WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 144


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


MALIA


Aku kembali menyalakan ponselku setelah waktu makan siang tiba dan pekerjaanku juga sudah selesai aku kerjakan.


Ada rasa lega, selepas ponselku aktif dengan sempurna, tidak ada lagi pesan chat dari Irsyad.


Sepertinya dia memaklumi jika aku sedang sibuk dengan pekerjaanku. Dan lagi aku malas menanggapi pertanyaan Irsyad yang memintaku mengatakan alasan mengapa aku menolak ajakannya untuk bertemu.


Bukan aku ingin memutus tali silaturahmi, tapi aku hanya ingin menjaga jarak saja dengan laki-laki yang bukan suamiku, terlebih aku sudah benar-benar tidak ingin lagi mengecewakan Reiji karena aku sudah mencintainya.


----


Hari ini bisa ketemu kan Li?


Aku menghembuskan nafas berat kala hari ini chat dari Irsyad yang mengajakku bertemu datang lagi.


Aku pikir, setelah adem kemarin sampai aku pulang kantor-dimana Irsyad tidak lagi menghubungi dan mengirimkan chat padaku, ia sudah mengerti-atau setidaknya mengingat kalimat yang pernah aku kirimkan lewat chatku saat aku telah memutuskan ‘kembali’ pada Reiji.


Aku dan dia harus menjaga jarak, itu yang aku tuliskan pada chatku dengan bahasa yang aku buat sesantun mungkin, agar Irsyad tidak tersinggung.


Aku tak menunggu menit berlalu banyak untuk membalas chat Irsyad yang barusan masuk ke ponselku itu.


Maaf Kak, aku bener – bener sibuk dalam beberapa hari ke depan. Kerjaan lagi numpuk banget. Tks.


Seperti itu saja aku membalas chat Irsyad. Dan aku rasa kalimat penolakanku itu sudah cukup sopan dan juga jelas.


Tapi,


Emangnya kamu ga istirahat, Li?.


Chat dari Irsyad masuk lagi.


Istirahat Kak, tapi aku paling maksi sama team terus sampai kerjaan kami rampung.


Yang mau tidak mau aku lekas balas chat Irsyad itu, dengan harapan Irsyad akan menerima alasanku itu.

__ADS_1


Berapa lama kira – kira?.


Aku menghela nafasku, sedikit frustasi karena aku entah mengapa merasa Irsyad sedang mencecarku.


Padahal aku harap Irsyad akan menjawab dengan ‘OK’ atau ‘Ya udah’ setelah aku kemukakan padanya lewat chat, alasanku tidak bisa menerima ajakannya untuk bertemu.


Unpredictable Kak.


Oh ya udah.


Ah finally!. Kata ‘Ya udah’ dari Irsyad muncul juga.


Akhirnya Irsyad bisa menerima alasanku, karena kata ‘Ya udah’ itu adalah kata saktinya – biasanya, yang menandakan jika Irsyad tidak akan mengirimkan chat lagi.


Lagipula aku juga harus menghubungi Bapak Pilot yang entah lagi apa sekarang.


Aku tersenyum tipis kala kata sakti Irsyad itu muncul di ruang chat pribadiku dan Irsyad dalam aplikasi, tanpa lagi membalas pesannya.


Namun senyum tipisku berubah jadi cengiran lebar, kala orang yang ingin sekali aku hubungi, sudah mengirimkanku chat terlebih dahulu sebelum aku menghubunginya.


Orang yang aku tunggu – tunggu kabarnya dari semalam.


Siapa lagi kalau bukan Bapak Pilot tampan nan mesum berlabel ‘suamiku’ itu?.


**


Malia telah berada kembali di kantornya, dan nampak menarik nafas panjang lalu menghelanya perlahan.


Morning Li, udah sampe kantor belum? Hari ini ada waktu buat maksi bareng aku?.


Kala chat dari Irsyad masuk disaat Malia akan memulai waktunya di kantor.


Aku udah di kantor Kak. Tapi soal maksi bareng, kan aku udah bilang kemarin kalau selama beberapa hari ke depan aku sibuk sama deadline project.


Sorry banget, tapi aku harap Kakak ngerti.


‘Mudahan dia ngerti.’ Batin Malia setelah ia mengetikkan dua pesan balasan pada Irsyad.


Ok.


Dan Malia tersenyum tipis, kala balasan chat dari Irsyad masuk.


Thanks and sorry.

__ADS_1


Lalu sebagai basa – basi Malia kembali mengirimkan chat balasan pada Irsyad, karena sedikit banyak Malia merasa tidak enak sudah tiga kali menolak undangan Irsyad untuk bertemu seperti beberapa waktu sebelumnya.


You welcome and never mind, Li. Aku ngerti kok. Have a nice day ya.


Iya. Have a nice day to you too.


Malia kemudian menutup kamar chat pribadinya dan Irsyad di aplikasi.


Lalu melakukan rutinitasnya selama Reiji sedang berada jauh darinya dan belum pulang selama dua atau tiga hari ini, yakni menghubungi Reiji tanpa peduli jam berapa di tempat Reiji berada sekarang.


Dan setelah puas berbicara dengan Reiji, Malia mensunyikan ponselnya agar dapat fokus bekerja, yang sebenarnya tidak serepot yang ia katakan pada Irsyad. Project team dengan deadline yang Malia katakan pada Iryad sesungguhnya hanya alasan yang Malia buat untuk menolak ajakan Irsyad bertemu seperti sebelum - sebelumnya, saat Malia belum berkomitmen untuk 'kembali' pada Reiji.


***


Hari berlalu lagi, dan seperti yang beberapa hari belakangan Malia lakukan sejak Reiji sedang bertugas selama beberapa hari, Malia menarik panjang nafasnya dan menghembuskannya perlahan kemudian.


Chat dari Irsyad macam sudah laki – laki itu program untuk menyapa Malia dan menanyakan hal yang sama, padahal Malia sudah jelas – jelas mengatakan jika dia sedang sibuk dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.


Well, setidaknya sampai Reiji pulang.


Karena Malia ingin menepati janjinya pada Reiji - berpegang teguh pada kata – katanya, yang berjanji pada suaminya itu tidak akan menemui Irsyad dibelakang Reiji.


Dan seperti biasanya, Lia menghela nafasnya kala kata ‘Ya udah’ dan ‘Ok’ muncul di chat nya Irsyad.


Namun hari ini sedikit berbeda, karena ...


Ping!


Ponsel Malia berbunyi, kala ia sedang makan siang bersama beberapa rekan satu divisinya.


Malia yang memang sedang memegang ponselnya itu, tersenyum tipis karena ia menerka jika itu adalah Reiji yang mengirimkannya pesan chat untuk mengingatkan dirinya agar jangan lupa makan siang, terus makan yang banyak.


Disertai dengan gombalan receh yang berbeda – beda setiap waktunya.


Namun, alih – alih yang Malia pikir jika itu adalah pesan chat dari Reiji,


Nyatanya ..


Kak Irsyad:


Li, pulang kantor nanti kamu aku jemput.


****

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2