yang sudah menjadi macam kain pel karena Rei merobeknya saat malam di pertambahan usianya tiba, dan dengan sepuasnya Rei ‘mengobrak – abrik’ diriku dari sejak jam dua belas malam lewat sampai hampir waktu Subuh tiba.


---


Semua sudah siap, termasuk aku yang sedang mematut diri di depan cermin lonjong di dalam kamar hotel yang aku sewa. Satu setel jas yang aku yakin akan membuat Rei nampak kian mempesona pun sudah aku siapkan untuk membuat kami menjadi pasangan yang sedap di pandang orang – orang di luar nanti.


Aku sabar menunggu kedatangan Rei di dalam kamar hotel yang telah aku sewa untuk semalam.


Namun lima menit berlalu dari jadwal candle light dinner kami, Rei juga belum kelihatan batang hidungnya --- dan aku tidak menghubungi Rei, karena Rei bilang ponselnya lowbat saat hendak berangkat dari Denpasar untuk kembali ke Jakarta.


Menit berlalu, hingga setengah jam aku menunggu Rei pun tak muncul – muncul sementara pihak resto hotel sudah menghubungiku perihal meja VIP yang telah aku reservasi dan di hias, berikut rentetan hal berkenaan dengan candle light dinner itu sedemikian rupa.


Aku pun mencoba menghubungi Rei, meski aku ingat jika ponsel Rei lowbat. Namun aku tetap mencoba menghubunginya, berharap siapa tahu ponsel Rei telah kembali aktif.


Tapi sayangnya, tidak.


Hingga satu jam berlalu ponsel Rei tetap tidak dapat aku hubungi, dan Rei pun tidak menghubungiku juga.


Dua jam, pada akhirnya aku menghubungi pihak resto untuk mengatakan pada pihak sana jika aku membatalkan reservasi candle light dinner yang sudah aku bayar full.


Tak kupedulikan biaya yang sudah aku keluarkan untuk itu, karena aku memikirkan Rei yang belum ada kabarnya dan membuatku sudah merasa was – was dan gelisah menunggu Rei di kamar hotel yang aku sewa.


Sempat blank, tapi kemudian aku terpikir untuk menghubungi resepsionis apartemen kami. Berpikir mungkin saja Rei lupa acara candle light dinner yang aku atur malam ini saking ia letih dan Rei baru saja tiba di sana.


Namun resepsionis apartemen mengatakan jika belum melihat Rei datang kembali ke sana sejak ia keluar dari gedung apartemen yang kami tinggali, dan aku kembali gelisah hingga akhirnya aku mengingat seseorang yang aku miliki nomornya.


Yang nomor orang tersebut aku punya, atas pemberian Rei yang pernah mengatakan untuk menghubungi orang tersebut jika aku ingin mengetahui pembaharuan jadwal terbangnya Rei yang melayani satu keluarga besar itu setiap kali ada dari mereka yang meminta Rei menjadi pilotnya.


Sudah hampir larut malam, dan aku takut mengganggu sebenarnya. Tapi aku benar – benar ingin tahu kabar tentang Rei karena aku sungguh khawatir pada suamiku itu.


Timbang – timbang, akhirnya aku hubungi juga orang tersebut, yang sepertinya cukup penting juga pekerjaannya.


Namun tidak dengan panggilan telepon, melainkan lewat chat saja. Walau kemungkinan langsung di balas tipis, dan aku pasti akan gelisah sepanjang malam jika belum juga mendapatkan kabar soal dan dari Rei.


Tapi tak apa, setidaknya chat - ku pasti dibalas karena aku mengatakan jika aku adalah istri Reiji Shakeel dan mau meminta jadwal penerbangan Rei terbaru.


Namun, di luar perkiraan, chat - ku langsung di balas oleh yang bersangkutan.


Lalu to the point aku bertanya soal jadwal terbang Rei yang siapa tahu ada penambahan jam kerja setelah dari Denpasar, dengan alibi aku kehilangan jadwal yang Rei berikan padaku sebelumnya dan aku sedang berada di luar kota.


Dan orang yang bersangkutan itu langsung mengirimkanku jadwal terbang Rei dalam bentuk pdf tanpa ba-bi-bu selain dia sudah bilang sebelumnya jika dia tahu nomor kontakku yang merupakan istrinya Rei.


Dimana nomor kontak telepon semua pasangan para pilot pribadi satu keluarga yang mempekerjakan Rei sebagai pilot mereka itu, dimiliki oleh orang tersebut.


Dan ya, aku mengingat Rei pernah mengatakan hal itu.


Betapa satu keluarga itu adalah orang – orang yang menjunjung tinggi nilai kesetiaan pada pasangan selain nilai – nilai keluarga.


Jadi tanpa susah aku mendapatkan jadwal terbang Rei yang sebelumnya tidak aku awasi secara intens.


---


Aku was – was, gelisah dan khawatir.


Mau bertanya langsung pada orang yang berbalas chat denganku tadi perihal jadwal Rei, tapi aku ragu.


Amit – amit, jika ada apa – apa, pasti pihak bos Rei itu sudah akan mengabariku bukan? ...


Tapi nyatanya tidak ada pemberitahuan apapun andai ada masalah dengan penerbangan Rei itu.


Walau begitu, tanganku tetap juga mengutak – atik channel televisi hotel untuk mencari tahu apakah ada suatu berita tentang satu penerbangan—khususnya penerbangan dari Denpasar.


Dan syukurnya sih tidak ada berita tentang sebuah kecelakaan pesawat atau semacamnya. Setidaknya aku bisa merasa sedikit lega.


Jadi ya sudah, aku pun mengecek jadwal Rei berdasarkan file yang orang dari tempat kerja Rei kirimkan padaku.


Dimana aku sampai berkali – kali memperhatikan isi dalam file tersebut, serta meyakini bahwa mataku tidak bermasalah saat membaca jadwal Rei yang tercantum di sana.


Di dalam jadwal tersebut, Rei seharusnya sudah ada di Jakarta saat jam 3 sore. Tapi pada jam 4 sore, Rei menghubungiku dan bilang jika dia baru akan take off dari Denpasar.


Rei, membohongiku?...


****

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2