
"Maaf ganggu, Ma. Papa mana ya?" Aku membuka pintu kamar orang tua di rumah Kaf ini.
"Tuh." Mama Aca menunjuk seorang laki-laki yang duduk di sebuah kursi terapi.
Eh, iya. Aku kira is siapa. Terlihat muda, padahal usianya beda lima tahunan saja dengan ayah. Tapi papa Ghifar seperti berusia tiga puluh tahunan lebih saja.
"Kenapa, Bang?" Papa Ghifar memejamkan matanya, dengan duduk di kursi pijat listrik.
"Pengen curhat deh, tapi empat mata aja." Aku tersenyum lebar dengan memasuki kamar tersebut.
"Dasar anak Givan, ganggu aja!" Mama Aca bangkit dan menghentakkan kakinya untuk keluar kamar.
Aku tertawa lepas, melihat wanita yang bentuk tubuhnya lebih dari seorang Bunga itu berlalu pergi. Aku tidak kasar, bukan? Kan aku mengodenya dengan ramah.
Mama Aca memiliki body gitar spanyol. Memiliki cekung pinggang yang kecil, p*****l besar dan dadanya pun besar, dengan bahu yang sama lebarnya seperti p*****lnya. Itu body gitar spanyol. Jika body pear, cekung pinggangnya kecil, p*****lnya besar, dadanya kecil dan bahunya kecil. Sama-sama terlihat haram jika memakai baju halal sekalipun.
Mama Aca sedikit gemoy, apalagi ditambah dengan tinggi badannya. Tapi terlihat cantik dan menarik karena badannya membentuk. Sama-sama terlihat lebih muda dari usianya, apalagi kaum hawa di keluargaku ini rajin perawatan kecantikan.
"Papa colok mata kau!" ancam papa Ghifar begitu menyeramkan.
Aku terkekeh dan memalingkan pandangan padanya, dengan menutup pintu kamar ini.
"Mata kau kek ayah kau, cabul betul." Papa Ghifar terlihat marah.
"Maaf, Pa. Orang ada di depan mata." Aku berjalan ke arahnya.
"Ya memang, tapi jaga pandangan mata kau ke ibu kau sendiri. Kau anggap Papa ini ayah kau, masa mandang mama Aca begitu?" Dapat ceramahan langsung aku ini.
"Maaf, Pa. Memang cabul ini mata, banyak yang bilang begini." Mungkin konsep mata keranjang itu begini kali.
__ADS_1
"Hmm…." Papa Ghifar bertopang dagu di sandaran kursi pijat itu. "Dasar keturunan bang Givan." Papa Ghifar menghela napasnya.
"Aku tak kek ayah, Pa. Masa muda aku tak bad boy kek ayah." Aku duduk di hadapannya.
"Belum aja, orang baru dudanya sekarang." Papa Ghifar tertawa garing.
"Kok ngomong gitu? Memang Papa waktu duda bad boy jadinya?" Aku memperhatikan kaki beliau yang bergetar-getar karena kursi pijat tersebut.
"Tak, sedikit berani aja ke perempuan. Karena tau rasanya perempuan, jadi sedikit haus aja. Cuma tak yang kek gimana, masih di haluan yang aman dan tak terbawa arus terlalu lama. Cepat ambil keputusan untuk nikah, meski di bawah tangan." Papa Ghifar geleng-geleng kepala.
Sepertinya, itu cerita tentang cerita cintanya dan mama Aca.
"Papa nikah muda ya berarti? Waktu sama mama Kin itu?" Aku coba membuka obrolan yang menyerempet.
"Ya, bisa dibilang. Dua puluh tigaan kalau tak salah tuh, mama Kin dua puluh enam kalau tak salah."
"Pacaran lurus terus itu, Pa? Atau perjodohan?" Aku bangkit untuk menyalakan exhaust dan mengeluarkan bungkus dari saku celanaku.
"Dinikahkan segera, karena sering mesum. Papa itu dulu kena disfungsi e***** karena faktor trauma, bisa sembuh karena stimulasi dari mama Kin. Makanya pas mama Kin tak ada, kambuh lagi penyakit Papa." Papa tidak keberatan dan tidak protes melihatku merokok di kamarnya ini.
Ya mungkin, kamarnya ini biasa menjadi tempat istrinya untuk merokok. Istrinya perokok aktif, sedangkan dirinya tidak merokok. Dunia terbalik.
"Apa kek ayah aku? Sampai punya anak sebelum pernikahan?" Aku berbicara dengan hati-hati sekali, takut keceplosan masalah Kaf.
"Tak sampai begitu, cuma di Bali agak sedikit bebas. Tak kebaca punya disfungsi e***** ini, sampai jajal beberapa perempuan untuk coba bangunkan. Hasilnya nihil dan Papa malas untuk periksa. Intinya, sembuhnya ini karena mama Kin. Dia dokter, dia paham titik sensitif laki-laki dan segala macam. Dia perawan, tapi punya pengalaman untuk melakukan hal itu." Papa berbicara dengan perlahan.
"Apa semacam petting?" Hal yang sama seperti yang Kaf lakukan ada di perkiraan pikiranku.
"Iya petting, Bang. Kau ngerti petting?" Papa Ghifar mematikan tombol di sandaran tangan kursi tersebut, kemudian ia pindah duduk di sofa single.
__ADS_1
"Ya sedikit ngerti, Pa. Apa pendapat Papa, dengan anak muda yang melakukan petting sebelum nikah?" Semoga wajahku tidak menunjukkan makna sebenarnya dari pertanyaan ini.
"Kebutuhan, sama halnya kek s**s pra nikah. Tapi Papa tak mendukung dan tak suka dengan opsi itu. Kalau memang butuh untuk berhubungan kek gitu, ya nikah. Laki-laki manapun, tak ada yang kuat dengan l*****nya sendiri. Laki-laki kalau susah tidur itu, mereka bakal melakukan pelepasan sendiri dengan video yang ditonton. Sebutuh itu loh laki-laki ini ke s**s ini, kalau memang susah untuk me-manage ya nikah. Kesalahan Papa di situ dulu, Papa ketagihan stimulasi mama Kin, tapi Papa tak berani maju untuk nikahin ini. Karena apa? Karena masalahnya, mama Kin ini anak angkat nenek dan kakek kau. Secara urutan anak, mama Kin ini kakaknya Papa. Makanya Papa tak berani bilang, karena nyatanya pun setelah bilang ya dilarang. Cuma gimana loh? Terlanjur punya rasa, terlanjur butuh dan terlanjur candu. Ngumpet-ngumpet kita ini, karena ada larangan dari pihak Papa dan mama Kin. Sampai masanya ketahuan lagi, kakek sampai pingsan karena tak bisa olah emosinya."
Waduh, waduh. Bagaimana nanti jika aku bercerita tentang Kaf? Khawatirnya, malah ia yang pingsan. Karena di antara keturunan kakek, hanya papa Ghifar yang sering pingsan.
"Jadi kalau ada anak Papa begitu, Papa nikahkan juga?" Aku sempat menjeda ucapanku dan menatap ke lantai.
Beliau diam, memandangku dan menghela napasku. "Kau tau sesuatu? Coba cerita terus terang aja."
Apa di dahiku ada keterangan tentang kejujuran kah?
"Misalnya aku, aku kan anak Papa juga." Aku meraup wajahku karena terlanjur berkeringat.
Kemudian aku menikmati rokokku kembali, agar rasa panikku ini tersamarkan. Lalu, aku memandang ke arah lain karena takut berhadapan dengan matanya.
"Kau bukan tipe laki-laki yang begitu kan, Bang? Ada apa? Ada yang kau tau?"
Apa orang tua memahami jika anaknya menutupi sesuatu? Aku hanya pernah diasuhnya saja, tapi papa Ghifar seolah memahami bagaimana bahasa tubuhku jika berbohong.
"Tak ada apa-apa, Pa. Lagi ngobrol kosong aja kita." Aku cengengesan dan merokok kembali.
"Ngapain harus sering lihat ke lantai? Kau itu tipe manusia songong, yang ngobrol dengan siapapun pasti berani naik dagu dan mandang wajah lawan bicaranya. Itu karakter kau dan ayah kau. Terus kenapa datang-datang dan nyerempet begini? Kalau memang membicarakan tentang kau, kau bisa terus terang tanpa ngomong 'misalnya'. Ada apa? Jangan dikira Papa santai tuh tak ngerti."
Apa orang tua mereka membekali ilmu body language?
"Papa janji tak marah?" Aku langsung terpojokkan dan kehabisan kata-kata.
...****************...
__ADS_1