
"Takut, nonton film horor terus. Aku belum sholat, Bang. Tak berani ke kamar mandinya, tak berani wudhunya, takut ada yang antri di belakang aku." Nahda merengek seperti Cani.
Argghhh, aku seperti menambah jumlah adik perempuan.
"Iya, Sayang." Aku mengekori Hema berjalan ke arah mobilnya, dengan ponsel yang menempel di telinga.
Aku tidak biasa menggunakan earphone bluetooth. Aktivitasku banyak, earphone pernah terjatuh dan hilang karena aktivitasku.
"Kenapa, Bang? Urgent kah? Ada kecoa kah?" tanya Hema, setelah aku duduk di sebelahnya yang tengah mengemudi.
"Temenin wudhu." Aku tersenyum malu.
Istriku, agak lain.
Hema tertawa lepas, dengan menjalankan mobilnya secara perlahan. "Aku gitu tak ya nanti?" Ia memperhatikan jalanan, karena akan naik ke jalan aspal.
"Tak, kau ng***** aja," celetukku dengan meliriknya.
Tawanya membahana. Laki-laki ini sepertinya bangga, karena dirinya bisa menggauli Bunga lebih dini. Aku jadi penasaran, seberapa kuat dia membawa permainan? Aku tetap seperti kemarin, cukup satu kali asalkan Nahda mampu keluar berkali-kali. Aku bangga dengan diri sendiri sekarang, karena aku bisa bertahan cukup lama setelah pijat dan olahraga rutin. Jangan aku yang keluar berkali-kali, karena tubuhku memang tidak kuat. Yap, aku memahami kondisi tubuhku dan kebutuhanku.
"Ya tak lah, aku kan suaminya. Masa ngurusin begituan aja, Bang?" Ia melirikku sekilas.
"Berapa ronde dalam sekali main?" Aku sebenarnya malu menanyakan hal ini.
"Orang belum nikah, Bang. Nanti jadi cepu lagi, aku lagi yang kena salah."
Benar juga mulutnya ini.
"Pengen tau aja." Aku pura-pura sibuk dengan ponselku.
Hema menoleh sekilas. "Yaaa…. Kadang cuma pakai jari, kadang cuma di**** aja. Kalau sikon tak mendukung, ya asal cepat aja, tapi sama-sama keluar. Kalau memang niat ambil kamar, ya lama pemanasannya. Bunga kalau mainnya kelamaan, nangis-nangis minta udah. Kalau udah itu mesti, Bang. Kalau dipaksakan, ya ngambek dan diemin."
Hubungan belum lama, tapi mereka sudah sama-sama mengerti diri masing-masing.
"Kau kuat lama?"
Eh, kenapa pula aku tanyakan hal itu?
"Pas dulu tak bisa, sekarang lumayan bisa, tapi Bunga yang tak mau. Dia suka pemanasan yang lama, bukan permainan yang lama. Ya cukup lah, untuk aku yang belum benar-benar normal kondisi tubuhnya. Satu kali main, paling satu atau dua gaya aja. Kenapa, Bang? Mau ngajakin berobat alternatif biar jantan kah? Ayo, aku mau aja. Aku sih orangnya sadar diri, aku pasti mau kalau memang kondisi aku begitu." Hema terkekeh kecil.
"Ya berarti kau cukup jangan kan? Masa mau buat perempuan nangis terus?" Aku saja berobat alternatif diajak papa Ghifar.
__ADS_1
"Ya nanti aku imbangi sama perbaikan skill, biar dia tak nangis. Ajakin aku ya, Bang? Kalau Abang mau pijat khusus laki-laki, atau mau beli obatnya."
Ringan sekali ia bicara, seperti tidak merasa malu. Apa aku harus banyak sadar diri sepertinya, bukan tersinggungan saja kerjaannya?
"Iya." Yang penting iya saja dulu.
Beralih topik tentang permasalahan pekerjaan, kami tidak lagi membahas tentang topik laki-laki itu. Ternyata, semua laki-laki mengalami kondisi berbeda dengan miliknya masing-masing. Bisa dibilang, hormonku normal. Hanya staminaku yang perlu diperbaiki dan dijajal, apalagi tentang skillku itu.
"Makasih, Bang? Nanti kapan-kapan ngopi lagi," ujar Hema, saat aku turun dari mobilnya.
"Siap." Aku menutup pintu mobilnya sedikit membanting.
Suara adik-adikku tengah membaca ayat-ayat suci. Aku terus melangkah, sampai masuk ke rumahku. Nahda benar ketakutan, ia berada di atas ranjang dan berselimut. Namun, ia terus menonton film yang mengeluarkan suara seram.
"Katanya takut??? Kok masih nonton film horor?" Aku mendekati ranjang kami.
"Abang…." Nahda langsung mengulurkan tangannya, kemudian menarik tanganku.
"Apa, Sayang?" Aku merengkuhnya.
"Temenin sholat." Ia bermanja ria di dadaku.
"Ayo." Aku menoleh ke arah jam dinding.
"Abang udah sholat?" Nahda memegangi ujung bajuku.
"Udah, Cantik." Aku menarik tangannya yang memegangi ujung bajuku, kemudian aku menggandengnya.
Risih sekali ya memiliki istri? Risih bukan yang bagaimana, tapi risih karena ia memelukku sambil berjalan. Sudah seperti berjalan di tengah hutan yang banyak binatang buasnya.
Nahda hampir sama tingginya denganku, mungkin ia sebatas telingaku. Badannya pun besar juga, tapi berbentuk seperti mama Aca. Ya semacam genetik, lemaknya berkumpul di tempat tertentu seperti paha dan p*****l.
"Kak Izza pernah tinggal di sini tak, Bang?" Lepas wudhu, ia nemplok kembali.
Ya ampun, sampai sesak napas aku ini. Bagaimana rasanya para aktor dan aktris yang syuting film horor itu? Mereka berlarian, berpelukan, berpegangan, bernemplok-nemplok seperti Nahda ini.
Ingin aku mengatakan 'risih', seperti mulut ayah pada biyung. Tapi aku punya mertua, aku takut istriku mengadu pada orang tuanya.
"Pernah, waktu malam pertama." Aku menggiringnya ke dalam kamar kembali.
Beberapa ruangan belum terisi, begitu pun lantai dua. Mushola sudah ada, tapi belum ada barang-barangnya. Sementara, kami terbiasa sholat di kamar.
__ADS_1
"Aku jadi kepikiran arwah kak Izza," ucapnya sambil menggelar sajadahnya.
"Aku yang pernah tidur bareng pun, tak pernah membayangkan arwahnya!" Dia kira Izza meninggal tak wajar kah, sampai arwah Izza bergentayangan begitu.
"Ihh, serem. Tak pernah terpikirkan, kalau bisa aja guling Abang berubah jadi sesuatu?" Ia bergidikan, dengan memakai mukenanya.
Mulutnya ke mana-mana.
"Guling aku berubah jadi kau sejak kita nikah!" Hawa ketusku sudah terasa.
"Maksud aku…. Semacam po……" Nahda menggantungkan kalimatnya.
"Ini bukan novel horor ya, Nahda! Emosi nih aku!" Aku geleng-geleng kepala, kemudian menggulingkan tubuhku di ranjang.
Mau sholat juga banyak sekali wacananya dulu.
"Hmm, dasar Candragupta!" Ia bangkit dan membenahi posisi kiblatnya.
Aku tak meladeninya, agar ia cepat gerak untuk melaksanakan sholat. Keanehan Nahda yang beralih genre ini, membuatku cukup bingung. Aku sedikit ribet melakukan aktivitas sehari-hariku, karena Nahda berubah menjadi penakut dan sering menelponku dan memintaku pulang.
Sampai pernah tercetus untuk mengadakan pengajian, agar hawa takut Nahda di rumah ini itu sirna. Padahal, ia mengaku sudah tidak menonton film horor lagi. Tapi entahlah, mungkin ia masih terbayang-bayang saja.
"Bang, sini dulu." Ayah melambaikan tangannya padaku, saat aku baru keluar rumah.
Lihatlah ulat sutra ini, dia memeluk lenganku berlebihan sekali. Nampak sekali, lebih berlebihan daripada biyung ke ayah.
"Mau ke mana sih?" tanya biyung kemudian.
"Ke mama, minta nginep di mama," jawabku dengan membawa Nahda ke arah orang tuaku.
Semalam, mungkin tak apa. Toh bukan tidur masal juga, kami tidur di kamar Nahda.
"Loh? Kenapa?" Biyung menyodorkan kerupuk mulieng, atau emping melinjo.
"Tak apa." Aku menutupi bahwa Nahda berubah menjadi penakut akhir-akhir ini.
"Kau harus bantu Ayah, Bang. Tolong bagi waktu kau dari rumah produksi jahe itu, usaha Ayah yang di Jepara ada masalah." Ayah menepuk nyamuk yang hinggap di tangannya.
"Mas, jangan Chandra. Duh…. Aku ingat kisah kita." Biyung langsung merengut.
Kisah yang mana?
__ADS_1
...****************...