
"Kau benar, Hem." Aku tertawa sumbang, melihat DM dari Jessie yang begitu panjang.
"Apa katanya, Bang? Sini aku bacakan." Ia tertawa kecil.
"Nih." Aku belum sempat membaca.
"Bang Chandra, selamat menempuh hidup baru dari perjodohan dadakan itu. Semoga Abang dan istri menjalani rumah tangga tanpa paksaan." Hema menjeda, dirinya tertawa geli sepanjang membaca pesan tersebut.
Ia memandangku. "Kau ng***** tiap hari sama istri, Bang. Perjodohan, terpaksa." Tawanya semakin lepas.
"Sok paling tau Jessie ini. Mana ada aku dijodohkan, mana ada rumah tangga paksaan." Aku geleng-geleng kepala dan tertawa renyah.
"Aku lanjutin ya, Bang?" Hema menggeser ibu jarinya kembali.
"Heem." Aku menikmati kopi yang sudah Hema bayar di awal ini.
"Aku tak pernah nyangka, kalau Abang jalan sama aku, tapi menikmati perjodohan itu. Abang tak pernah cerita apapun tentang wanita lain, selain fakta tentang istri Abang yang baru meninggal beberapa bulan silam. Bukan aku merasa tersakiti, tapi coba Abang ngertiin kondisi aku. Abang jahat tau tak?" Hema cekikikan sendiri.
"Wah, kau tambahkan itu teksnya." Aku melongok ke ponselku yang di tangannya.
"Tak lah." Ibu jarinya menunjukkan sampai mana ia membaca.
"Ini pesan tanggalnya beda-beda, tapi tak pernah Abang buka," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Aku sibuk bolak-balik Nahda." Ini hanya candaan.
Hema tertawa geli, ia melemparkan daun plastik dari vas bunga di tengah meja ke arahku.
"Terus, ada lagi tak pesannya?" Aku ikut tertawa juga.
"Ada, nih…. Abang tak menghargai effort aku, Abang tak menilai perubahan aku sejak dekat dengan Abang. Atau memang benar, kalau keluarga Abang tak pengen warisan jatuh ke orang lain." Sorot mata Hema, langsung terarah padaku.
"Sebentar nih, Bang. Izin bertanya, jangan marah. Aku pun dengar kabar selentingan, katanya memang keluarga Abang itu dari dulunya gencar nikah sama saudara. Maaf-maaf, katanya ayah mertua Abang nikah sama anak angkat orang tuanya. Terus meninggal katanya, terus nikah lagi sama keponakannya orang tuanya lagi. Keluarga besarnya pun sama katanya?" Hema berbicara pelan dan terlihat seperti hati-hati dalam pemilihan kata.
"Ya memang, itu fakta. Pak RT juga nikahin anaknya sama anak dari adiknya, tetangga paling depan gang sana anak bawaan suami dan bawaan istri menikah, mereka pun menikah. Gimana ya? Mereka jadi besan dan suami istri." Menurutku, ini sedikit aneh. Tapi memang ada di sini.
Alis Hema menyatu, ia terdiam cukup lama. "Maksudnya gimana sih?" tanyanya kemudian.
"Ohh…." Hema manggut-manggut. "Tapi keluarga kalian lebih jadi omongan, gara-gara warisan itu."
"Pas seumuran dan mungkin ada kedekatan, jadi dinikahkan. Soalnya ada yang begitu juga kasusnya, ada yang cuma dikenalkan di awal aja, terus malah ada kecocokan dan sampai nikah." Menurutku, perjodohan di keluarga kami seperti alami.
"Bukan karena warisan ya, Bang?" Hema tertawa dan menutup mulutnya.
Ia masih penasaran rupanya.
"Bukan, Hem. Nikah sama orang lain pun boleh, kek aku kemarin sama Izza. Tak dilarang, berarti tak ada unsur mengamankan warisan kan? Nikah sama saudara sendiri, mungkin kebetulan aja." Aku yakin seperti ini, orang tua tidak sengaja menjodohkan karena aku tahu bagaimana proses alami itu terjadi.
__ADS_1
"Ternyata, keluarga terpandang tak luput dari omongan." Ia seperti menggerutu, karena berbicara lirih sekali.
"Aku lanjut baca nih ya, Bang?" Hema memandangku sekilas, kemudian ia memperhatikan lagi layar ponselku.
"Ini pesan yang terbaru, dia pamitan ceritanya. Katanya…. Maaf kalau ada salah kata atau perbuatan, tapi keknya aku ini disangka mengganggu keluarga kalian. Sangat tak pantas, orang tua sampai ikut campur. Harus banget ya orang tua itu tau masalah intern anaknya? Aku sampai diusir, dipulangkan ke ayah karena persoalan yang entah di mana letak salah aku. Ibu aku ikut tersakiti, gara-gara ucapan suaminya sendiri. Kenapa harus bilang, kalau ibu aku istri kedua dan aku mau ikuti jejak ibu? Ibu jadi istri kedua pun, karena permintaan istri pertama dari suaminya itu. Bukan ibu aku jadi pelakor, gangguin suaminya atau ngerusak rumah tangganya. Dia pun sama tersakiti juga, suaminya tak adil, tapi dia nerima keadaannya sekarang, karena memang udah tau dari awal kalau begini bakal jadi resikonya. Tak paham lagi sih, orang baik-baik kok mulutnya pada tajem-tajem betul." Hema menghela napasnya. "Di ujung kalimat, dia pakai tanda seru nih." Hema menunjuk layar ponselku, kemudian langsung mengembalikannya.
"Ya udahlah, baiknya juga diblokir. Tak heran sih mulut keluarga tajem-tajem kalau diusik, udah dari turunannya begitu." Aku mengutak-atik ponselku, untuk memblokir semua akses komunikasi dengan Jessie.
Dengan pulangnya dia ke Padang, semoga gangguan darinya terselesaikan. Aku ingin hidup tentram, fokus pada masa depan dan Nahdaku. Kasihan anak perempuan itu, katanya mendapat jatah kecil dariku. Padahal saat aku tanya mama dan papa, uang saku Nahda hanya seratus lima puluh ribu seminggunya. Ya belum dengan keperluan pribadinya, itu lain lagi. Ya mungkin karena ia terbiasa berlebihan, skincare saja minimal stok dua paket. Sedangkan denganku, nyetoknya hanya perbulan.
Ia harus betah denganku, agar orang tuanya atau Yang Kuasa tidak mengambil paksa tanggung jawab itu, seperti yang pernah aku alami.
"Abang istrinya ikut KB tak?" Hema mengalihkan pembicaraan.
"Tak, sesekali aja pakai sarung. Kenapa tuh? Kau rencana Bunga ikut KB?" Aku mengantongi ponselku, agar sopan menyimak obrolan Hema.
"Aku yang diKB, Bang. Kata ayah Ken, seminggu sebelum nikah suruh KB. Tapi aku udah kemarin itu, Bang. Masalahnya satu sih, Bang. Air aku tak bagus, karena obat-obatan yang masuk untuk penyembuhan ini. Katanya sih, misalkan hamil tuh bisa jadi buat kehamilan beresiko. Entah keguguran, janin lemah, buruknya lagi kelainan atau cacat fisik. Ngeri ya, Bang? Nyesek betul aku ini, karena pergaulan, hidup aku jadi sulit sendiri. Padahal sih aku punya pikiran, Bunga bakal lepas dari kebiasaan rokok atau minumnya kalau dia punya bayi. Aku yakin itu, karena dia pasti mikirin tentang anaknya."
Halah, ia diKB dari sekarang pun agar s**snya bebas.
"Kau jangan ng***** aja sih, Hem. Jangan nambahin beban akhirat Bunga sama wali-walinya tuh. Kau zina, kau aja yang kena dosa. Perempuan sih tak begitu, Hem. Dia tak berhijab aja tuh, walinya dia dapat beban juga. Percaya atau tak, bahkan kalau dia punya anak laki-laki dan masih belum berhijab, anak laki-lakinya pun dapat pertanyaan di akhirat nanti, tentang kenapa dia tak bisa jaga aurat ibunya, kenapa tak ingatkan dan tegur ibunya. Kita memang sama-sama muda, aku pun ngerti fantasi dan kegilaan anak muda. Tapi tolonglah, hindari zina. Kau sampai persiapan KB dari dini, dikiranya tak paham aku ini. Sefrendlynya aku nih, tak suka kalau kau rusak keluarga aku. Jangan sampai aku jadi cepunya kau juga ya? Aku senang kau jujur, tapi dengar nih aku nasehati benar." Aku bertutur lembut agar tersampaikan padanya.
...****************...
__ADS_1