
"Jessie yang pernah main sama Ra itu?" Nahda terkesan seperti tengah berpikir mengingat sesuatu.
"Main? Pernah pergi sama Ra kali." Karena Ra pun selalu di rumah saja.
"Nah, iya pokoknya gitu lah. Bener kan? Pernah foto berdua soalnya." Nahda menjentikkan jarinya.
Ish, aku baru terpikirkan. Kalau Jessie nantinya bertanya pada Ra, bagaimana?
"Iya keknya deh, nih orangnya." Aku menunjukkan foto profil yang Jessie gunakan di aplikasi chattingnya.
"Iya benar, Bang." Nahda manggut-manggut, setelah melihat foto tersebut.
"Cantik kok, Abang tak suka?" tanyanya kemudian.
Nahda tidak tahu saja siapa Jessie.
"Suka, cuma banyak beberapa hal yang tak lolos sensor. Caranya menyerang pun, buat ilfeel tuh." Aku menaruh ponselku di dasbor mobil.
"Ohh gitu…. Aku harus ngapain Abang, biar Jessie jauhin Abang? Aku kan tak boleh main sama papa." Nahda tidak physical touch seperti Bunga.
"Tapi kok boleh naik gunung ya?" Aku heran dengan keputusan papa Ghifar.
"Kan bareng ekskul dari sekolah. Kalau naik gunung sih paling setiap semesteran aja, Bang. Kalau untuk refreshing sih di perkemahan khusus, itu pun aku sendirian. Makanya selalu ambil pos paling dekat dengan penjagaan, Bang."
Oh begitu ternyata, aku kira ia benar komunitas pendaki gunung.
"Sih kata mama, kau sama komunitas kau." Aku memperhatikan wajah Nahda.
"Ya ekskul kan komunitas juga, merangkul komunitas biar kita dijaga. Mereka jadi panitia gitu, Bang," jelas Nahda kemudian.
"Kau tak pernah diapa-apakan di komunitas kau?" Aku teringat video dewasa yang tersebar beberapa waktu kemarin, tentang seorang pendaki wanita dan teman-teman laki-lakinya.
"Tak sih, Bang. Perempuan laki-laki sama banyaknya, aman aja kalau soal gitu. Tapi aku pernah ditaksir panitia gitu, umuran dua puluh limaan. Dia punya channel YouTube tentang bermalam di tengah hutan begitu, kemah di alam liar. Terus papa Ghifar langsung negur pas dia telpon aja, jadi ngilang deh."
Ohh, ternyata papa Ghifar melarang Nahda untuk memiliki kekasih.
Aku mengangguk beberapa kali. "Jadi gimana Jessie, mampu tak kau?" tanyaku kemudian.
"Akunya ngapain Abang?" Pertanyaan Nahda, seolah aku menyuruhnya untuk mencabuliku.
"Menurut kau? Coba pikir." Aku memilih untuk duduk menghadapnya.
"Masa kita pacaran?" Nahda bersedekap tangan.
"Ya jangan lah, Abang tak enak sama papa kalau macarin kau." Pikirku, ia masih kecil juga.
__ADS_1
Ya badan sih memang besar, tapi umur kan masih kecil.
"Pacaran bohongan aja, Bang." Idenya tercetus dengan senyuman merekah. "Abang privasi status, pamer ke Jessie aja. Kita foto bareng, kek yang iya pacaran gitu."
"Masalahnya, takutnya dia tanya ke Ra." Bagus juga idenya.
"Ya Ra nanti kita kongkalikong, Ra enak kok diajak kompaknya. Dia orangnya masa bodoh, paling cuma diiyain aja."
Benarkah adikku orangnya seperti ini? Nanti bagaimana ia dengan adik-adiknya?
"Terus, kapan kita barengnya?" Aku pikir, Ra bisa diamankan.
"Ya Abang bisa datang ke kamar aku untuk ambil foto aja sih."
Namun, kira-kira efektif tidak ya?
"Ya udah, coba aja dulu." Tak berhasil juga, aku benar-benar tinggal sementara di Singapore.
Aku ingin mendapatkan jodoh yang direstui oleh orang tuaku. Jika memang harus Jessie, aku tak masalah jika orang tuaku welcome.
"Oke, sekarang foto dulu. Aku lumayan cantik kan untuk dipamerkan? Kata papa Ghifar sih aku cantik, tapi kan katanya aja." Nahda mengarahkan spion tengah padanya, kemudian ia menata hijabnya.
"Cantik." Karena mamanya pun cantik.
"Foto kau aja?" Aku mengambil kembali ponselku.
Ide bocil, mana tau sukses. Aku manut saja lagi, karena aku pikir Jessie benar akan mundur pelan-pelan jika aku memang sudah jelas memilih perempuan lain.
"Foto bersama juga, yang seolah mesra." Nahda tersenyum ceria.
Ia nampak enjoy saja menjalani pacaran bohongan ini.
"Hmm…." Aku mendekatkan tubuhku padanya, kemudian mengarahkan kamera depan pada kami.
"Aduh, buang napasnya jangan di kuping, Bang." Nahda memundurkan kepalanya.
"Eh, kenapa?" Aku memberi jarak kembali.
"Rahim aku anget nanti," jawabnya dengan memeluk lenganku.
Aku melirik ke arah kepalanya, karena posisinya ia sedikit membungkuk. Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu, pada kakak sepupu laki-laki.
"Ayo, Bang. Melongo aja sih?" Nahda mendongak.
Sialan! Jarak kami terlalu dekat. Hidung kami bahkan sempat berbenturan, dengan sadar aku segera menarik kepalaku kembali.
__ADS_1
Kok hatiku sendiri yang campur aduk? Milikku pun beraksi lagi, padahal dengan adik sepupu. Dengan Bunga milikku aku memang bereaksi, tapi hatiku tidak campur adik begini.
"Ayo, Bang Chandra." Nahda mengusap pipiku dari bawah.
Ia menganggapku abangnya, aku yang tidak bisa profesional menjadi abangnya jika begini.
"Oke." Aku langsung tersenyum ke arah kemera.
Beberapa jepretan dengan berbagai macam pose yang katanya mesra, sudah aku ambil. Tinggal aku mengurus tentang privasi, agar dibagikan pada Jessie saja.
Aku duduk tegak kembali di kursi kemudi, aku masih fokus pada ponselku untuk memilih foto yang pas.
"Aku udah WA Ra, Bang. Katanya, iya katanya kalau Jessie nanya diiyain aja."
Lekas dengan segera, aku menoleh pada Nahda.
"Dia tak minta iming-iming? Uang keamanan?" Aku memperhatikan Nahda yang anteng dengan ponselnya selama beberapa detik.
"Tak, dibilang dia orangnya masa bodo. Tak banyak syarat dan tanya dia sih, enak jadi pendengar tapi dia kesulitan kalau curhat, karena emosian dulu sebelum curhat." Nahda meboleh ke arahku setelah selesai berbicara.
"Udah di privasi belum?" Sorot matanya terarah pada ponselku.
"Oh." Aku segera kembali memandang ponselku. "Ini, baru mau dikirim. Udah di privasi kok, dibagikan cuma ke Jessie." Aku segera mengirimkan foto kami berdua untuk dijadikan status aplikasi chatting tersebut.
"Oke, semoga ngaruh. Kalau aku sih, ya bakal mundur kalau laki-lakinya udah punya pasangan." Nahda repot dengan tasnya.
"Ya semoga aja." Harapanku pun begitu.
"Lanjut jalan, Bang. Aku harus nyantai, rileks dulu sebelum belajar. Pulangnya jemput ya, anter ganti pod?"
"Oke." Aku mulai menjalankan kendaraan pink ini.
Aku benar-benar mengantarkan Nahda sampai ke depan fakultasnya, ia pun langsung turun dan menyapa teman-temannya. Ia seperti paling dewasa, di tengah-tengah teman-temannya yang memiliki tinggi badan seratus lima puluh centimeter.
Lampu merah yang cukup lama, ada sekitar tiga menit menunggu giliran. Aku mengecek ponsel yang berada di dasbor mobil, ternyata Jessie langsung berkomentar pada statusku.
[Ternyata 😄]
Hanya seperti itu balasannya pada statusku.
[Kenapa gitu?] balasku kemudian.
Aku menaruh ponselku lagi, bersiap untuk melaju kembali. Baru setelah sampai rumah, aku membuka kembali layar kunci ponselku. Sudah ada balasan dari Jessie, tapi aku belum sempat membukanya karena ada sesuatu yang mengharuskanku keluar segera dari mobil. Aku segera memasukkan ponselku ke saku, kemudian berlari kecil setelah keluar dari mobil.
...****************...
__ADS_1