Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA95. Sarapan bersama biyung


__ADS_3

"Loh? Ada di sini sih?" Pak cek Givan menatapku dengan alis tertaut, saat pagi ini ia masuk ke dalam rumah untuk mencari ayah. 


Satu menit yang lalu, ia memanggil ayah berulang kali. Sepertinya, ada pekerjaan penting. 


"Iya, Pak Cek." Mungkin beliau bingung, sepagi ini aku sudah di rumah orang tuaku. 


Semua orang memiliki permasalahan tidak ya di rumah tangganya? Beberapa pamanku memiliki anak sambung, tapi mereka terlihat bahagia saja dengan pasangannya. 


"Oh, yaudah. Nitip Cali, Bang." Ia keluar lagi dari rumah. 


Entahlah, aku tidak penasaran dengan kepentingannya. 


"Ayah udah kirim jadwal, bantu Ayah sedikit." Ayah buru-buru keluar rumah dengan pakaian yang sudah rapi. 


"Iya, Yah." Aku masih berdiam diri di ruang tamu ini. 


Begini ya memiliki masalah dengan istri? Rasanya, kerja pun tidak semangat. Aku ingin segera menyelesaikan permasalahan dengan Izza, agar beban yang di kepala ini tidak mengganggu otakku yang harus fokus pada pekerjaan. 


"Bang, sarapan," seru bingung keras. 


"Ya, Biyung." Aku berjalan ke arah dapur, untuk mengisi perutku. 


Aku disediakan makanan oleh biyung. Tak lupa juga, dengan segelas air putih. Makanan terlihat menarik, meski bukan olahan ayam atau daging sapi. Tapi, ini adalah makanan favorit keluarga kami. 


"Ngelamun aja? Izza suruh jemput ke sini kah?" Biyung ini ada-ada saja, masa Izza yang menjemput suami. 


"Tak usah, Biyung. Pusing, jadi malas kerja." Aku mulai menyendokkan nasi. 


"Semangat, anak laki-laki ayah tak boleh lemah hati. Ayah tak pernah lemah hati, gampang move on orangnya loh." Ringan sekali biyung berbicara. 


"Aku tak berniat lupain Izza, Biyung. Aku cuma lagi nyari jalan keluar, bukan mau ceraikan dia." Aku curiga biyung tidak mengerti maksudku. 


"Oke, Biyung siap jadi pendengar. Ayo makan dulu, biar kerjanya tak letoy." Biyung duduk di sampingku. 


"Ya, Biyung." Aku menikmati kembali makananku. 


"BIYUNG…."


Kentara, ini suara kak Key. Ia tidak bisa berbicara pelan, tenggorokannya seperti habis digurah. 


"Hm, makan," sahut biyung tenang. 

__ADS_1


Ada apa sih? Aku deg-degan jika ada yang heboh begini. Kak Key muncul dengan tergesa-gesa juga, seperti ada sesuatu yang harus dikerjakan buru-buru. 


"Ada apa, Kak?" Aku sampai meletakkan sendokku di atas piring. 


"Ayah sama pak cek Gavin buru-buru tuh, mau hadiri akad nikah Bunga katanya. Tante Ria dapat kabarnya baru, jadi kami semua telat tau. Duh, kita kasih apa nih? Kok buru-buru sangat ya? Kita kan tak ada persiapan." 


Dasar ciwi-ciwi! 


"Hei, bukannya Bunga baru lulus SMA kan?" Aku shock juga mendapat kabar ini. 


Bunga lebih cepat lagi menikah dari kak Key dan kak Jasmine. Satu dua dengan Ceysa, aku malah berpikir ia hamil juga. 


"Nikah hari ini, kemarin ada kendala masuk kuliah itu karena Bunga nyadarin keadaannya. Udah lima bulan katanya sih, dari sebelum ujian kelulusan katanya."


"Uhuk, uhuk…." Aku tersedak air putih yang tengah aku minum. 


Bukannya menolong, kak Key dan biyung malah mentertawakan air putih yang keluar dari hidungku. 


"Biyung tau dari mana?" Aku menyeka air itu. 


"Pak cek kau, barusan ke sini ngasih tau ayah. Ayah lagi makan, malah belum habis tuh." Biyung menunjuk piring yang masih terisi nasi yang sudah diacak-acak dengan lauk pauk. "Jadi, Biyung tau lah," lanjut biyung kemudian. 


"Hamil duluan?" tanyaku kemudian. 


"Duh, kasian betul. Itu tuh baru tau sekarang tuh gimana?" Kak Key menarik satu kursi makan, kemudian mendudukinya. 


"Bunga punya permasalahan di datang bulannya, dia dari remaja tak bisa datang bulan rutin. Kalau mau rutin, harus minum obat dulu. Kalau datang sendiri, ya lama betul itu."


Heh? Ada juga perempuan begitu ya? Aku baru tau juga nih. 


"Tapi bisa hamil ya?" Kak Key sampai garuk-garuk kepala. 


"Ya bisa, enak sih."


Biyung kadang-kadang biyung. 


"Hmm, ya subur gitu maksudnya tuh." Kak Key sampai memperjelas ucapannya. 


"Alhamdulillah. Biyung sendiri yang lama tuh, untungnya tak ada yang ikutin." 


Aku langsung terpikirkan dengan Izza. Izza belum kunjung hamil, aku khawatir memiliki cerita kesulitan punya anak. Duh, begini saja aku jadi beban pikiran. 

__ADS_1


"Kan ayahnya, bukan biyungnya." Kak Key berbicara lirih. 


"Jangan ngomong keras-keras, ayah dengar bisa nangis bombay. Ayah sensitif soal itu." Biyung menempatkan jari telunjuk di depan bibirnya. 


Aku kurang informasi tentang ini. 


"Terus, anak yang mana pas kejadian itu?" Sifat kepoku seperti biyung. 


"Kau." Biyung menoleh ke arahku. 


"Kau cucu mahal, harta kau udah banyak sejak kecil." Kak Key menepuk bahuku. 


"Tak ada! Biyung pegang, istri kau begitu. Coba Izza ke sini terus, Biyung kasih-kasihkan surat kuasanya." 


Aku tidak tahu soal ini, aku pun tidak mau tahu. Karena apa? Karena pada Izza aku sudah dibilang bahwa aku ingin warisan orang tua. Sedih sudah, jika ingat hal ini. 


"Ada masalah kah?" Kak Key menarik lenganku, membuatku kini menghadap padanya. 


"Ya itu sih, adik kau semalam pulang." Biyung yang malah membeberkan. 


"Gimana ceritanya? Gara-gara apa?" Kak Key tetap mencekal lenganku. 


"Udah nanti aja ceritanya! Sama siap-siao, ajak Jasmine. Kasih uang aja berapa atau berapa, tak sempat kalau harus beli emas dulu." Biyung juga yang menangkis pembahasan tentang aku dan Izza. 


"Oke, oke. Aku siap-siap dulu." Kak Key langsung melarikan diri. 


"Kak Jasmine tinggal di mana sih, Biyung?" Aku menoleh pada biyung. 


"Di ma Nilam, Bang. Baru sih dua hari sekarang. Dia jadi banyak diam, masa tau suaminya yang berulah untuk bakar rumah itu."


Iyalah pasti. Ingin tetap cinta, tapi suaminya yang menghancurkan rumahnya. Segitu, kak Jasmine tidak tahu bahwa suaminya selingkuh. Hm, kalau tahu pasti benar-benar hancur mentalnya. 


"Kita harus benar-benar ada untuk kak Jasmine, kasian dia tak punya siapa-siapa." Mana sedang hamil, ia terlihat begitu lemah. 


"Izza juga, Bang. Biyung tak tau pasti ceritanya, tapi mesti dipending untuk kasih selamat ke Bunga. Biyung kira tak usah ke sana, tapi Key heboh aja. Anak Fira, hebohnya kek nenek Dinda." Biyung menggerutu jelas. 


"Biyung suka panas hati tak, kalau mantan ayah datang?" Aku mengalihkan topik pembicaraan, agar aku bisa tetap makan tanpa memikirkan tentang Izza. 


"Tak, udah kebal rasa. Biyung percaya, kalau Biyung cuma satu-satunya. Ayah tuh sebenarnya setia, waktu sama ibunya Zio aja ayah kau tak HP terus, tak ketemuan terus atau segala macam. Tapi memang sekali dia datang, ayah kau kek kena hipnotis." Biyung gampang terbawa suasana. 


Sepertinya, musuh terbesarnya adalah bunda Nadya. Aku tahu wanita tersebut, karena pernah datang ke pondok pesantren tempat kami menimba ilmu dulu. Tapi memang di pondok kami tidak boleh menemui anak, jika bukan waktu jenguk. Jadi Zio hanya menunjukkan dari jauh, jika ibu kandungnya menjenguk ke pondok pesantren kami. 

__ADS_1


"Bang Chandra, itu ada…." ART di sini tergesa-gesa menghadap kami yang tengah makan bersama. 


...****************...


__ADS_2