WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 84


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Aku langsung saja mengecek ponselku, kala aku telah terbangun lagi dari tidurku disaat suara alarm dari ponselku lambat laun terdengar jelas di telingaku.


Ku lirik sisi bagian tempat Reiji biasa tidur.


Dan bagian itu masih kosong, serta rapih.


Ku lirik kemudian jam dinding dalam kamar, dimana aku sudah bisa menerka-nerka jam berapa sekarang dari suara alarm yang berbunyi di ponselku itu.


Tapi mataku spontan saja melirik ke arah jam dinding kamar, dan memang tepat seperti dugaanku jika waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi waktu setempat.


Aku rasa Reiji memang belum kembali ke apartemen kami ini. Padahal Reiji menyampaikan padaku, jika dia akan sampai di Jakarta sekitar pukul sebelas atau selambat-lambatnya jam dua belas malam.


Dan akan sampai di apartemen sekitar pukul dua pagi. Tapi ini sudah pukul setengah lima pagi, dan aku yakin Reiji belum kembali ke apartemen kami ini jika melihat ranjangnya yang kosong dan masih rapih.


Kemana dia?...


Jangan bilang anter si Shirly lagi! Ga inget apa kalo sahabatnya yang bernama Reiji Shakeel udah nikah, sampe masih minta tolong dianterin sama suami orang?.


Karena kalau iya, aku akan marah kali ini.


Gila aja kalo segitunya belain temen sampe subuh begini.


Jadi ku raih ponselku, yang alarmnya masih berbunyi nyaring itu.


Ada pesan chat dari Reiji.


‘Maaf Yang, aku mendadak ngabarin kalau dari Cengkareng aku langsung ke Bogor. Aku lupa kalau besok ada jadwal kumpul rekan sesama Pilot.’


‘Jangan marah ya?’


‘Sorry aku ga telpon, takut kamu udah tidur. Aku baru sampai Jakarta hampir setengah dua belas, dan baru kelar di Bandara jam setengah satu.’


‘Aku usahakan pulang cepet dari Bogor. Love you.’


Yang kemudian aku baca saja, tanpa aku balas.


Bukan apa, baru banget bangun tidur.


Jadi rasanya kalau nyawa belum kumpul tuh males aja bales chat di aplikasi.


Mau dari Reiji atau dari siapapun. Secara, otak kan belom konek pasti.


Terkecuali ada satu hal yang memang bener-bener mendesak dimana aku tidak akan hanya mengirim chat jika ada informasi darurat. Karena aku pasti akan langsung melakukan panggilan telepon.


Jadi bukan karena aku marah pada Reiji karena dia yang punya acara tapi lupa mengatakan padaku, hingga aku tidak langsung menjawab pesan chat Reiji.


Tapi memang murni aku masih merasa malas untuk membalas pesan kalau baru bangun tidur di pagi buta begini.


Lagipula aku harus menunaikan kewajiban shubuh dulu.


Mungkin nanti setelah sholat aku akan membalas chat Reiji.


***


Setengah jam kemudian, Malia baru lagi meraih ponselnya yang masih berada di atas nakas samping ranjang di sisi tidurnya. Lalu membuka lagi kontak Reiji dalam aplikasi. Terlihat waktu aktif Reiji terakhir kali pada sebuah aplikasi komunikasi online sejuta umat, yang baru beberapa belas menit yang lalu.


'Iya aku ga marah.'


Pesan chat balasan yang Malia kirim.


'Jangan lupa sholat shubuh.'


****


MALIA


Reiji tidak lama meneleponku kemudian, setelah aku membalas pesan chatnya. Ucapan permintaan maaf, selain salam yang langsung menyapaku, saat aku menerima panggilan video dari Reiji.


“Beneran ga marah kan? ..”


Lalu pertanyaan itu Reiji lontarkan.


“Engga Reii.”


Dan jawaban itu yang aku berikan.

__ADS_1


Karena memang aku tidak marah sama sekali sih, jika Reiji memang memiliki jadwal acara dengan teman-teman satu profesinya.


Toh Reiji juga tidak pernah melarangku untuk berkumpul dengan teman-teman kantorku jika ada cetusan untuk hang out bareng.


Cuma ya dengan wejangan dari Reiji, kalo ada cowoknya, harus laporan sama dia.


Jadi ya aku tidak mempermasalahkan kegiatan bersosialisasi nya Reiji dengan teman-temannya.


“Nih lihat ya, perhatikan baik-baik.”


Reiji membuat kamera ponselnya mengarah ke setiap sudut kamar hotel tempatnya menginap itu.


“Ini Eugene, temen sekamar aku.” Lalu Reiji menunjukkan seorang laki-laki yang bersamanya di kamar tersebut, dimana laki-laki itu nampak sedang pulas terlelap.


Apaan sih ni si Rei?.


Sampe segitunya banget, takut dicurigain sama aku?.


“Iya Rei.”


Aku bersuara agar Reiji berhenti menunjukkan bukti-bukti kejujurannya yang pergi mendadak untuk berkumpul dengan teman-teman satu profesinya.


“Ga usah sampe segitunya amat kali.” Kataku lagi. “Aku juga ga minta bukti kejujuran kamu ---“


“Ya aku hanya ingin menjaga kepercayaan kamu sama aku aja, Yang ..”


“Iya, aku percaya Rei ..”


“Alhamdulillah kalo gitu.”


Kami sama-sama tersenyum kemudian.


“Makasih ya.” Ucap Reiji selanjutnya.


“Sama-sama.” Balasku.


“Aku shubuh dulu ya?”


Reiji berpamitan dan aku segera mengiyakan.


-


Reiji memenuhi janjinya untuk pulang dengan cepat dari Bogor.


Dimana acara itu-kalau menurut Reiji, memanglah jadwal rutin para pilot yang tadinya hanya sering berinteraksi di bandara, namun kemudian jadi sering duduk bersama dan akrab, hingga kemudian tercetuslah ide untuk membuat jadwal berkumpul rutin yang waktunya akan dibicarakan kembali jika rencana telah tercetus, lalu menyesuaikan dengan jadwal masing-masing.


Jadi atas dasar penjelasan tersebut aku woles saja. Aku juga bukan perempuan yang suka mengekang kebebasan pasangan, terlepas walau aku belum mencintai Reiji. Tapi sebagai istri, tentunya aku berhak mengetahui apa yang suaminya lakukan diluar, begitu juga sebaliknya. Hanya saja untuk urusan ‘me time’ aku tidak mau mengekang, karna suatu saat aku juga pasti butuh yang namanya ‘me time’ atau ‘friend time’.


Well, tentang kata ‘friend’ aku jadi teringat seorang ‘teman’.


Teman, yang membuatku memiliki perasaan yang begitu dalam padanya.


Teman, yang belum aku ceritakan pada Reiji. Teman masa lalu seperti halnya Shirly bagi Reiji.


Teman, yang ternyata, masih mengusik relung hatiku.


Tapi aku, harusnya menghentikan 'teman' yang mengusik dalam relung hatiku ini dengan segera.


**


Author’s POV


Beberapa hari berlalu..


Kehidupan Malia dan Reiji berjalan seperti biasa dalam beberapa hari ini. Normal.


Seperti yang Malia katakan pada Reiji jika dia tidak mempermasalahkan Reiji yang ingin menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya, maka itu yang terjadi.


Malia santai saja selepas Reiji kembali dari Bogor, dan suaminya itu tidak langsung kembali ke apartemen setelah dari Monaco. Melainkan langsung menghadiri acara kumpul-kumpul bersama dengan teman-teman satu profesi dengan Reiji.


Baik itu rekan sesama pilot yang berada dalam satu naungan maskapai yang sama, ataupun yang berbeda.


Dan setelah Reiji kembali dari Bogor, dalam setengah hari sisanya sampai Reiji bertugas lagi di keesokan harinya untuk menjalankan tugas profesi Reiji sebagai pilot itu, interaksi Reiji dan Malia berjalan normal saja.


Seperti halnya Reiji juga dengan profesinya sebagai pilot, Malia pun berkutat dengan pekerjaannya di kantor.


Author’s POV off


**


Malia dan Reiji sedang sama-sama sedang bersiap untuk pergi bekerja di tempat kerja mereka masing-masing.

__ADS_1


Hari ini, Malia dan Reiji akan berangkat bersama seperti biasanya, jika jadwal tugas Reiji tak jauh-jauh waktunya dari jadwal kerja Malia.


“Jangan dandan cakep-cakep” ucap Reiji saat Malia sedang duduk di depan meja rias.


Kalimat candaan yang biasanya Reiji selalu lontarkan, jika Malia sedang berdandan.


“Emang udah cakep dari lahir!” balas Malia, dan Reiji akan terkekeh setelahnya.


“Eh iya bener!” Reiji menimpali. “Ga ilang-ilang lagi, cakepnya sampe sekarang.”


“Gombal.”


“Cium.”


Reiji menyodorkan bibirnya pada Malia selepas istrinya itu mencebik, sehabis digoda oleh Reiji.


**


MALIA


Hubunganku dan Reiji berjalan baik-baik saja dari sejak pertemuanku kembali dengan Irsyad di restoran sushi favoritku beberapa hari yang lalu.


Meski, aku sempat mengecek surel dan aplikasi chat pada sebuah website yang dulu sering aku gunakan untuk berkomunikasi dengan Irsyad.


Hanya sekedar mengecek, jika dia ada menulis sesuatu yang ia kirimkan padaku.


Aku rasanya penasaran saja, dengan reaksi Irsyad atas berita bahwasanya aku telah menikah.


Karena aku sempat menelisik sorot mata Irsyad kala aku mengiyakan pertanyaannya tentang hal itu.


Entah, mungkin hanya perasaanku saja.


Tapi sekilas aku melihat, ada sorot kecewa disana.


Mungkinkah Irsyad benar merasa kecewa, kala ia kembali kesini yang mungkin sedang mengambil cuti-entah untuk apa, karena mengetahui jika aku telah menikah?.


Entahlah.


Namun rasanya tidak mungkin seperti itu.


Dan tidak seharusnya aku pikirkan bagaimana perasaan Irsyad saat aku membulatkan tekad untuk menjadikan Irsyad dan semua tentangnya, hanya menjadi bagian masa laluku.


Untuk itu, aku harus menjaga hatiku agar tidak labil.


Jadi, hanya satu kali itu saja, aku mengecek barangkali ada sesuatu yang Irsyad ketikkan untukku.


Yang mana tidak ada satupun kiriman basa-basi darinya ke surel atau akun chat-ku pada sebuah website yang biasa aku gunakan itu. Jadi akupun sudah merasa harus menutup buku tentang Irsyad dengan seutuhnya.


Irsyad yang tidak mengirim basa-basi untuk bertanya perihal pernikahanku, membuatku juga urung untuk mengetikkan sesuatu padanya di surel maupun di akun chat-ku pada website tersebut.


Kala kami bertemu terakhir beberapa hari yang lalu pun, Irsyad juga tidak bertanya perihal nomor ponselku. Jadi kupikir, ya sudah. Mungkin ‘pertemanan’ ku dan Irsyad sampai disini saja.


Tidak aku cari informasi apapun tentang Irsyad perihal keberadaannya saat ini di Jakarta setelahnya, hingga hari  ini.


Sampai bunyi dering pada interkom di atas mejaku berbunyi dan memecah lamunanku.


“Ya?..” sapaku setelah aku mengangkat gagang interkom. Dan seperti biasa, suara resepsionis kantorku nan merdu itu pun langsung terdengar setelah ia mendengar sapaanku.


Dan apa yang si resepsionis yang bernama Icha itu katakan, membuat aku mengernyit kecil.


“Mba Lia, ada yang nyariin nih.” Kata Icha, si resepsionis bersuara merdu itu.


“Siapa, Cha? ...” tanyaku pada Icha.


“Temen lama Mba Lia katanya.”


“Temen lama aku?”


“Iya, Mba.”


“Namanya?”


“Irsyad.”


**


Bersambung ..


***Semoga selalu syuka.


__ADS_1


Loph Loph


Emaknya Queen


__ADS_2