Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA76. Surat penjemputan


__ADS_3

*maaf, ada peralihan sudut pandang.


CHANDRA POV


Harusnya om Vendra ada di sini, sayangnya ia sudah kembali ke daerah tugasnya. Ayah dan aku kebingungan di sini, kami tidak mengerti harus melakukan apa dengan kedatangan polisi ini. 


"Gimana, Pak?" Wajah panik dan kaget ayah pun tidak bisa disembunyikan. 


Karena sebelumnya, memang tidak ada aba-aba. 


"Kami menerima laporan dari ibu Jasmine, laporan sudah diterima dua minggu yang lalu dan telah diperiksa. Kedatangan kami, guna untuk menjemput bapak Revano untuk dilakukan pemeriksaan. Ini surat penjemputannya." Polisi tersebut menunjukkan surat pada ayah. 


Ayah menerima, melihat sekilas kemudian memandang polisi itu lagi. "Memang dilaporkan bu Jasmine ini karena apa?" tanya Ayah kemudian. 


Aku tidak mengerti, kenapa laporannya atas nama kak Jasmine? Sedangkan, kami memerintahkan om Vendra. Aku jadi meragukan kemampuan om Vendra, aku berpikir om Vendra tidak melakukan apapun. 


Hmmm. 


"Memiliki wanita simpanan, dengan pasal 13 UU No 12 tahun 2022. Bisa dikenakan hukuman penjara lima belas tahun."


Aku dan ayah saling memandang, kami berkedip cepat dan memandang polisi itu kembali. 


"Saya ayah dari ibu Jasmine, maaf Saya belum mendengar kasus ini sebelumnya."


Aku benar-benar merasa bingung di sini, apalagi ayah yang keseharian sibuk ini itu kemudian datang kabar seperti ini. 


"Maaf, Bapak Givan. Penanggung jawab laporan tersebut, atas nama Brigjen. Pol. Mavendra, S.I.K, M.A.P."


Adiknya ayah ini, masya Allah. Kenapa tak bilang-bilang sebelumnya? 


Aku ingat saat aku diminta buku nikah milik kak Jasmine dan KTP kak Jasmine, dengan alasan pembaharuan data di KUA. Aku disuruh oleh om Vendra, dengan alasan pun tercetus dari om Vendra. 


"Kok bisa?" Ayah garuk-garuk kepala dan menoleh ke arahku. 


"Ini disertakan surat gugatan cerai, persyaratan lengkap dan bisa langsung diproses. Kebetulan, pak Vendra yang ajukan sendiri," jelas salah satu polisi tersebut. 


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Benar-benar di luar dugaan kami semua, om Vendra melakukan semuanya di luar rencana kami. 


"Boleh Saya hubungi dulu adik Saya?" Ayah menepuk pundakku. "Ambil HP Ayah," pintanya lirih. 


"Siapa itu?" Aku sempat mendengar polisi itu bertanya, sebelum aku kabur ke dalam mengambil ponsel milik ayah. 


"Brigjen. Pol. Mavendra, S.I.K, M.A.P." Ayah hafal menyebutkan pangkat adiknya. 


Om Vendra adalah komandan pasukan Brimob III. Kenapa beliau menurut saja pada ayah? Karena adik bungsunya itu dibiayai total dari masuk polisi hingga mendapat gelar tertingginya. 

__ADS_1


Ayah sayang adik-adiknya, meski tidak satu ibu dan satu ayah. Alasannya apa? Menitipkan badan. Padat, singkat dan jelas. 


Namun, ayah adalah musuh terbesar salah satu adiknya yang merupakan anak dari pernikahan siri ayah kandungnya dan perempuan lain sebelum bertemu dengan ibu Syura. Ibu Syura adalah ibu dari keempat adik satu ayah. Kalau tidak salah, namanya adalah om Adrian. Ia yang pernah menghancurkan dan mengambil alih perusahaan tambang milik ayah. 


Tapi sekarang sudah baik-baik saja, om Adrian sudah memiliki gelar baru. Yaitu, almarhum. Ia dijatuhkan hukuman mati sekitar tujuh tahun yang lalu. Kata ayah itu juga, aku hanya menjadi pendengar. 


"Ini, Yah." Aku berlari kecil dengan membawa ponsel ayah. 


Ayah menoleh dan mengambil ponselnya. Gerakan tangannya pada layar ponsel itu cepat, kemudian ayah menspeaker panggilan teleponnya. 


Tut, tut, tut…


Bunyi itu berulang sampai dua kali. 


"Hallo, Bang." Om Vendra bersuara juga akhirnya. 


"Abang kedatangan polisi. Gila kau! Main buat Jasmine cerai aja! Gimana ini?" 


Aku melihat polisi menahan tawanya. Pasti mereka merasa lucu, sekelas brigadir jenderal plus komandan pasukan dimarahi dengan nada tinggi. Ya itulah, ayahku dan adik-adiknya. Tidak pandang bulu, apapun pangkat adiknya, tetap akan ia marahi. 


"Abang bilang bereskan, itu aku lakukan sesuai perintah. Udah ada pengacara, Jasmine tak usah datang. Kalau datang, malah sidangnya nanti panjang. Jasmine udah kaya juga kan? Aku buat dia tak minta denda, biar cepat dapat hukuman. Bukti-buktinya udah aku sertakan di pengacara Jasmine. Aku pakai jasa IT anggota aku, jadi terinci dan sulit mengelak nantinya." Seperti pembelaan adik yang dimarahi kakaknya. 


"Jasmine lagi hamil, dia bisa shock kalau tau."


"Antar ke Kalimantan sini. Liburan gitu." Suara tawa orang-orang dewasa terdengar di sana. Sepertinya, om Vendra tengah berkumpul dengan anggotanya. 


"Mari, Pak." Ayah memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan mendahului polisi. 


Beberapa langkah pertama, ayah langsung menoleh padaku. "Ayo sih! Masa Ayah sendirian? Kau mau kelonan lagi gitu?" 


Aku tersenyum kuda, kemudian mengekorinya. Aku yakin, setelah ini Izza akan sakit karena aku terlambat masuk kamar dan segala macam akan tuduhannya. Malas sebetulnya, tapi pasti masalah lebih meluas lagi jika aku pindah kamar. 


"Panggilin kakak kau, Bang." Ayah menepuk bahuku. 


"Kak…." Aku mengetuk pintu kamar berulang. 


Lama sekali. Apa mereka tengah tidur? 


Ceklek. 


Syukurlah, akhirnya terbuka. 


"Ya, Bang." Detik sesaat kepalanya melongok ke luar, mata kak Jasmine langsung mekar. 


"Ayah…." Kak Jasmine melebarkan pintu rumahnya, kemudian langsung berdiri di dekat ayah. 

__ADS_1


"Ayah, ada apa?" Kak Jasmine menggoyangkan lengan ayah. 


"Sama kau ya, Bang? Ayah punya urusan sama Kakak kau ini." Ayah merangkul kak Jasmine, ia memgedip rapat padaku. 


Aku mengerti. 


"Oke, Yah." Aku tersenyum dan mengangguk. 


Aku menunggu ayah berlalu jauh dengan kak Jasmine. Sampai mereka tak terlihat lagi, barulah aku masuk ke dalam rumah dengan memanggil nama kakak ipar yang paling giat bekerja tersebut. 


"Bang, lagi ngapain?" Aku tersenyum ramah. 


Aku melihat motornya terparkir sejak tadi, aku yakin bang Vano ada di rumah. 


"Ya? Kenapa?" Bang Vano muncul dengan membawa sepiring nasi. 


Aduh, aku jadi tidak tega. Ia tengah lapar, tapi malah dijemput polisi. 


"Loh? Ada apa?" Bang Vano melewatiku begitu saja, dengan menaruh sepiring makanan di rak televisi. Mungkin, ia sudah melihat pihak kepolisian tersebut. 


Kembali, kepolisian menjelaskan tujuannya datang. 


"Istri Saya yang ngelaporin? Tak mungkin! Itu fitnah." Bang Vano langsung mundur beberapa langkah. 


"Lebih baik ikut sebentar aja, Bang." Aku tidak tahu lama atau sebentar. Tapi aku kasihan, sejak tadi polisi tersebut tidak sempat duduk sama sekali. 


"Heh! Entar dulu!" Bang Vano menepis tanganku yang berada di bahunya. 


"Kau kan orangnya?!" Ia menunjuk wajahku. 


Sampai juling aku melihat jarinya terlalu dekat. 


"Tolong, dikondisikan." Kepolisian tersebut mencekal tangan bang Vano. 


"Oke, oke. Saya ikut, tapi tunggu sebentar. Saya mau ambil jaket dan dompet." Bang Vano mengangkat kedua tangannya. 


"Bapak ikut kami saja, biar itu diurus keluarga. Pihak keluarga, tolong mengikuti mobil kami." Anggota kepolisian tersebut memandangku. 


"Siap, Pak." Aku mengangguk mengiyakan. 


Bang Vano melirik tajam saat ia pergi dengan polisi. Sudah pasti aku yang harus bergerak ikut, karena kak Jasmine pasti tengah meraung-raung di rumah ayah. 


Aku mengambil jaket yang berada di kastok, dompet lipat hitam yang sepertinya milik laki-laki. Tidak tinggal juga, aku membawa nasi, ayam goreng dan tempe tahu goreng yang aku dapat di rak makan, kemudian aku siapkan dalam tepak makan.


Aku kasihan pada kakak iparku yang belum makan itu. 

__ADS_1


Oke, sudah siap. Aku langsung ke luar rumah kak Jasmine dan buru-buru menuju ke mobilku. 


...****************...


__ADS_2