WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 43


__ADS_3

Selamat membaca..


***


“Rei ..”


“Hm?”


Reiji menyahut saat Malia memanggilnya, kala Reiji menggandeng Malia untuk turun dari pelaminan agar bisa melipir ke area makan VIP yang memang diperuntukkan untuk keluarga atau kerabat dekat demi mengisi perut mereka.


“Abbas Ramdan ga kamu undang?” Tanya Malia.


Sembari Malia mengedarkan pandangannya ke para tamu undangan yang sedang berada di Ballroom Hotel tempatnya dan Reiji melangsungkan resepsi mereka itu.


Dari yang berpasang-pasangan, berkerumun, bahkan yang jones juga ada.


“Duh, udah punya suami, sempet-sempetnya nanyain cowo lain? ..” Ucap Reiji dengan wajah yang dibuat seolah sedang merajuk.


Membuat Malia jadi mendengus geli melihatnya. “Amit deh, gitu aja cemburu.”


Lalu Malia pun berceloteh, didetik berikutnya Reiji tersenyum.


“Wajar dong?”


“Iya, iya, wajar,”


“Bagus kalo paham.”


“Dasar!”


Malia menanggapi sambil tersenyum kecil, dan Reiji juga ikut tersenyum, karena Malia berbicara sambil mencubit gemas pipinya.


Dan tentu saja, interaksi dua insan yang menjadi Raja dan Ratu saat ini tersebut menjadi perhatian mereka yang berada di area yang sama dengan Malia dan Reiji.


Hingga kemudian ledekan dan godaan terdengar riuh dari orang-orang yang ada di area makan VIP pada sepasang pengantin yang barusan terlihat uwu itu, yang didominasi oleh keluarga dan kerabat dekat Malia dan Reiji.


“Iri?, bilang Boss!!!..” Celoteh Reiji, dan membuat gelakan kemudian terdengar ramai di area makan VIP dalam resepsi pernikahannya dan Malia itu.


***


REIJI


Aku bahagia di hari pernikahanku dan Malia.


Tentu saja!.


Hal itu rasanya tak perlu dipertanyakan lagi, mengingat bibirku ini bak seolah dipatri permanen khusus hari ini untuk terus tersenyum lebar.


Pernikahan berjalan lancar, tanpa ada keraguan dari Malia.


Alhamdulillah.


Setidaknya aku bisa meyakinkan Malia, jika aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi suami yang terbaik untuknya, agar Malia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menikah denganku.


Ya, aku akan berusaha sekuat tenaga.


Pasti. Aku pasti akan sangat berusaha.


Agar senyum Malia terus merekah seperti ini sepanjang pernikahan kami, sampai kulit kami kisut nanti.


***


Reiji dan Malia tidak berada di singgasana sehari mereka dalam Ballroom Hotel tempat acara resepsi pernikahan keduanya berlangsung.


Meskipun Reiji dan Malia sudah mengisi perut mereka, namun Reiji enggan untuk kembali duduk di atas pelaminan, walau Malia sudah mengajaknya untuk duduk kembali di sana.


“Enakan disini Yang.”


Kalo kata Reiji, yang ucapan Reiji tersebut didukung oleh para orang tua, Avi, dan sanak saudara mereka. Jadi Malia akhirnya manut saja, tetap duduk di ruang makan VIP dalam Ballroom tempat resepsi berdampingan dengan Reiji.


Karena memang di pelaminan Reiji dan Malia, hanya tersedia tempat untuk kedua mempelai saja. Pernikahan indoor, namun berkonsep outdoor, jadi tidak ada kursi untuk orang tua disisi kiri dan kanannya.


Sesekali mata Reiji dan Malia melihat kearah para tamu undangan yang masih ramai di hadapan mereka, karena ruang makan VIP dalam Ballroom itu terbuka.

__ADS_1


Jadi, mata mereka yang berada di ruangan tersebut dapat bebas memandang ke bagian tempat untuk para tamu-tamu undangan yang mencakup para kolega orang tua, rekan kerja, teman kuliah bahkan teman SMAnya Reiji dan Malia.


“Abbas dateng barengan sama anak-anak yang lain.” Ucap Reiji, disela ia bercengkrama dengan beberapa orang keluarga.


“Yang lain?..” Tanya Malia dengan spontan pada Reiji, karena tidak tahu siapa ‘yang lain’ yang dimaksud oleh Reiji barusan.


“Temen-temen satu tongkrongan aku sama Abbas,” jawab Reiji. Dan Malia hanya manggut-manggut. “Aku udah pernah cerita kan?..”


“Iya. Aku inget.”


“Mau melipir ke tamu-tamu ga?” Tanya Reiji kemudian.


“Boleh juga..” Malia menjawab antusias dan Reiji pun tersenyum.


Lalu Malia lekas hendak berdiri dari duduknya dengan dibantu Reiji, yang kemudian menggenggam tangan Malia dan mengecupnya sekilas.


Tak perduli lontaran ledekan kemudian terdengar dari mereka yang melihat sikap mesra Reiji pada Malia barusan.


Hingga Reiji dan Malia kemudian menoleh dengan spontan, saat ada suara ledekan lain, dari arah luar ruang makan VIP tempat keduanya sedang duduk saat ini.


Suara ledekan dari beberapa orang kumpulan pria dan wanita, dimana salah satunya adalah laki-laki, sang aktor tampan idolanya Malia.


“Ah ilaaah, Babang Rei mesra banget ama bininya!” Demikian celetukan dari sang aktor yang dikenal sebagai Abbas Ramdan itu pada Reiji yang kemudian tersenyum lebar, karena sahutan celetukan-celetukan dari mereka yang bersama Abbas kemudian terdengar.


Reiji pun membalas celetukan teman-temannya yang baru tiba dengan celotehan, sembari memeluki mereka satu-satu dengan pelukan para pria.


Kemudian tentu saja, Reiji memperkenalkan Malia pada para teman dekat Reiji yang katanya teman tongkrongan Reiji dari sejak SMA dulu dan memang masih solid sampai sekarang, meski sudah jarang kumpul bareng.


Sementara para wanita yang bersama Abbas dan pria lainnya dalam gerombolan mereka, memberikan selamat dengan jabat tangan saja pada Reiji dan Malia.


Ah tapi ada satu wanita yang berbeda sikapnya. Nampak friendly, namun terkesan akrab dengan Reiji, karena tak seperti beberapa orang wanita yang merupakan pasangan dari teman-teman tongkrongan Reiji, wanita itu menyapa Reiji dengan akrab layaknya Abbas dan beberapa teman laki-laki mereka.


“Ah Abang Reiji, finally! Akhirnya Nikah juga!..” Wanita itu tersenyum lebar, begitu juga Reiji. “Selamat, yaa! ..” Terlihat sumringah.


Hanya saja, wanita itu tidak hanya menjabat tangan Reiji, tetapi juga melakukan cipika cipiki dengan Reiji, dan memeluk Reiji walau singkat saja.


Membuat Malia jadi sedikit memperhatikan wanita tersebut, meskipun cipika cipiki serta pelukannya pada Reiji masih tergolong wajar, tidak berlebihan.


“Thanks ya udah nyempetin dateng jauh-jauh!” Ucap Reiji pada teman wanitanya itu.


“No probs lah .. sejauh apapun itu, gue ga akan melewatkan pernikahan salah satu sahabat gue! Apalagi elo, Ji!”


“Thanks ya!”


“You are very welcome.”


Wanita itu menyahut sumringah pada Reiji, lalu tersenyum pada Malia dan mengulurkan tangannya untuk berjabat.


“Selamat ya kalian, semoga langgeng dan abadi pernikahannya..” Ucap wanita itu dengan sumringah dan nampak tulus.


“Iya makasih,” Reiji dan Malia sama-sama berucap sembari tersenyum.


“Duh penganten kompak bener!” Sebaris celetukan terdengar, kemudian kekehan tak lama juga terdengar dari Reiji dan teman-teman akrabnya itu.


“Oh iya,” Ucap Reiji. “By the way, Yang .. ini Shirly ..”


‘Oh, ini toh, Shirly..’


****


Acara resepsi Reiji dan Malia hampir berakhir.


Namun sebelum para tamu berpamitan untuk undur diri dari tempat resepsi Reiji dan Malia, Reiji kemudian menggandeng erat tangan Malia, dan berjalan menuju panggung kecil, dimana para enternainer masih melantunkan musik dan lagu.


Sebuah grand piano, berikut pianis dan sepasang penyanyi pria dan wanita ada di atas panggung tersebut.


Tiga orang yang sedang berada di atas panggung tersebut, langsung menampakkan senyuman lebar mereka saat Reiji dan Malia sudah berada di atas panggung. Sepertinya ketiga orang tersebut sudah tahu apa yang hendak Reiji lakukan.


Sang penyanyi wanita masih mendendangkan lagu, sementara Reiji berbisik dengan sang pianis yang kemudian mengangguk sembari tersenyum lebar. Malia tampak bingung, namun ia tersenyum pada Reiji, yang tersenyum padanya selepas ia berbisik dengan pianis yang masih memainkan jemarinya di atas tuts piano.


Sementara Malia sedang merasa bingung sendiri, dengan apa yang ingin Reiji lakukan.


Karena sepertinya dengan dirinya dan Reiji yang ada di atas panggung hiburan saat ini, tidak ada dalam list rentetan acara pemberian WO yang pernah ia baca.

__ADS_1


Namun Malia tetap menampakkan senyumnya, dan Reiji telah memegang mikrofon di satu tangannya yang lain, dimana tangan yang satunya tetap masih menggenggam erat tangan Malia.


Avi dan para keluarga sudah merapat ke dekat panggung. Avi mengangkat jempolnya ke arah Reiji dengan wajah yang sangat sumringah, begitu juga dua pasang orang tua dari Reiji dan Malia.


“Yang, meskipun suara aku sumbang dan setelah ini kuping kamu sakit..” Celoteh Reiji, dan suara kekehan riuh sontak terdengar kemudian.


Kemudian suara tepuk tangan sekaligus celetukan memberi semangat, terdengar dari mereka yang berada di Ballroom, pada Reiji yang mereka terka hendak mempersembahkan satu lagu untuk Malia itu.


“Tapi aku ingin melakukan ini, di hari yang buat aku begitu istimewa.” Sambung Reiji, sembari tersenyum dan memandang teduh pada Malia. “Seistimewa kamu..”


“Eyyyaaaa ..” Kekompakan orang-orang yang berada di Ballroom pun terdengar riuh, bercampur gelakan kemudian.


****


“Sekali lagi, Malia, Sayang, se-sumbang apapun suara aku saat aku menyanyikan satu lagu ini buat kamu,” Kekeh Reiji, dan Malia mendengus geli, dengan suara latar kekehan dari yang lain sebagai latar belakang. “Tapi ini perasaan aku..”


Tapi setelah suara dari ucapan Reiji selanjutnya yang terdengar penuh ketulusan itu, berikut Reiji yang melepaskan genggamannya dari tangan Malia, lalu meletakkannya di garis rahang Malia. Menatap dalam-dalam manik mata Malia, disaat itu juga, suasana nampak hening, seolah terbius oleh sikap mesra Reiji pada Malia di atas panggung.


Haru berjamaah, sampai kemudian denting piano terdengar.


“Look Into My Eyes, You Will See..


What You Mean To Me..


Search Your Heart, Search Your Soul..


And When You Find Me There, You’ll Search No More..


Don’t Tell Me It’s Not Worth Trying For,


You Can’t Tell Me, It’s Not Worth Dying For..


You Know It’s True..


Everything I Do, I Do It For You..”


( Lihat Ke Dalam Mataku, Dan Kau Akan Melihat..


Apa Arti Dirimu Bagiku..


Carilah Pada Hati Dan Jiwamu..


Dan Saat Kamu Menemukanku Disana, Kamu Tidak Akan Mencari Lagi..


Jangan Katakan Padaku Jika Itu Tidak Patut Dicoba,


Jangan Juga Katakan, Ini Tidak Patut Diperjuangkan..


Kamu Tahu Ini Benar..


Semua Yang Aku Lakukan,  Aku Lakukan Untukmu )


****


Tepuk tangan dari semua orang langsung terdengar bergemuruh di Ballroom Hotel, berikut suitan-suitan antusias, selepas Reiji mempersembahkan satu lagu untuk Malia.


Hanya sebuah lagu dari Reiji, namun cukup membuat hati Malia bergetar karenanya.


Sebuah lagu dari penyanyi favorit Reiji sejak dulu, hingga beberapa hari sebelum pernikahan tercetus ide dalam benak Reiji untuk mempersembahkan lagu itu untuk Malia saat acara resepsi pernikahan mereka.


Yang kemudian Reiji bicarakan dengan pihak WO dan EO yang menangani urusan pernikahannya dan Malia.


Dan itu menjadi sebuah kejutan kecil dari Reiji untuk Malia, yang senyumnya mengembang sempurna, selepas Reiji menyelesaikan lagu persembahannya untuk Malia.


Malia tampak berbahagia, dengan haru yang menyeruak di hatinya. Hingga mata Malia sedikit berkaca-kaca. Sungguh Malia tak menyangka, jika Reiji terlihat begitu bahagia menikah dengannya.


“Makasih ya.. Rei..” Malia berucap dengan tulus sembari menatap lembut pada Reiji yang tersenyum teduh padanya, yang orangnya kemudian mengangguk dan mengecup kening Malia dengan lembutnya.


Dimana asa untuk sebuah kehidupan pernikahan yang bahagia kedepannya, sama-sama berada di hati Malia dan Reiji.


****


Bersambung ..

__ADS_1


__ADS_2