
"Tidur kok ada sajadah di ujung selimut? Pakai baju koko juga tuh." Jessie menunjuk bagian leherku.
"Iya, ngantuk betul jadi langsung tidur." Aku tidak gelagapan untuk itu, karena orang capek hal itu bisa saja terjadi.
"Oh ya? Bukan lagi sholat Maghrib, terus langsung lompat ke kasur karena dengar suara aku?" Jessie tersenyum lebar.
Mengerikan sekali itu perempuan.
"Jes, pahami batasan kau."
Aku tidak percaya ayah berani menegur perempuan. Seingatku, para gadis yang dibawa ke rumah seperti istrinya Zio atau Izza. Mereka hanya ditanya nama, tempat tinggal dan anak siapa di sana. Tidak sampai menegur seperti itu, karena ayah pernah mengatakan bahwa itu akan merusak kepercayaan diri mereka untuk mau berkunjung kembali.
"Oh, iya. Aku sadar diri kok." Jessie menatap ke satu sisi, yang aku yakin di situ ada ayah.
"Bagus." Hanya itu sahutan ayah.
Nampak biasa saja, Jessie pamit dengan ramah pada biyung. Sedangkan aku menuruni ranjang dengan santai, dengan melepaskan baju kokoku.
"Bang, sini!" Tegas sekali suara ayahku.
Ada apa ya ini?
"Kenapa, Yah?" Aku keluar dari kamar, dengan bert*******g dada.
"Jemput om Vendra sama keluarganya di bandara, satu jam lagi pesawatnya landing."
Wajahnya tidak santai, apa ada masalah?
"Kenapa om Vendra datang sekeluarga? Lebaran pun tak pernah datang." Aku merasa ada yang janggal.
"Cuti dua mingguan om kau, liburan di sekitar sini katanya."
Hal yang sepele, tapi kenapa ayah nampak pusing?
"Kenapa sih? Ada masalah sama Ayah? Ayah nampak pusing." Aku merasakan ada alarm itu.
"Anak bujangnya dua, Bang. Was-was Ayah, karena anaknya dibawa juga. Gadis siap petik, Ayah punya dua. Om kau bilang mau numpang beberapa hari, masa Ayah bilang jangan."
__ADS_1
L
Kenapa dipermasalahkan? Kan anaknya om Vendra pun keponakannya, dengan keponakan sini ayah tidak begitu mempermasalahkan.
"Saudara, Yah. Apa bedanya anaknya om Vendra sama Kaf dan yang lain?" Maksudnya, kan mereka tidak mungkin macam-macam dengan anak perempuan ayah.
"Memang keponakan Ayah yang lain ada yang begitu dekat sama anak perempuan Ayah? Kan Ayah batasi mereka. Ayah tuh takut, Bang." Nampaknya frustasi sekali, lebih tepatnya mungkin khawatir berlebihan.
"Kenapa sampai segitunya? Aku saudara laki-laki, dekat sama semua sepupu." Aku merasanya begitu, aku tidak berjarak dengan sepupu di sini.
"Karena Ayah pernah macam-macam sama sepupu perempuan, makanya Ayah takut anak perempuan Ayah yang dimacam-macamkan sama keponakan laki-laki Ayah."
😯
Fakta apalagi ini? Kedua mataku dan mulutku membulat bodoh mendengarnya.
Ayahku begitu merusak rupanya? Apa ia sejenis limbah kimia?
"Biarpun udah damai, tapi Ayah takut turun ke anak perempuan Ayah." Tatapan ayah terlihat kosong.
"Kenapa Ayah tak nikahin dia? Kasihan, Yah." Bayangkan saja, sepupu sendiri.
Heh, orang Cirebon?
"Mayranti?" Aku teringat adik dari mama Aca.
Kemungkinan dia, karena mereka kerabat dari Cirebon.
"Mama Aca." Terlihat sekali wajah penuh penyesalan ayah. Ayah mengusap wajahnya perlahan, lalu membuang napasnya.
"Maka dari itu khawatir Ayah tinggi, karena anak Ayah banyak yang perempuan?" Kenapa bajingan selalu diberi ujian dengan anak perempuan?
Ayah mengangguk samar. "Makanya kenapa dari mereka kecil, Ayah tanamkan ilmu agama. Ayah sebenarnya tak percaya karma, karena dalam Islam tak ada. Tapi Ayah paham ada hukum tabur tuai, apa yang Ayah perbuat akan berbalik ke diri Ayah sendiri. Kalau memang Ayah tak dapat hukuman dari kenakalan Ayah dulu, bukan tak mungkin Ayah diuji dengan memiliki anak yang nakal-nakal. Keponakan dari sini bisa dibatasi untuk tak terlalu dekat dengan anak-anak perempuan Ayah, tapi kejadian Ayah dulu pun masanya lagi berkunjung ke sana. Bukan karena Ayah dekat dengan rumahnya, tapi karena kunjungan dan kejadian hal yang tak diharapkan. Kalau sejak itu Ayah udah tunangan, terus lulus sekolah dinikahkan, mungkin perjalanan hidup Ayah tak seliar ini. Orang tua ngelarang, orang tua menentang, padahal Ayah niat untuk tanggung jawab atas perbuatan Ayah."
Lulus sekolah? S**s di bawah umur? Ayahku? Dengan mama Aca?
Apa aku bisa menjadi keturunan baik-baik? Apa aku bisa membantu menjaga adik-adikku agar mereka tidak rusak?
__ADS_1
"Terus gimana jadinya, Yah? Ra sama Cani diungsikan kah?" Aku ingin membuat ayah tenang, agar aku pun ikut tenang juga.
"Kalau adik-adik kau di rumah ini, kan keluarga om Vendra makan di sini. Kalau tau adik-adik kau nempatin rumah sendiri, kemungkinan besar mereka bisa menyelinap. Kalau adik-adik kau di sini, terus keluarga om Vendra di rumah kau, kesannya tak sopan selaku tuan rumah. Masa tamu ditempatkan di tempat yang terpisah, kek tak menjamu gitu loh." Ayah seperti merasa serba salah dan bingung.
"Om Vendra kan orang baik, kan kemungkinan anak-anaknya pun terdidik juga." Kalian pasti tahu titel om Vendra.
"Kata siapa? Kau tau pangkatnya aja, tak tau serepot apa Ayah arahkan adik-adik Ayah itu." Ayah mengacak-acak rambutnya, kemudian bangkit dari sofa.
Ayah memperhatikan seseorang yang baru masuk ke dalam rumah. "Ke minimarket ajak anak perempuan, Cendol. Stok mie instan, mie goreng sana. Sama aku mau minuman soda ya? Yang bening aja, yang tak ada rasanya." Ayah memberikan uang pada biyung.
"Sama Mas sih." Biyung malah memeluk ayah.
Manja sekali nada bicaranya biyung. Bagaimana ya rasanya ayah, tengah pusing dan bingung. Namun, tiba-tiba istri ingin dimanja.
"Iya nanti tidur sama aku." Ayah melepaskan pelukan biyung, kemudian merengkuh biyung dan mengajaknya berjalan keluar rumah.
"Belanjanya tak puas, Mas. Kalau dikasih uang begini, nanti belanjanya yang sedapatnya uang aja. Kalau Mas ikut, aku kan bebas ngambil apa." Biyung berbicara dengan ketiak ayah.
Romantis, alhamdulillah.
"Ya ampun, bilanglah mau berapa." Ayah dan biyung duduk di ujung teras depan pintu.
Aku ingin memiliki istri yang sampai tua tidak pernah merubah sikapnya pada suaminya. Karena aku pernah mendengarkan dakwah, tentang seorang istri yang cintanya pudar pada suaminya.
"Tiga ratus." Biyung memeluk ayah lagi.
"Gih, ambil di dompet. Boleh sama aku, sana buka dompet aku. Terus sana jajan, ajak yang perempuan." Ayah melepaskan lagi pelukan biyung.
Kenapa laki-laki begitu sulit mengatakan suasana hatinya ya? Ayah kenapa tidak terus terang, bahwa pikirannya tengah rumit? Jika ayah tetap bungkam, biyung akan terus membuat risih menurutku.
"Padahal mau sama suami." Biyung masuk ke dalam rumah, dengan wajah yang ditekuk.
Sudah pikiran runyam, ditambah istri ngambek. Aduh, bisa meledak pasti rasanya. Rasanya, aku belum siap menghadapi hal-hal seperti ini.
"Aku tak cinta lagi sama Abang!" Dari dalam rumah biyung berseru.
Ayah menoleh ke dalam rumah. "Kau hamil lagi aja, Cendol! Tak cinta, tak cinta! Lancang!"
__ADS_1
Ada geli-gelinya mendengar sahutan ayah.
...****************...