
"Tapi semenjak Chandra nikah tuh, dia tak ada datang untuk belajar ngaji. Mbak WA kan, karena Mbak kira dia haid. Tapi cuma dibaca aja, padahal biasanya dia tuh kalau WA sampai berparagraph."
Biyung tengah membicarakan apa ya?
"Bu, minta tolong buatkan teh manis." Aku menegur asisten rumah tangga yang baru masuk ke rumah lewat pintu depan ini.
"Iya, Bang." Beliau mengangguk dengan menentang plastik bening berisi sayur mayur.
"Serius, WA terus dia. Awalnya tuh ditanggapin wajar sama Gavin, terus keknya Gavin risih sendiri, jadi tak ditanggapin tuh. Kalau semalam Gavin tak ngebo duluan dan si perempuan gatal itu tak nelpon terus, mungkin aku tak kepo untuk cek HP Gavin. Aku tak pernah curigai dia, jadi tak pernah aku cek HP dia." Tante Ria bersedekap tangan dan mendengus sebal.
"Siapa sih, Tan?" Aku menghempaskan alas dudukku di sebelah biyung.
Selalu wangi biyungku ini.
"Mantan pacar kau," jawabnya sinis.
Aku tidak pernah berpacaran, Izza pun hanya aku janjikan untuk menikah.
"Mana pernah aku pacaran." Aku menyandarkan punggungku dengan nyaman.
"Jessie, Bang," terang biyung lirih.
"Wah?" Aku langsung menegakkan punggungku. "Dia spam pakcik? Serius, Tan?" Aku berekspresi kaget.
"Iya, serius. Dari chatnya sih, pakcik kau nganggapin wajar. Dia curhat, pakcik kau jawab 'oh ya, iya, masa' begitu-begitu aja, Bang. Terus sih perempuannya ini, dia kek aku ini mau berubah dan mohon bantuan supportnya."
Loh? Loh? Loh? Kok serangannya sama seperti saat ia mendekatiku?
"Coba lihat bekas chatnya, Tan." Aku ingin memastikan sendiri, bahwa memang cara Jessie mendekati laki-laki itu sama seperti caranya mendekatiku.
__ADS_1
"Ya di HP pakcik kau, Bang. Coba nanti kau tanyakan dia, kek mana awalnya itu tukeran nomer. Bisa-bisanya dia kasih nomornya ke perempuan lain." Tante Ria sampai memukuli bantal sofa di pangkuannya.
Pasti ia marah setengah mati pada suaminya. Perempuan pasti sensitif sekali, jika menyangkut perempuan lain di rumah tangganya.
Aku tahu sih awal tukeran nomor itu, pasti saat di rumah pupuk. Tapi aku tidak berniat membocorkan pada tante Ria, khawatirnya malah tante Ria dan pakcik Gavin ribut besar, karena tante Ria tahu bahwa pakcik Gavin dan Jessie sempat bertemu.
"Mungkin tak sengaja kali, Tan. Terus gimana chat semalam itu?" Aku ingin tahu saja.
"Dia telpon berkali-kali, kan berisik nada dering itu. Terus dia chat tuh, katanya istrinya belum tidur ya bang. Posisi HP udah sama Tante tuh, jadi Tante balas dia. Kata Tante, baru tidur, kenapa. Sengaja balas gitu, karena ingin tau gimana tanggapannya. Dia balas lagi, oh pantesan baru respon. Habis dia balas, dia sambungkan panggilan video tuh. Makin curiga nih Tante sama Jessie, karena dia berani video call. Pas dicek lagi, ternyata banyak panggilan masuk tersambung, diangkat gitu sama pakcik kau. Ada juga panggilan video, ditanya jawabnya katanya 'orang cuma gitu-gitu aja'. Terang aja Tante trauma sama pengakuan laki-laki, suami pertama aja ngakunya tak ngapa-ngapain, tapi sampai hamil. Pakcik kau nampak santai pas ditanya, tak panik, tak tegang juga. Jadi bingung kalau tanggapannya santai, malah kek nampak Tante yang lebay aja."
Kemungkinan, pakcik Gavin bisa santai karena ia merasa tidak tertarik dengan perempuan itu. Tapi kan pembawaan pakcik Gavin memang santai terus, ia marah ketika tersinggung saja.
"Terus gimana lagi setelah panggilan video masuk dari Jessie itu tak kau angkat?" Biyung tengah mencerna semuanya sepertinya.
"Ya dia WA lagi, masih di rumah ya. Maksudnya apa coba? Apa mereka sering ketemu? Udah aku sih ngancemnya mau pulang ke Mbak aja, Gavin bilangnya dia tak aneh-aneh aja."
"Iya sih, bikin pikiran aja. Tapi kau jangan buat hal yang mustahil aja, segala kabur ke Mbak lagi." Biyung melirik ke arah pintu penghubung.
Ternyata asisten rumah tangga muncul dengan membawa teh manis.
"Mustahil gimana? Mbak tak mau kasih makan aku? Ya Allah, suami kaya tapi istrinya pelit." Tante Ria meledak-ledak.
Adiknya lagi sensitif, malah biyung berkata seperti itu.
"Apa hubungannya sama makan? Ya mustahil bisa lepas dari benih Adi's Bird, kalau bukan mereka yang buang kita sendiri. Mereka masih ingin, masih butuh, masih pilih kita, ya cerai pun bisa rujuk lagi."
Maksud dari ucapan biyung itu memang lurus, tapi tante Ria yang memang dalam mode senggol bacok.
"Tapi Gavin kan udah aneh-aneh, log panggilan suara atau video dengan Jessie itu ada. Sedih aku, Mbak." Tante Ria menunduk, kemudian menutupi wajahnya dengan tangannya.
__ADS_1
"Sana ke pakcik kau, Bang. Kasian Tante kau tuh." Biyung pindah tempat ke sebelah tante Ria.
"Ayah biasanya tuh." Pakcik Gavin pasti takut dengan kakak sulungnya itu.
"Ayah lagi kerja tuh, ayah terus kau sih. Kau anak laki-laki, Bang. Gantinya ayah kau itu wajar. Ada yang undang untuk tahlil, kau datang gantiin ayah kalau ayah kau ada keperluan lain."
Kan, kan, jadi dinasehati aku ini. Enak sekali jadi anak perempuan, apa-apa pasti anak laki-laki lagi.
"Pengen ngerokok sama ngeteh dulu, Biyung." Aku belum cuci mulut, sejak sarapan jam enam dengan memakan nasi goreng buatan Nahda.
Nasi sisa kemarin, yang dimasukkan ke dalam kulkas oleh Nahda. Sekalinya bertindak, tanpa ada pikir panjang istriku itu. Untung saja nasi sisanya tidak dikepal dan tidak dimasukkan ke freezer.
Jika sampai dikepal, pasti langsung ditambahkan sirup oleh Hifzah dan Hasna. Kemudian, akan jadi es kepal Milo atau ABCD uncle Muthu.
Rasanya sih enak, biasa saja. Cuma aku heran dengan cara Nahda menyimpan nasi sisa itu, memang sayang jika dibuang karena masih layak makan, tapi biyung yang bisa dibilang pintarnya sampai putar balik lagi itu, ya tidak pernah menyimpan nasi sisa di kulkas.
Bisa dibilang bukan hal aneh, mungkin di luar sana banyak yang mencoba cara ini. Karena aku pun pernah mendengar penjelasan seorang dokter, tentang manfaat nasi sisa yang disimpan di dalam kulkas. Aku kira dokter tersebut hanya membicarakan lewat riset Google, ternyata orang terdekatku bahkan benar ada yang menggunakan cara itu.
"Ya sana, Bang. Kau ngerokok sama ngeteh di sana aja, bawa teh kau. Sekalian cek si bungsu, diurus tak dia sama ayahnya itu." Dorongan tante Ria, membuatku terpaksa untuk bergerak pergi dengan membawa secangkir teh manis ini.
"Iya, iya." Aku melangkah pergi.
"Dek, Nahda. Abang ke pakcik Gavin," seruku dari depan pintu.
"Ya, Bang," sahutnya jelas.
Sejauh ini, Nahda tidak pernah melarang. Dengan catatan, aku harus izin terlebih dahulu. Aku harus bilang, agar ia tidak khawatir dan mencariku katanya.
...****************...
__ADS_1