
"Ke rumah siapa, Dek?" Aku menginjak puntung rokokku. Kemudian duduk tegak menghadap padanya dan menghembuskan asap rokokku.
Tidak sengaja, asap rokok itu menerpa wajahnya. Aku biasa saja merokok di depan adik kecilku yang ini, karena ia pun perokok aktif.
"Tau tak, hembuskan asap rokok depan wajah atau samping wajah itu artinya ngajakin begituan?" Ia menaruh sendok baksonya.
Aku membulatkan mataku. "Serius?" Aku banyak tidak tahu dan banyak tahu wawasan darinya.
"Serius, Bang. Tandanya mengajak, itu isyarat yang sering dipakai di pergaulan atau di tempat hiburan malam," jelasnya lirih dengan memperhatikan sekeliling.
Aku manggut-manggut, wawasan lagi agar aku tidak sembrono.
"Terus, jadi minta antar ke rumah siapa?" Aku mengembalikan topik pembicaraan, sembari mengaduk bakso setengah porsi ini.
Kenyang, tapi malu jika masuk ke kedai bakso dan hanya membeli satu mangkuk bakso. Masa iya aku melongo saja dan memperhatikan Bunga, nanti dikira tukang baksonya aku tidak bisa membayar dua mangkuk bakso.
"Ke rumah kak Ria aja, aku tak mau pulang ke ayah." Bunga mengambil baksonya dengan garpu dan menggigitnya perlahan.
"Pakcik Gavin masih muda, kau beranjak dewasa. Apa tak khawatir dapat tuduhan kau selingkuh sama dia? Bukan aku berpikir negatif terhadap kau, tapi ini keadaannya kau bukan anak sambungnya loh." Sulit sekali menjelaskan agar tersampaikan.
"Kalau tinggal di biyung, kita nanti dipermasalahkan. Terus harus gimana coba, Bang? Aku stress betul tinggal serumah sama ibu sambung aku. Ayah Ken itu udah tau aku merokok, sesekali minum juga. Dia yang memang tak tau fakta itu, mungkin pun ayah Ken tak cerita. Terus pas pulang kuliah jam empat sore kemarin, aku dimarahi dan disuruh pergi karena dia tau di kamar aku ada puntung rokok. Ayah tak tau, jadi aku tak ada yang belain. Ya memang maksudnya baik, adik-adik aku kesehatannya bermasalah juga. Tapi penyampaiannya tak baik, Bang. Itu yang jadi masalah untuk aku, aku tersakiti dengan maksud baiknya. Pergi beneran aku, udah naik bus. Tapi dipikir lagi di jalan, aku mau ke mana? Aku bisa apa? Aku siapa yang biayai? Kerja apa? Mana baru masuk kuliah. Kutengok peganganku pun, rupanya tak cukup untuk kabur. Jadi aku tanya kondektur ini sampai mana, terus pas sampai tujuan aku cari bus lagi untuk pulang ke sini. Mungkin aku bisa minta ayah, biar aku kost aja, atau aku tinggal sama saudara yang lain. Demi Allah, aku bakal berlaku baik dan aku bakal jaga tindak laku aku. Aku tak akan malu-maluin kek kemarin, aku pun bakal fokus sama pendidikan aku." Matanya langsung berair mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Aku sedikit bersyukur belum memiliki anak dengan Izza, jadi anakku tidak perlu merasakan hidup dengan ibu sambung yang tidak sreg dengannya. Tak semua ibu sambung itu jahat, banyak sepupuku termasuk dalam keluargaku yang memiliki ibu sambung dan menjadi ibu sambung. Tapi tidak ada cerita sama seperti Bunga, bersyukurnya mereka akur dan tidak ada problem apapun.
"Udah, makan dulu. Nanti Abang ngomong ke ayah kau, ayah kau panik nyariin tadi siang. Nanti kau rehat dulu di rumah biyung, Abang nanti ngomong ke ayah Givan dulu baiknya gimana. Nanti Abang sampaikan cerita itu ke ayah kau, biar ayah kau pun punya saran untuk kau. Setidaknya, kau harus istirahat dan membersihkan diri di rumah biyung. Meski Abang ragu dengan janji kau yang di akhir itu." Aku terkekeh kecil.
"Ihh, Abang! Ya memang aku ada pacar? Memang aku ada cerita tidur sama laki-laki lagi? Kan tak ada, Bang."
Ya memang sih tak ada, tapi barangkali memang ia tidak berniat bercerita. Ya mana tahu, ia menutupi hal itu dariku.
"Tapi, Bang. Jangan cerita ke ayah, kalau aku ribut sama mamah. Nanti takut mamah dimarahin ayah, ayah tangannya ringan, takut mamah jadi sasaran dan mamah tak terima. Bisa-bisa ayah dipenjarakan, kalau mamah gugat dan lapor polisi berikut bukti visumnya."
Aku kira ia tidak mau ibu sambungnya dimarahin, tapi ia takut ayahnya dipenjara.
"Ya kalau marah suka hancurin barang. Sejak aku di situ pun mereka sering ribut, dikira mamah tuh ayah belain aku aja. Jadinya, ayah sering di kamarnya sendiri. Ya entah kalau ayah butuh sih, tapi aku perhatikan tuh rumah tangganya renggang sejak aku pulang ke ayah." Bunga menggerogoti bakso besar itu menggunakan garpu.
Ia seperti anak kecil yang tengah makan bakso.
"Ya mungkin kek gitu rumah tangga mereka, kan kita tak tau juga." Aku mencoba positif thinking, meskipun aku memiliki kecurigaan lain sejak aku tukar pikiran di kamar pribadi milik pakwa itu.
"Makanya ada ibaratnya, duda bawa anak perempuan itu rasanya kek hidup serumah sama istri mudanya," lanjutnya kemudian.
Jujur saja, aku bingung dengan ibaratnya.
__ADS_1
"Kau ngomong apa sih?" Aku sampai bersedekap tangan di atas meja, menantikan penjelasan dari Bunga.
"Maksudnya, rasanya punya anak tiri perempuan serumah itu, rasanya sama kek tinggal berdua sama istri keduanya suami. Jadi kek poligami, kek dua istri di rumah tinggal bareng."
"Ohh, baru paham." Aku tertawa kecil.
"Gitu, Bang. Anak terus yang jadi permasalahan, apalagi aku udah gede gini. Ayah di pihak aku itu, karena aku sering bilang kan kalau ayah itu tak pernah mau paham jadi aku. Padahal sih, ayah tuh netral. Yang artinya, tak begitu memihak aku, tapi tak memihak mamah juga. Maksud ayah, ya jangan marah-marah gitu ngasih tau akunya. Bukan begitu loh cara penyampaiannya tuh, tapi ayah pun tak membenarkan tingkah laku aku. Aku tau kenapa ayah tak cerita bahwa aku perokok aktif ke mamah, tapi ayah memang ada bilang untuk berhenti di kemudian hari, apalagi kalau aku udah hamil katanya, biar tak kejadian kek kemarin lagi," ungkap Bunga pelan.
Untuk masalah itu, pakwa belum ada cerita padaku. Aku tidak tahu apa alasan di dalamnya, aku tidak pernah mengerti maksud pakwa.
"Jadi gimana kalau jangan cerita yang sejujurnya ke ayah kau? Masa Abang mau bohong?" Aku mencicipi es teh manis milikku.
"Ya cerita aja ke ayah Givan, selebihnya cuma kasih tau ayah Ken aja kalau aku udah di rumah biyung. Biar aku yang mikir alasan aku nanti kalau ayah tanya langsung ke aku." Bunga pun melakukan hal yang sama dengan esnya.
"Yakin mau begitu? Tadi aja Abang udah ditarik kerah bajunya loh sama pakwa, udah murka dan marah dia." Aku tidak bisa membayangkan marahnya pakwa jika ia datang pada Bunga.
"Biar jadi urusan aku, Bang. Ayah tak pernah mukul aku sejauh ini sih."
Mendengar sifat pakwa yang katanya ringan tangan. Aku jadi teringat pukulan pakwa ke dinding ruang ICU saat Izza meninggal, ternyata emosinya begitu kacau ya?
...****************...
__ADS_1