
"Aku tak akan ceraikan dia, Ma. Cuma, aku merasa tak bertanggung jawab aja karena tak bisa menuhinnya." Aku tertunduk malu.
"Maaf sebelumnya, apa kau punya banyak pengalaman sebelum nikah?"
Lah, begini lagi?
"Mana pernah aku begituan sebelum nikah." Aku melirik ke arah mama Aca. "Paling malamnya setelah akad nikah sama Izza, baru aku benar-benar tengok asli bentukan perempuan. Itu pun aku ragu betul, keluar lagi nanya ke ayah. Aku takut dia kesakitan, terus jadi trauma dianu sama aku." Kan aku jadi cerewet.
"Anak Givan, begitu? Keren sih." Mama Aca sampai mengacungkan dua ibu jarinya. "Kau lebih bersih dari bujang bebas, meski kau ada jejak pernah menikah."
Halah, tak bangga juga aku ini. Buktinya, dengan perawan yang aku jebol seminggu yang lalu pun aku kewalahan.
"Aku tak butuh pujian, Ma." Aku merebahkan tubuhku perlahan.
Enak sekali punggungku diluruskan begini. Padahal semalam sama-sama bergerak, tapi tulangku seperti lepas semua begini.
"Kalau sampai Nahda jadi janda, dia bakal lebih tak terkontrol. Bisa jadi, dia lebih dari tingkah Bunga. Dia tau itu enak sekarang, ibaratnya tuh otaknya udah tercemari." Mama Aca membantuku menyelimuti kakiku.
"Aku tak akan jandakan kalau umur aku panjang, tapi aku tak mampu penuhi batin dia. Dia kekurangan kalau sama aku, Ma." Mengsedih menjadi aku ini.
"Tak, Bang. Dia tak akan kekurangan, kalau kau tau caranya. Kau tak tukar pikiran sama ayah kau? Dia tak kasih kau tips?" tanyanya kemudian.
"Udah, udah dikasih tips. Tapi pas praktek sana Nahda, ya sulit diterapkan dadakan tuh. Aku py boro-boro bisa mikir, aku sibuk tahan-tahan diri biar tak jebol." Aku bagaikan laki-laki tak punya harga diri, bahkan sampai terus terang begini pada orang tua istriku.
"Kau permainkan dia, Bang. Jangan kau turuti dia, kau kasih pelepasan sama dia, dia bakal ngelunjak."
Woah!
"Kek mana? Dia ngambek pun, dia minta dibujuk sendiri." Aku serba bingung mencoba tips dari semua orang.
"Kok bisa ya?" Mama Aca malah mengetuk dagunya.
Ya entah! Aku pun tak tahu kenapa anaknya bisa begitu.
__ADS_1
"Kakak Ipar…. Hallo, permisi, assalamu'alaikum…." Terdengar seruan dari ruang sebelah.
Kebetulan, kamarku dan ruang tamu itu bersebelahan.
"Ada Aca main tak, Kakak Ipar Cendol?" Lengkap sekali panggilan papa Ghifar.
Yap, itu suara papa Ghifar.
"Hei, Pa." Mama Aca segera bangkit dan keluar kamar.
"Ma, masak belum?"
Apa semua laki-laki begini ya? Mencari istrinya, untuk perihal menyiapkan makanannya.
"Udah, tapi Canda lagi buat sayur asem. Aku tak nyayur, Pa."
Mereka berbicara di depan pintu kamarku yang terbuka lebar.
"Ya udah sana bantuin Canda masak." Kepala papa Ghifar melongok ke dalam kamarku.
"Hei, Nak?" sapanya kemudian.
"Nanti aku langsung bawa pulang, siapin." Suara mama Aca seperti menjauh dari depan pintu kamarku.
"Ya, Ma." Papa Ghifar menyahuti dengan melangkah masuk ke dalam kamarku.
"Sakit apa?" Ia duduk di tepian tempat tidur.
"Ngantuk aja kok, tak sakit." Aku miring menghadapnya, dengan memeluk sebuah bantal.
Bisa saja aku terlelap kembali.
"Masa iya? Pucet betul loh." Papa Ghifar merapikan rambutku.
__ADS_1
"Tak apa-apa, Pa." Aku cukup malu, jika membuka lagi di depan papa Ghifar.
Mama Aca sudah tahu, ayah dan pakcik Gavin pun tahu jika aku tak bisa mengimbangi Nahda.
"Masih seputar kehebohan rumah tangga? Biasanya, perempuan loh yang kaget. Papa tak mau tau terlalu jauh, khawatir kau malu karena harga diri kau setinggi ayah kau. Tapi Papa cuma kasih saran, kau perlu waktu untuk pahami semuanya. Entah itu permasalahan ekonomi, ranjang, ketaatan istri, kedisiplinan Nahda. Karena sebelumnya pun, Nahda ikut aturan Papa. Terus nikah sama kau dan dia ikut aturan kau."
Aku menyimpulkan semua sekarang, bahwa aku benar-benar butuh waktu untuk memahami semuanya. Aku harus jeli, mencari titik lemah Nahda. Aku harus bisa, memberi pemahaman padanya agar ia tidak mencari kepuasan di luar. Aku harus mampu, untuk menandinginya dan menaklukkannya.
"Papa juga kah?" Aku terus memandanginya.
"Ya, sama semua pasangan baru juga. Pengaturan keuangan yang masih morat-marit, katakanlah itu persoalan yang memakan waktu lama kalau kau tak disiplin. Makanya beberapa orang ngucapin, kalau ujian keuangan terbesar itu lima tahun di awal pernikahan."
Untungnya, pembicaraan ini tidak mengerucut ke hal sensitif seperti tadi.
"Berapa lama Papa pahami semuanya?" tanyaku kembali.
"Mungkin, dua tahun lah. Setelah nikah itu tak tinggal bersama, hamil Hifzah aja LDR. Malah, rumit lah. Papa kena shock, karena mama masa hamil itu badannya ngembang betul. Perubahan fisik besar-besaran, bahkan tekstur juga. Meski dia rajin perawatan sama biyung kau juga, tapi tak kasih perubahan yang berarti. Kagetnya, karena mama Kin tak gitu. Selain coba nerima, Papa juga coba sadar diri sih. Sadar, karena usaha mama Aca untuk kita bersama itu bukan main-main. Masa pas kita bisa bersama, Papa malah menghindar? Kan berdosa sekali itu Papa, tak tau diri, tak tau terima kasih."
Ujiannya tentang mata laki-laki ternyata. Sejak awal, perut Izza sedikit dadut pun, aku tak pernah menjadikan itu minus untuknya. Karena sejauh ini, teman yang paling setia adalah dirinya. Ia bahkan yang panik, jika aku belum menyelesaikan tugas sekolah.
"Kalau Papa untuk ngertiin mama Aca, itu butuh berapa lama?" tanyaku kembali, dengan memperhatikan jakunnya yang naik turun ketika ia berbicara.
Ia juga panutanku. Aku memiliki banyak panutan, tapi yang paling utama adalah jelmaan setan yang berwujud ayahku itu.
"Mama Aca apa-apa bilang sih, jadi mudah dimengerti. Jadi kek, aku tak suka kau pergi tanpa izin. Semudah itu Papa paham, karena dia tak pakai kode, tapi pakai ucapan langsung, jadi tak ada drama ngambek. Papa tak harus belajar peka, karena dia terus terang. Papa kan bawa anak dua juga, Papa kasih tau nih anak-anak makan ikan harus dipresto dulu, Kaf suka makanan berkuah, Kal suka makanan kering, contohnya begitu. Ya Papa pun terus terang, udah kasih tau di awal. Jadi tak ada drama anak-anak mogok makan, lauk tak cocok. Paling Papa yang kek gitu, karena seringnya itu makan siang di luar makanan itu, di rumah dikasih makan itu lagi, jadi bosen."
Oh, berarti sifat terus terang Nahda itu dari mama Aca. Baguslah, ngambek pun minta dibujuk juga.
"S**s yang agak-agak butuh waktu dan bisa dibilang membingungkan juga. Karena dia bisa jadi selir, bisa jadi ratu. Misal biyung kau ini speak ratu, kata ayah kau ini juga. Ya mama Aca bisa keduanya, jadi kadang ada kurangnya komunikasi dan buat kita jadi kurang. Kurang dalam artian, Papa seperti kurang memberi, mama Aca pun merasa seperti kurang mendapatkan."
Loh, kok bingung aku ini? Apalagi itu, speak selir, speak ratu? Bukankah mereka sama-sama istri-istri raja?
...****************...
__ADS_1