WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 145


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


Morning Li, udah sampe kantor belum? Hari ini ada waktu buat maksi bareng aku?.


Malia menarik nafasnya panjang lalu menghelanya perlahan, kala chat dari Irsyad masuk lagi saat dirinya telah sampai di kantor.


Aku udah di kantor Kak. Tapi soal maksi bareng, kan aku udah bilang kemarin kalau selama beberapa hari ke depan aku sibuk sama deadline project.


Sorry banget, tapi aku harap Kakak ngerti.


Malia membalas chat dari Irsyad dengan rasa setengah frustasi.


Bukan karena tidak bisa menerima ajakan Irsyad untuk bertemu karena merasa terpaksa akibat mendapat tekanan atau ancaman dari Reiji, melainkan Malia merasa tidak enak karena sudah berturut-turut menolak undangan Irsyad yang selama tiga hari ini datang disetiap pagi.


Entah kenapa, Malia jadi merasa sedikit risih dengan chat Irsyad yang seolah terprogram rutin untuk masuk ke ponselnya setiap pagi, dan disaat Malia sudah sampai di kantornya. Habis mau bagaimana? .. Malia sudah berjanji, bahkan bertekad pada dirinya sendiri untuk tidak mau mengecewakan Reiji lagi, dan itu berdasar atas perasaan cinta yang Malia sudah punya untuk Reiji.


Walau sebenarnya Malia ada sih keinginan untuk menemui Irsyad, untuk mengatakan pada Irsyad secara langsung, jika dirinya ingin menjaga jarak dengan laki – laki dari masa lalunya itu-bukan karena rasa rindu jadi Malia ingin bertemu dengan Irsyad.


Bukan itu.


Melainkan Malia merasa sedikit bersalah juga pada Irsyad yang mungkin merasa jika Malia memberikannya harapan, karena Irsyad telah mengatakan jika laki – laki itu mencintai Malia.


Memang Malia tidak mengatakan pada Irsyad jika Malia juga mencintainya. Noted: dulu. Namun Malia sadar dengan sikapnya yang selalu menerima undangan Irsyad saat dia merasa tersiksa dengan kondisinya yang terikat pernikahan atas perjodohan yang sebelumnya tidak Malia inginkan.


Dan Malia memang juga mengatakan pada Irsyad jika dia dan Reiji menikah karena dijodohkan, yang mungkin karena itu sikap Irsyad jadi seperti ini sekarang jika laki – laki itu ingin bertemu dengan Malia. Bukan salah Irsyad jika laki – laki itu merasa Malia memberikan angin segar padanya, tapi Malia sadar betul memang itu salahnya yang bersikap seolah menerima kehadiran Irsyad kembali dalam hidupnya.


Salahkan kelabilan dirinya, Malia hanya bisa merutuki dirinya sendiri saja saat ini.


Karena sedikit banyak ia menyakiti Irsyad dengan sikapnya. Seolah Irsyad adalah pelarian atas keputusasaannya kala dirinya belum jatuh cinta pada Reiji.


Hal inilah yang saat ini sedang sedikit mengganggu kenyamanan hati Malia.


Malia ingin menemui dan bicara pada Irsyad jika dia tidak dapat lagi keluar sesuka hatinya tanpa ijin dari Reiji. Sekaligus ingin menerangkan dengan sejelas-jelasnya jika Malia sudah bisa menerima Reiji sebagai suaminya.


Dan hal yang pernah Malia katakan pada Irsyad sejak awal dirinya memutuskan untuk ‘kembali’ pada Reiji yang mengatakan di chatnya bahwa ada hati yang harus Malia jaga, seharusnya sudah membuat Irsyad cukup mengerti.


***


MALIA


“Neng Lia, ayo makan siang!”


Aku menoleh saat mendengar Aniel bicara padaku.


“Wait, one second ..”


Aku mengangkat telunjukku pada Aniel, karena aku hendak merapihkan pekerjaanku dalam komputer, yang memang sudah aku tutup dan aku tinggal membuat komputerku dalam mode ‘sleep’.


“Mau makan dimana?”


Aku bertanya pada Aniel dan dua rekan kerjaku yang lain, yang akan makan bersamaku di istirahat siang ini.


“Kanai aja. Gue lagi pengen makan lontong padang.”


“Ngidam lo?-“ tukas satu temanku atas ucapan Aniel.


Aniel mencebik.


“Siang – siang gini makan lontong padang?”


“Ini nih tipe – tipe orang kurang piknik. Taunya makan lontong kuah pagi doang!”


“Serah lo dah ...”


Aku dan satu rekan kerjaku yang lain hanya mendengus geli saja melihat interaksi dua rekan kerja kami yang suka saling ledek – ledekan itu, tapi asal maksi bareng melulu.

__ADS_1


“Ya udah ayo ah.” Tukasku.


--


Warung padang yang menjadi tempat makan favorit para karyawan di divisiku - yang digagaskan oleh Aniel tadi, akhirnya memang menjadi tempat pilihanku dan tiga rekan yang pergi beristirahat bersamaku utk maksi siang ini.


“Li, lo mau makan apa? ...”


Aniel yang sudah berada di dekat pramusaji yang bertugas pada bagian etalase besar berisikan ragam lauk – pauk bertanya padaku.


“Lo aja duluan ---“ sahutku. “Lo juga berdua duluan aja pesen.”


Dan tiga rekan kerja yang aku maksud itupun langsung mengangguk.


🔷🔷🔷


Ping!


Ponsel Malia berbunyi, kala ia sedang makan siang bersama beberapa rekan satu divisinya.


Malia yang memang sedang memegang ponselnya itu, tersenyum tipis karena ia menerka jika itu adalah Reiji yang mengirimkannya pesan chat untuk mengingatkan dirinya agar jangan lupa makan siang, terus makan yang banyak.


Disertai dengan gombalan receh yang berbeda – beda setiap waktunya.


Namun, alih – alih yang Malia pikir jika itu adalah pesan chat dari Reiji,


Nyatanya ..


Li, pulang kantor nanti kamu aku jemput.


Pesan chat dari Irsyadlah yang masuk ke ponselnya.


Dan Malia langsung saja menghela nafasnya setelah ia membaca pesan masuk dari Irsyad tersebut.


Malia pun langsung menggerakkan jemarinya di tombol-tombol huruf yang sedang terbuka di layar ponselnya.


Maaf Kak,  ga bisa.


Dan Malia lagi-lagi memberikan penolakannya pada Irsyad.


Balasan chat dari Irsyad pun membuat Malia meringis samar.


‘Iya masa gue harus kasih tau secara detail?’ batin Malia. ‘Dilema banget gue ya Tuhan!’


Aku dijemput Rei Kak.


Malia kembali memberikan jawaban dusta pada Irsyad melalui chat balasannya pada laki-laki itu.


Habis mau bagaimana, Malia bingung harus bagaimana pada Irsyad. Jawaban seperti itu yang terbersit di otaknya untuk membuat Irsyad mengurungkan niat untuk menjemputnya.


‘Sorry Kak.’ Lirih Malia dalam hatinya, yang merasa sedang dilema saat ini. ‘Gue harus sharing ke siapa ya?’ tanyanya dalam hati kemudian.


“Makan woy!”


Suara Aniel membuyarkan lamunan Malia.


“Tar dulu yayang-yayangannya.” Suara Aniel kembali lagi terdengan berbicara pada Malia yang baru saja terkesiap itu.


“Siapa juga yang lagi yayang-yayangan coba??—“


“Nah jam segini kan lo biasanya sibuk kalo ga ngechatin sama telponan dengan laki lo yang udah tiga hari ga ngekepin lo kan?!”


Celotehan Aniel membuat Malia mendengus geli, begitupun dua rekan kerja Malia yang sedang bersamanya dan Aniel itu. Lalu setelahnya Malia mulai menikmati makan siangnya dengan mengobrol santai ngalor ngidul dengan tiga rekan kerjanya itu.


Menjeda sejenak makan siangnya, karena menerima panggilan telepon dari Reiji seperti biasa yang mengingatkan Malia agar jangan lupa makan siang.


***


“Ya’!” panggil Aniel saat ia dan Malia berikut dua rekan kerja mereka yang lain yang tadi makan siang bersama keduanya, telah kembali ke lantai kantor mereka.


“Kenapa? ..”

__ADS_1


Malia pun menyahut.


“Lo lagi ada masalah?” tanya Aniel.


“Masalah?” tanya Malia balik, dan Aniel langsung mengangguk.


Malia mengernyit kecil, sedang mempertanyakan dalam hati masalah yang dimaksud Aniel.


“Masalah apaan?”


“Ya ga tau? –“ jawab Aniel. “Makanya gue tanya, lo lagi ada masalah apa engga? Soalnya tadi gue perhatiin lo baca WA di Kanai dengan muka lo yang antara orang bingung campur gelisah—“ tambah Aniel.


“Oh ..” tukas Malia.


“Berantem sama laki lo?”


“Engga, gue baik-baik aja sama dia.” Malia menjawab seraya tersenyum.


“Terus ekspresi lo waktu di Kanai tadi? ..”


Aniel kembali bertanya.


“Kalo emang lo lagi ada masalah, Mba Aniel terbuka buat konsultasi –“ tambah Aniel.


Malia pun mendengus geli.


“Ya itu sih kalo lo emang percaya sama gue, Neng? ..”


Aniel menyambung kalimatnya.


Malia terdiam sesaat. Aniel yang menawarkan diri untuk sharing, sepertinya bisa membantunya mendapat solusi bagaimana untuk mengatasi masalahnya.


‘Gue sharing aja sama Aniel aja kali ya?—‘ bisik hati Malia. ‘Kalo gue ngomong sama Avi, biar gimana dia adiknya Reiji.’


Dan setelah menimbang sesaat, akhirnya Malia memutuskan untuk bercerita pada Aniel saat pulang kerja nanti, di tempat yang sekiranya enak untuk bicara selain di kantor mereka.


Kedai kopi kekinian dekat kantor jadi pilihan Malia untuk berbagi masalahnya dengan Aniel agar ia bisa mendapatkan sebuah solusi.


***


Waktu pulang kantor telah selesai, dan sesuai rencana Malia akan menceritakan pada Aniel apa yang sedang mengganggu hatinya saat ini. Kebetulan Reiji memang baru akan kembali esok hari, jadi Malia tidak perlu tergesa untuk pulang ke apartemennya dan Reiji.


Dan Aniel juga menunggu suaminya yang datang sedikit terlambat untuk menjemputnya sore ini, karena suami Aniel baru rampung dengan pekerjaannya di kantor yang berbeda hingga membuatnya terlambat menjemput Aniel.


Malia sebenarnya ingin bercerita pada Avi tentang Irsyad, tapi setelah beberapa pertimbangan, Malia urung untuk bercerita pada Avi. Terlebih tanggapan Aniel juga sama seperti Malia yang menilai dirinya, jika Malia sempat menyulut dirinya sendiri untuk bermain api-istilahnya.


“Ya kalo denger cerita lo sih, emang kesannya lo kasih angin buat dia, Ya’-----“ tanggap Aniel setelah Malia selesai bercerita.


Malia pun mengangguk beberapa kali dengan samar. “Gue juga mikirnya begitu, Niel.” Ucap Malia. “Gue sadar kalo gue ga seharusnya iya-iya aja diajak ketemuan sama dia saat gue udah jadi istri orang ..”


“Ya tapi gue paham juga sih posisi lo.” Tukas Aniel. “Namanya ketemu lagi sama cinta pertama dan elo masih punya perasaan sama dia, pasti ada rasa pengen ganti waktu yang seolah ilang –“ tambah Aniel.


“Naif ya Niel?”


“Ya manusiawi –“


“Jadi menurut lo gue harus gimana sekarang?” tanya Malia yang memang berharap untuk satu solusi dari Aniel.


“Ya kalo menurut gue sih, lo tegesin lagi kalo lo itu istri orang. Ya tega ga tega sih kalo emang dia punya rasa sama lo. Tapi kan lo katanya udah cinta sama laki lo? ..”


“Iya.”


“Nah ya udah. Lo tegesin baik-baik ke cinta pertama lo itu.”


“Gue pengennya ketemu langsung sama dia. Pengen bicara dari hati ke hati. Tapi gue jaga perasaan laki gue kalo nemuin Irsyad lagi.” tutur Malia.


“Kalo gitu lo ajak laki lo ketemu sama dia.”


Aniel memberikan ide.


“Lo ajak laki lo pas mau ketemuan sama si Irsyad itu, tapi temuin si Irsyad itu lo nya sendiri dulu. Bicara berdua sama dia-tapi laki lo ada di sekitaran lo, dimana dia bisa ngeliat interaksi lo sama cinta pertama lo itu. Tetep jaga hati laki lo dengan membuat dia percaya kalo elo udah teguh ke dia dan tetep jaga perasaan cowok yang namanya Irsyad itu kan, tanpa kemunculan lo dengan laki lo secara tiba-tiba dihadapan dia? ..”

__ADS_1


***


Bersambung....


__ADS_2