WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 183


__ADS_3

Selamat membaca...


***


REIJI


‘Rei, aku pulang ke rumah mama sama papa aku.’


Chat terakhir dari Lia dari beberapa chatnya padaku ke nomor kontakku.


Yang mana aku baca chat itu, setelah aku gagal menghubungi Lia karena ponselnya yang sepertinya sedang tidak aktif.


Dimana aku langsung mengecek aplikasi chat sejuta umat dalam ponselku itu selepas aku gagal menghubungi nomor kontak ponsel Lia.


Setelahnya, tanpa pikir panjang, aku langsung meraih kunci mobilku dari tempatnya dan langsung keluar dari unit apartemenku tanpa lagi berganti pakaian.


Hah, untung saja aku laki – laki yang menjaga staminanya. Jadi aku punya cukup tenaga untuk menyetir mobil, padahal aku belum lama menyetir pesawat terbang.


Lagian kenapa sih, Lia kok tiba – tiba aja pulang ke rumah orang tuanya? ...


🌺🌺🌺


“Neng, Abang rindu ..”


Reiji yang telah sampai di rumah mertuanya itu, langsung masuk dengan perlahan ke kamar Malia yang kini telah menjadi kamarnya juga – lalu meringsek sangat perlahan dan hati – hati ke atas ranjang – dimana Malia sedang berbaring di atasnya dengan mata terpejam, nampak pulas tertidur.


“Eenng ..” Malia menggumam samar, saat Reiji tengah memeluk setelah berbisik di telinga Malia. Sementara Reiji terkikik dalam hati, selain ia jadi gemas sendiri pada Malia yang nampak sedikit terusik tidurnya – walau Malia masih nampak tertidur.


Cup.


Sekali lagi Reiji mengecup ringan bibir Malia.


Namun karena bibir Malia sudah seolah candu bagi Reiji ditambah ia cukup merindukan istri tercintanya itu, jadilah niatan Reiji untuk sekedar mengecup seperti sebelumnya pun -- berubah.


“Lepas!”


Namun saat Reiji sedang asyik menikmati bibir Malia, tahu-tahu Malia terbangun dan memekik seraya mendorong Reiji dengan kuat. Sampai Reiji dibuat sangat terkejut oleh tindakan Malia itu.


“Yang? ..“


Reiji memanggil dengan wajah yang terheran-heran, memandang pada Malia dengan masih terkejut karena mendapat penolakan dan perlakuan sedikit kasar oleh Malia.


“Ada apa? –“ gugu Reiji.


“Re – Rei? ..“


“Kamu marah –“ Reiji hendak bertanya.


“Rei!”


Reiji yang hendak bicara untu bertanya itu, kemudian memutus ucapannya --- kala Malia berseru sambil menyebut namanya dan berhambur dengan cepat memeluknya erat.


Dimana Reiji yang sebenarnya masih tergugu itu, kemudian balas memeluk – dengan mendekap punggung Malia dengan tangan kokohnya. Sambil Reiji bertanya – tanya dalam hatinya.


“Kamu kenapa, Yang? ..”


Yang pertanyaan itu kemudian Reiji cetuskan dari mulutnya pada Malia.


Namun Malia tidak menjawab, hanya memeluk Reiji kian erat. Dan Reiji pun tidak berusaha mengurai pelukan Malia yang seolah enggan melepas Reiji.


“Kamu mimpi buruk? –“ Namun Reiji bertanya lagi, sambil ia mendekap Malia dan mengelus – elus surai Malia. Yang mana orangnya kemudian melepaskan pelukannya perlahan dari Reiji.

__ADS_1


Malia tidak benar – benar melepaskan pelukannya dari Reiji sebenarnya. Hanya melonggarkan saja, dengan tangan Malia yang masih mengalung di leher Reiji. Namun kini Malia telah memposisikan wajahnya dan wajah Reiji menjadi berhadapan.


“Iya ..” jawab Malia dengan tersenyum kecil.


“Mimpi apa sampe sehisteris itu? –“ tanya Reiji lagi. Sambil ia menatap lekat Malia, disela keterkejutannya yang kini sedikit khawatir karena Malia nampak tegang.


“Mimpi dikejar – kejar orang gila,” jawab Malia.


Yang mana sebenarnya jawaban itu adalah sebuah dusta yang Malia jadikan alibi pada Reiji.


Malia bukan bermimpi buruk, tapi ciuman Reiji mengingatkannya pada kejadian beberapa jam lalu sebelum Malia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Yang Malia rasa lebih aman daripada apartemennya sekarang ini, mengingat Irsyad pernah tiba – tiba kesana untuk mencoba menemui Malia. Dan karena Reiji masih lama pulangnya – pikir Malia tadi, ia langsung kepikiran untuk pergi saja ke rumah orang tuanya yang ternyata sedang pergi ke luar kota itu.


Tapi di rumah orang tuanya dirasa Malia lebih aman, karena andaipun Irsyad masih mengingat rumah orang tuanya itu, Irsyad tidak akan bisa masuk begitu saja karena ada penjaga di bagian depan rumah. Ya walaupun di apartemennya pun Irsyad tidak bisa sembarangan masuk ke unit apartemennya karena akses yang khusus penghuni – atau bisa masuk setelah lapor dulu pada resepsionis di lobi.


Hanya saja, ada kemungkinan Irsyad bisa menunggu dengan leluasa di parkiran gedung apartemen tanpa ada yang menegurnya --- berbeda di lingkungan rumah orang tua Malia.


Dimana ada satpam komplek yang akan berkeliling di jam – jam tertentu di daerah tempat tinggal orang tuanya itu --- walaupun akses di gerbang masuk harus simpan KTP untuk tamu yang belum pernah berkunjung. Tapi Irsyad tidak bisa menunggu dengan leluasa di depan gerbang rumah Malia.


Selain para satpam komplek mengenal Malia dan keluarganya, Irsyad akan dianggap mencurigakan dan pasti langsung disuruh pergi --- lalu wajah dan identitasnya akan ditandai sebelum para satpam itu akan menanyakan Irsyad pada Malia atau keluarganya, jika sampai pria dari masa lalu Malia itu memang nekat membuntuti Malia sampai ke rumah orang tuanya tersebut.


Sampai seperti itu pikiran Malia, saking ia paranoid dengan Irsyad akibat perilaku kurang ajar Irsyad --- yang walaupun hanya mencium bibirnya, namun Malia benar – benar menganggap Irsyad telah melecehkannya.


Namun Malia sudah tenang kini, karena Reiji sudah kembali dan sudah ada bersamanya.


🌺🌺🌺


“Mimpi dikejar – kejar orang gila -” Malia menjawab pertanyaan Reiji yang nampak khawatir menatapnya itu.


Dimana setelahnya Reiji tersenyum, selain ia merasa lega karena Malia yang menolak dan sedikit berperilaku kasar itu hanya karena efek mimpi buruk.


Lalu Reiji mengusap lembut kepala Malia hingga ke garis rahang wajah istrinya itu, sebelum menjepit dagu Malia lembut dengan kedua jarinya. “Aku sampe takut tadi ngeliat kamu begitu, Yang,” ucap Reiji kemudian.


“Ya takut aja, kalau aku bikin kesalahan ke kamu terus bikin kamu jadi marah banget ke aku walaupun aku ga ngerasa ada bikin salah ke kamu juga –“


“Maaf ya? –“ tutur Malia, sambil ia melepaskan satu tangannya untuk menangkup wajah Reiji yang kemudian tersenyum manis pada Malia. “Aku mukul kamu ya?”


Malia bertanya khawatir, dimana Reiji segera menggeleng dengan tetap tersenyum.


“Engga kok.”


Cup.


Satu kecupan Malia berikan di bibir Reiji.


Yang mana ciuman Malia itu disambut bahagia oleh Reiji.


🌺🌺🌺


“Yang,”


Reiji berucap setelah ia dan Malia selesai berciuman.


Malia pun langsung menyahut, “Hm? –“ dehem Malia.


Sambil Malia mengalungkan kembali kedua tangannya di leher Reiji.


“Kangen banget emang?” ucap Reiji, dimana Malia langsung mengangguk-angguk bak anak kecil yang sedang ditawarkan apakah ia mau es krim.


Membuat Reiji jadi tersenyum geli karenanya.

__ADS_1


Namun kemudian Reiji membawa lagi Malia dalam dekapan. “Seneng sih dengernya. Tapi aku belom mandi ini –“


“Biarin –“


“Ga kebauan emang?”


“Dikit,“ canda Malia, dan Reiji terkekeh.


“Kamu udah makan?”


“Eh iya. Kamu laper ya? –“


“Aku nanya, malah nanya balik.”


“Ya, yang harusnya nanya udah makan atau belum kan aku ke kamu, Rei? –“ tutur Malia.


“..........”


“Kan kamu baru balik dari berhari – hari kerja? .. Terus langsung malah nyetir kesini,” lanjut Malia.


“Abis ponsel kamu ga bisa dihubungin.”


“Iya maaf, lowbat –“


“Kok ga dicharge? ..”


Kebetulan mata Reiji menangkap ponsel Malia yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur.


“Lupa ..”


Malia menjawab sekenanya, yang mana adalah dusta.


Ponsel Malia tidak lowbat sebenarnya, walau baterai kurang dari lima puluh persen.


Malia sengaja menonaktifkan ponselnya, setelah ia mendapat chat dari Irsyad saat ia telah sampai di rumah kedua orang tuanya.


🌺🌺🌺


“Aku mandi dulu ya? ..”


“Aku siapin air anget di bathtub ya?”


Malia berinisiatif.


Namun Reiji menggeleng. “Aku mandi pake shower aja.”


“Tapi jam segini walaupun oke aja buat mandi, baiknya kamu pake air anget, Rei ..”


“Di shower juga ada setelan air anget juga kan, Yang?”


“Oh iya ya –“


“By the way, Yang ..”


“Hm?” tanggap Malia pada Reiji yang seperti ingin bertanya padanya.


“Kamu tiba – tiba mau kesini, kenapa? ..”


“Itu ..”


🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2