Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA78. Kedai kopi


__ADS_3

"Kasihan, Jasmine lagi hamil." Ia menggosok wajahnya. "Kau tega, Chandra." Ia menoleh ke arahku. 


"Aku tak tau apa-apa, Bang. Aku tak tau kalau akhirnya begini." Aku menyodorkan tepak makan yang belum ia terima. 


Ia melirik kembali tepak makannya. Kemudian, ia menoleh ke arahku dan tiba-tiba merangkulku. 


"Kau orang baik, Chandra." Ia memelukku sekilas. 


Apa ia menyesal? Kenapa ia tidak berpikir dulu, sebelum melakukan perselingkuhan? 


"Makanlah dulu, Bang. Tadi di dalam kau udah dua jam." Aku mendengar perutnya berbunyi kembali. 


Benar-benar kasihan aku ini. 


Ia mengangguk, kemudian menerima tepak makan ini. 


"Aku bawa dari rumah kak Jasmine tadi." Aku memperhatikannya yang membuka tepak makan itu. 


"Kenapa kau bawakan?" Ia mengambil sendok yang berada di atas tutup tepak makan tersebut. 


"Abang tadi mau makan." Aku tidak memiliki alasan lain, selain kasihan. 


"Makasih." Ia tertunduk dan menggeleng. 


"Sama-sama, Bang." Aku memilih untuk memainkan ponsel lagi. 


Apa yang aku mainkan? Game. Daripada mainan video, yang ada nanti aku berandai-andai mendapatkan wanita seperti yang berada di video. 


Ia makan dalam diam, aku pun tak berniat mengganggunya. Sampai habis makanannya, kemudian ia buru-buru masuk lagi dengan membawa minuman. Ia sudah dipanggil lagi. 


Kasihan ya? 


Semoga, aku tidak pernah berurusan dengan hukum. Nanti siapa yang akan mengasihaniku, karena aku paham tak semua orang memiliki kepedulian terhadap sesama, apalagi orang terdekatnya. 


"Chandra…. Dipanggil sebentar." Bang Vano muncul dari balik pintu ruangan pemeriksaan. 


"Oh, ya." Aku menyakui ponselku, kemudian bergerak masuk. 


Hawanya merinding ruang pemeriksaan ini, seperti berada di bawah tekanan. Raut wajah polisinya pun terlihat begitu serius, pasti pertanyaannya mengguncang mental. 


"Bapak keluarga yang hadir, jadi diminta untuk tanda tangan sebagai jaminan Bapak Revano yang boleh kembali ke rumah."


Alamak. 


Aku langsung menoleh ke arah bang Vano. Aku khawatir ia tidak bisa menjaga namaku. Nanti ia kabur, bila-bila aku yang dipenjara. 


"Untuk formalitas saja, Pak," bisik polisi yang berada di sisiku. 


Aku mengangguk, kemudian membubuhkan tanda tangan di tempat yang diminta. Semoga benar hanya formalitas, lagi pun aku tidak mengerti jaminan apa maksudnya. Tapi sepertinya aku tidak akan dipenjara, jika bang Vano kabur entah ke mana. 


"Bapak Vano, mari ikuti Saya." Polisi yang duduk menyodorkan tanda tangan, mengajak bang Vano pergi dengan membawa surat yang aku tanda tangani tadi. 

__ADS_1


Aku memperhatikan mereka pergi, kemudian aku beranjak untuk keluar dari ruangan ini. 


"Pak Chandra…. Keponakannya pak Vendra?" tanya polisi yang berada di sisiku tadi. 


Polisi di ruangan ini, tidak sama dengan polisi yang menjemput tadi. 


"Iya, betul." Aku berdiri di ambang pintu, kemudian menoleh ke belakang, ke arah polisi tadi. 


Ia beranjak dari tempatnya, kemudian merangkulmu keluar dan menuju ke ruang tunggu lagi. "Pak Chandra pangkatnya apa? Tugasnya di mana?" tanyanya kemudian. 


"Double Degree Engineering and Economics."


Maksudnya pangkat apa sih? Kok polisi tersebut menatapku heran. 


"Kirain tuh anggota juga kek pak Vendra." Ia tertawa renyah. 


Seram seperti itu, ternyata bisa tertawa juga ya? 


"Bukan, baru lulus tahun ini di Nanyang Technological University." Jangan tanya biaya kuliah di sini. Di Indonesia pembayaran sampai dapat gelar, di sana satu semester.


Tapi lulusan dari universitas ini, memiliki gaji relatif besar di sana. Lulusan dari universitas ini pun, dipertahankan perusahaan kala pandemi. 


"Loh? Saya kira keluarga anggota." Ia mengajakku duduk di kursi tunggu. 


"Bukan, Pak. Paman Saya aja yang anggota, keluarga besar Saya berladang." Aku terkekeh kecil. 


Aku bangga dong menjadi cucu petani kopi. 


"Blang Padang, perkebunan kopi teungku Adi." Aku yakin kakekku terkenal. 


"Ohh, iya-iya. Teungku Adi, iya Saya tau. Keluarga siapa di sana?" Beliau manggut-manggut. 


"Yaa, keluarga teungku Adi. Saya itu cucu dari anak sulungnya." 


Matanya berkedip cepat. 


"Aih? Jadi, Revano ini cucu menantu teungku Adi?" Ia melebarkan matanya. 


"Iya, menantu ayah Saya, ayah Givan."


"Ck, ck, ck…" Ia geleng-geleng kepala berulang. Ia seperti tidak percaya mendengar fakta ini. 


"Berarti, pak Vendra ini anaknya teungku Adi? Atau gimana?" tanyanya kembali. 


"Jadi, ayah Saya itu anak tiri kakek Adi. Ayahnya om Vendra sama ayah Saya itu sama, ayah Saya sulung di keluarga ayah kandungnya, sulung juga di keluarga kakek Adi," Jelasku kemudian. Aku yakin, polisi tidak berniat buruk dengan tahu silsilah keluargaku. 


"Waduh, berani-beraninya si Vano itu. Waktu muda dulu, Saya ikut menyelesaikan kasus tambang itu. Orang bersangkutan kena hukuman mati. Dua kali problem tambang ini, yang pertama Saya ikut itu pelakunya kena hukuman mati, yang keduanya penjara dan denda triliunan sampai penyitaan." 


Ayah pernah cerita juga tentang masalah ini. 


"Ayah Saya cinta damai sebetulnya, Pak." Apa yang membuatnya geli, tapi nyatanya ia sampai terbahak-bahak. 

__ADS_1


"Semoga Saya percaya. Dari dulu langganan loh keluarga teungku Adi itu, dari Saya terima laporan, sampai langganan bolak-balik lapangan. Untungnya udah tua sekarang, udah anteng ya? Jadi tak ada masalah lagi. Saya pun tugasnya udah anteng di meja pemeriksaan aja." Polisi tersebut terkekeh kecil. 


Beliau tidak tahu kalau mereka sudah almarhum. 


"Mereka udah tak ada beberapa tahun silam." Seperti kehilangan suara, polisi tersebut diam tanpa ekspresi dan tidak bersuara sedikitpun. 


"Innalillahi." Ia menoleh padaku dengan tatapan kaget. 


"Ayo, Chandra." Bang Vano muncul juga akhirnya. 


"Mari, Pak." Aku pamit pada polisi yang masih shock tersebut. 


Entah ada kenangan apa dia dengan kakek dan nenekku. 


"Iya, iya. Hati-hati, Pak Chandra." Ia mendadak tersenyum ramah. 


"Siap, Pak." Aku membalas senyum ramahnya. 


Aku memutar mobilku keluar dari kantor polisi ini. Hari sudah malam, Izza pasti sudah mencak-mencak. Biarlah, aku pun tengah repot sendiri. 


"Aku pengen ngomong sama kau." Bang Vano membuka sedikit jendela mobil ini. 


"Boleh, Bang. Mau singgah ke kedai kopi dulu? Atau mau nepi dulu." Aku yakin, ia tidak ingin membuat repot hidupnya dengan cara memukuli di jalan sepi dan membawa pergi mobilku. 


Oh, ngomong-ngomong. Ini mobil milik mertuanya, bukan mobilku juga. Ini mobil milik ayah Givah. 


"Ke kedai kopi boleh, tapi singgah ke ATM dulu." Permintaan yang mudah. 


"Oke, Bang." Aku melipir ke arah pengisian BBM yang tersedia mesin ATMnya juga. 


Uang yang ia tarik banyak juga, dompetnya sampai tidak muat untuk wadah uang tersebut. 


"Banyak betul, Bang?" ucapku, kala ia masuk kembali ke dalam mobil. 


"Jasmine lebih suka uang cash," jawabnya kemudian. 


Untuk apa ia memberikan istrinya banyak uang? Apa ia berpikir istrinya kekurangan yang? Atau, istrinya mudah dibujuk dengan uang? 


"Kedai kopi dekat rumah aja, Chandra."


Aku mengangguk, kemudian masuk ke gang rumah kami. Aku tak lupa menarik rem tangan, sebelum keluar dari dalam mobil yang terparkir di depan warung kopi ini. 


"Kopi dua, Pak Cek. Jangan pedas." Aku duduk di bangku panjang yang tersedia. 


Senangnya membuat orang tertawa, paman pemilik kedai kopi pun sampai memegangi perutnya. 


"Bungkus kah di sini, Bang?" Semua orang menyebutku dengan sebutan tua. 


"Di sini aja, Pak Cek." Aku memperhatikan bang Vano yang duduk di sebelahku. 


"Chandra…… 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2