Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA99. Bunga disuapin


__ADS_3

Physical touchnya tak ngotak. 


"Kau masih ada nyeri? Aku panggilkan perawat, sekalian aku mau cari air dan makanan ya?" Aku jelas menghindar dan memberi jarak, agar Bunga tidak mudah menggapaiku. 


"Boleh, Bang. Nyeri di sini." Ia menekan dadanya. Senyumnya mirip Kirei, sepupuku yang ramah dan manja. 


Hanya saja, Kirei masih kecil. Ia masih kelas dua SD, delapan tahunan sepertinya. 


"Oh, penuh kah ASInya?" Biasanya seperti itu sih perempuan nifas. 


"Heh!" Ia membuka matanya lebar, seperti membentak. Kemudian, ia tertawa lepas melihat respon kagetku. 


"Aku keguguran, Bang. Bisanya ASInya penuh."


Ehh, iya juga. 


Aku menyugar rambutku malu. Kemudian, aku meringis kuda. Ada saja yang menjadi humor padaku dan Bunga. 


"Tinggal bentar ya?" Aku melangkah ke arah pintu. 


"Jangan lama-lama, nanti aku rindu." Tawanya renyah sekali seperti kerupuk yang digoreng begitu lepas dijemur. 


Kami berpisah di pondok biyung enam tahun yang lalu, saat ia hendak masuk SMP. Denganku, ia beda lima tahun sepertinya. Kala itu, aku masih SMA dan tengah liburan kenaikan kelas di rumah. Karena masa SMA, aku di pondok pesantren. 


Hubunganku dengan Bunga masa itu, umumnya adik dan kakak seperti biasa. Hanya saja, ia lebih manja dari adik kandungku sendiri. Ia tidak suka dengan Izza dari dulu, dari pertama kali aku sering mengajak Izza main ke rumah. Alasannya, katanya suka merebut aku kala kami tengah bermain bersama. Ya pikiran anak kecil pada umumnya saja, normal karena cemburu seolah kakaknya diambil oleh Izza. 


Aku membeli beberapa botol air mineral kemasan, roti dan juga biskuit renyah. Tidak ada makanan berat di sini, kecuali yang instan-instan begitu. 


Setelah membayar, aku kembali lagi ke kamar Bunga. Tapi, sudah ada ayah yang tengah menyuapi Bunga. 


"Tau dari mana kamarnya, Yah?" Aku memberikan barang yang aku beli pada Bunga. 


"Tanya lah, kan ada datanya." Ayah kembali menyuapi Bunga. "Ini masakan biyung, enak tak? Tumisnya tak ada obat, memperdalam ilmu tumis menumis aja biyung tuh, tapi hasilnya tak mengecewakan." Ayah mencicipi makanan Bunga yang tengah ia suapkan.


"Enak banget, seasoningnya pas." Bunga menyatukan ujung telunjuk dan ibu jarinya. 


"Iya dong, istri Gue."


Percayalah, ayah tidak pernah memuji biyung di depan biyung sendiri. Tapi ternyata seperti ini ya ayah di belakang biyung? 


"Yang resmi atau yang siri ini, Yah?" Bunga menyendokkan makanan sendiri ke mulutnya. 

__ADS_1


Tawa ayah lepas, dengan menepuk pundak Bunga. Bunga bisa satu circle dengan candaan kami, ia seperti terbiasa dengan candaan laki-laki.


"Biyung dengar, bisa dicurigai Ayah. Mana Ayah sering ngopi malam lagi." Ayah meredam tawanya, dengan menyuapi Bunga kembali. 


"Semoga Ayah dijauhkan dari perempuan kek aku." Bunga bersandar pada lengan ayah. 


Sedih sekali menjadi dirinya. Ia pun jelas korban di sini, tapi ia terlihat bersalah di sisi lainnya. 


"Anak perempuan Ayah." Ayah merangkul Bunga dan mencium kening Bunga. 


Mata Bunga berair kembali, tapi senyumnya terukir lebar. Ia butuh kehangatan keluarga, untuk melupakan permasalahannya kemarin. 


"Eummm, maaf ngantri lama di apotik." Pak wa masuk ke ruangan dengan membawa kantong obat. 


"Tak apa, Yah. Aku udah lagi makan." Bunga tersenyum ceria. 


Ia bisa begitu ya? Jika Izza, pasti tidak bisa akting bahagia. Sudah sedih, ya dia pasti sedih terus. 


"Kau butuh psikolog, Dek?" Pak wa mendekati Bunga, kemudian mencium kening Bunga. 


"Tak, Yah. Aku mau pulang ke pondok biyung aja, boleh?" Bunga membuka mulutnya lagi menerima suapan ayah. 


"Tapi pondok biyung lagi direnovasi ulang." Pak wa memandang ayah. 


"Kamar di rumah Ayah ada empat, Chandra ikut istrinya, Jasmani sementara di neneknya. Cala Cali lagi suka nginep di pak cek Gavin, jadi kosong deh rumah Ayah. Ayah berdua sama biyung aja."


Aku lupa membicarakan pada ayah, bahwa aku akan seminggu di sana. Ayah tahunya, semalam memang aku menginap di sana. 


 "Jadi boleh dong, Yah?" Bunga kembali memeluk lengan ayah. 


"Boleh dong. Cium dulu Ayahnya." Ayah memajukan pipinya. 


Genit juga ayahku. 


Bunga benar-benar mencium pipi ayah, padahal ayah tidak ada hubungan darah apapun dengannya. Anak perempuan dewasa mencium pamannya saja, rasanya aneh. Lah, ini kok mencium ayah asuhnya. 


"Van, kau lagi punya kerepotan." Pak wa menepuk pundak ayahku. 


"Biar, Bunga juga tak minta cebok sama aku." Ayah menyuapi kembali makanan untuk Bunga. 


Herannya, lepas tindakan kok Bunga makannya lahap? 

__ADS_1


"Ya bukan karena minta cebok, takutnya kau terbebani." Pak wa berjalan menjauh dari ayah, kemudian duduk di sebelahku. 


"Kalau memang begitu, dari kau titipkan udah aku kasihkan lagi. Dari awal udah aku bilang, biar di sini aja sama Canda. Biar dia begitu, feelingnya kuat ke anak tuh. Anak-anak terkontrol, tak sampai buat malu. Aku akui, aku kecolongan sedikit sama Jasmine. Tapi sebisa mungkin aku peluk dia, aku rangkul dia, aku kasih jalan terbaik untuknya." Ayah mulai mengungkit. 


Mereka adalah kerabat yang pernah menjadi musuh, kemudian menjadi kerabat kembali. Yang jelas, mereka sering ada cekcok.


"Aku tak tau, kalau akhirnya begini." Pak wa seperti terpukul sekali. 


Biarpun aku belum pernah memiliki anak, tapi ekspresi beliau terbaca jelas di mataku. Aku jadi khawatir memiliki anak, bagaimana nanti aku harus mengasuh dan mendidiknya? 


"Yang udah ya udah. Barangkali Bunga mau banyak ngobrol juga sama saudaranya, di sana tempat gosip yang pas. Ada Key, dekat Aca juga. Ditambah Canda sama Ria, komplit lah yang berisik-berisik begini." Ayah mengusap kepala Bunga. 


Yang namanya Bunganya malah tetap mengunyah saja. 


"Bunga mana Bunga? Lapar rupanya," seruku membuat suasana mencair. 


"Ada, Bang. Aku selama di sini makan sehari paling sekali, dua kali. Lepas ini kok berasa laparnya." Ia tersenyum lebar. 


Ia tidak sedih kehilangan anaknya? Atau ini tujuannya? 


Aku masih bertanya-tanya, kenapa dengan Bunga? Maksudnya, kenapa ia setega itu sampai mengonsumsi jamu-jamuan penggugur dan obat keras? 


Ia seperti bukan Bunga yang berhati lembut. 


"Keluarga Ibu Bunga, boleh ikut sebentar." Perawat yang tadi masuk ke ruangan ini. 


"Oh, iya." Pak wa bangkit dan mengikuti perawat tersebut. 


"Udah habis, Yah." Bunga meletakkan sendoknya di dalam wadah yang ayah pegang. 


Aku langsung bergerak untuk membantu mengambilkan obat untuk Bunga. Ia pun segera meminumnya, dengan air yang tadi aku beli. Hingga satu jam kemudian, Bunga diperbolehkan pulang karena keadaannya yang sudah pulih. 


Tadi itu, ia mendapat tindakan kuret dengan bius total. Karena keadaannya fit, makanya ia boleh pulang. Intinya, observasinya itu setelah habis obat bius. Katanya jika ada mual muntah malah dilarang untuk pulang, kata pak wa itu juga. 


Aku berjalan beriringan dengan ayah, sedangkan Bunga di depanku bersama ayahnya. Jarak kami sekitar tiga meter, dengan aku yang menenteng belanjaanku di minimarket rumah sakit tadi. 


"Apa yang kau tengok? Sebegitu indahnya kah?" 


Waduh. 


Aku menoleh dan memasang senyum pada ayah. Aku tidak sengaja memperhatikan part belakang yang bergerak seiring langkah kaki itu. Eh, malah ketahuan. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2