
"Tamu? Tamu siapa?" Untungnya, kami sudah selesai sarapan. Jadi, kami bisa langsung menemui tamu tersebut.
"Biyung sama Bang Chandra langsung aja ke sana." ART tetap berada di dapur.
"Ayo, Bang." Biyung mendahului lebih dulu.
"Ya, Biyung." Aku mengikuti dari belakang.
Kenapa timingnya tidak tepat sekali? Kala mau pergi, malah ada tamu penting. Mereka keluarganya bang Vano, aku tahu dari foto keluarga saat pernikahan kak Jasmine dan bang Vano.
Aku hanya diam, tapi aku memperhatikan bahasa tubuh mereka. Biyung sendirian, tentu ia membutuhkan aku untuk membantunya menjawab pertanyaan dari keluarga bang Vano tersebut.
"Maaf, pagi-pagi mendung begini udah ganggu," ujar seorang perempuan yang usianya sepertinya di atas bang Vano.
"Tak apa, silahkan duduk." Biyung mempersilahkan mereka.
Mereka berjumlah tiga orang. Satu perempuan matang, perempuan lansia dan ayah yang sudah lansia juga.
"Begini, Ibu Canda. Kami sekeluarga memohon maaf atas nama Vano, agar masalah ini dibicarakan secara kekeluargaan aja." Yang berbicara adalah perempuan yang terlihat matang secara penampilan dan urat wajah tersebut.
"Masalah apa ya?"
Tamu salah memilih tuan rumah.
"Ini tentang perceraian Vano. Itu kan aib Vano, aib suaminya Jasmine gitu, Bu. Maksud hati, loh ya dibicarakan baik-baik aja. Vano dikenakan hukuman berlipat, kena pasal dan juga kena hukuman syariat di sini."
Apa kejutan dari om Vendra lagi? Benar-benar om telolet om namanya.
"Vano tak cerita, kalau dia udah ceraikan Jasmine sebelum insiden kebakaran itu?"
Sedikit sulit memang jika harus mengadu mental ingin berbicara pada biyung.
"Menurut Saya, ikuti prosedur aja. Vano jangan kabur-kaburan, buat hukumannya tak tambah berat." Apa susahnya menerima hukuman?
"Dia bukan kabur, dia kecelakaan. Tuh, motornya ringsek parah." Perempuan tersebut menunjukkan sebuah foto.
"Di rumah sakit mana? Biar kita jenguk. Sekarang ayah lagi di luar, nanti kita obrolkan dulu sama ayah. Terus, keputusannya nanti kita bicarakan lagi setelah ketemu bang Vano. Apa udah buat laporan ke polisi?" Aku tidak akan melangkahi ayah.
Nama rumah sakitnya disebutkan, tempat tersebut bukan berada di daerah sini. Rumah sakit tersebut lumayan jauh, berada di perbatasan Medan dan Aceh.
__ADS_1
"Belum, sejak kecelakaan sampai sekarang belum buat laporan. Kecelakaan pun, tak ditangani kepolisian jadi keberadaan Vano tak terlacak."
Jujur tidak ya?
"Gimana keadaan bang Vano sekarang?" Aku ragu karena tidak melihat foto dengan jelas.
"Retak kaki kanan, sekarang udah dipasang gips. Lecet parah dan ada luka sobek juga." Ibu-ibu lansia yang mengatakan hal itu.
"Alamat jelasnya di mana? Saya minta alamat, biar salah satu keluarga dari bang Vano bisa ikut ke rumah sakit di mana bang Vano dirawat." Aku tidak tahu apa-apa soalnya.
"Oh iya, boleh. Ini nomor kontak Saya, silahkan disalin. Nanti Saya kirimkan alamat keluarga Saya."
Di sini terjadi pertukaran nomor kontak.
"Bu Canda, mohon dibicarakan baik-baik dengan pak Givan." Bapak-bapak lansia itu sampai menangkupkan kedua tangannya.
"Iya nanti dibicarakan, Pak. Nanti Saya obrolkan dengan suami Saya." Biyung terlihat ramah.
"Saya mohon dengan sangat, Bu. Saya kepikiran terus dengan tuntutan hukuman." Ibu lansia sampai terisak.
"Iya, Bu. Harusnya Vano tak memperkeruh dengan sengaja meledakkan rumah." Biyung benar, karena dengan begini hukumannya bertambah banyak.
"Bapak tak berpikir biar keberadaannya tak terlacak? Aku temani dia ambil uang banyak, tapi yang dikasih ke kak Jasmine mungkin cuma setengah aja." Aku sedikit paham tentang taktik ini.
"Saya tak tau pasti, tapi dengan dia kasih ke Jasmine uang tandanya ia masih bertanggung jawab." Beliau sepertinya mainnya kurang jauh.
Banyak laki-laki yang membiayai kehidupan perempuan, tapi tidak dalam status pernikahan. Ada istilah ani-ani, sugar daddy dan wanita simpanan.
"Iya, Pak. Bisa diartikan lain, tergantung pengakuan bang Vanonya. Dia kecelakaan tak sendirian kan?" Aku memiliki keyakinan ia membawa Ahyu.
Kasihan sekali kau Ahyu, kau harus menjadi tersangka padahal kau korban juga. Ia korban dari kemarukan bang Vano, ia bahkan tidak tahu bahwa bang Vano sudah menikah. Ini menurut pengakuan bang Vano saat itu.
Lagian, kok bisa kak Jasmine diperdaya oleh bang Vano juga? Di mana tempatnya dan di mana kejadiannya? Bisa-bisanya mengenal laki-laki seperti itu. Aku masih ingat pengakuan bang Vano, yang mengatakan bahwa kak Jasmine ditiduri olehnya sebelum menikah.
"Sendirian, memang sama siapa?"
Loh? Bagaimana keadaan Ahyu? Ahyu tidak dibawa kabur? Jadi bang Vano ingin menyelamatkan dirinya sendiri begitu? Ia tidak ingin menyelamatkan Ahyu juga? Karena logikanya, jika memang mereka bersalah kan akan kabur bersama. Tapi ya, entah yang ada di pikiran bsng Vano bagaimana.
Ya sudahlah, mungkin keluarga bang Vano hanya mengetahui sedikit fakta tentang bang Vano. Ingi menanyakan perihal Ahyu pun, pastinya informasi yang mereka dapatkan amat terbatas. Entah-entah, malah mereka tidak tahu apapun.
__ADS_1
"Ya udah, Pak. Nanti Saya obrolkan ke ayah dulu." Ayah kuncinya.
"Ayahnya tak bisa datang untuk kami kah? Kami udah sempatkan waktu dan nyusahin untuk ke sini pagi-pagi, karena tau ayah jam delapan pasti kerja."
Aku langsung memandang biyung. Biyung pun memandangku, kami berkomunikasi lewat pandangan mata.
"Biar Saya telpon dulu." Biyung meninggalkan ruang tamu.
Aku jadi ikut bingungnya saja. Padahal, aku ingin memberi selamat pada Bunga. Bunga adalah anak yang pernah diasuh oleh ayah dan biyung juga, aku masih ingat manjanya ia sampai sekarang padaku dan ayah.
"Ayah memang lagi ke mana, Bang?" tanya perempuan yang terlihat berusia matang tersebut.
Aku tidak tahu, apakah itu kedua orang tua bang Vano dan kakaknya atau bukan. Tapi yang jelas, mereka ada dalam foto pernikahan bang Vano dan kak Jasmine.
"Lagi ada urusan mendadak, baru juga pergi." Aku tersenyum lebar.
"Ohh, iya. Saya hafalnya pak Givan pasti kerja jam delapan pagi, jadi Saya usahain sebelum jam delapan udah di sini biar ketemu sama pak Givannya." Perempuan matang itu ramah juga.
Mungkin usianya sekitar tiga puluh lima tahun.
"Iya biasanya sih. Kenapa tak kemarin aja? Kemarin hari minggu ayah ada di rumah." Kadangpun memang ayah selalu ada di rumah. Cuma, ada saja yang ia urus jadi ia terkesan sibuk dan bekerja keras.
"Vano makin memburuk, sekarang makan pun lewat selang."
Kok retak kaki saja amat parah?
"Gimana kejadian kecelakaannya? Kok retak kaki sampai separah itu?"
"Iya, jatuh dari ketinggian. Motornya jatuh ke jurang. Itu pun entah ditemuinya setelah beberapa jam entah beberapa hari setelah kecelakaan. Ditemuinya sama warga sekitar sehabis pulang bekerja di ladang katanya."
Ah entahlah, malah aku ikut memikirkan.
"Kata mas Givan, nanti setengah jam lagi pulang. Ditunggu aja ya, Pak? Bu? Kak? Ini silahkan diminum teh hangat dan cemilan ringan." Biyung datang dengan ART yang membawa makanan.
"Repot-repot, Bu." Perempuan berusia matang itu membantu menyusun gelas teh.
"Bang, kata ayah nanti jam tujuh ke rumah pak wa Ken aja. Nikahnya, ternyata nikah….." Biyung berbicara amat lirih, hanya terdengar oleh telinga kananku saja.
...****************...
__ADS_1