WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 51


__ADS_3

Selamat membaca..


***


MALIA


Aku terbangun saat matahari sudah berada di atas langit. Itupun baru aku ketahui saat aku sudah membuka mataku dengan lebar, dan sinar mentari yang kulihat masuk melalui celah ventilasi.


Gorden yang tersangkut pada bagian di jendela, masih menjuntai tertutup seperti semalam.


Aku sontak terkaget dan mencari-cari penunjuk waktu dengan mataku, namun ada yang menahan perutku kala aku hendak bangkit dari posisiku.


Sesaat kemudian sudut bibirku tertarik. Aku sudah menikah kemarin, dan tangan kokoh yang melingkar di perutku ini adalah tangan Reiji.


Pria yang baru kemarin sah menjadi suamiku.


Tidak hanya tangannya yang menempel di perutku yang tertutup bed cover, namun aku mulai menyadari bahwa tubuhnya juga sedang menempel padaku dengan rapatnya.


Hembusan nafas halus dan teratur Reiji yang membuatku menyadari jika tubuhnya sedang menempel padaku.


Tubuh yang aku rasakan langsung lapisannya yang tanpa penghalang menempel di punggung telanjangku.


Dan seketika kurasakan wajahku terasa sedikit panas, tersadar jika saat ini tidak ada selembar benang pun yang menempel baik di tubuhku maupun tubuh Reiji.


Jika aku sedang melihat ke cermin saat ini, rasanya aku akan melihat rasa panas yang aku rasakan di wajahku ini membuatnya memerah. Karena ingat tentang apa yang sudah aku dan Reiji lakukan di kamar ini, di ranjang ini semalam, terputar lagi di otakku.


Terputar dengan begitu jelasnya, hingga aku merasa malu sendiri, karena aku juga mengingat betul bagaimana aku terbuai dengan hebat di bawah kukungan Reiji semalam.


Rasanya, semua ini bagai mimpi bagiku. Iya, sampai ke tahap ini dengan Reiji bagaikan sebuah mimpi. Bukan mimpi yang merupakan impian bagiku sejak lama untuk menikah dengan Reiji.


Melainkan karena semua terjadi begitu cepat. Perasaan baru kemarin aku mengenal Reiji sebagai ‘Abang’.


Abang yang aku kenal sebagai kakak dari sejak aku kecil. Abang yang memperlakukan aku bak adik kandungnya sendiri yang notabene adalah sahabatku sejak kecil. Abang yang berhenti aku sematkan panggilan ‘Abang’ padanya sejak aku SMA.


Sejak itu aku sudah mulai ber-elo-gue dengan Reiji juga dan hanya memanggil nama padanya.


Rei ... Ji ...


Hingga sampai saat pendekatan selepas aku dijodohkan oleh Reiji, barulah panggilan aku-kamu aku sematkan kala aku berbicara dengan Reiji.


Dan kini, laki-laki yang seharusnya menjadi ‘Abang’ untukku itu, telah menjadi suami sah-ku. Yang telah aku terima dengan lapang dada, takdirku untuk menjadi istrinya.


Dan aku juga telah membulatkan tekad, untuk membuka hatiku untuk Reiji. Menerima Reiji sebagai suamiku, dan berusaha untuk menjadi istri yang baik baginya.


Menjalankan kewajibanku, dan yang terjadi semalam adalah bentuk dari usahaku untuk menjadi istri yang baik bagi Reiji.


Dan, ah...


Kalau ingat apa yang terjadi semalam, selain wajahku terasa memanas, perutku seolah mulas karena geli, bagaikan banyak kupu-kupu di dalamnya.


Teringat saat dia berayun di atasku dengan tubuh kami yang benar-benar ‘menyatu’, dimana Reiji menatapku dengan tatapan yang aku nilai jika dia begitu mendamba, kala dia intens menghujam ku.


Dan peluh yang mewarnai wajahnya, membuat hatiku berdebar tak karuan jadinya. Bagaimana tidak, karena wajah Reiji yang bermandikan peluh itu terlihat begitu seksi.


Oh ya ampunnn... kenapa aku jadi mesum begini siiihh?!.


Reiji sih ah. Kenapa setelah menikah dan mulai semalam, baru aku menyadari betapa mempesona nya seorang Reiji Shakeel.


Belum lagi ia perkasa, jika teringat kalau Reiji semalam meminta ‘nambah’ padahal baru beberapa menit pergulatan panasku dengannya terjeda.


Dan jika mengingat pergulatan panas kami, aku kembali teringat lagi pada ...


Ah ya ampuunnn!...


Demi apa ini, mengapa aku ingat ‘senjata’ Reiji yang semalam sempat aku lihat itu?!.


Duh, berdebar lagi jantungku kan jadinya???.


Membuatku gelisah saja, sekaligus membuatku menggeliat gimana gitu.


Hingga aku mendengar suara Reiji,


“Yang... kamu bikin aku ngilu ...”


***


“Yang... kamu bikin aku ngilu ...”


Suara bariton yang serak itu kemudian terdengar di belakang Malia.


“Uum, Rei?”


Malia sedikit tergugu.


Pasalnya Malia fikir Reiji masih pulas dalam tidurnya.


“Kamu, udah bangun? ...”


“Hmm...”


Reiji berdehem sembari mengeratkan dekapannya pada Malia.


“Kamu yang bangunin kami...”


“Ka-mi???? ...”


“Humm...”


Reiji menganggukkan kepalanya di belakang Malia yang begitu rapat dengannya.


“Aku dan ‘adik kecilku’...”


Dimana Malia yang posisinya sedang memunggungi Reiji itu sontak membelalakkan matanya dengan sempurna.


Karena ucapan Reiji itu terdengar cukup horor, dimana bersamaan dengan itu Malia merasakan sesuatu yang menyentuh bongkahan belakangnya dengan pergerakan samar, namun cukup membuat Malia meremang dengan hebat.


Ditambah, kini lehernya Malia rasakan sedang dijelajahi dengan endusan dan kecupan tipis, namun meresahkan. Semakin membuat bulu kuduk Malia meremang. Dimana Malia kembali terbelalak sekaligus menganga kala suara bariton dari laki-laki yang sedang mendekapnya sekarang itu kemudian bilang,


“Kamu sih gerak-gerak cantik tadi. Adik kecil aku kena jadinya ... Tanggung jawab loh, Yang...”


****


Malia mengerjap.


Ucapan Reiji soal ‘tanggung jawab’ itu Malia dapat menangkap maksudnya.

__ADS_1


Ditambah ‘sesuatu’ yang Malia rasakan di bagian bawah belakangnya, yang sesekali Malia rasakan bergerak samar itu, kini membuatnya menjadi gugup seperti semalam.


“Engg...” Malia bingung harus bagaimana, atau harus menjawab apa.


Namun belum sempat Malia merespon Reiji, suaminya itu menarik tubuh Malia dengan pelan, guna membalikkan badannya agar Malia berhadapan dengannya.


Reiji yang matanya telah terbuka itu, segera menampakkan senyumnya pada Malia. Ia tersenyum geli sejenak melihat wajah Malia yang nampak gugup itu, yang Reiji tahu jika Malia pasti salah tingkah akibat ucapan menjurus nya tadi.


Cup ...


Satu kecupan Reiji daratkan di kening Malia kemudian.


“Selamat pagi, istriku sayang, Nyonya Reiji Shakeel ...” ucap Reiji setelah ia mengecup kening Malia dengan penuh perasaan bahagia.


“Pagi, Rei ...” sahut Malia.


Reiji tetap menampakkan senyumnya, meski Malia tak memanggilnya dengan mesra, sebagaimana dirinya pada Malia.


Namun Reiji tidak mempermasalahkan hal tersebut. Bagi Reiji, sudah sampai dengan tahap dimana Malia mau melakukan kewajibannya sebagai istri dengan memberikan nafkah batin untuknya tanpa ada keterpaksaan apalagi tertekan saja, Reiji rasa itu sudah patut ia syukuri.


Reiji tidak mau menuntut dan memaksa Malia untuk segera mencintainya.


Reiji akan membiarkannya mengalir saja.


Toh Malia pasti dapat merasakan kasih sayang dan cintanya.


Batu yang keras saja bisa pecah hanya karena tetesan air, bukan? Dan hati Malia bukan batu.


Jadi Reiji percaya, kesungguhannya pada Malia, Malia pasti bisa menilainya, bisa merasakannya.


Dan lagi, kini mereka sudah menikah.


Rasanya bagi Reiji, untuk memenangkan hati Malia jalannya sudah dipermudah.


Intensitas kebersamaan mereka akan lebih sering dan mungkin akan sangat dekat selalunya.


Dan katanya, cinta datang karena terbiasa.


Terbiasa bersama, menghabiskan waktu berdua.


Jadi sebagaimana cinta yang tulus dalam konteksnya, Reiji tidak akan menuntut, namun memberi. Serta, memberikan Malia pembuktian, atas kesungguhannya pada Malia dalam segala hal.


Dan kemesraan yang Reiji harapkan dari Malia, pastinya akan menyusul kemudian. Reiji hanya perlu berusaha dengan keras, sekaligus bersabar.


****


“Selamat pagi, istriku sayang, Nyonya Reiji Shakeel ...”


“Pagi, Rei ...” Malia menampakkan senyumnya pada Reiji, yang juga sedang tersenyum padanya itu.


Lalu Malia menjadi sedikit salah tingkah, karena sesaat kemudian Reiji memandangi dirinya tanpa jeda.


“Mau mandi bareng? ...”


Dan ucapan Reiji berikutnya, membuat Malia meneguk salivanya.


****


“Mau? ....”


“Inget ya Yang, aku ga mau kamu memaksakan diri. Kalau memang kamu tidak berkenan, kamu bilang aja, ga usah sungkan sama aku. Seperti yang sudah beberapa kali aku katakan, aku ga mau kamu merasa terpaksa, lalu kamu menjadi tertekan karenanya.. aku ga mau kalau itu sampai terjadi.”


Reiji memberikan penegasan pada Malia, namun dengan nada suara yang lembut dengan membelai kepala Malia.


“Iya Rei.... aku inget....”


“Ya udah kalo gitu.... kamu mau mandi duluan?....”


Reiji bertanya sembari masih mengelus kepala Malia.


Lalu kembali mengecup kening Malia.


“Mau berendam?....”


Reiji kembali bertanya pada istrinya itu.


Malia mengangguk.


“Kalo gitu, aku ganti air yang di bathtub dulu, ya? ....”


“Eh, jangan!”


“Kenapa?” Reiji sedikit mengernyit.


“Air bathtub kan ada mawarnya. Sayang kalo ga dipake.” ucap Malia.


Reiji pun tersenyum. “Tapi airnya pasti dingin, Yang ....” ucap Reiji.


“Ga apa-apa ....”


Malia tersenyum manis.


“Ya udah kalau gitu ....” ucap Reiji. “Tapi aku cek dulu deh, takutnya terlalu dingin airnya....”


“Rei ....” panggil Malia dan Reiji yang tadi hendak beringsut dari ranjang serta merta langsung menoleh pada Malia yang menahan tangannya.


“Ya?....” sahut Reiji.


Namun Malia tidak langsung berbicara.


Istri Reiji itu nampak ragu ingin berucap, sekaligus terlihat sedikit malu-malu.


“Jadi mau mandi bareng?....”


Dimana Malia langsung menundukkan kepala, dan menggigit bibir bawahnya.


“Hey, lihat aku ....”


Reiji mengangkat dagu Malia hingga wajah istrinya itu mendongak dan berhadapan dengan wajahnya.


“Jangan merasa terbebani dengan permintaan aku. Aku Cuma iseng aja kok, Yang ....” ucap Reiji kemudian.


“Tapi aku ga keberatan kok ....” cetus Malia.


“Beneran?....”

__ADS_1


“Iya....”


Reiji tersenyum lebar mendengar ucapan Malia yang disertai anggukan gugup bercampur malu-malu itu.


“Ada yang pertama untuk semua hal, kan?” cetus Malia dengan tersenyum hangat pada Reiji. “Jadi aku ga keberatan kalau kamu mau mandi bareng. Lagipula aku udah janji akan mencoba menjadi istri yang baik buat kamu .... Jadi selama aku rasa sanggup untuk melakukannya, aku ga akan nolak setiap permintaan kamu, Rei....”


Dan Reiji, jangan tanya betapa hatinya menghangat dan berbunga-bunga mendengar penuturan Malia selain ia merasa bahagia.


“Makasih ya, Yang?....” tutur Reiji dengan tulus.


***


Reiji dan Malia telah berada di dalam kamar mandi saat ini.


Di dalam bathtub yang bertabur kelopak mawar, yang kemarin sempat dianggurkan seperti halnya air bertabur kelopak mawar yang berada di hotel, yang sama sekali tidak disentuh oleh Reiji dan Malia.


Benar kata Reiji tadi, air didalam bathtub pastilah terasa dingin, karena sudah menginap semalaman.


Namun rasa dingin pada air bathtub itu dirasa hanya pada awalnya saja, kala Reiji dan Malia masuk ke dalam bathtub.


Karena perlahan air dalam bathtub yang dingin itu berubah menjadi hangat, karena panas tubuh dua insan yang posisinya kini saling mendekap rapat.


Dimana Reiji bersandar di dinding bathtub, dan Malia duduk di atas pangkuan Reiji dengan bibir mereka yang saling bertaut dan saling mencecap rasa.


Debar jantung yang bertalu-talu kembali Reiji dan Malia rasakan saat ini.


Bahkan dari sejak mereka beringsut dari atas ranjang, dengan Reiji yang menggendong Malia seperti bayi koala, dan tautan bibir mereka sudah dimulai sejak itu.


Hanya terjeda sebentar, saat Reiji masuk lebih dulu ke dalam bathtub, lalu Malia menyusul.


Dan Reiji langsung membawa Malia ke atas pangkuannya, dimana tidak ada sehelai kain pun yang tersangkut di tubuhnya, begitu juga Malia.


“Yang....”


Suara Reiji terdengar menyebut nama Malia dengan tatapan dalam, selepas mengurai tautan bibirnya pada Malia.


Dan suara Reiji terdengar serak, dimana Malia rasanya sudah mulai memahami maksud dari panggilan Reiji yang sedang menangkup wajahnya dengan menatap Malia seperti saat ini.


Suaminya itu sedang menginginkannya. Menginginkan Malia untuk mengurai rasa dingin air dalam bathtub bersamanya. Terlihat dari tatapan Reiji yang penuh damba padanya, tatapan yang sama seperti semalam, di malam pengantin mereka.


Hanya sebuah sorot mata, namun Reiji menangkap jika Malia mengijinkannya untuk berbuat lebih jauh lagi dari sekedar berpagut bibir.


Dan cumbuan Reiji gulirkan setelahnya pada wajah dan tubuh Malia yang berada di atas pangkuannya. Kembali membuat Malia terbuai sampai terlena.


Sepasang pengantin baru itu larut dalam kegiatan yang membuat jantung keduanya berdebar hebat dengan nafas yang memburu. Tak perduli jika matahari di luar sana, semakin naik.


Sensasi berbeda keduanya rasakan, karena kali ini seolah Malia yang mengontrol permainan, dengan posisi Malia yang menduduki Reiji.


Hal-hal mengenai keintiman suami-istri ini memang baru sama-sama Reiji dan Malia rasakan, namun insting keduanya seolah otomatis berjalan begitu saja untuk saling mencari dan memberikan kenikmatan.


Hingga dua insan yang sedang saling meniti untuk menggapai satu titik yang dapat menghasilkan sebuah pelepasan yang nikmatnya luar biasa itu, sampai pada titik tersebut.


Dan rasa lega kemudian memenuhi kepala, dimana Reiji dan Malia merasakan tubuh  mereka menjadi begitu ringan rasanya.


***


Matahari sudah cukup tinggi kala Reiji dan Malia selesai membersihkan diri mereka yang begitu memakan waktu.


Bagaimana tidak?.


Sesi mandi diselingi dulu dengan sesi olahraga dalam bathtub yang membuat tubuh dapat terasa berkeringat meski sedang di dalam air.


“Yuk,” ajak Reiji pada Malia dengan mengulurkan tangannya, agar Malia menautkan tangan mereka untuk bergandengan kala keduanya sudah rapih berpakaian.


Namun Reiji sedikit mengernyit karena Malia nampak ragu-ragu untuk melangkah, meski tangan Malia sudah menggenggam tangannya.


“Kenapa?” tanya Reiji pada Malia.


“Kamu jalan duluan ya, Rei?....” jawab Malia.


“Memang kenapa?....”


“Aku malu ....”


“Malu kenapa? ....”


“Kita udah siang banget baru keluar kamar ....”


“Ini masih pagi, Lia sayang ....” ucap Reiji sembari mengulas senyuman.


“Iya tapi kan udah terang banget begini ....”


Reiji mengulum senyuman, karena pada akhirnya ia paham maksud Malia.


“Ga usah malu, mereka paham lah pasti sama pengantin baru.”


“Tapi kan tetep aja malu,” Malia mengerucutkan bibirnya. “Kamu sih!”


“Loh kok aku?”


“Iya kamu semalem sampe dua kali, jadinya tidur kebablasan!” celoteh Malia.


Reiji pun tertawa renyah mendengar ucapan Malia.


“Tadi segala minta juga pas mandi, jadi makin kesiangan keluar kamarnya, kan?....”


“Nah kamu juga iya-iya aja, hayooo ....”


“Iiihh apaan sih!”


Malia mencebik, sekaligus merona.


“Nanti habis makan lagi ya? ....” kata Reiji penuh arti.


‘WHAT THE-F---!!! ....’


Malia yang membelalakkan matanya selepas mendengar ucapan Reiji barusan spontan mengumpat dalam hatinya.


‘DOYAN!!!’ Rutuk Malia dalam hatinya.


***


Bersambung...


Terima kasih masih setia ...

__ADS_1


__ADS_2