
Selamat membaca..
***
“Bang Rei, Li.... ASTAGFIRULLAHHHH!!!!....”
Suara yang diikuti pekikan keras kemudian terdengar dan membuat Reiji serta Malia menghentikan kegiatan mereka, sekaligus membuat keduanya terkejut bukan main.
Akibat Reiji lupa tutup pintu, dan tidak menyadari hal tersebut karena keburu asik bercumbu ria dengan Malia, hingga kemudian aksi mereka itu dipergoki Avi, yang langsung membalikkan badannya.
Sontak saja Reiji dan Malia sama-sama melepaskan diri dari tautan tubuh masing-masing karena kehadiran Avi yang tiba-tiba itu.
“CK!”
Reiji sontak saja mencebik karena kehadiran Avi yang bahkan berteriak lebay hingga membuat mereka yang berada di lantai bawah sontak saja berboyong-boyong datang ke sumber suara.
“YA ALLAH, MATA SUCI GUE TERNODAAA!!!” Histeris Avi kemudian.
Bersamaan dengan suara gerabak-gerubuk langkah kaki yang mulai mendekat ke kamar Reiji.
“Ada apa Vi?!...” Itu Mama Alice yang langsung bertanya dengan panik pada Avi yang berdiri membelakangi kamar Reiji, dan pintu kamar Reiji tetap terbuka lebar.
Pertanyaan Mama Alice seolah mewakili beberapa orang yang ikut naik ke lantai dua, ke kamar Reiji tepatnya, karena mendengar pekikan nyaring suara si Avi sembari mereka semua celingukan ke arah dalam kamar.
Dimana Reiji dan Malia masih tetap berdiri di tempat mereka kepergok sedang bercumbu oleh Avi tadi.
“Tuh! Penganten Baru! Mau ulala beibeh pintu bukan dikunci dulu kek!”
Avi mengadu tentang apa yang dilihatnya tadi. “Bikin mata suci anak perawan ternoda ini kaaaannn????!!!! ...”
Dimana mata Mama Alice, termasuk Papa Tino dan rombongan, yakni beberapa kerabat dekat keluarga mereka, langsung menoleh ke arah dua orang dimana yang satunya berdiri dengan wajah inosen lebih ke malas campur sebal karena kesenangannya terganggu oleh si Avi yang tiba-tiba selonong boy ke dalam kamar.
Dan yang satu lagi berdiri kikuk sambil menahan malunya karena kepergok, ditambah lagi sudah banyak orang yang berada di luar kamar Reiji.
“Lagian masih sore gini udah mau main aja si!!! Udah mana pintu ga dikunci! Ampun ih!” Cerocos Avi lagi, dan didetik berikutnya suara gelakan pun membahana di depan kamar Reiji.
“Ya elo aja yang ga ada akhlak masuk maen selonong boy ke kamar orang,” sambar Reiji dengan wajah sebalnya.
“Ya elo aja yang kaga bisa nahan has to the srat! Sore-sore gini udah mau bercocok tanam aja! Ga sabar banget nunggu malem!”
Suara gelakan masih saja terdengar disela perdebatan Reiji dan Avi.
Reiji hanya menatap malas pada adiknya yang barusan bercerocos sembari melayangkan protes padanya itu.
Sementara Malia sendiri, ia rasanya sudah merasa sangat malu saat ini.
Hingga tak sanggup mengangkat wajahnya karena saat ini apa yang baru saja Reiji lakukan tersebar pada orang-orang yang berkerumun di kamar Reiji yang sudah juga menjadi kamarnya itu.
“Kurang emang Ji semalem?!”
Celetukan tak berakhlak terlontar dari mulut salah seorang sepupu Reiji yang kemudian cekikikan.
Dan dia pun tidak cekikikan sendirian.
“Bukan kurang lagi.... belom jebol gawang malah!” Sahutan yang juga tanpa akhlak keluar dari mulut Reiji keluar dengan entengnya.
“Rei!”
Dan tentu saja membuat Malia mendelik, sekaligus berdesis tajam pada Reiji yang kemudian menoleh dan cengengesan padanya.
“Pantes gas pol udah di sini,” celetuk Avi.
“Seriusan belum ulala beibeh penganten baru semalem?” Celetukan yang berupa pertanyaan un-faedah terlontar lagi. Kini dari Papanya Reiji.
Yang orangnya cengengesan juga kayak anaknya dan mereka yang bersamanya. Bahkan Avi juga ikut cengengesan.
“Seriuslah!” Cetus Reiji dengan cepat.
“Ah boong banget....” Timpal sepupu Reiji yang emang iseng orang dan mulutnya.
“Yee, tanya aja nih sama orangnya!” Tukas Reiji.
“Udah kali se celup dua celup maaaah!!!” Selorohan tanpa akhlak yang sungguh membuat Malia sampai tercengang mendengarnya keluar lagi dari mulut sepupu Reiji itu.
‘Oh Astogee!!! ....’
Malia membatin sambil ia melongo.
“Beneran itu Lia? Kamu belom diapa-apain sama anak lanang Mama satu ini?”
Pertanyaan un-faedah bahkan keluar dari mulut Mamanya Reiji yang membuat Malia sampai kembali tercengang, saking enteng banget itu pertanyaan terlontar dari mulut mama mertuanya sendiri.
Sampai-sampai Malia bingung sendiri menjawabnya.
__ADS_1
Dan karenanya, Malia jadi mengangguk, lalu menggeleng, lalu merasa kikuk sendiri, kemudian menoleh pada Reiji yang terkekeh karena melihat tingkah Malia yang sedang salah tingkah sekaligus malu.
Hingga Malia akhirnya mencebik pada Reiji, karena melihat suaminya itu juga ikutan terkekeh seperti yang lainnya.
“Dah sana ih, hush! Hush! .... Tuh Lia jadi malu kan? ....”
Reiji pun mengayunkan langkahnya ke arah mereka yang berkumpul sembari mengibas-ngibaskan tangannya dengan dirinya yang cengengesan.
“Ngertiin napa sih ini perjaka ama anak perawan mau bercocok tanam! .... Harus khusyu ini buat yang pertama kali. Ntar keburu layu itu mawar-mawar yang bertaburan! ....” cerocos Reiji tanpa saringan.
“Terus lo ikutan layu sebelom berkembang ye Ji?!”
“Nah tuh lo paham!” Sahut Reiji pada celetukan sepupunya yang lain.
“Jadi seriusan belom ulala beibeh nih? ....” Avi kembali bersuara. Sembari ia memandang pada Reiji dan Malia.
“Ck! Dibilangin belom! Dah sana makanya bubar! ....”
Reiji kembali mengibas-ngibaskan pada gerombolan yang sedang meledeknya dan Malia.
Sementara Malia seolah tak berkutik di tempatnya.
“KESIAAAANNN!!!!”
Dan seruan serempak pun terdengar dari gerombolan yang diusir Reiji, yang kemudian tergelak tanpa akhlak dengan begitu bulatnya.
****
“Ehm .... Rei .....”
Malia mencoba mengurai kegugupannya selepas ia dan Reiji sudah kembali dalam kamar Reiji yang saat ini sedang menjadi kamar pengantin nan romantis selepas insiden yang sedikit memalukan untuk dirinya.
“Hm?”
Reiji hanya menyahut dengan deheman pelan, sembari terus menatap Malia yang sedang duduk sedikit berjarak darinya.
“Kita ke bawah aja yuk? ....”
“Ngapain?....” tanya Reiji, masih dalam posisinya.
“Ya gabung sama yang lain ....”
“Takut ya aku apa-apain sekarang?...”
Malia mencebik dan Reiji pun terkekeh.
“Yah harap maklum, pengantin baru, dah gitu istrinya ga Cuma cantik, tapi seksi juga... ya gitu deh jadinya aku....” Ucap Reiji. “Mesum aja bawaannya. Mana ujan...”
Lalu Reiji terkekeh lagi, dan Malia tersenyum geli. “Dasar ...” Timpal Malia.
Dan sesaat Reiji dan Malia saling tatap dengan pandangan dengan arti yang keduanya miliki masing-masing.
Namun kemudian Malia menjadi salah tingkah, karena Reiji menatapnya begitu intens saat ini.
“Ya udah yuk ke bawah? ....”
Malia kembali mengajak Reiji untuk keluar dari kamar dan berkumpul bersama keluarga Reiji yang masih stay di rumah orang tua Reiji itu, selepas check out dari Hotel.
“Ga enak aku sama mereka, kalo kita malah di kamar begini, apalagi...”
“Apalagi apa?”
Reiji sontak bertanya, karena Malia menggantungkan kata-katanya, dengan ekspresi wajah yang membuat Reiji jadi gemas seketika.
“Ya udah ayo ah ke bawah! ....” Malia bergegas untuk berdiri. Namun Reiji menahan tangannya.
“Apalagi apa? Jawab dulu...”
Reiji tahu apa sebenarnya kelanjutan ucapan Malia yang kemudian tidak jadi mengatakannya.
Namun Reiji senang saja menggoda Malia, dan melihat jika Malia salah tingkah dengan rona malu-malu.
“Engga. Ga jadi..” Kilah Malia.
Syut!.
Malia sampai terbelalak kala Reiji menarik dirinya, hingga sampai berada di atas pangkuan Reiji.
“Apalagi Avi melihat kita tadi lagi begini...”
Dan Reiji kembali mendaratkan bibirnya di bibir Malia, dengan satu tangan Reiji yang menahan tengkuk Malia agar tidak ada celah bagi Malia untuk menghindar.
Dimana Malia hanya bisa pasrah saja dengan perlakuan Reiji. Namun beberapa saat kemudian, Malia mendorong dada Reiji, karena nafasnya terasa hampir habis akibat ciuman Reiji yang sepertinya cukup brutal itu barusan.
__ADS_1
Reiji mengulum senyumnya, melihat bibir Malia yang nampak sedikit menebal karena ulah bibirnya yang bergerak liar barusan di bibir sang istri tersebut.
“Sorry... bibir kamu manis soalnya. Jadi ogah dilepasin buru-buru ...” Goda Reiji, sembari mengusap bibir Malia dengan ibu jarinya.
“Emang aja doyan!”
Malia melengoskan wajah Reiji yang terkekeh kecil. Namun tak lama kemudian suara kekehan Reiji hilang, lalu Reiji menatap wajah Malia lekat-lekat.
Ada sorot mendamba di mata Reiji saat ini, sampai Malia tak dapat melihatnya karena Reiji memagut bibir Malia lagi.
Tidak sebrutal yang barusan, lembut namun cukup memburu.
“Rei ...”
Malia mengurai ciuman Reiji yang sepertinya akan berlanjut seperti pada cumbuan saat kepergok Avi tadi.
“Ya? ...”
Reiji menyahut dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.
“Kita ke bawah aja yuk ah, gabung sama yang lain?” Ajak Malia.
Sebenarnya berat bagi Reiji untuk melepaskan Malia saat ini. Namun Reiji mengangguk sembari mengulas senyuman.
“Ya udah ayo,” sahut Reiji yang mengiyakan ajakan Malia, demi menghargai keinginan sang istri, meskipun Reiji rasanya malas keluar dari kamar.
Malia juga menampakkan senyumnya, sembari bangkit dari pangkuan Reiji.
‘Kentang lagi!’ Batin Reiji yang merutuk.
***
Kemunculan Reiji dan Malia ke ruang tamu rumah keluarga Reiji itu disambut antusias oleh Avi, orang tua mereka, juga beberapa sanak saudara yang masih ada segelintir dan masih bercengkrama santai, sambil menunggu hujan yang lumayan deras diluar sana mereda agar mereka bisa melakukan perjalanan pulang ke tempat mereka masing-masing.
Dan tentu saja ledekan kembali menyerang sepasang pengantin baru yang baru saja bergabung dengan mereka yang sedang berkumpul di ruang tamu orang tua Reiji saat ini. Namun Reiji hanya menanggapinya dengan santai. Toh saat ada beberapa sepupunya yang menikah juga dia ikut menjadi tim meledek dengan selorohan-selorohan unfaedah.
Kalau Malia yah, hanya tersenyum simpul saja, dengan rona malu yang seringkali tampak jika telinganya menangkap pembicaraan Reiji dengan beberapa sepupunya tentang hal-hal yang menjurus ke soal ranjang. Jadi demi kenyamanan dirinya, Malia memilih bergabung bersama para tante dan om nya Reiji atau dengan beberapa sepupu perempuan dan Avi.
Kadang-kadang Malia heran sendiri, selama ini Reiji yang dia kenal cool banget orangnya kan. Tapi kalau sudah bersama teman-teman dan saudaranya ini, Reiji kenapa jadi seperti bukan Reiji yang selama ini Malia kenal. Reiji yang dilihat Malia sekarang adalah Reiji yang kocak bahkan bocor juga.
***
Hujan masih turun di luar rumah orang tua Reiji.
Hanya saja tidak sederas tadi sore, dan semua sanak saudara Reiji yang tadi mampir setelah dari hotel juga sudah kesemuanya pulang ke rumah mereka masing-masing.
Menyisakan penghuni rumah inti, dan satu penghuni baru di rumah orang tua Reiji tersebut, dimana si penghuni baru, walau cuma sebentar saja tinggal sebelum pindah bersama Reiji ke apartemen mereka sendiri, kini mulai nampak gugup saat malam kian menjelang, dan sudah waktunya untuk mereka mengistirahatkan diri.
“Yuk, Yang.”
Reiji mengajak Malia untuk bangkit dari ruang santai dengan mengulurkan tangannya pada Malia.
“Ciee yang mau MP!.....” celetuk Avi yang cengengesan menggoda Malia, yang nampak malu-malu lebih ke gugup saat ini kelihatannya.
Papa dan Mama Reiji dan Avi ikutan cengengesan mendengar ledekan Avi pada Reiji dan Malia sambil memperhatikan keduanya.
“Mau minum jamu dulu ga Ji?” selorohan iseng keluar dari mulut Papanya Reiji.
Lalu pria yang kini sudah menjadi Papa mertuanya Malia itu cekikikan diikuti oleh dua anak dan istrinya yang ikut cekikikan.
Sementara Malia salah tingkah dibuatnya.
“Nah iya tuh, tongkat ali mau tongkat ali?. Mama suruh bibi nih ke kios jamu di depan komplek.”
Mamanya Reiji ikut menimpali, sementara Malia sampai melongo melihat keluarga Reiji yang cukup blak-blakan tanpa saringan ngomongnya saat ini.
“Ga perlu.”
Reiji menyahut.
“Tongkat Reiji masih lebih yahud daripada tongkat si Ali!” Reiji malah menambahkan dengan selorohan yang lebih vulgar.
Dan gelakan pun sontak membahana di dalam rumah tersebut.
“Buktikan!” celetuk Papanya Reiji dengan cepat pada sang putra.
“Oke!” Yang disambut seruan antusias dari si Reiji sendiri.
“Pemanasan jangan lupa. Jangan langsung aja, entar edi tansil!” Mamanya Reiji ikut mengeluarkan celetukan un-faedah
‘Oh astagaaaah!!!..’ batin Malia yang terperangah dengan pembicaraan un-faedah Reiji dan kedua orang tuanya itu.
***
__ADS_1
Bersambung ..