WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 30


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Dubrovnik, Kroasia...


Kurang lebih sekitar tiga puluh dua jam sekian, Reiji sudah sampai di sebuah Negara yang berbentuk bulan sabit yang berada di Eropa.


Reiji mendaratkan pesawat yang ia kemudikan bersama seorang co pilot disampingnya di bandara negara yang bernama Kroasia itu dengan selamat dan lancar tanpa kendala apapun.


Kemudian Reiji langsung diantar menuju Hotel tempat para kru maskapai penerbangan yang menaungi Reiji itu menginap.


Setelah sampai di kamarnya, Reiji langsung mengistirahatkan dirinya setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian.


****


Jam enam pagi waktu Kroasia, saat Reiji mulai mengerjapkan matanya.


Reiji mengusap sudut matanya setelah kesadarannya mulai muncul.


Lalu ia mengambil jam tangan miliknya yang ia letakkan di samping nakas tempat tidur hotel saat ia hendak pergi membersihkan dirinya.


“Aish, gue lupa balikin mode hape,” gumam Reiji saat ia sedang memikirkan jam berapa sekarang di Indonesia.


Lalu buru-buru Reiji bangkit dari tempat tidur untuk mengambil ponsel yang selama penerbangan ia simpan dalam saku celananya.


“Haiyya! Subuh dulu deh ah mendingan.”


Reiji menggumam lagi sesaat ia akan mengambil celana yang ia pakai kemarin.


“Eh, tapi masih bisa ga ini subuh waktunya?”


Reiji pun menggumam lagi.


“Ah, masih gelap ini diluar.....”


Lagi-lagi Reiji berbicara sendiri.


“Subuh aja deh ah. Daripada engga”


**


Setelah menunaikan ibadah wajibnya, Reiji mengambil ponselnya di dalam saku celana yang kemarin ia gunakan bersama seragam kebesarannya. Lalu ia mengembalikan mode ponselnya ke mode normal agar bisa menerima panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya.


Namun sesaat kemudian Reiji mendengus dan mendecak-kan lidahnya. Pasalnya ia lupa mengaktifkan paket roaming internasional di ponselnya yang ia bawa dari Indonesia tersebut.


“Terpaksa gue harus beli kartu provider lokal ini sih!” Reiji pun menggerutu sendiri. “Gara-gara Lia sih.”


Reiji tersenyum geli.


“Ah demi Lia.”


Reiji meraih pesawat telepon yang ada di dalam kamar hotelnya itu.


Lalu berbicara pada resepsionis hotel dan memberitahukan jika ia ingin melakukan panggilan internasional.


**


Sementara itu di Indonesia..


Entah kenapa hari ini sering sekali Malia melirik arlojinya. Selain sering juga melihat ponselnya, walaupun sedang tidak ada notifikasi yang berbunyi.


Kadang iseng melihat berita di internet dalam komputernya.


‘Emang penerbangan ke Kroasia itu berapa jam sih?’ Batin Malia bertanya-tanya sembari memandangi layar komputernya.


Entah kenapa Malia merasa sedikit tak tenang karena Reiji belum juga menghubunginya. Padahal sudah lewat sehari, dan sekarang sudah hampir tengah hari.

__ADS_1


Namun Malia belum mendapat kabar apa-apa dari Reiji.


‘Si Avi lagi sibuk ga ya? ..’


Malia meraih lagi ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja kerjanya.


Lalu Malia membuka aplikasi pesannya dan membuka pesan chat dimana nama Avi bertengger disana. Dan selalunya kontak Avi berada di barisan atas aplikasi chat dalam ponsel Malia itu.


Karena ada aja yang dua sahabat itu bahas, kala mereka senggang dan tidak berada di tempat yang sama.


Vi. ( Malia ).


Uy. ( Avi ).


Sibuk ga?. ( Malia ).


Engga. Naposeh?. ( Avi ).


Gue telpon ya?. ( Malia ).


*Ngoggheyyyy**. ( Avi ).*


***


MALIA


Hatiku sedikit tenang setelah menghubungi Avi beberapa saat lalu dan menanyakan soal Reiji. Meski pada akhirnya aku mendapat ledekan dari Avi, soal kekhawatiranku pada Reiji. Kata Avi kayaknya aku udah ada rasa-rasa sama Reiji.


Rasa apaan?. Permen kali ah. Orang aku nanyain Reiji yang katanya mau nelpon saat sampe di Kroasia, tapi udah dua hari dia belom kasih kabar apa-apa. Ya wajar dong, kalau aku merasa sedikit resah?. Meski aku tak tahu kenapa aku sampai merasa resah begini.


‘Insya Allah, Bang Rei ga kenapa-kenapa .. Setau gue dari Bali ke Kroasia itu sekitar tiga puluh dua jam lebih. Jadi mungkin pas sampe Bang Rei langsung tidur.’


Begitu yang Avi katakan padaku, saat bicara dalam sambungan telpon denganku tadi.


Terus kata Avi juga perbedaan waktu disana sama disini itu sekitar lima jam-an dan waktu di Indo lebih cepat.


‘Lagipula kalo ada berita tentang pesawat yang kenapa-kenapa pasti udah ada di tivi itu beritanya, Nek.’


‘Udah lo santai aja. Insya Allah, Bang Rei selamet. Pasti dia nanti hubungin lo kalo dia udah janji begitu. Jadi lo tenang aja.’


Mendengar ucapan-ucapan Avi itu aku pun bisa merasa tenang.


Walaupun terakhir si Avi bilang,


‘Tenang Li, abang gue itu setia orangnya..’


‘Ga doyan jajan apem susu.'


Danaku paham apa maksud apem susu yang dibilang si Avi barusan.


'Cowok bae-bae kok itu Bang Rei, caya deh. Kalo lo khawatir Bang Rei ga bobo sendirian disana.’


Kan rese banget si Avi segala ngomong begitu?.


‘Apaan sih lo!’


Segera aku interupsi ucapan gaje si Avi itu, tapi itu cewe malah tergelak tanpa akhlak.


Tapi setidaknya, yah aku sudah bisa kembali mulai fokus pada kerjaanku yang ke-pending gegara mikirin si Reiji yang beloman ngasih kabar padaku.


Jangan-jangan Reiji Cuma basa-basi doang kemarin, soal dia yang akan menghubungiku saat sampai di Kroasia. Dan kenapa aku jadi ngarepin dan nungguin telpon dari dia begini coba?.


Kenapa si Reiji mesti laporan ke aku saat mau berangkat kerja?. Kenapa ga kayak biasa aja gitu. Terbang ya terbang tanpa laporan. Nanti pas balik ke Indo ya kalo mau ketemu tinggal dateng ke rumah.


Kenapa juga dia harus janjiin mau nelpon, dan kenapa aku kesannya jadi nungguin telpon dari Reiji yang sekedar ngasih tau kalo dia udah sampe di negara tujuan?.


Harusnya kan biasa aja gitu, mengingat aku dan Reiji juga bukan pasangan yang  bersatu akibat cinta dan intens berkomunikasi tiga kali sehari kek waktu makan.

__ADS_1


Iya harusnya biasa aja. Reiji ga usah bersikap kek pacar yang laporan ke pacarnya, dan aku ga usah nunggu-nungguin telponnya gini. Kan jadi sebel sendiri nih aku sekarang.


Jadi ngedumel dalam hati sambil ngerjain kerjaan.


Hingga ponselku yang berada di atas meja bergetar dan sebuah nomor tak dikenal tertera di layar.


Nomor yang nampak asing, namun aku terima begitu saja.


Padahal aku tipe orang yang selalu mengabaikan nomor-nomor antah berantah yang masuk ke ponselku.


Dan suara yang terdengar saat aku menggeser tombol hijau ponselku, membuat aku menaikkan sudut bibirku.


“Assalamu’alaikum, calon istri”


Nelpon juga akhirnya ini calon suami.


***


MALIA


Hanya obrolan basa-basi yang selanjutnya aku bicarakan dengan Reiji setelah ia bertanya aku sedang apa.


Aku memberikan kode agar Reiji segera memutuskan sambungan telepon yang ia lakukan dari hotel tempatnya menginap itu.


Bukan apa, sayang kan duitnya kalo dipake banyak Cuma buat biaya telepon internasional?.


“Kapan balik?”


Sebenarnya ingin ku jadikan kalimat pamungkasku untuk mengakhiri telepon setelah Reiji menjawab pertanyaanku itu.


Namun alih-alih aku dapat jawaban pasti,


“Kenapa?, kamu kangen aku ya? .....”


Malah Reiji bilang begitu. Apa coba?.


“Idih, pe-de!....”


Dan jawaban itu yang kemudian meluncur dari bibirku.


Samar, aku dengar dengusan geli Reiji dari sebrang telpon.


“Jadi ga kangen nih?”


Kemudian Reiji berkata lagi.


Perkataan yang berupa pertanyaan garing menurutku.


“Biasa aja tuh”


Jawabku dengan cepat.


“Kalo gitu aku kangen sendirian dong ya? ....“


Aku tak bisa mengelak, jika aku mengatakan tak paham maksud ucapan Reiji itu.


Dimana nada suara Reiji terdengar seperti tidak sedang menggodaku.


Selanjutnya apa yang Reiji bilang,


“Because, I do, missing you already, Malia....(Karena, aku rasanya, sudah merindukan kamu, Malia)....”


Dan lidahku seolah kaku, saat kalimat itu aku dengar.


***


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2