Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA80. Vano pamit


__ADS_3

Lihatlah, ia malah diam tertunduk seribu bahasa. Bapak manager ini, rupanya memiliki mental krupuk. Tapi aku yakin, di dalam hatinya pasti ngedumel hebat dan menyalahkan aku. 


Ia tidak ada hak untuk memarahi yang melaporkannya, kan ia benar bersalah di sini. Kecuali, dia dituntut tapi tidak melakukan kesalahan itu. 


"Kalau memang Abang tak bersalah, tak melakukan hal yang dituduhkan. Ya aku akan jadi teman Abang, untuk maju dan bantu Abang. Ini kan Abang merasa, Abang sendiri tadi bilang bahwa kak Jasmine dulunya selingkuhan Abang dan Ahyu itu pacar Abang. Hei, Abang tuh tak ganteng-ganteng seberapa loh. Biaya nikah juga, Ayah yang banyak cover. Tandanya Abang tak kaya, jadi jangan sok mampu biayai dua ratu di kehidupan Abang. Toh, kalau memang Abang udah nikah sama kak Jasmine. Ya sebaiknya, tinggalin Ahyu. Banyak kok di luar sana yang udah tak V lagi dan belum nikah, mereka ada kok yang mau dan rela nikahin mereka. Jangan bicara jauh-jauh, janda beranak tetap laku meski jelas udah tak V dan mereka bawa anak yang harus dinafkahi oleh laki-laki selanjutnya. Abang memang niat untuk selingkuh itu tuh, bukan kasihan. Daripada nafkahin wanita simpanannya, lebih baik muliakan ibu Abang di rumah. Sama-sama keluar uang, tapi arahnya lebih berkah." Aku bisa menjadi biyung, bisa juga menjadi ayah. Tergantung mode mana, yang dibutuhkan di waktu tertentu. 


Hancur sudah mood ngopiku. 


Lagipula, kenapa ada laki-laki seperti ini dan masih hidup lagi? 


Aku bangkit dan membayar kopiku. Rasanya, sudah tidak minat lagi menikmati kopi ini. 


"Ayo, katanya mau pulangkan kak Jasmine. Aku mau tau secara langsung." Tapi kak Jasmine sudah tidur. Entahlah, akan bagaimana caranya mengembalikan kak Jasmine kembali. 


Semoga aku dan keturunanku, tidak memiliki sifat Revano yang seperti itu. Aku selalu berusaha menjadi laki-laki baik, yang terbaik untuk keluargaku dan masa depanku. Semoga keturunan-keturunanku sama, meski memiliki rekam jejak kakeknya yang kurang baik. Aku tau sejarah ayahku dan aku tidak berniat untuk menjadi seperti dirinya. 


Bang Vano hanya mengangguk. Ia mengikutiku yang meninggalkan gelas kopi yang masih penuh ini. 


"Udah kah, Bang? Apa mau dibungkus aja?" tanya pemilik kedai kopi, saat aku melangkah keluar dari kedainya. 


"Tak usah, Pak Cek." Aku tersenyum ramah dan tetap melangkah ke mobil. 


Oke, uangnya yang berceceran itu terlihat lebih menawan dari dirinya. Aku tidak mengerti, apa yang menyemangatinya untuk menjadi seorang bajingan. Padahal, tampangnya pun biasa saja. Bukan sombong, tapi bisa dibilang lebih tampan dan gagah aku. 


"Di mana Jasmine?" Ia membereskan uangnya, sebelum keluar dari mobil. 


"Di rumah ayah." Aku membuka pintu mobil lebih dulu. 


Tak lama ia keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan menghampiriku yang sudah berdiri di teras. Sebelum aku masuk ke dalam rumah, aku lebih dulu menekan remote kontak mobil itu. Barulah kami masuk ke dalam rumah, kemudian aku mencari ayah. 

__ADS_1


"Yah, ada bang Vano di depan. Katanya, mau pulangin kak Jasmine," ungkapku pada ayah yang masih menonton televisi, tapi laptop yang menjadi fokusnya. 


Beginilah kehidupan kami, malam pun masih bekerja seperti ini. Karena gangguan Izza, terkadang aku belum selesai bekerja dan melanjutkan pukul empat pagi. Aku menganggap itu gangguan, karena Izza tidak mengerti juga meski aku sudah berterus-terang. Padahal, ini semua untuk kelangsungan hidupnya. 


"Ck, udah tidur Jasmine. Dia tak perlu tau dulu lah." Ayah menutup laptopnya, kemudian beranjak dari tempatnya. 


"Memang boleh begitu, Yah?" Aku tidak mengerti adab memulangkan wanita. 


"Ya entahlah." Ayah mengedikan bahunya. "Lagian, malam-malam begini. Kek tak ada waktu lain."


Aku berjalan di belakang ayah, sampai langkah ayah berhenti ketika sampai di ruang tamu. Aku melihat wajah ayah hanya datar, tapi tidak pedulinya ayah seperti ini adalah puncak kemarahannya. 


"Gimana?" Ayah duduk di sofa. 


Aku beranjak keluar rumah kembali. Kakiku merasa lincah seketika, aku pun merasa gelisah. Kantukku hilang, dengan kebingungan yang melanda. Aku tidak tahu ingin melakukan apa, aku merasa serba bingung untuk bergerak. 


Ada apa ya kira-kira? Tidak biasanya aku seperti ini. Aku menghiraukan percakapan di dalam, menurutku itu bukan ruang lingkup yang harus aku ketahui. Itu urusan antara menantu, juga mertua menurutku. 


"Bang, videokan aja katanya. Ayah tak tega bangunkan Jasmine," ujar ayah yang mengalihkan perhatianku. 


"Iya, Yah." Aku masuk ke dalam rumah, dengan mulai mengaktifkan kamera ponselku. 


Makin gelisah saja, aku celingukan tidak karuan seperti menunggu kedatangan seseorang. Ya kira-kira, rasanya seperti itulah. 


Uang itu diserahkan ke ayah, dilihat dari ketebalannya, sepertinya hanya sepuluh jutaan. Biaya kuliahku lebih tebal dari setumpuk uang itu, jadi aku bisa memperkirakan. 


Suaranya kecil sekali, tapi entah apa aku yang tuli. Sampai aku mendekat pun, hanya terdengar suara bassnya saja. Ya, suara jakun laki-laki yang sudah baligh tuh. 


Setelah mereka berjabat tangan, aku langsung mematikan video tersebut. Kemudian, aku menyerahkan pada ayah.

__ADS_1


"Ya udah pegang, simpan dulu sampai waktu yang memungkinkan." Ayah menolak ponselku. 


"Aku permisi mau ambil barang-barang aku dulu, Yah." Bang Vano bergerak dari sofanya. 


"Ya." Sesingkat itu ayah menanggapinya. 


"Aku ikut, Bang." Kakiku ingin tahu apa yang ia ambil dan lakukan di rumahnya. 


"Jasmine tak simpan emas di rumah, Chandra. Tak perlu takut aku ambil barang berharga miliknya. Surat tanah pun, kan dipegang ayah juga." Bang Vano mengatakan hal itu, ketika dirinya sampai di teras rumah. 


"Biarin, Bang!" bentak ayah cepat. 


Lagi pun, aku tidak berpikir ia membawa barang sesuatu. Aku tidak berprasangka buruk, ia akan mencuri miliknya sendiri. 


Aku memilih duduk bersantai sendirian di teras, dengan mendengarkan musik dengan volume rendah dan mengecek emailku dari ponsel. Pekerjaan sudah menumpuk, entah mana dulu ya harus aku kerjakan. 


"Chandra, aku pamit dulu ya?" Bang Vano keluar dari pintu penghubung halaman samping. 


Rumahnya tidak satu halaman dengan halaman rumahku dan ayah. Rumah kak Jasmine dan Ceysa, satu halaman dengan rumah Abu, orang tua Hadi. 


"Ya, Bang. Ati-ati." 


Bang Vano berjalan ke arah motornya. Helm dan jaket sudah dikenakannya juga. Ia langsung tancap gas, seperti buru-buru ada sesuatu. 


Tidak lama kemudian, tercium bau hangus yang meleleh. Seperti bau plastik yang terbakar, menurutku. Karena gelap dan malam, jadi tak terlihat ada asap yang mengepul. 


Aku menapakkan kakiku ke rumput halaman rumah. Aku celingukan dan gelisah, aku selalu menatap ke arah pintu penghubung. 


Aku melangkah beberapa langkah ke arah pintu samping. Namun, tiba-tiba… .. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2