Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA100. Effort


__ADS_3

"Kencang rupanya," sindir ayah, ketika aku sudah duduk di sampingnya yang akan mengemudi. 


Pak wa bersama Bunga di mobil milik pak wa sendiri, sedangkan aku bersama mobil pink milik biyung. Jangan tanyakan mobil yang biasa kami pakai, karena rusak parah terkena imbas lemparan masa adanya ledakan itu. Ayah memiliki tiga mobil, dua miliknya dan satu ini milik biyung. Yang satunya rutin dipakai Zio pergi, satu rusak dan tinggal milik biyung ini yang rutin ayah pakai. 


"Tak, Ayah." Aku duduk condong ke depan, agar resleting celana yang menggembung itu tidak terlihat di mata ayah. 


Jangan tanyakan sesak dan sakitnya. Itu resiko menjadi laki-laki. 


"Kacau, masa sama adik sendiri begitu. Pulanglah langsung ke istri kau kalau gitu, nanti malah nekat c*** lagi." Ayah begitu memahami sepak terjang laki-laki pada umumnya. 


"Yah, sebenarnya aku udah bilang ke Izza untuk pulang seminggu mendatang," akuku lirih. 


"Loh? Kenapa?" Suara ayah terdengar kaget. 


"Aku titipkan dia di omnya seminggu mendatang, karena banyak masalah antara aku sama Izza. Panjang lah ceritanya, aku bingung harus buka suara dari mana." Aku tetap menunduk memperhatikan kedua kakiku sendiri. 


"Yaudah, nanti aja ceritanya kalau panjang sih. Ayah lagi nyetir, pikiran Ayah pun lagi di kerjaan aja. Nanti malam aja bahasnya, sambil ngopi. Ini kau mau diantar ke tambak, atau ke rumah biyung?"


Ya, aku fokus untuk budidaya ikan di tambak. Hasil tambaknya, serupa seperti yang dikirimkan ke Singapore. Jadi, nanti jika sudah mendapat hasil. Hasil dari tambakku akan dikirim ke Singapore juga. Hitung-hitung mendistribusikan produkku sendiri, kan usaha peganganku di Singapore bergerak dibidang distribusi ikan endemik. Bukan hanya ikan pedih yang per ekor bernilai dua ratus ribu di daerah ini saja, tapi ikan depik yang merupakan ikan endemik Danau Laut Tawar juga yang aku budidayakan. 


"Rumah biyung, Yah. Aku mau istirahat dulu sehari sih." Padahal kemarin aku sudah libur karena hari minggu. 


"Oh, oke. Yang bisa atur, kalau memang tak mampu ya serahkan ke orang. Sementara kau belum mampu bayar sih, nyuruh orang Ayah aja, bayarnya tetap dari Ayah."


Ayah terlampau baik. "Kalau gitu, malah aku tak tau prosesnya dan tak ngerasain perjuangannya." 


Kapan aku bisa, jika menyuruh orang terus? 


"Oke, semangat Anak Laki-laki Ayah." Ayah menepuk-nepuk pundakku. 

__ADS_1


Jarak dari rumah sakit ke rumah tidaklah lama, mungkin hanya sekitar lima belas atau dua puluh menit saja. Mobil pak wa pun mengikuti mobil kami. Pak wa menurunkan Bunga di depan pagar, aku pun diturunkan di depan pagar oleh ayah. 


"Nanti Ayah ke sini lagi bawain barang-barang kau. Sore mungkin ya, Dek? Karena Ayah mau nyuruh Bagus kubur anaknya dulu. Kan ini yang ia harapkan dari awal kan?" Pak wa berbicara dari dalam tempat kemudi. Jendela mobilnya terbuka, menampilkan dirinya yang duduk di tempat kemudi. 


"Ayah bilang aku masih di rumah sakit, biar dia ada ngerasa bersalahnya," timpal Bunga kemudian. 


Dari kalimatnya, kejadian keguguran ini seolah gara-gara mantan suami Bunga. Bunga seolah tidak merasa bahwa dirinya penyebab utama kegugurannya. Sejujurnya pun, aku tidak percaya jika Bunga setega itu. 


"Iya, kau istirahat aja. Minum obatnya tepat waktu, kau harus habiskan obatnya. Jangan makan santan, bilang ke biyungnya." Jendela mobil tertutup, dengan ban mobil pak wa bergerak untuk naik ke jalan cor-coran ini. 


Mobil pak wa melaju pergi, mobil pink ayah pun bergerak pergi juga. Mereka sama-sama sibuk dengan tujuan berbeda. 


Sial! Aku harus berjalan di belakang Bunga lagi. Kenapa part belakang itu melambai-lambai untuk disentuh? Tadi aku sudah tegang parah saat mengekorinya keluar dari rumah sakit, masa sekarang aku harus tegang lagi? 


Sungguh, dengan istri tidak semudah ini berdiri. Harus ada sentuhan fisik dulu, harus ada pergerakan dulu. 


Ehh, kenapa juga aku mengekori Bunga sampai masuk ke dalam rumah. Aku langsung balik badan, untuk menuju ke rumah kak Key saja. Bisa bertambah gila khayalanku, jika terus menemani Bunga. 


Semoga tidak ada drama aku selingkuh dengan Bunga, atau Bunga mau aku jadikan kedua. Aku memiliki pikiran bodoh ini, karena n****ku tidak bisa dikendalikan seperti ini. 


"Eh, Bang. Mana kak Key?" Saat aku ingin mengetuk pintu, bang Fa'ad malah membuka pintu. 


"Loh? Katanya sih ke rumah pak wa. Abang baru pulang ngajar soalnya, baru lihat WA darinya." Bang Fa'ad menunjukkan layar ponselnya. 


Entah apa bacaannya. Mataku tidak setajam itu, untuk melihat tulisan kecil-kecil dari jarak satu setengah meter. 


"Bunga ada di biyung malah. Yaudah sama Abang aja sini." Aku duduk di lantai teras rumahnya. "Buat kopi, Bang." Aku mendongak menatapnya yang masih berada di ambang pintu. 


Ia tertawa lepas. Geleng-geleng kepala dan masuk ke dalam rumah. Mungkin pikirnya, adik ipar malah menyuruh kakak ipar. 

__ADS_1


"Nih, Abang juga buat." Ia duduk di sisi kananku, seperti membentuk pola huruf L. 


"Rokok nih" Bang Fa'ad menaruh sebungkus rokok di dekat gelas kopiku. 


"Tak ngerokok aku, Bang." Aku tidak pernah tertarik dengan rokok. 


Aku ingat sekali, masa Zio belajar merokok. Ia sampai tersedak-sedak, karena malah menelan asapnya. Rokok tidak membuat gagah, tidak menampakkan laki-laki juga, tidak ada keren-kerennya menurutku. Aku sudah memiliki impian memiliki masa otot sejak SMP, workout dan gym setiap memiliki kesempatan, agar bisa gagah saat itu juga. Jadi, tidak pernah ada keinginan untuk merokok. 


"Gimana? Bunga bisanya nikah sih? Kuliah pending, pendaftaran diurungkan." Malah dirinya sendiri yang merokok. 


"Ya begitulah, Bang." Aku merasa tidak enak untuk menyebarkan aib. 


"Jadi inget Key dulu diajak nikah, jawabnya udah punya dana berapa. Sampai sungkan sendiri untuk dekati lagi." Bang Fa'ad terkekeh sendiri. 


Setiap hubungan memiliki cerita tersendiri. 


"Sombong ya, Bang?" Aku mengangkat gelas kopiku. 


"Iya, kena mental. Tapi bagus sih, tak sembarang laki-laki bisa dekati. Laki-laki yang merasa cukup finansial aja, pasti mikir dua kali karena dia anak juragan."


Kak Key yang hadir di luar pernikahan, mampu membawa keturunannya sebagai anak dalam pernikahan. Aku takutnya, karma ayah jatuh ke anak-anak dalam nasabnya. Karena hadirnya kak Key di luar pernikahan itu, karena kesalahan ayah. Ibaratnya, kak Key adalah korban.


"Tapi tetap mantap sama kak Key ya, Bang?" Laki-laki ini adalah satu-satunya lagi yang berani masuk ke halaman rumah saat mengantar kak Key pulang kuliah.


"Alhamdulillah. Kalau kata kakak kau, abang mau sama aku karena aku kaya. Tapi sebenarnya karena Abang melihatnya sebagai seorang yang optimism, chance, obstacle and effort to internalize dalam mencapai tujuannya. Dia bukan orang yang gampang menyerah menghadapi rintangan, upayanya pun pandai dan cermat."


Membicarakan effort, aku jadi memikirkan effort Izza dalam mempertahankan dan memperbaiki rumah tangga ini. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2