
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
“Eh iya Rei, Kata kamu, kamu udah bilang kalo kamu ga ikut ke ini acara?--- Tapi kok masih tetep dapet jatah kamar? Harusnya kan kamar jatah kita ini udah dikasih ke orang lain bukannya?”
“Um, itu---“ jawab Reiji. “Aku udah kasih tau penanggung jawab acara ini pas kamu bilang kamu mau ikut .... jadi jatah kamar kita tetep dipertahanin---“
Reiji jujur bicara dan Malia pun ber-oh ria.
“Ada lagi yang mau kamu tanyain?....” tanya Reiji dengan sebuah arti.
Maila tersenyum kecil seraya menggeleng.
“Ga sih, itu aja.”
Malia menjawab yang sebenarnya.
Hanya hal itu saja yang iseng ingin ia tanyakan pada Reiji.
Selain Malia tidak ingin Reiji tahu jika ia menguping panggilan telepon Reiji kemarin, dengan menanyakan apa Reiji berencana melakukan sesuatu pada Irsyad.
‘Nanti kalo gue tanya soal itu, yang ada si Rei mikirnya gue ga tulus soal ingin memperbaiki hubungan pernikahan gue dan dia ini .. meski gue juga khawatir kalo sampe ada baku hantam antara Rei dan Irsyad, tapi apa yang gue bilang sama Rei soal memperbaiki hubungan kami dalam pernikahan gue dan dia adalah yang sebenar-benarnya, yang ingin gue lakukan sekarang ---‘
Malia bermonolog panjang dalam hatinya. Sementara Reiji punya monolog sendiri dalam hatinya juga.
‘Kalau Lia tanya soal apa gue serius sama ancaman gue ditelpon tentang gue yang mau kasih pelajaran itu bibit pebinor, fix gue akan beranggapan sikap Lia ke gue sekarang ini palsu-‘
Hati Reiji yang bermonolog sembari menatap Lia yang nampak terbengong dihadapannya saat ini.
“Trus ini acaranya kira-kira mulai jam berapa?-“ Lia mengangkat tangan sebelah kirinya dan melihat waktu yang terpampang disana. “Ini kan udah masuk jam makan siang. Harusnya udah mulai kan ---“
“Kamu laper?-“ Reiji menyela ucapan Malia. “Kalau kamu emang udah laper kita bisa turun sekarang.”
“Engga sih –“ tukas Malia. “Aku belum laper.”
“Beneran? –“
“Iya bener –“
Malia dan Reiji saling menukas omongan.
“Ya udah kalo gitu--“ ucap Reiji. “Kayaknya aku deh yang sedikit ‘laper’ –“
Sambil Reiji menyeringai kecil memandang dengan satu arti pada Malia.
“Eh, haus deng –“
***
MALIA
“Kalau kamu emang udah laper kita bisa turun sekarang.” Reiji berkata padaku selepas aku bertanya padanya soal jam berapa acara family gathering yang diadakan oleh maskapai tempat Reiji bernaung sebagai seorang Pilot ini.
“Engga sih – Aku belum laper,” tanggapku atas ucapan Reiji.
Lalu aku dan Reiji saling menukas omongan, kemudian Reiji tersenyum padaku.
Senyum yang ..
__ADS_1
“Ya udah kalo gitu. Kayaknya aku deh yang sedikit ‘laper’ –“
Disertai kalimat yang ambigu, dengan senyuman Reiji yang nampak aneh bagiku. Membuatku jadi was-was.
“Eh, haus deng –“
Kan, itu yang mau kutebak dari senyuman Reiji model itu. Kalau senyuman yang sedang Reiji tampakkan padaku itu adalah senyuman mesumnya.
“Ish!”
Aku pun sontak mencebik, kala tubuhku yang berada dalam rengkuhan tangannya yang melingkar di pinggangku itu mulai diajak Reiji untuk bergeser-geser, dimana aku tau kemana arah Reiji menggeserku itu.
Kemana lagi kalau bukan ke ranjang big size di dalam kamar Villa yang disediakan untuk kami itu.
“Seronde aja seronde.”
Reiji terus membawa tubuhku bergeser hingga aku berjalan mundur.
Yang pada akhirnya aku bisa melepaskan diri dari Reiji, setelah aku mencubit pinggangnya.
Reiji mengaduh dan sedikit meringis. Namun setelahnya ia terkekeh sambil memandang padaku.
“Doyan banget!” gerutuku, dan kekehan Reiji terdengar semakin geli.
“Abis kamu enak banget Yang.” Balas Reiji tanpa saringan atas gerutuanku.
Yang kemudian langsung saja aku raup bibirnya atas mulut Reiji yang suka ngomong tanpa saringan itu.
---
“Family gathering buat kru terbang di maskapai tempat aku kerja ini ga formal macam family gathering kek biasa tempat kerja lain adain, Yang---“ ucap Reiji yang berbaring disampingku di atas ranjang dalam kamar Villa yang disediakan untuk kami itu.
Tidak ada adegan panas yang baru saja terjadi, karena murni kami hanya sama-sama rebahan aja sambil ngobrol santai. Dan jujur, aku cukup menikmati momen kecil ini.
Aku berbaring miring, saling berhadapan dengan Reiji.
“Tapi ya tetep nanti ada sesi kumpul bareng.” Mendengarkan Reiji bercerita tentang acara family gathering yang kata Reiji rutin diadakan setiap beberapa bulan sekali ini.
“Terus setiap acara selalu disini?” tanyaku.
“Ga selalu. Tapi lumayan sering juga disini.”
“Terus kamu selalu ikut?.. Setiap ada acara beginian?..”
“Kadang-kadang. Kalo emang lagi pengen ikut ya ikut, terutama kalo keluarga kita lagi ga bikin acara.”
“Terus kamu bawa siapa sebelum kita nikah?” tanyaku penasaran.
“Bawa diri sendirilah.” Reiji menjawil hidungku. “Aku ini cowo baik-baik oke?—“
“Iya iya percaya..”
“Ga ikhlas tuh kayaknya ngomong percayanya..” celetuk Reiji.
“Yaa kalo boleh jujur. Percaya ga percaya,” balasku.
“Ga percayanya?—“
“Ya ga percaya aja kalo kamu sebelumnya ga pernah punya pengalaman sama cewe di tempat tidur secara kamu udah macem pro, dan udah keliatan begitu dari waktu mp kita, bisa bikin aku terbuai, kan --”
Aku langsung mengatupkan bibirku rapat-rapat seraya kulipat ke dalam, saat aku menyadari jika aku nyerocos dan mengatakan sesuatu yang harusnya tidak aku katakan, walau aku mengakui hal tersebut dalam hatiku.
Kehebatan Reiji dalam bercinta, yang mampu membuatku benar-benar serasa terbang ke awang-awang.
__ADS_1
Tapi seharusnya itu aku simpan dalam hati saja.
Reiji tidak perlu tahu, jika memang aku sebenarnya selalu menikmati saat-saat kami ‘menyatu’.
Memang seharusnya Reiji tidak perlu tau...
“Jadi kamu terbuai saat kita bercinta?”
Dan hal inilah yang jadi alasanku menyimpan pujian atas kehebatan Reiji jika kami bercinta dalam hatiku saja. Karena akan ada celetukan tanpa saringan dari mulutnya.
“Berarti servisku bagus dong?”
Wajah tampan itu sudah bercampur ekspresi kemesuman yang hakiki, dan mulai menempel padaku, berikut tangan Reiji yang sudah menari-nari sensual di garis pinggangku.
Membuat aku bergidik dengan desir tanpa akhlak yang langsung tanpa permisi mulai menjalar di darahku. Yang selalunya ingin membuatku merutuki diri sendiri, yang seolah ‘murahan’ asal Reiji mulai melakukan ‘serangan’ secara halus.
Memang nyebelin ini si Rei.
Satu telunjuknya aja sudah bisa membuat darahku ser-seran.
“Ennghh.”
Kan, pasrah kan aku jadinya kalo telunjuk Reiji udah mulai menjajah cantik.
Yang mana sekarang telunjuk itu udah pindah posisi perlahan tapi pasti ke puncak satu gunungku.
**
Reiji membawa Malia keluar dari kamar selepas pada akhirnya seronde bercinta yang dilakukan dengan cepat oleh Reiji pada Malia terjadi akibat ‘tarian’ telunjuk Reiji di tubuh Malia.
‘Tarian’ telunjuk Reiji yang pada akhirnya membawa Reiji dan Malia ‘menari’ tumpang-tindih dalam kenikmatan itupun terpaksa dilakukan dengan cepat, karena ada ketokan yang meminta semua orang untuk segera berkumpul di halaman belakang Villa.
Reiji dan Malia segera membersihkan diri mereka, setelah acara ‘menari’ mereka di tempat tidur telah mereka selesaikan. Dan keduanya juga telah rapih dalam balutan baju santai yang sudah menggantikan baju mereka saat datang tadi.
Reiji menggandeng tangan Malia, sambil ia menitipkan ponselnya untuk Malia pegang. “Kalo ada yang telpon dan kamu mau menerima untuk bicara, silahkan aja ya Yang?”
Reiji berucap seraya ia memberikan ponselnya pada Malia. Dan Malia pun langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Termasuk kalau ada pesan masuk dan kamu mau baca, ya baca aja,” ucap Reiji lagi.
“Iy –“ sahutan Malia tak lengkap, karena ia langsung teralih, kala dering ponsel milik Malia berbunyi.
Dimana Malia langsung menjadi merasa tak nyaman lebih ke salah tingkah, saat ia melihat nama pemanggil di layar ponselnya tersebut.
‘Ish, kenapa lah Irsyad telfon pas banget ada Rei disamping gue?! ...’
Malia menggerutu dalam hatinya, karena dia tak bisa berkelit saat ponselnya berdering dan Malia refleks mengangkat ponselnya yang hendak ia masukkan ke saku celana jeansnya itu-untuk melihat siapa yang sedang berusaha menghubunginya lewat sambungan telepon di ponsel pintarnya itu.
Bagaimana bisa berkelit, karena Reiji memang pas sekali berdiri disisinya-yang satu tangan mereka saling bertautan tadi. Malia menggigit bibir bawahnya, sambil takut-takut melirik pada Reiji yang menampakkan seutas senyuman padanya.
“Terima aja kalau kamu emang mau terima telfonnya dia, Yang.” Ucap Reiji yang nampak santai.
Satu tangan Reiji terulur ke puncak kepala Malia.
“Tapi kalau bisa tolong diloud speaker.” Kata Reiji.
“Engg.” Malia menggumam kikuk serta canggung.
“Atau kalo boleh aku aja yang terima itu telfon dari si Irsyad dan bicara dengan dia?”
**
Bersambung ...
__ADS_1