
"Baru, kenapa memang?" Ayah menaruh laptopnya yang sudah menyala, di atas meja yang berada di depanku.
Ayah seperti tengah mengunyah makanan, ia santai saja duduk di sampingku. Aku masih mengatur napas dari rasa terkejut tadi, dadaku masih kembang kempis tidak stabil.
"Ada apa? Kau kek habis lihat setan." Ayah menoleh, memperhatikanku dengan alis terangkat.
Aku menggeleng cepat dan berulang. "Tak apa, Yah." Aku mencoba menyalahkan kembali ponselku dan mengeluarkan layar dari aplikasi chat yang menyandingkan foto menarik itu.
Ya ampun, Nahdaku. Bisa-bisa mengirimkan foto dengan pakaian seperti itu, bagaimana jika ia salah kirim?
"Ayah tak lihat apa-apa kan tadi?" Aku bertanya perlahan-lahan, bahkan sampai sangat hati-hati mengucapkan perkalimatnya.
"Lihat apa memang?" Ayah menaikkan dagunya.
Aku menggelengkan kepala, kemudian sedikit menggeser tempat dudukku. Aku khawatir ayah melihat apa yang ditampilkan layar ponselku tadi, kan bisa-bisa Nahda malu kalau sampai kecolongan.
"Ish! Tak jelas kau!" Punggung ayah condong ke depan, kemudian jemarinya mengetik sesuatu di keyboard laptop.
"Ayah ngagetin aja." Aku mengatur napas dan menegakkan kepala.
Ya ampun, kepala bawah yang malah ngulet.
"Nih, Bang. Kau paham pola aturan di sini?" Ayah menoleh padaku dan menunjuk layar laptopnya.
"Tak, apa itu?" Rumit sekali gambarnya, seperti sel-sel dalam otak manusia.
"Tanggung jawab kau kelak." Ayah bertopang dagu memperhatikan layar laptopnya.
"Beruntungnya kau yang nikah sama Nahda, dia mau bantu kau. Kalau kau lanjut sama Jessie, gimana coba?"
Obrolan ayah ke mana sih arahnya?
"Iya, alhamdulillah. Gimana, Ayah mau bahas apa?" Aku mengambil dan membuka kue lainnya.
"Tak mau bahas apapun sih, Ayah mau minta tanda tangan kau aja." Ayah bangkit dan berjalan ke arah meja kerjanya.
Aku terus memperhatikan ayah, dengan mengunyah kue yang masuk ke dalam mulutku. Sampai akhirnya ayah mendapatkan sesuatu dari laci, kemudian ia berjalan kembali ke arahku dan duduk di sampingku dengan membawa beberapa dokumen.
"Kau udah jadi orang, Bang. Ada otak, ada pemikiran, ada logika, ada kewarasan. Ayah minta kau tanda tangan di sini, kau berhak urus tapi kau tak berhak jual, karena semuanya masih dalam kendali biyung."
Surat kuasa?
__ADS_1
"Biar apa? Ayah kan ada, Ayah mau ngerepotin aku memangnya?"
Cepat-cepat, ayah meraup wajahku dan tertawa lepas.
"Anak Cendol!" makinya di sela tawa.
"Ayah masih berkuasa, tapi kau bisa akses jadi tak perlu minta tanda tangan Ayah. Kau bisa berhak ngurus, berhak akses, tapi tak berhak lelang dan jual, karena kau bukan pemilik." Ayah menjitak pelan dahiku.
"Oke, oke, Ayah." Aku manggut-manggut.
"Ya udah tanda tangan, cepat! Kau nih ngundang emosi Ayah aja." Ayah membuang napas panjang.
"Ayah aja memang emosian." Aku memgedikan baju.
Hal mudah, hanya tanda tangan. Tapi tanggung jawab ayah sudah sah dibagi denganku, aku akan menjadi pebisnis yang repot sendiri nantinya.
"Ayah kasih begini, karena yakin dengan istri kau. Keknya istri kau bisa kasih pendapat yang tepat, tak melulu bakal ngerepotin kau." Ayah tersenyum samar, ketika aku sudah membubuhkan tanda tangan.
"Iyalah, anaknya b*jing*n." Aku mengusap-usap daguku.
Ayah melirikku dan terkekeh kecil. "Kalau istri papa kau bukan mama Aca pun, keknya tak sampai lama dia jadi pemegang pabrik kopi itu."
"Jadi the next pemegangnya siapa? Aku kah? Aku kan cucu pertama laki-laki dari sulung?" Seiring dengan lontaran kalimatku, ayah langsung mendelik tajam.
Aku tertawa lepas, mendengar seruan ayah di depan wajahku itu.
"Kau cucunya nenek Dinda, bukan cucu Adi. Yang pegang selanjutnya ya pasti Kaf, mungkin pun Kal. Tapi biasanya aturan itu jatuh ke cucu laki-laki dari anak sulung, bukan cucu pertama. Cucu pertama biasanya yang dapat rumah, ya mungkin Kal yang dapat rumah eyang buyut kau, kakeknya kakek Adi. Cuma kan dari jamannya Ayah aja, pada tak berani nempatin karena pohon di belakang rumahnya rindang betul. Mana ujungnya itu nembus ke sungai lagi, rawan air naik meski dikata aman pun." Ayah mengambil cemilan yang berada di atas meja di sebelah laptopnya yang menyala.
"Yang dijadikan garasi mobil truk panen itu kan?" Aku kira yang diturunkan itu rumah kakek Adi yang di depan sini.
"Heem, kau mau beli tanahnya? Bangunan kan bisa diratain." Ayah tersenyum menyepelekan. Nampaknya ayah tahu, jika aku tidak berminat sedikitpun.
"Rumah kakek Adi aja, daripada nanti jadi rebutan, mending dari awal aku beli." Aku hanya mengatakan iseng.
"Ya kan memang punya kau."
Aku ternganga dengan ciki-cikian di mulut.
"Tak merasa transaksi aku nih." Tentu aku seperti orang bodoh.
"Iya, bagian. Tapi jangan ditempati, kau harus dekat biyung kau! Biyung kau sama siapa nantinya, kalau kau tak di sampingnya?" Ayah melirik sekilas, kemudian mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Pakcik Gavin pernah bilang itu masih milik bersama." Aku tidak lupa dengan fakta ini.
"Coba tanya balik. Kalau memang milik bersama, cucu dari anak manapun udah rebutan nempatin. Keluarga besar sepakat untuk diam aja, biar kau usaha. Sekarang usaha kau udah tiga, udah jalan semua. Tinggal ngemban dan bawa aja."
Benarkah? Tapi aku tidak yakin.
"Bohong!" Aku menatap sinis ayah.
Ayah langsung menarik napas dalam, kemudian kedua tangannya menarik kerah bajuku. "Ayo berantem," ajaknya lirih.
"Tak mau aku, mana pernah aku adu jotos." Aku berusaha melepaskan tangan ayah dari kerah bajuku.
Plak….
Tangan kanan ayah melepaskan kerah bajuku, tapi ia mendaratkan tamparan di pipiku.
"Ayah nantangin, ayo berantem." Ayah bangkit, menyeret kerah bajuku membuatku mau tak mau mengikutinya ke tempat yang lebih lenggang dari barang-barang.
"Ngapain sih Ayah tuh?!" Aku paling malas jika bermain drama seperti ini.
"Kau nuduh Ayah bohong?! Hmm?!" Ayah menarik lebih kuat kerah bajuku.
Aku seperti kresek yang terbawa angin.
"Tak, Ayah. Tinggal bilang tuh kalau tak cocok di hati, aku bisa minta maaf." Menangis saja aku ini.
Bughhhhh….
Aku terhuyung ke samping kiri, karena tulang pipi bagian kananku mendapatkan pukulan tak terduga dari panutanku. Aku ingin menangis, karena ayah seolah tidak memahami sedikit kesalahanku. Aku hanya perlu meminta maaf, bukan mendapat hukuman kekerasan begini.
"Maaf, Ayah." Aku memegang lengan atas ayah.
Tangan kiri ayah masih memegangi kerah bajuku. Aku tidak yakin, jika aku tidak mendapat serangan kembali. Tapi aku tidak bisa melepaskan diri, apalagi membalas ayahku.
Ini sepele saja, tapi ayah sampai begitu marahnya. Apa yang ayah ributkan ini? Apa yang menyinggungnya terlalu dalam begini?
"Maaf! Maaf! Sepele betul mulut kau ngucap! Kau dengar ya…."
Ayah menarik kembali kerah bajuku dengan kedua tangannya, kemudian lututnya dihantamkan ke perutku.
Sakitnya, seperti dilompati Cala yang salah mendarat.
__ADS_1
Ayahku kerasukan.
...****************...