Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA22. Kepanikan Kal


__ADS_3

"Ehh, dah balik?" Givan kaget, saat ia membuka pagarnya.


"Ayah mau ke mana?" Chandra berada di paling depan.


"Mau ke masjid." Givan bergegas meninggalkan rombongan itu, tanpa menyadari bahwa ada seorang bayi di antara mereka.


Ia tergesa-gesa, karena sudah dikumandangkan iqomah. Ia khawatir tertinggal dan sholat segera dimulai.


"Tuh, abu." Keith menunjuk ke gerbang sebelah.


"ABU…. ABIS SHOLAT LANGSUNG KE RUMAH AYAH," seru Chandra kemudian.


"YA…," sahutnya dengan mengacungkan ibu jarinya.


"Kita masuk aja dulu yuk?" Chandra membuka pintu gerbang itu lebih lebar.


"Ayah memang rutin di masjid sekarang, Bang?" tanya Keith, dengan mengikuti langkah kaki rombongannya.


"Subuh sih rutin, katanya biar olahraga bolak-balik dari masjid ke rumah. Kalau waktu sholat lainnya, dominan di rumah sama anak istrinya," jawab Chandra dengan menoleh ke belakang untuk melihat Hadi dan Ceysa.


"Takut biyung kaget, Bang." Ceysa menatap nanar pintu rumah orang tuanya.


"Ya insha Allah, tak." Chandra pun tidak tahu pasti, ia hanya memberikan kalimat penenang.


Chandra mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu, kemudian ia berjalan ke arah dalam rumah untuk mencari ibunya. Kamar tidur orang tuanya setengah terbuka, Chandra melihat kamar itu kosong saja.


"Biyung…," panggilnya kemudian.


"Biyung…." Chandra menggunakan suara yang lebih lantang.


"Ya…," sahut Canda lamat-lamat.


"Lagi mandi, "tambahnya kemudian.


"Ya, aku udah pulang." Chandra hanya mengatakan hal itu, kemudian ia berjalan ke dapur.


Ia melihat asisten rumah tangga sudah repot dengan cucian piring. Cucian piring itu amat banyak, seperti telah ada acara.


"Ada acara apa, Mbak?" tanya Chandra agar asisten rumah tangga tersebut tidak kaget melihat keberadaannya.


"Keluarga dari calonnya bang Zio berkunjung, silaturahmi lebaran." Asisten rumah tangga tersebut menoleh sekilas ke arah Chandra.


"Gula di mana, Mbak?" Chandra berniat membuat teh manis hangat.

__ADS_1


"Di situ." Asisten rumah tangga itu menunjuk ke arah kanan.


Chandra mengangguk dan melanjutkan kegiatannya. Ia membawa teko kecil itu, dengan beberapa gelas teh yang senada dengan teko tersebut.


Ia kembali ke ruang tamu, dengan melihat Dayyan tengah menggeliatkan tubuhnya. Ia berpikir Dayyan pasti merasa lelah dan badannya sakit semua, karena semalaman berada di dekapan Hadi.


"Nanti bawa ke tukang pijat bayi, Di." Chandra menempatkan nampan itu di meja.


"Jangan di daerah ini, Bang." Keith hanya mengingatkan.


"Kenapa sih, Bang? Dayyan bukan aib." Ceysa tersinggung kembali.


"Memang bukan, tapi nanti kalian bisa kena hukuman." Keith mengkhawatirkan hal itu.


"Patuh coba, Dek. Ini demi kebaikan kalian." Chandra mengusap bahu adiknya.


"Tapi omongannya terus gitu." Ceysa tertunduk sedih.


"Diminum dulu ya tehnya." Chandra berinisiatif menuangkan tes tersebut dalam gelas, kemudian menaruhnya di depan mereka secara merata.


Masing-masing dari mereka menikmati teh tersebut, karena merasa mulutnya terasa tidak enak. Termasuk Hadi, ia merasa mulutnya amat pahit meski tidak mabuk dalam perjalanan tadi.


"Tak tau anak-anak."


"Assalamualaikum," ucap mereka bersamaan ketika memasuki rumah.


Givan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Hadi, bayi tersebut langsung menjadi fokus pandangnya. Zuhdi pun kaget, karena anaknya menggendong seorang bayi. Alis kedua orang tua tersebut sama-sama menyatu, mengekspresikan bagaimana kebingungan mereka.


"Ayah, Abu…." Hadi mendekat ke arah mereka yang masih berdiri di dekat pintu.


"Ini…." Zuhdi kesulitan untuk merangkai pertanyaannya, karena benaknya langsung menghakimi anaknya tanpa kebenaran.


Hadi langsung berlutut dengan memeluk bayi tersebut. Keningnya bertumpu pada lutut kedua orang tua tersebut yang berdekatan, rasa menyesal dan takutnya mengerubungi langsung.


"Hadi buat Ceysa hamil dan melahirkan anak Hadi, Yah, Bu. Maafin Hadi." Hadi langsung mengatakan hal tersebut satu tarikan napasnya.


Givan merasakan kepalanya langsung pusing, dengan keringat dingin yang langsung keluar dari pelipisnya. Chandra dengan sigap mendekati ayahnya, kala ayahnya tiba-tiba terlihat pucat dan lemas seketika.


"Duduk, Yah." Chandra merangkul ayahnya, untuk segera duduk di sofa.


Givan merapatkan bibirnya, dengan wajah yang bertambah pucat. Zuhdi membantu anaknya untuk bangkit, kemudian merangkul anaknya yang tengah membawa bayi. Ia tidak fokus dengan Hadi, karena melihat Givan tidak baik-baik saja sekarang.


"Panggil Kal, Bang. Dia ada di rumah, lagi libur lebaran," pinta Zuhdi kemudian.

__ADS_1


"Memang dia udah jadi dokter?" Chandra teringat jika Kal masih dalam tahap pendidikan.


"Suruh tensi aja, kasih pertolongan pertama kek. Ayah kau tak baik-baik aja itu." Zuhdi mendekati kakak iparnya.


Zuhdi melepaskan peci dan membuka kancing teratas baju koko kakak iparnya. Napas Givan begitu dalam, dengan wajah yang kian memucat dan keringat dingin yang terus menetes dari wajahnya.


"Kau tak apa?" Zuhdi duduk di samping kakak iparnya. Mereka berteman sejak sekolah dasar, sulit bagi Zuhdi untuk memanggil Givan dengan panggilan 'abang' karena mereka seumuran.


"Kunang-kunangan." Givan menekan kelopak matanya yang tertutup rapat.


"Aku panggil Kal dulu." Chandra bergegas pergi.


Ceysa langsung pindah ke samping ayahnya, di tempat Chandra duduk tadi. Ia terisak panik sejak tadi, saat melihat ayahnya tidak baik-baik saja tersebut.


"Ayah…." Ceysa memeluk Givan sekilas. Kemudian ia melepaskan lagi, ia sadar ayahnya butuh ruang untuk bernapas lega.


"Nyandar, Van." Zuhdi menempatkan bantal sofa di punggung Givan.


Napasnya mulai membaik, tapi wajah pucat Givan belum kembali membaik. Keringat pun masih membanjiri wajahnya.


Kal datang dengan tergopoh-gopoh, bahkan ia masih mengenakan mukenanya. "Ayah…. Ayah…." Ia panik melihat pantulannya yang selalu mengajarkannya tata sholat yang benar, tidak baik-baik saja.


"Tensi Ayah semalam tinggi, karena makan olahan kambing terus. Aku udah bilang, setengah aja minum penurun darahnya. Ayah bakal drop, kalau darahnya mendadak turun." Kal mengomel, dengan membelikan sesuatu di lengan Givan.


"Ayah tak apa?" Kal masih berbicara, dengan mencari urat nadi di pergelangan tangan Givan.


"Kunang-kunangan, Kal. Kepala kek disiram es, ringan dan dingin." Givan mencoba menjelaskan tentang apa yang ia rasakan.


"Tapi Bang Givan tak ada riwayat darah tinggi." Keith mendekat untuk melihat keadaan bosnya.


"Darahnya tak stabil, Bang. Kalau salah makan, Ayah langsung sakit tengkuk. Ayah harus dibatasi makan olahan kambing, eh malah keluarga Zio bawa olahan kambing." Kal sudah seperti ibu sambungnya yang cerewet.


"Ayah cuma hormati dan makan sedikit. Ayah tak makan banyak." Givan membantah hal itu, karena ia sendiri pun tidak suka dengan daging kambing. Ia teringat tentang respon tubuhnya yang selalu merasa sakit kepala sejak kecil, jika memakan olahan kambing.


"Tuh, kan? Darahnya turun mendadak. Rileks, Yah. Jangan banyak pikiran dulu, jangan ladenin biyung terus kalau kesal. Ayah main aja ke papa, atau keluyuran sementara kek kalah rumah bikin panas. Apalagi yang Ayah rasain?" Kal membereskan alat tensinya dengan asa.


Mentalnya belum terlatih, untuk menghadapi keadaan panik. Apalagi, jika orang tersebut adalah keluarganya sendiri. Ia akan ikut panik, dengan tangan yang gemetaran menolong orang tersebut.


"Ayah tiba-tiba ngantuk." Givan merasakan kekurangan oksigen, ia menguap dengan lebar.


"Ayo ke klinik terdekat aja. Ayo, Bang." Kal masih bingung, ia harus berbuat apa.


"Ribut sendiri aja kau, Kal!" Chandra membuka grendel atas pintu rumah tersebut, agar mudah untuk membawa ayahnya keluar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2