Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA97. Mengantar ke rumah sakit


__ADS_3

"Wah, yang betul?" Aku kaget, mendengar Bunga hanya menikah siri.


"Ya nanti pastiin sendiri aja." Biyung menepuk lenganku, kemudian ia tersenyum ramah pada tamu tersebut. 


"Jasmine mana, Bu?" tanya wanita lansia itu.


Duh, aku tidak tahu mereka siapa. Jadi, bingung ingin menyebutnya apa. 


"Di neneknya, di sebelah ruko galon itu. Tapi Jasmine tak tau kalau dia udah diceraikan, karena kandungannya lemah. Cuma dia udah tau, kalau suaminya yang bakar rumah." 


Menurutku, biyung tidak perlu berterus-terang seperti itu. Khawatirnya, keluarga bang Vano sengaja menjadikan itu alat ancaman agar kami bisa berpikir dua kali tentang tuntutan bang Vano. 


Tak lama ayah datang, ia tergesa-gesa dan memasang senyum setelah masuk ke ruang tamu. Ayah langsung berjabat tangan dengan mereka semua, sampai akhirnya ia duduk di sebelah biyung. 


"Sana gantiin Ayah, Bang. Di rumah pak wa kau, langsung ke sana aja." Ayah memberikan kunci motornya padaku. 


"Iya, Yah." Aku bergegas pergi. 


Membawa Izza tidak ya? Tapi pasti lama deh. Toh, aku pun menjadi saksi menggantikan ayah. Bukan memberi selamat pada Bunga. 


Gang rumah pak wa masih berada di RT yang sama denganku. Jadi, tidak jauh apalagi sampai melewati rumah Izza. Tidak sampai lima menit, langsung sampai di halaman rumah pak wa. Ini rumah warisan, seperti rumah kakek dan nenek. 


Banyak sekali orang, tapi aku tidak mengenal. Sepertinya, itu adalah orang dari bawaan suaminya Bunga. Eh, tapi Bunga kan tidak sekolah di sini. Ia disekolahkan di Cirebon, bersama keluarga ibunya. Berarti, itu tamu jauh. 


Aku masuk lewat pintu samping, tapi ternyata di ruang keluarga yang memiliki akses pintu samping lah yang menjadi tempat acara dilangsungkan. 


"Mulai sekarang, kamu bukan lagi istriku."


Aih? 


Seketika itu, Bunga langsung mengangguk dan terisak perih. Sepersekian detik kemudian, ia langsung terjatuh ke belakang dan menimpa kakiku. 


Semua keluarga memekik kalap, dengan aku yang reflek berjongkok dan menahan kepala Bunga. Ia pingsan, dengan keadaan hidung berdarah. 

__ADS_1


"Bunga…." Pak wa Ken langsung histeris, dalam suaranya ada kepanikan yang amat hebat. 


Ia langsung memeluk Bunga, kemudian meluruskan kaki Bunga. Pak wa terlihat amat ketakutan, dengan menyeka darah yang keluar dari hidung Bunga. 


Baru sampai, aku langsung mendapat kerepotan untuk mengantar Bunga ke rumah sakit. Pak wa tidak bisa mengecek keadaan anaknya, karena menurutnya itu anaknya sudah dalam kondisi darurat. 


Untungnya, nenek dan kakekku pembalap jalanan. Tapi karena aku cucu baik-baik, ya aku tidak memiliki bakat itu. Sebisa mungkin aku membawa mobil dalam kecepatan cepat, dengan lampu segitiga yang terus berkedip. 


"Urusin data diri Bunga, Bang. Nama kau dulu yang jadi penjamin, Pak Wa ikut masuk dulu." Pak wa ikut masuk ke dalam ruang IGD. 


"Silahkan, Pak." 


Aku langsung disodorkan beberapa helai kertas, saat berada di depan meja panjang ini. Aku pun diminta langsung mengurus kamar inap, setelah datang petugas dari IGD tersebut. 


Bingung sekali, aku tidak bisa menebak apa yang terjadi dengan Bunga. Aku bahkan tidak tahu di mana keberadaan Bunga dan pak wa berada, aku ditinggalkan di tengah-tengah rumah sakit besar. 


Ingin pulang, aku kasihan pada mereka. Saat aku menghubungi nomor pak wa pun, yang menjawab adalah istrinya di rumah. Pak wa tidak membawa ponselnya, membuatku hanya bisa menunggu di tengah-tengah rumah sakit, di mana minimarket berada. Aku duduk di bangku depan minimarket, dengan memperhatikan lalu lalang brankar yang membawa pasien. 


Seperti orang bego menjadi diriku ini. 


Aku menunggu pintu lift terbuka, agar aku bisa turun ke lantai dasar tanpa harus diajar oleh anak tangga. Tapi saat lift terbuka, aku melongo saja kala melihat pak wa hadir di belakang brankar di dalam lift tersebut. 


Aku memberi jalan, saat brankar didorong keluar. "Pak Wa?" Aku mengikuti langkah kaki beliau. 


Yang berada di brankar ini Bunga, dengan matanya yang masih terpejam pulas. Di punggung tangannya terpasang infus, dengan baju pasien yang ia kenakan. 


Pak wa diam saja, aku pun tak banyak tanya karena memang bingung juga. Aku hanya mengikuti, sampai Bunga dipindahkan ke brankar kamar inap dan aku membantunya. 


Gadis kecil yang berbobot padat. Bunga tumbuh menjadi wanita yang tinggi dan memiliki pinggul yang besar. Apa ya namanya? Body pear kah? Karena dada dan bahunya kecil. Aku naksir badannya, sayang ia adik asuhku dulunya. Bunga terlihat menarik seperti ini pun, saat sudah tumbuh dewasa begini. Dulu, ya rata saja. 


"Ini anak Bunga." Kantong ziplock ditaruh di depanku. 


"Hah?" Aku menatap kaget benda putih yang berada di dalam kantong ziplock tersebut. 

__ADS_1


Janin? Digugurkan? Atau, keguguran? 


"Jadi?" Aku mendongak menatap pak wa. 


Pak wa lebih tua dua tahun dari ayah sepertinya, kalau tidak salah itu juga. Aku tidak tahu pasti juga, tapi yang aku tahu itu rumah tangganya rumit. Makanya, Bunga ditarik oleh keluarga ibu kandungnya. 


"Dari dia sampai, kandungannya tak baik-baik aja. Kalau tak diangkat segera, seumur hidup anak itu bakal terus bolak-balik rumah sakit. Dia punya kelainan kongenital parah, termasuk jantung dan organ lainnya. Diduga, karena jamu penggugur kandungan dan obat-obatan keras yang sengaja dikonsumsi. Terus juga, keadaan janinnya buat lemah kondisi Bunga." Pak wa terlihat pusing sekali, ia duduk di tepian brankar Bunga.


Sedangkan aku duduk di kursi, di hadapan brankar Bunga. Kantong ziplock ini, ada di tepian brankar, di depan mataku. Aku bahkan tidak berani untuk menyentuh janin ini. 


"Kok bisa?" Aku ingat penjelasan biyung tadi, biyung mengatakan jika Bunga tidak menyadari kehamilannya. 


Sepertinya, itu hanya alibi saja karena terlanjur malu. Buktinya, Bunga mengkonsumsi obat keras dan jamu-jamuan, ia sengaja ingin membunuh janinnya sendiri. 


"Sebab akibat." Pak wa menghela napasnya. "Pak Wa ambil obat dulu, panggil perawat jaga aja kalau Bunga bangun. Pak Wa mau ambil obat, juga cari makanan untuk kita." Pak wa turun dari brankar, kemudian berjalan pelan menuju pintu.


Aku hanya menganggukkan kepala, aku tidak menjawabnya. Aku memandang adik kecilku ini, aku tidak mengerti kenapa ia bisa menjadi wanita yang tak berhati yang tega menghancurkan pertumbuhan anaknya. Padahal ia dulunya adalah gadis kecil yang lugu, juga kurang percaya diri. Aku tidak menyangka, ia menjadi seberani ini. 


Setetes air jatuh dari kelopak matanya yang rapat. Kemudian, ia menarik napasnya dalam. Aku jelas panik, aku khawatir ia bengek. Karena seingatku, ia memiliki asma bawaan. 


Secepat kilat aku berlari menuju pintu, untungnya perawat jaga ada di dekat pintu kamar inap ini. "Kak, pasien udah sadar." Aku bingung untuk memanggil perawat muda itu. 


"Oh, iya." Ia langsung meninggalkan berkas yang tengah ia simak, kemudian segera bangkit dari kursinya. 


"Abang…." Air mata Bunga sudah tumpah ruah. 


Ia seperti tengah tenggelam dalam air, dengan kedua tangannya yang mencoba meraih apapun. Aku lekas mendekat untuk menjadi tempat berpegangannya, tapi aku tetap memberi tempat untuk perawat tersebut memeriksa keadaan Bunga. 


"Abang." Ia langsung menarik bajuku, membuatku sedikit condong padanya dan memudahkannya untuk memeluk tubuhku. 


Adik kecilku membutuhkan bahu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2