WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 286


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


“Aku ga akan nyindir kamu lagi dengan menghubung-hubungkan itu si bibit pelakor sama kamu.”


Janjiku pada Rei setelah aku sempat sedikit mencibirnya.


Padahal aku yang menyebut nama Shirly selepas aku bertanya karena mendengar gumaman Rei, hanya secara spontan saja.


Tapi Rei nampak serius menanggapi celetukanku itu, meski ekspresi wajahnya sama sekali tidak menggambarkan ketidak-sukaan.


Walau ucapan Rei kemudian, malah jadi terdengar dia mencibir balik diriku. “Baru sebentar, udah diingkari janjinya?” begitu kata Rei.


Namun aku tidak marah karena ucapan Rei itu.


Aku membalas kalimat Rei yang seolah mencibirku balik itu, dengan santai saja.


Lalu menyepakati ucapan Rei yang bilang, “Kan katanya ga mau bahas tentang dia lagi?”


Dan Rei pun tersenyum sambil mengucap lembut pucuk kepalaku setelah aku mengucapkan kalimat yang bermaksa sebuah janji, kalau aku tidak akan menyertakan lagi si bibit pelakor itu sebagai cibiran maupun sindiran pada Rei.


Menganggap selesai, permasalahan antara aku dan Rei yang sempat timbul karena persoalan jalinan persahabatan Rei dan si Shirly itu yang menurutku kelewat perhatian suamiku—selain kurang peka. Tapi ya sudah, aku tidak ingin dan kemungkinan tidak akan mempermasalahkannya lagi.


Toh Rei sudah menunjukkan gelagat—bahkan berjanji serius untuk benar-benar memutuskan tali persahabatannya dengan si bibit pelakor itu. Dan aku telah mendengar sekaligus melihat keseriusan Rei soal itu, ketika Rei berbicara dengan salah seorang sahabat lelakinya via ponsel. Jadi sekarang, aku hanya tinggal melihat saja, apa Rei akan konsisten dengan keputusannya.


Karena sejauh yang aku tahu, Shirly memiliki seorang anak yang bisa membuat Rei begitu merasa tak tega, jadi jika si bibit pelakor itu—katakanlah coba menggunakan anaknya untuk merebut Rei dariku—karena aku membaca salah satu chatnya yang bilang kalau sekarang dia sudah ada rasa pada suamiku—aku hanya tinggal melihat bagaimana Rei menyikapinya.


Bukan aku tega tak punya hati nurani, karena aku juga termasuk penyuka anak-anak.


Namun jika dihadapkan pada seorang anak dari perempuan yang pernah dicintai suamiku lalu sekarang perempuan itu mengaku mencintai Rei, ya aku tidak mau Rei berhubungan lagi dengan anak itu atas alasan apapun.


Meski Rei berani bersumpah dari sejak awal kami menikah, kalau perasaan cintanya pada si bibit pelakor itu sudah dia lepaskan betul-betul—bahkan dari sebelum kami dijodohkan.


Tapi kan Rei pernah sanggup berbohong dan main kucing-kucingan denganku terkait anak si bibit pelakor itu?...


Jadi lihat saja nanti bagaimana ke depannya.


Aku mencintai Rei memang, tapi jika sekali lagi ada sikap Rei yang membuatku tidak senang terkait si bibit pelakor itu dan anaknya, aku memilih untuk bercerai saja dari Rei.


Terserah jika aku mau dibilang berlebihan atau terkesan lebay. Aku hanya perempuan dan seorang istri yang tidak ingin suaminya membagi perhatian pada perempuan lain di luar hubungan yang namanya keluarga berdasarkan ikatan darah.


Termasuk perhatian dan kasih sayang Rei dan seorang anak. Yang mana aku inginkan perhatian dan kasih sayang Rei pada seorang anak itu, seharusnya hanya milik anak kami saja.


Atau, yaah anak Avi jika ia sudah menikah nanti. Karena anak Avi akan secara otomatis aku anggap anakku sendiri.


Atau juga anak dari mereka yang memiliki ikatan keluarga dengan kami berdua.


Jadi meski aku sudah berdamai dengan kekesalan dan kemarahanku pada Rei yang sempat membohongi dan menggores harga diriku sebagai seorang istri, namun masih ada bekas di hatiku yang membuatku masih ingin melihat progress kesungguhan Rei jika apa yang aku pikirkan terkait anaknya si bibit pelakor itu kejadian.


**


“Besok ga usah ngantor ya?...”


Reiji sekali lagi menanyakan kesediaan Malia.


Dan sekali lagi Avi memberikan dukungannya pada sang kakak, sekaligus memprovokasi agar Malia mengiyakan permintaan kakaknya itu.


“Kan kamu juga sebenernya masih dapet cuti dari Andra, Yang?...”

__ADS_1


“Iya sih—“


“Lagian juga kamu belom setor muka sama mama papa kita abis kejadian kemaren. Dan tadinya hari ini aku mau ajak kamu temuin mereka...”


“Tau sih, Neng. Ijin sehari doang. Paling engga biar mereka tenang...”


Avi menimpali ucapan Reiji, dan Malia langsung menimpali ucapan Avi itu.


“Gue udah telfon mereka, kok—“


“Ya pasti mereka pengen ketemu lo langsung lah.”


“Iya, Yang. Avi bener...”


“Ya udah iya...” Malia akhirnya mengiyakan permintaan Reiji yang didukung Avi itu.


“Lagian elo, pake segala kerja hari ini bukannya ke rumah mama papa aja—“


“Ya namanya gue lagi bete plus kalut gimana?—“


“Sekali lagi maaf...” Reiji menukas percakapan dua perempuan yang sedang bersamanya itu.


“Eh aku ga ada maksud nyindir kamu loh, Rei. Emang kondisinya tadi pagi kayak gitu.”


Malia mengklarifikasi, dan Reiji mengangguk seraya tersenyum. “Aku ga ngerasa kamu sindir kok, Yang... emang aku sendiri ngerasa salah,” ucap Reiji kemudian.


Sementara Avi mendengus geli.


“Peka banget Abangkuh sekarang?...” ledek Avi setelahnya, dan Reiji langsung berdecak seraya melayangkan lirikan sinis pada adiknya itu.


Dan Malia tersenyum geli saja.


**


Malia bertanya pada Avi, ketika ia dan sahabat merangkap adik iparnya itu sudah berada di rumah orang tua Malia dengan personel keluarga mereka yang lengkap.


Ditambah dengan kehadiran satu orang lagi yang adalah pacarnya Avi.


“Lusa gue balik ke Jogja.”


“Cepet amat?“ respons Malia.


“Gue nih udah ninggalin tender furniture hotel demi elo. Saking gue kalang kabut pas denger lo ga ada kabar udah dua hari dan gue emang susah hubungin lo.“ tutur Avi yang menjawab protes kecil Malia mengenai waktu keberadaannya di Jakarta.


“Trus maksudnya lo ga ikhlas gitu?...“


“Yeu, kalo gue ga ikhlas, pas gue dateng trus denger lo oke aja yang ada gue langsung terbang ke bali ngejar itu tender!...”


Avi merespons antusias cibiran kecil Malia yang bernada candaan, dimana Reiji langsung bereaksi. “Ga usah ngegas sama bini gue...” sedikit ngegas, dan tangannya  menoyor kepala Avi.


Yang langsung dibalas dengan ledekan Avi lagi pada Reiji, dan langsung juga ditanggapi Reiji dengan setengah ketus.


Dimana interaksi keduanya membuat mereka yang melihatnya mengulum senyuman. Dan pembicaraan berikutnya bertopik soal kelanjutan hubungan Avi dan pacarnya, namun obrolan tersebut berjalan dengan santai.


**


MALIA


Aku memutuskan untuk tidak menginap dulu di rumah orang tuaku.


Karena besok hari aku berencana masuk kantor. Dan Rei sempat mengatakan padaku, jika mungkin besok dia akan menemui bosnya untuk memberitahukan bahwasanya dia siap untuk ditugaskan lagi meski Rei seolah nampak mendapatkan hak khusus dari satu keluarga yang mempekerjakannya sebagai pilot pribadi mereka itu.

__ADS_1


Namun sama sepertiku--kalau soal pekerjaan, kami berusaha bersikap seprofesional mungkin dan menepiskan kata ‘Aji Mumpung’ meski aku dan Rei mendapatkan perhatian lebih dari bos kami masing-masing. Terlebih satu keluarga yang menjadi bosnya Rei itu, yang tidak hanya memberikan Rei cuti demi untuk menemaniku yang katakanlah habis tertimpa musibah—tapi juga mereka berandil besar dalam usaha penyelamatanku dari niatan dan hal buruk yang Irsyad lakukan padaku.


Jangankan Rei, aku sendiri pun merasa sungkan pada satu keluarga itu yang bersedia membantu mereka yang bekerja padanya sampai seperti itu. Dan aku berencana untuk berkunjung ke tempat mereka yang huniannya macam istana negara itu saat aku dan Rei senggang nanti, untuk menunjukkan betapa kami sangat berterima kasih atas bantuan dan perhatian mereka itu. Namun sebelumnya aku dan Rei berjanji untuk menyediakan waktu untuk menginap di rumah orang tua kami bila kami senggang nanti.


“Pokoknya pas beneran senggang, langsung ya kalian cus nginep di sini sama di rumah Papa Tino dan Mama Alice?”


Mamaku yang bicara itu.


Yang langsung aku dan Rei respons secara bersamaan, “Iya Ma.” Dan mamaku langsung tersenyum, begitu juga mamanya Rei dan Avi. Termasuk dengan kedua papa yang ikut pula menerbitkan senyuman, saat mereka mengantarku dan Rei yang sudah hendak keluar dari rumah orang tuaku itu.


--


Aku dan Rei berpamitan pada orang tua kami, Avi dan pacarnya yang kemungkinan besar akan menjadi suaminya nanti.


Namun sebelum aku dan Rei mencapai mobil, celetukan keluar dari mulut mama mertuaku yang bertanya padaku dan Rei.


“Oh iya, Ji, Lia. Soal promil kalian gimana progressnya?—“


Deg!


Aku langsung dilanda ketidaknyamanan dalam hatiku.


Ingat, kalau aku telah membatalkan program itu, tapi mulutku berat untuk berkata jujur kepada mama mertuaku itu, serta pada keluarga kami yang beberapa waktu lalu bercengkrama bersama.


“Dipause dulu. Kan Lia juga abis kena musibah gini?” Rei yang mengambil alih untuk menjawab, setelah aku dan Rei sempat saling lirik.


“Oh iya, ya?...” sahut mama mertuaku itu, langsung setelah Rei bertutur dimana kemudian ucapan mama mertuaku membuat ada rasa bersalah hadir di hatiku. “Maaf ya Lia?... saking pengen buru-buru ini nini-nini sama aki-aki pengen cepet nimang cucu, jadi lupa kalo menantu mama yang cantik ini belom lama abis dijahatin orang—“


Lia yang harusnya minta maaf, Ma...


Namun kalimat itu hanya aku katakan di dalam hatiku.


Tidak tega rasanya memberitahukan orang tua kami kalau aku sudah membatalkannya secara sepihak saat dilanda emosi karena fakta tentang Rei yang selama ini menafkahi si bibit pelakor bertopeng sahabat itu.


Serta juga karena dibayang-bayangi, sudah ada sosok anak lain yang melangkahi hak mutlak milik anakku seharusnya, untuk memanggil Rei dengan sebutan 'Papi'. Dan aku sungguh terganggu juga dengan itu.


Hanya saja, aku lupa jika pernikahanku dan Rei bukan hanya melibatkan kami saja, melainkan ada orang tua kami selain Avi.


Yang seperti mama mertuaku katakan, kalau mereka sungguh mengharapkan aku dan Rei segera memiliki momongan. Walau memang tak pernah ada tekanan dari mereka atas itu.


Tapi setelah ucapan mama mertuaku yang langsung diaminkan oleh tiga orang tua yang lain, ada rasa bersalah yang hinggap di hatiku atas keputusanku menghentikan promil yang sempat aku dan Rei jalani.


Aku sedang sangat dilanda emosi kala mengambil keputusan untuk menghentikan promil yang sudah setengah jalan, bahkan langsung menghubungi dokter yang selama ini membantu dan membimbingku serta Rei dalam menjalani program memiliki momongan cepat tersebut untuk mengatakan jika aku yakin untuk menghentikannya.


Dan atas namanya emosi, hingga aku jadi tidak berpikir panjang.


Habis bagaimana?...


Hatiku rasa tak terima jika calon anakku dan Rei sudah dilangkahi oleh anak dari perempuan lain yang tidak ada ikatan kekeluargaan apapun dengan kami, meskipun itu bukan anak biologis Rei.


Hhhh...


Kekanakkan, mungkin--pemikiranku itu.


Tapi itu menyangkut prinsipku.


Dan aku begitu sensitif dengan segala hal yang berhubungan dengan prinsipku.


Salahkah aku jika aku seperti itu?...


******

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2