Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA246. Arahan bisnis


__ADS_3

"Kok jadi bahas t****?!" Aku ngegas di sini. 


Pakcik Gavin malah terkekeh geli. Laki-laki ini, bisa-bisanya tetap random di tengah badai masalah rumah tangganya. 


"Waktu sama tante kau pun, Pakcik tengoknya itunya dulu. Udah nyusuin, tak besar loh ujungnya. Maksudnya aman lah, tak mengalahkan Pakcik di ranjang." Ia malah tertawa lepas. 


Ingin kumaki dirinya 'dasar laki-laki!', tapi aku laki-laki pun tak begitu juga. 


"Istriku besar lagi." Aku meraup wajahku. 


Eh, tawanya malah membahana. 


"Tak apa, asal kau bisa mengalahkannya. Semangat!" Support pakcik mengejek sekali. 


"Pakcik memang tau kalau ujung dada Jessie besar?" Jangan-jangan, mereka sudah aduhai lagi.


"Kalau dia jalan, PD dia goyang tuh. Feeling sih, keknya silikon. Tak sampai mengalahkan tubuhnya, kek artis film dewasa yang itunya segede balon ulang tahun. Tapi nampak ini keknya pakai silikon, soalnya pas dia buat SW tuh, kan terbuka tuh, bentuk dadanya bulat sekali kek tutup rantang stainless steel jaman dulu. Dada perempuan itu tak bulat begitu secara fisik menurut Pakcik, apalagi kalau dia punya besar. Pasti aja menggelayut, kek balon di isi air. Tapi tak apa, di situ nilai keindahannya. Tau ujung dada dia punya besar pun, ya tau dari IG dia. Bajunya terbuka semua, ada salah satu foto yang ujungnya menyembul. Mungkin karena dia kedinginan pakai kemben aja, tapi udah dikira-kira lah keknya besar tuh."


Jadi pakcik kepo tentang dia juga sepertiku kemarin? 


"Pakcik bilang ilfeel, tapi kok kepo anunya?" Aku berdecak dan geleng-geleng kepala. 

__ADS_1


"Ilfeel karena caranya masuk itu tak smooth, ditambah dia buka keburukannya. Apalah gitu, udah rued tanggung beban dunia akhirat Pakcik sendiri. Dia minta support dan dukungan untuk berubah menjadi lebih baik, nambah buat repot diri Pakcik aja. Masalah anunya, mata laki-laki lah wajar." Pakcik melirikku sekilas. "Yang penting kan tak dicomot beneran, cuma menikmati keindahan aja." Pakcik meringis kuda. 


Mungkin laki-laki begini, tapi aku laki-laki tak begini kok. 


"Bagus dong dia?" Aku harus menasehati apa ya sebaiknya? 


"Lumrah sih, bagusan yang lolos seleksi ini."


Tante Ria kah maksudnya? 


"Pakcik sana jemput istrinya tuh, bujuk kek diapain." Aku tiba-tiba tumpul, karena merasa ia lebih pandai. 


"Caranya?" Tuh kan bodohnya aku malah cari tips darinya. 


"Ya jujur aja bagaimana kebenarannya, urusan marah kan bisa diredam. Tapi kalau masalah perempuan, ya Pakcik memang jujur tak pernah ada main. Sering itu masalah keluyuran, tapi keluyurannya Pakcik kan bukan untuk maksiat, ya jadi merasa benar dan menang aja. Mungkin seiring waktu, tante kau capek sendiri karena hal itu. Mana kan Pakcik tak dadakan doyan keluyuran, dari habis akad pun memang suka keluyuran. Dari muda suka bergaul, karena dapat penghasilan dari kumpul dan obrolin bisnis. Masa belum sama tante kau, masa masih sama ibunya Cali, pulang ke sini tuh Pakcik pengangguran. Tapi penghasilan kotor sebulan, bisa sampai lima puluh juga. Pakcik mau aja disuruh ayah kau, disuruh papa kau, nongkrong sama temen, suruh angkut barang ke mana, masuk lagi uang. Transferan lancar, ekonomi stabil meski nganggur, tapi tak punya waktu di rumah. Sama tante kau, Pakcik masih mending, meski harus di Lampung beberapa minggu sekali, meski harus di luar sampai malam hampir tiap hari, tapi tetap pulang ke tante kau, tetap kasih perhatian ke tante kau dan anak-anak. Udah setelan dari mudanya begini Pakcik, Bang. Jadi yang jadi istrinya, harus bisa memaklumi. Kau bayangkan aja, kalau Pakcik di rumah aja? Kek mana caranya Pakcik pasarkan jahe hasil berhektar-hektar ladang itu? Satu pengepul, tak sanggup terima hasil sebanyak itu. Pengen join sama perusahaan minuman jahe, tapi harga belinya jauh di bawah pengepul, lebih ke sistem kerjasama. Pakcik lempar sampai ke Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, sampai ke Malaysia sana. Kalau kau bisa olah, sanggup jalani sambil belajar. Kau beli hasil jahe Pakcik dan olah jadi minuman herbal, biar kita bisa kerjasama, biar Pakcik tak susah lempar barang jauh-jauh. Tapi harga belinya jangan buat Pakcik miskin, dikurangin seratus dua ratus perak lah dari pengepul tak apa. Kek ladang kopi di sini dan perusahaan kopi papa kau, kan kerjasama semua. Jadi seluruh petani skala kecil atau besar, tak repot lempar hasil."


Kok belok ke permasalahan bisnis ya? Tak apa sih, ini demi masa depanku dan Nahda juga. 


"Aku belum siap di porang, Pakcik." Aku khawatir keteteran sebenarnya. 


"Lama kan naik panen? Sambil jalan yang lain, Bang. Contoh lah ayah kau, minta arahan ke dia. Ayah kau itu kalau bangun usaha, tak nunggu panen dulu. Gerak nih, rencanakan, atur orang, penempatan orang, yang lanjutin orang-orangnya, Bang. Buat perjanjian di atas materai, orang-orang yang punya pikiran pencuri, bakal mikir dua kali kalau tau background ayah kau. Setengah tahun lah paling lama ayah kau urus usaha baru, selanjutnya ya orang-orang semua yang jalanin." 

__ADS_1


Memang enak sih jika bercerita. Ayah tidak pernah memintaku seperti gebrakannya, tapi ia memintaku untuk bisa dan memahami semuanya dulu. 


"Kalau keteteran gimana, Pakcik?" Aku memiliki total tiga tanggung jawab. 


Yang pertama, pada pekerjaanku mengatur laporan di perusahaan Singapore. Yang kedua, tambak. Yang terakhir, ladang porang. 


"Nangis lah." Pakcik melirik sinis dan membuang napasnya. 


"Serius ini." Aku khawatir tidak bisa mengatur semuanya. 


"Kalau ngomong keteteran, ibu satu anak atau ibu lima anak, mereka sama keteterannya. Cuma kan, beda sistem mereka ngatur waktu untuk segalanya. Pakcik bukan urus satu dua ladang, karena itu punya Jarjit Sing. Nah, gimana nih biar Pakcik tak keteteran, apalagi kalau panen satu waktu yang sama, pasti repot lempar hasil dan khawatir busuk terkumpul di gudang. Nah, Pakcik atur waktu panen biar tak bareng. Jadi kek, tiap bulan itu panen sekian ladang, contohnya lima lah. Bulan berikutnya pun sama, sampai dua belas bulan berikutnya. Tak satu jenis jahe aja, untuk jenis jahe yang lain pun sama, dibuat sistematis biarpun tak setiap bulan. Kek jahe emprit, sama jahe khusus buat bibit tebar lagi, jahe emprit punya waktu panen lebih lama, jahe pembibitan pun siap panen untuk tebar ya butuh waktu lama lagi. Kopi pun sama Bang, ladang kopi arabika sama aranio Pakcik, beda sistem, beda hasil, beda pasar juga."


Ohh, begitu ya? Perasaan pernah dijelaskan, tapi kok baru ngeh semua sekarang ya? 


"Pasti modal awal besar ya, Pakcik?" Modal porang saja ngeri sekali. 


"Pasti, tapi warisan kau banyak loh. Mungkin ayah kau belum yakin aja sama kau, jadi kau disuruh ngeden dulu. Kau jadi anak laki-laki yang tertata dan terarah dong, jangan fokus antar jemput adik-adik aja. Yang tenang, setiap orang bawa nasib masing-masing, termasuk adik-adik kau juga. Lagian, kak Aca didik Nahda, tak sama kek almarhum ibu mertua kau yang dulu didik almarhum Izza kan? Kau pasti diberikan banyak waktu, karena Nahda lebih paham bahwa keluarganya dan suaminya adalah pebisnis. Katakanlah, dia berada di satu circle yang sama. Kau keluyuran, dia pasti tak membatasi kek almarhumah kan? Tapi setidaknya keluyuran kau itu lebih efisien, tak melulu antar jemput adik gitu loh. Bisa kok pakai sopir pribadi, kebetulan Pakcik pun punya kakak perempuan yang diratukan orang tua Pakcik. Kau masih muda gitu loh, warisan banyak, orang tua sanggup modalin, jangan jalan di tempat aja. Karena kemungkinan ayah kau meninggal itu pasti, karena udah ketetapan takdir, semua yang hidup, pasti meninggal. Kemungkinan kau harus kasih makan biyung kau dan adik-adik kau yang belum bersuami nanti, ya itu pasti jadi tanggung jawab kau. Zio memang laki-laki juga, tapi dia udah berkembang loh. Kau jangan panas ya sama adik kau sendiri. Bukan membandingkan, tapi usaha dia lebih unggul loh." Pakcik mencondongkan punggungnya dan berkata lirih. 


Ia membuat semangatku terbakar. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2