Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA203. Nasehat mama Aca


__ADS_3

"Tidur di rumah aja, Ra. Tidur sama Abang nanti." Aku tak mau Ra menyusahkan mama Aca. 


Ia sulit mendengar alarm yang bagaikan toa masjid itu. 


"Biarin, Bang. Ayah kau udah kasih izin." 


Mama Aca sih memang senang jika Ra menginap, sejak kecil Ra diasuhnya sampai Ra berusia sepuluh tahunan. Jadi sudah seperti anak sendiri, mereka berkumpul menjadi bestie. 


"Ya udah, sana naik. Tidur kau, jangan main HP terus." Aku mendelik tajam pada Ra. 


"Iya! Iya!" Ra langsung buang muka, kemudian naik ke lantai atas. 


Aku memperhatikan mama Aca yang tengah mencuci tangan, sampai akhirnya ia duduk kembali di hadapanku. Exhaust menyala, tentu dengan asap pencuci mulut yang menguar di dapur ini. 

__ADS_1


"Jadi, fix nih Nahda mau kau nikahin? Mama sih tak apa dapat menantu duda juga." Mama Aca terkekeh geli, dengan memperhatikan rokoknya yang berada di tengah-tengah jarinya. 


"Ah, Mama ini. Gurau aja aku tadi, aku belum pengen nikah lagi." Kuburan Izza masih basah, sangat tidak berperasaan jika aku langsung menikah lagi. 


"Nahda aman, Kal aman. Semoga nasib mereka aman dan terus beruntung, Mama cuma bisa kontrol, do'ain dan beri pemahaman aja. Tak bosan-bosan Mama lakuin, biar mereka tak nanggung resiko di kemudian hari."


Beliau bisa santai dan tenang, tapi aku tidak bisa seperti itu. Aku pasti kalap, jika mengetahui suatu kenyataan baru tentang adik-adik perempuanku. 


"Semoga mental mereka aman, semoga langsung diberi hidayah dan langsung sholat taubat juga. Satu lagi, semoga tak hamil di luar nikah. Karena senakal-nakalnya Mama, Mama tak sampai hamil di luar nikah. Bukan tentang bukti, bahwa kita melakukan dosa besar. Tapi lebih ke kasihan anak pasti malu pas nikah binnya ikut ibunya, semua saksi dan keluarga suaminya pasti tau tentang aib masa lalu itu. Mama percaya sih kalau hidayah itu pasti datang, tergantung bagaimana kita menyambutnya tentunya. Ada yang katanya datang dari mimpi, ada yang katanya datang dari pembuktian, ada yang datangnya dari rasa bosan, kecewa dan lelah juga. Jadi kek udah lelah nih bertingkah begini, mulai sadar sendiri otaknya bahwa itu salah dan dia mulai cari jalan perbaiki diri. Gitu loh, Bang. Bukan Mama bolehin mereka zina juga, Mama pasti larang dan Mama nasehatin tentang itu juga. Tapi semisal kejadian, ya mau gimana lagi. Udah kejadian, tak bisa dicegah lagi. Paling bisa juga kita sembuhin luka yang didapat, bukan tentang lecet, tapi tentang mental mereka. Kalau memang udah baik-baik aja, ya mulai cecar lagi dengan nasehat, rangkul, perbaiki diri, kasih paham tentang resiko hidup dan segala macam. Marah-marah tak ada gunanya, masalah tak selesai, mental anak kita makin rusak. Mamah ngerasain sendiri bagaimana hancurnya mental, di masa hal buruk terjadi di kehidupan kita dengan begitu cepatnya. Takut, sedih, marah, kecewa, menyesal, pastinya jadi satu. Belum lagi harapan yang dipatahkan, ingatan yang tak bisa lupa akan hal itu, pastinya butuh support banget lah. Kau bayangkan kalau diri kau jadi korban dari kebodohan kau sendiri, jangan bahas tentang kesalahannya. Pasti kan kau merasa terpuruk dan mental kau down betul? Nah, kalau bukan orang terdekatnya, kalau bukan orang tuanya yang rangkul dia, terus siapa lagi? Kalau dia cari support di luar, hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, dia melanjutkan kesalahan dan kebodohannya. Yang kedua, dia dimanfaatkan oleh orang yang memberinya support agar merasa ia hutang budi terus. Tak semua orang jahat, memang. Tapi manusia memiliki sisi jahat untuk ego masing-masing dan kepentingan masing-masing, kita egois untuk kebahagiaan kita sendiri." Mama Aca menunjuk dirinya sendiri. 


"Jadi???" Aku memandang mama Aca dengan serius. 


"Jadi…. Ya tak jadi-jadi, jalani aja hidup kau serileks mungkin. Jangan melawan takdir, yang terpenting udah berusaha memberikan yang terbaik. Tak usah terlampau dipikirkan nanti si A gimana, nanti si B gimana, nanti si C gimana. Itu malah kita sendiri yang capek, kita sendiri yang pusing, kita sendiri yang sakit. Mama nih, Mama tak pernah cek-cek HP anak-anak, apalagi papa Ghifar. Kasih perhatian, pahami gerak-gerik, tanya aktivitas, terus cari tau sendiri sewajarnya, kasih pemahaman, kasih pemikiran dan letakkan seandainya dirinya merugi lebih dulu, jadi objek yang kita nasehati bakal lebih hati-hati untuk ambil keputusan dengan cepat. Karena sepaham Mama, laki-laki pengen ambil mahkota perempuan itu minta baik-baik. Contohnya pacar lah, pasti lah bujuk rayu, kasih iming-iming, kita yang punya badannya tergantung ngizinin apa tak. Tapi kalau kasusnya pemerkosaan, ya itu kriminal, lebih baik ambil opsi untuk visum dan lanjut kepolisian. Jangan pikirkan s****** d***h, karena zaman sekarang bisa dibuat. Tapi pikirkan mental, " 

__ADS_1


Masalahnya beliau pengalaman, tentu dari gerak-gerik anak-anaknya saja pasti sudah memahami. Nah, aku mana tenang karena tak berpengalaman apalagi mengamati dalam diam. Yang ada, malah berprasangka buruk terus. 


"Aku tak bisa begitu." Aku menyandarkan punggungku ke kursi makan ini. 


"Ya udah, jadilah cepu aja." Mama Aca terkekeh geli. "Ra udah cerita panjang lebar kok. Menurut Mama, opsi yang diambil ayah kau udah betul juga. Ayah kau pun pasti paham ilmu yang Mama jelasin tadi, karena hidupnya tak sebersih kulitnya. Ayah kau cuma bingung atur waktu, jadi kurang kontrol. Mama paham juga kenapa ayah kau serepot itu, ya karena istrinya si Canda. Ayah kau tak mungkin berbagi keteterannya cek laporan pekerjaan kek papa Ghifar ke Mama, karena kapasitasnya tentu beda. Mama sadar, soal agama Mama kurang, tak sebaik biyung kau. Alhamdulillahnya, papa Ghifar punya bekal agama yang cukup baik dan bisa ngajarin anak istrinya. Ayah kau kan ikut semua urus pola asuh, rumah tangga, dapur, laundry, asisten rumah tangga, pengasuh dan lain sebagainya. Papa kan kasih uang ke Mama, urus ini itu segala macam. Jadi dia punya waktu luang, punya waktu banyak untuk recokin anak-anak. Tapi sebegitu recoknya juga, kata Mama sih papa kau kurang memahami bahasa tubuhnya anak-anak. Nah kau yang anak laki-laki tertua dan belum punya tanggung jawab juga, bantulah kontrol adik-adik kau. Tak perlu sampai buat kau repot dan tiap hari kau gali informasinya, tapi pahami masa tumbuh kembang pikiran dan keminatannya. Selanjutnya, kau bagi bersama ayah kau biar kehidupan kau pun jalan. Kau tetap bisa bekerja, punya pasangan, atau lanjut punya keturunan dengan pasangan hidup kau yang baru." Mama Aca sejak tadi memasang senyum manis. 


Apa maksudnya? 


"Dengan Nahda lagi begitu?" Prasangka burukku lebih banyak dari pemikiran yang positif. 


Mama Aca tertawa lepas. "Anak Givan, emosiannya sama, tersinggungannya sama." Tawanya mulai mereda. "Tak harus sama Nahda, Mama lagi nasehatin aja. Papa sambungnya model papa Ghifar, Mama ragu anak-anak dinikahkan lebih cepat. Masa lalunya buat dia pengen anak-anaknya lebih baik ngemban pendidikan darinya, lebih hebat darinya dan lebih banyak memiliki usaha darinya. Kalau memang harus Nahda, mungkin perjuangan kau lobi papa kau." Mama Aca berakhir terkekeh geli. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2