Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA132. Mempersiapkan tindakan


__ADS_3

"Baik, begini Bu Izza." Dokter Fardan menjelaskan pada kami. 


Izza mengangguk, ia terlihat tegang sekali ketika akan menyimak penjelasan dokter tersebut. Izza tidak seperti tadi, yang riang dan terlihat gembira. 


Persis seperti yang pakwa katakan, dokter Fardan menjelaskan dua fibroid yang diidap oleh Izza. Ia langsung terlihat pucat, kala aku menggenggam tangannya pun tangannya terasa begitu dingin. Namun, ia menyunggingkan senyum kala menoleh ke arahku. 


"Berarti, Saya mengidap fibroid ini sudah cukup lama ya Dok?" Suaranya terdengar bergetar sesaat, sebelum akhirnya ia berdekhem untuk menstabilkan suaranya. 


"Bisa jadi karena pertumbuhan fibroidnya yang cepat, bisa jadi juga karena memang sudah mengidap sejak lama. Namun, tidak disadari oleh Ibu Izza." Dokter menjawab dengan perlahan. 


"Jadi, saran terbaiknya bagaimana Dok?" Izza sok tegar, ia tetap tersenyum kala menoleh padaku. 


"Saran terbaiknya, Ibu Izza bisa mengambil tindakan pengangkatan fibroidnya saja atau miomektomi untuk jalan keluarnya. Karena melihat usia Ibu Izza yang masih muda, ditambah dengan Ibu Izza belum memiliki keturunan. Kalau memang Ibu dan suami menyetujuinya, Ibu Izza akan diarahkan untuk melakukan persiapan dan akan melakukan tindakan esok paginya. Karena ada beberapa obat, yang harus ibu konsumsi sebelum tindakan berlangsung." Dokter menuliskan sesuatu yang mungkin itu adalah rekam medis milik Izza. 


"Baik, Dok. Saya siap," tegas Izza mantap. 


Aku yang tidak siap, aku yang ketar-ketir di sini. Tapi bagaimana lagi? Istriku sepertinya ingin sembuh lebih cepat. 


"Baik, bisa diurus untuk pengambilan kamar inap dulu. Nanti dikamar diberikan obat untuk Ibu, dalam infusan juga akan diberikan obat juga. Ada dokter Ken di luar ya? Bisa langsung ikuti arahan dari dokter Ken, biar lebih jelasnya." Dokter Fardan memberikan secarik kertas padaku. 


Beginikah proses akan melakukan tindakan? 


"Dari sini ke IGD langsung ya, Pak?" Asisten dokter tersebut membukakan pintu untuk kami. 


"Baik, terima kasih." Aku tersenyum ramah, begitu pula dengan Izza. 


Aku diminta pakwa untuk menemani Izza di IGD, sedangkan dirinya maju untuk mengurus ini itu sampai Izza mendapat kamar. Infus pun langsung dipasang, kemudian Izza melakukan perekaman jantung. Sepertinya, itu adalah hal yang memang prosesnya harus begitu. Setelahnya, aku diminta untuk menyiapkan anggota keluarga yang bersedia menjadi pendonor untuk Izza. 


Bunga diperlukan juga. Aku memintanya menjaga Izza, sementara aku keluar untuk menghubungi beberapa orang lebih dulu. Kaf menjadi sasaran utama, karena ia tadi menjanjikan untuk bisa membantuku. 

__ADS_1


"Ya, Bang. Ada dua orang, kapan harus ke sana?" Ia tanggap juga rupanya. 


"Tindakannya besok, Kaf. Darahnya diambil lebih dulu, atau saat diperlukan aja?" Aku tidak tahu bagaimana sebaiknya. 


"Oh, ya masa diperlukan aja. Nanti kabari aja, Bang. Aku bakal langsung antar dua teman aku ke rumah sakit itu, jam berapa besoknya kira-kira?" Lalu lalang kendaraan terdengar di seberang telepon, sepertinya Kaf berada di jalan. 


"Jadwal sih jam tujuh pagi, Kaf." Karena jam delapan paginya, biasa dokter Fardan buka praktek untuk USG di rumah sakit. 


"Oh, oke. Malam ini aku ada tugas, besok pagi aku bawa teman aku juga sekalian ke sana. Untuk antisipasi, biar tak diburu-buru." Suara Kaf kadang jauh kadang dekat. Mungkin efek angin, karena Kaf membawa motor besar. Mungkin juga, karena Kaf menggunakan interkom. 


"Abang harus ngasih berapa ke teman kau, untuk ucapan terimakasih begitu?" tanyaku kemudian. 


"Biar jadi urusan aku, Bang. Aku repot kuliah terus, tak pernah sempat nemenin kau sama kak Izza, masa kak Izza diopname di rumah sakit kemarin." Mungkin memang serepot itu menjadi calon dokter. 


"Ya udah kalau gitu, makasih ya udah mau bantu?" Bagaimana pun, aku harus berterimakasih dengan jasa-jasa mereka. 


"Oke, Bang. Matiin aja teleponnya, Bang. Aku lagi di jalan soalnya ini."


"Oke." Aku langsung memastikan panggilan telepon Kaf. 


Ehh, saudara Izza belum dikabari. Tapi jika dikabarkan mendadak, mereka malah kalap. Bagaimana jika berkunjung setelah Izza sehat saja? Ya sebaiknya seperti itu saja, agar tidak membuat mereka semua khawatir. 


Biyung, ayah dan tante Ria pun aku kabari. Tapi karena sekarang ayah repot, biyung berjanji datang dengan ipar-iparnya atau anaknya. Biyung mengatakan, dirinya tengah mempersiapkan makanan katanya. 


Pakwa ada kerepotan di rumah, sehingga ia langsung pulang begitu Izza mendapat kamar inap. Bunga sengaja ditinggal di sini, untuk bergantian menjaga Izza. Sedangkan aku diminta perawat, untuk menebus obat untuk Izza. 


Obatnya hanya tiga buah, tapi harus dihabiskan agar tidak ada efek negatif karena tubuh Izza terkontaminasi dengan alat-alat medis. Begitu kurang lebih penjelasan singkatnya. 


Bunga dan Izza mengobrol akrab, ketika aku kembali ke kamar Izza. Izza tidak rebahan, ia duduk bersila berhadapan dengan Bunga. Semoga kesehatannya tetap stabil, sampai ia masuk ke ruang operasi. 

__ADS_1


Keluarga silih berganti datang untuk memberikan support pada Izza. Ayah bahkan pulang kerja langsung ke rumah sakit dan bermalam di sini, karena mendengar kabar Izza esok diberi tindakan. 


Kaf dan temannya datang lebih dini, pukul enam pagi. Mereka mengatakan sudah sarapan di luar dan mereka adalah wanita semua. Keren memang Kaf ini, sampai kedua teman wanitanya mau mengusahakan darahnya didonor seperti ini. 


"Aku bawa dia cek kesehatan dulu ya, Bang? Wajib soalnya nih. Nanti telepon aja, Bang. Paling setengah jam sih, tapi barangkali Abang nyariin." Kaf menunjuk dua wanita tersebut dengan ibu jarinya. 


"Oke, oke." Aku beralih memandang dua wanita yang terlihat sama-sama manis. Semoga Kaf tidak poligami seperti kakek Adi. 


"Makasih ya sebelumnya?" ucapku dengan menangkupkan kedua tanganku di depan dadaku. 


"Sama-sama, Bang," sahut mereka dengan ramah. 


"Kami cek dulu ya, Bang?" Kaf membawa kedua perempuan tersebut pergi. 


Senangnya dalam hati, kalau beristri dua. Mungkin itu bayangan Kaf, ketika merangkul kedua teman wanitanya itu pergi. 


"Tak boleh sarapan dulu ya memang, Bang?" tanya Bunga, dengan memberi uang kembalian memberi makanan. 


"Ya kak Izza yang tak boleh." Entah berapa jumlahnya, aku langsung memasukkannya ke kantong jaket. 


"Kok Abang suruh makan bilangnya nanti aja, kirain Abangnya ikut puasa juga." Bunga berjalan masuk ke dalam ruang inap Izza. 


Aku langsung membuang wajahku ke arah lain, sebelum mataku menangkap part belakang Bunga yang melambai-lambai itu. Sesulit itu menyia-nyiakan barang indah memang. 


Bukan aku tengah sarapan juga, tapi rasanya memang sesak melihat ketegangan seperti ini. Izza tersenyum dan mengatakan dirinya tak apa-apa, tapi aku membaca lain dari sorot matanya. 


Seorang perawat berjalan mendekat dan hendak masuk ke ruang inap Izza. "Pak Chandra, mari antar Ibu Izza ke ruang tindakan. Dokter sudah datang."


Aku langsung berkeringat dingin. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2