Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA40. Persiapan pernikahan Chandra dan Izza


__ADS_3

"Bayinya Ceysa???" Izza seolah tidak percaya mendengar penjelasan singkat dari Chandra. 


"Ya makanya nurut kalah dijemput tuh, kan aku pengen cerita pas hajatanya Ceysa." Chandra mematahkan timun dengan giginya. 


Fokus Izza terbagi, ia memang terbiasa melihat Chandra makan nasi dengan sayuran mentah. Namun, ia baru melihat Chandra mengelilingi timun tanpa sambal atau apapun. Timun itu seperti snack yang gurih dan enak, tapi Izza sudah tahu dan sudah membayangkan rasa timun itu sendiri. 


"Aku down, pikiran aku macam-macam. Apalagi, setelah Abang pulang aku dapat DM dari Sekar yang macam-macam." Izza tertunduk dengan melipat bibirnya ke dalam mulutnya. 


"Screenshot bukti DM dari Sekar," pinta Givan cepat. 


"Untuk apa, Yah?" Izza menegakkan pandangannya ke arah calon ayah mertuanya. 


"Nanti juga kau tau. Screenshot aja, kumpulkan semua koaran Sekar." Givan kembali menyeruput teh manisnya. 


"Ada selada tuh, Bang." Canda menunjuk rak yang berada di atas wastafel. 


"Udah dicuci kah, Biyung?" Chandra bergerak untuk mengambil. 


"Udah." 


Izza merasa heran dan aneh, kala melihat kekasihnya ngemil daun selada seperti memakan crepes. Belum lagi cocolan untuk memakan sayuran itu begitu gampangan saja, hanya sebuah mayones yang dicocol. 


"Anda ilfeel? Wah, telat. Udah daftar KUA." Givan terkekeh geli dengan memperhatikan Izza. 


"Tak ilfeel, Yah. Kok makin begitu, Bang?" Izza menggulirkan pandangannya pada kekasihnya.

__ADS_1


"Herbivora, maklum." Cuitan Canda membuat Givan dan Chandra tertawa bersama. 


"Belum kenyang betul. Jangan ladenin Biyung, aku pemakan segala kok kek manusia pada umumnya," timpal Chandra membuat mereka berbaur dengan tawa bersama. 


"Dari kecil udah biasa makan timun mentah, wortel mentah, tomat, daun yang katanya lalaban gitu, kemangi, kol, lobak. Kangkung direbus sebentar, ditiriskan, tarus dimakan sama sambal pun jadi. Kadang sambal asem, yang asem jawa sama gula merah itu. Daun ubi juga sama kek kangkung gitu dimakannya. Daging sapi, ayam, ikan pun doyan, tapi condong ke sayuran. Kau tak bisa kasih makan Chandra paha ayam aja, kau harus punya sayur penyerta lainnya. Anak-anak Biyung pencernaannya bermasalah, kalau tak makan sayur hijau. Kalau makan buah dipotong dan taruh di kulkas aja, nanti juga pasti dihabiskan. Mereka suka makan keringan, sayur hijau tak suka disayur kuah begitu. Sayur bayam, sayur sawi atau sayur kangkung mereka kurang suka kalau dibuat kuah, mending ditumis kering dan jangan terlalu matang. Biar kau tau aja, biar enak ngasih makan Chandra kalau udah tau kuncinya. Malas masak, tinggal buatkan sambal dan stok nugget aja. Nanti pasti cari sendiri ke pekarangan rumah. Makanan favoritnya, tumis daun kunyit." 


Izza melongo saja mendengar rentetan menu yang menurutnya cukup asing itu. Apalagi, ia makan sayur hanya ketika dibuat sayur kuah. Ia suka makanan jadi, ia pun lebih suka mengkonsumsi daging. Ia langsung memikirkan pasti kesehariannya repot, karena selera makan mereka berbeda. 


"Bisa lah, buat sambal masa tak bisa? Gampang aja kan?" Givan sedari tadi memperhatikan reaksi wajah Izza. 


"Bisa, Yah. Tapi kenapa gitu suka sayur sampai segitunya?" Izza tahu kekasihnya suka sayur, tapi ia tidak tahu jika setiap harinya kekasihnya harus memakan sayur untuk menjaga pencernaannya. 


"Ya karena udah terbiasa dari kecil. Ayah biasakan ngasih makan anak-anak itu, ya apa yang dimakan orang tuanya. Jadi kita tak repot, karena anak bukan pemilih makanan. Kasarnya, misal nanti hidup tak enak pun ya mereka tak kaget karena tak makan daging tiap hari. Kalau Ceysa memang sering numpang makan ikan waktu masih ada almarhum ibu kandungnya Kal Kafe, waktu hamil Ceysa pun Biyung makannya ikan terus ya, Biyung?" Givan menoleh pada istrinya dan mendapatkan anggukan dari istrinya. 


"Jadinya cerdas anaknya. Ikan itu bagus untuk otak anak, apalagi pas dikonsumsi masa lagi mengandung." Givan menunjukkan ibu jarinya. 


Mereka kembali terkekeh ringan, melihat reaksi dari Chandra. Izza seolah teralihkan dari fakta tentang Ceysa, tapi ia masih ingin mendengar cerita tentang Ceysa lebih jauh. Karena, ia merasa bersalah sudah iri hati terhadap Ceysa. 


"Besok mulai masak." Canda menyenggol lengan Izza. 


"Nanti minta bantuan Biyung kalau tak tau bumbunya." Chandra membanggakan ibunya. 


"Hmm, tenang aja. Bisa kirim sampai rumah, tinggal klik kalau menu makannya susah-susah betul." Canda tidak ingin menyombongkan dirinya. 


"Biyung dilawan." Givan menyangga dagunya dengan menoleh ke arah istrinya. 

__ADS_1


Canda tertawa geli mentertawakan dirinya sendiri. 


"Ayo cepat selesaikan, terus siap-siap cari pakaian." Canda ingin pernikahan anaknya sedikit berkesan meski hanya di KUA saja. 


"Iya, Biyung." Izza bergerak untuk mengambil sarapannya. Berbeda dengan Chandra yang sudah menyelesaikan sarapannya pagi ini, ia kini hanya menjadi penonton kala Izza tengah menikmati sarapannya. 


Kabar pernikahan pun langsung merebak di keluarga besar Givan. Mereka yang berniat bekerja pagi ini, tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menyaksikan pernikahan Chandra dan Izza. 


Ceysa dan Hadi pun bingung, karena mereka diminta datang di satu hari setelah pernikahan mereka. Taksi online menjadi pengantar mereka, karena tidak ada satu mobil pun yang tertinggal di rumahnya. 


Suami Key pun menggeser jadwal mengajarnya di kampus, untuk menghadiri acara pernikahan adik iparnya. Kini yang tengah diperhatikan dan dicurigai adalah suaminya Jasmine, karena ia begitu sibuk dan tidak memiliki waktu untuk berkumpul bersama keluarga besar. Namun, Givan masih terus memperhatikan. Ia tidak mungkin langsung menuduh menantunya macam-macam tanpa bukti nyata. 


Dress sederhana berwarna putih, menjadi pilihan Izza. Dengan kemeja berwarna putih berbahan nyaman menjadi pilihan Chandra. Hanya akad nikah saja, jelas mereka menyesuaikan dengan pakaiannya. 


Sesekali Chandra menggenggam tangan Izza, dalam perjalanannya pulang membeli pakaian tersebut. Laundry kilat disinggahinya, sebelum akhirnya mereka mengenakan pakaian yang serba putih tersebut. 


Beberapa keluarga sudah bersiap, anak-anak mereka pun turut dibawa untuk berfoto bersama setelah akad pernikahan tersebut. Gedung KUA tersebut begitu ramai setelah Dzuhur turun. Keramaian tersebut dikarenakan kehadiran keluarga Riyana yang disertai dengan cucu dan cicitnya. 


Kemeriahan tersebut membuat Chandra langsung gugup, ia tidak berpikir sama sekali tentang lafaz akad nikah tersebut. Ia pun melupakan juga nama ayah kandung Izza. 


Meski dalam keadaan kaget, beberapa keluarga Izza tetap datang meski tanpa buah tangan. Wali nikah Izza yang merupakan adik dari almarhum ayah kandung Izza pun sudah hadir, karena Givan sendiri yang datang dan meminta kesudiannya untuk mewalikan Izza. 


Perlengkapan dokumen pun langsung dikejar, beberapa tanda tangan pun langsung dipenuhi oleh Chandra. Ia berkeringat dan cukup panik, ditambah ia blank seketika mengenai lafaz akad nikah. 


Ia tidak bisa berpikir jernih, sampai akhirnya ia meminta izin pada petugas untuk menghafalkan lafaz akad nikah beserta maharnya untuk Izza. Secarik kertas yang berisikan lafaz akad nikah diambil Chandra, dengan ia menghampiri ayahnya untuk menanyakan jumlah maharnya untuk Izza. Ia seolah kebingungan dan tidak ingin sama sekali maharnya untuk kekasihnya itu. 

__ADS_1


Givan tersenyum geli, melihat anaknya menyeka keringat berulang kali di hadapannya. Givan ingat dirinya pernah merasakan hal itu, saat dirinya menikahi Canda untuk pertama kalinya. 


...****************...


__ADS_2