Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA176. Bersalin


__ADS_3

"Kirain tuh di ma Nilam, Dek." Ayah tergopoh-gopoh membantu kak Jasmine untuk berjalan. 


"Ma Nilam lagi flu, jadi aku pulang." Kak Jasmine menahan perut buncitnya. 


"Ambil buku pingnya, Bang!" pinta ayah padaku yang tengah bingung. 


"Iya, Yah." Aku bergerak cepat pergi ke rumah kak Jasmine untuk mengambil buku ping yang dimaksud. 


Aku kembali membawa buku ping, dengan keadaan halaman rumah yang sudah ramai. Kak Jasmine sudah amat pucat, ia pun minta segera diantarkan ke bidan. 


Namun, ketika sampai bidan malah kami melupakan pembekalan persalinan dan kelahiran bayi. 


"Pindah ke ruang bersalin aja." Seruan bidan pemilik rumah, membuatku semakin khawatir jika kak Jasmine agar segera bersalin. 


Sungguh, ini persalinan jenis apa? Belum juga aku mendengar ada pembukaan satu, dua dan selanjutnya. Kini, bayi berselimut kain ada di atas tubuh kak Jasmine yang pucat pasi. 


Jangankan kak Jasmine, aku pun pucat pasi melihat cairan yang keluar bersama bayi itu amat banyak sekali. Sangat cepat, hingga aku tidak sempat melarikan diri dan bersembunyi untuk tidak melihat persalinan ini. 


"Adzanin, Bang." Kak Jasmine menepuk pundakku. 


"Lemas aku, Kak." Aku hanya bisa membaringkan kepalaku di tepian ranjang, dengan badan duduk di kursi. 


Sedangkan bidan masih membersihkan bekas persalinan tersebut. Mungkin setelah ini aku akan trauma makan ati ayam, karena melihat ari-ari bayi kak Jasmine yang hanya diselimuti dengan kain saja, karena ayah belum kembali membawakan peralatan bersalin di rumah. 


Tangis bayi tersebut terus terdengar, sampai sudah seperti alarm untuk menyegarkan mataku. Lututku begitu lemas, melihat kejadian bersalin yang begitu cepat itu. 


Baru sampai ranjang bersalin, kak Jasmine langsung mengeluarkan bayinya saja. Harusnya ia menahan sedikit, sampai ayah tiba. Jika begini, aku yang yang jadi trauma. 


"Kasian, Bang. Kasih dia adzan dulu." Kak Jasmine menepuk-nepuk pundakku. 


"Ya Allah…." Aku meregangkan otot tubuhku, kemudian bersedia mengangkat tubuh bayi laki-laki ini. 


Kedua kalinya aku mengadzani bayi laki-laki, yang pertama Dayyan dan yang kedua anaknya kek Jasmine ini. Semoga aku bisa mengadzani anak-anakku sendiri kelak. 


"Tak usah IMD, kasih susu formula aja." Kak Jasmine berdebat dengan bidan yang membantunya bersalin. 

__ADS_1


"Tapi baiknya begitu, Kak."


Keluarga kami cukup dihormati, begitupun cara masyarakat menyebut nama keluarga kami. 


"Kenapa sih, Kak?" Aku masih menimang bayi yang telah diberi salep di matanya ini. 


"Aku kerja nanti." Kak Jasmine terlihat seperti tengah sengaja tega pada anaknya. 


Apa ia membenci anaknya? 


"Kan bisa ASIP, Kak." Aku menyodorkan anaknya ke arahnya. 


Kak Jasmine menerima, ia mengusap rambut anaknya, tatapannya dalam tapi tidak bisa tercurahkan dengan kata-kata. Aku tidak tahu perasaannya sekarang, tapi ia seperti mengumpulkan seluruh kekuatan untuk menutupi kesedihannya. 


"Aku tak mau ASIkan dia, aku harus kerja untuk kehidupannya. Aku tak mau nyusahin orang tua terus, aku harus punya masa depan untuknya." Ia meluruskan pandangannya padaku. 


"Kakak bisa kasih ASIP, Kakak tetap kerja dan tetap jadi ibunya." Aku tidak mau kak Jasmine kehilangan indahnya masa menyusui. 


"Dia pasti bergantung sama aku nanti, Bang." Bola matanya bergetar dan kelopak matanya tertutup rapat, sayangnya air mata sudah terlanjur jatuh lebih dulu. 


"Tak apa, kita bareng-bareng. Jangan bilang tak mau susuin anak, nanti PD Kakak disusuin ular loh di akhirat." Aku tidak bermaksud menakut-nakuti. 


"Apa?"


"Udah lahiran?"


"Ini nih barang-barangnya."


"Lahiran apa BAB?"


Aku menoleh ke arah suara itu berada. 


"Kak, susuin. Jangan sampai ayah sama biyung denger penolakan Kakak, nanti mereka berpikir jauh. Tak apa anak Kakak bergantung sama Kakak, itu anak Kakak, wajar dia butuh ibunya. Kakak malah harusnya sedih, kalau anak Kakak tak butuh ibunya. Perihal pekerjaan, masa depan, pasti ada jalan keluarnya. Menyusui cuma sebentar, Kak. Cuma dua tahun aja loh, itu pun kadang tak sampai. Kakak meraih masa depan anak Kakak, masa depan Kakak, itu waktunya lama. Lebih dari dua tahun, lebih dari seluruh hidup Kakak. Susuin, Kak. Cuma dua tahun, mau kapan lagi kesempatannya?" Aku berusaha membujuk, di sisa waktu kedatangan ayah dan biyung. 


Tatapan kak Jasmine dalam padaku, ia menyiratkan kehancuran di dalam matanya. Apa ia merasa lemah sekarang? Saat hamil ia mencoba selalu kuat dan tegar dengan tindakan suaminya, sekarang ia merasa lemah setelah melahirkan buah hati suaminya? 

__ADS_1


"Ya Allah, Sayang."


"Alhamdulilah."


Ayah dan biyung langsung menghampiri ranjang bekas bersalin ini, mereka memeluk erat kak Jasmine dan langsung menciumi cucu mereka. Banyak pertanyaan dikeluarkan oleh ayah dan biyung, kak Jasmine pun menjawab sewajarnya saja. 


Sampai di mana, biyung menyuruh kak Jasmine menyusui anaknya kembali. Aku cukup was-was, aku khawatir kak Jasmine menolak menyusui anaknya kembali dengan alasan bekerja. 


Sungguh, aku tak mau dirinya kehilangan masa keemasan itu. Masa-masa di mana seorang ibu, menjadi sangat spesial untuk anaknya sendiri. Karena air kehidupannya selalu dinantikan dan ditangisi. 


Alhamdulillah, kak Jasmine mau mengusahakan agar bisa menyusui anaknya secara langsung. Dengan segala kesopananku dan penghormatan yang aku berikan, aku keluar dari kamar bersalin ini agar tidak melihat PDnya yang terekspos karena menyusui. 


Namun, aku malah dihadapkan kembali dengan Jessie. Ia ada di luar rumah bidan, duduk sendiri bermain ponsel. 


Apa tujuannya selalu bersama keluargaku? 


"Kenapa kau tak cepat pulang?" tanyaku langsung. 


Ia pun menoleh, menyunggingkan senyum dan mengesampingkan ponselnya. Tidak ada yang terlihat mengkhawatirkan di wajahnya, aku yakin ia tidak terjebak masalah orang tuanya. 


"Aku udah pulang, rumahku dikunci. Orang tuaku lagi ke pesta pernikahan, mereka belum pulang. Jadi aku datang lagi ke rumah, karena tak punya kerabat dan teman di sini," jelasnya santai. "Kenapa, Bang? Abang sibuk? Ngerasa terganggu?" tanyanya kemudian. 


Ia bertanya? 


"Ini udah malam, tak wajar perempuan malam-malam di luar di daerah sini. Kenapa kau malah ikut di sini juga? Halaman rumah kau luas, kau bisa nunggu di halaman rumah kau sendiri." Bukan aku menyarankan hal yang buruk, jika ia berada di teras rumah pun ia akan tahu jika orang tuanya sudah datang. 


Jika ia berada di rumahku, bagaimana ia akan tahu orang tuanya sudah datang? 


"Abang terganggu dengan aku ya? Pasti gara-gara Bunga ya?" Sentuhan lembutnya mulai digunakan kembali, ini adalah hal yang biasa ia lakukan. 


Tapi memang aku tengah berusaha untuk menghindarinya. 


"Kenapa harus Bunga? Bukannya kau tau sendiri, siapa dia untuk aku?" Aku menggeser posisi kakiku, kemudian memasukkan tanganku ke saku celana. 


Padahal aku tengah berdiri, tapi bisa-bisanya sentuhannya tetap berjalan. 

__ADS_1


"Aku ngerasa Abang mendadak beda aja, sejak sama Bunga malam Minggu kemarin. Apa ada perjodohan? Atau kalian mulai sadar, kalau hubungan kakak adik kalian tak normal?" Alisnya menyatu di tengah. 


...****************...


__ADS_2