Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA253. Dijenguk


__ADS_3

Gila! Gila! Gila! 


Aku yang dikuras habis-habisan, sedangkan istriku hanya keluar satu kali. Sampai esok paginya, aku malas untuk turun dari tempat tidur. Rasanya, tenagaku habis setelah dipaksa menggaulinya sampai tiga kali menyambung. Sedangkan, dirinya hanya keluar satu kali. 


Aku kurang hebat apa bagaimana sih? 


"Aku siap kuliah, Abang malah tak mau antar." Nahda menarik-narik kakiku. 


"Abang udah telpon papa, minta tolong untuk antar Adek, gih ke papa aja. Ra sama Cani pun ikut, nanti pulangnya Abang usahakan jemput. Abang lagi kurang enak badan, Dek." Aku bahkan belum junub. 


Aku tidak mendengar adzan Subuh saking lelapnya tertidur, Nahda pun sampai mengantarkan sarapan ke kamar, karena katanya aku dibangunkan sejak tadi, tidak ada pergerakan sama sekali. 


"Sakit apa Abangnya? Tak demam, tak batuk, tak pilek pun." Nahda mengecek dahiku. 


"Sakit lutut, dah sana berangkat." Aku menarik selimut lagi. 


Sarapan pun masih berada di atas nakas, aku belum selera untuk bangun dan membersihkan diri. Aku masih pengen malas-malasan. 


"Tak jatuh kan? Mau dipanggilkan tukang urut kah?" Nahda malah memijat kakiku. 


"Tak usah, Dek. Udah berangkat aja sana." Aku merasa butuh istirahat lebih. 


"Iya, Bang. Kalau Abang tak bisa jemput pun, aku telpon papa aja. Ayah udah berangkat dari Subuh soalnya, lagi ada kesibukan di gudang kayu katanya." Nahda mencium tanganku. 


Dengan tidak jijiknya, ia menciumi wajahku yang belum cuci muka sama sekali ini. Bayangkan bau air liur basi ini. 


"Assalamu'alaikum, aku berangkat, Bang." Ia keluar dari kamar. 


"Waalaikumsalam. Ya, ati-ati." Aku memperhatikan pintu itu sampai tertutup kembali. 


Aku tidak tahu, jika aku terlelap kembali. Aku terganggu, saat suara asing mengusik telingaku. Ia pun, menepuk-nepuk pipiku cukup keras. 


"Bang, Chandra! Hei…. Kau tak apa kah?"


Mataku terbuka perlahan, kemudian aku mengubah posisi tidurku. Ternyata, itu adalah mama Aca. Malu sekali, ibu mertuaku sampai berada di kamarku yang belum dibersihkan dari sisa semalam. 


Eh, tapi kan aku di rumah biyung. 

__ADS_1


"Jangan buat Biyung kau khawatir, Bang. Di rumah lagi tak ada orang, kau tidur tak bisa diusik gini." Mama Aca menepuk-nepuk lenganku cukup keras. 


Mungkin sengaja, agar aku terbangun. 


"Bang, Biyung takut. Kau sakit apa sih?" Suara lemah biyung memaksaku untuk membuka mata. 


Aku menggeliatkan tubuhku, kemudian melebarkan mata dan tersenyum lebar. 


"Tak sakit, Biyung." Aku memaksakan ekspresi wajahku untuk terlihat senang. 


Padahal mengantuk sekali aku ini. 


"Canda, coba buatkan teh manis hangat." Mama Aca menyentuh lengan biyung. 


"Iya, nih handuk sama air dingin di baskomnya." Biyung menaikan air tersebut ke tepian tempat tidur. 


Aku mencoba duduk. Tenagaku masih ada, tapi rasanya memang lemas. Apalagi, bagian kakiku. 


"Biyung yang ambilin ini, Ma?" Aku melirik baskom berisi air tersebut, kemudian memandang mama Aca. 


Mama Aca mengurangi kadar air yang terserap dalam handuk tersebut. Kemudian, menaruh baskom air tersebut di lantai. 


Handuk yang cukup basah itu di usap di kepalaku, kemudian ke area mata dan wajahku. Mama Aca berjongkok, meski alaa duduknya masih di tepian tempat tidur. Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada telapak tanganku, punggung tanganku, juga kakiku juga. 


Sudah, hanya seperti itu. Tapi memang, terasa lebih segar. 


"Sakit lutut tuh apa sih?" Mama Aca meletakkan handuk basah tersebut di dalam baskom berisi air itu. 


"Tak kok, Ma." Aku tertunduk dan mengambil kotoran di pojok mataku. 


"Nahda bilang pagi tadi. Jujur aja sama Mama, jangan buat anak Mama jadi janda." Maka Aca menurunkan nada bicaranya. 


"Kecapean aja, Ma." Aku memandang sekilas wajah mama Aca, kemudian tersenyum samar. 


"Jujur aja, biar obatnya tepat. Mama punya dua dokter di rumah tuh." Mama Aca memijat betis kakiku. 


"Capek sama Nahda, Ma," akuku jujur. 

__ADS_1


"Nahda merepotkan kah? Dia anak yang tak banyak mau loh, Bang." Mama Aca menghela napasnya. 


Tak banyak mau apanya, begituan mau terus. 


"Tak juga sih, Ma. Tapi…. Mungkin l***** kita tak sebanding." Aku berpikir, bahwa istriku hipers**s.


"Ohh…. Tapi kau jangan berpikir ceraikan dia, karena kau merasa tak sebanding. Itu bakal jadi…." Mama Aca menghentikan ucapannya, ketika biyung masuk membawa segelas gelas teh yang berasap.


"Ini, Bang. Makanlah, Bang. Tak ada laki-laki di rumah, Biyung bingung. Kau nampak payah betul. Telpon ayah kau, takut malah dia panik di sana dan ceroboh buat buru-buru pulang." Biyung menaruh teh di nakas, di sebelah sarapanku yang Nahda buatkan. 


"Aku tak apa, Biyung. Tak usah telpon ayah kok." Aku mendongak melihat jam dinding. 


Pukul sebelas siang. 


"Kau masak siang aja, Canda. Barangkali Givan bentar lagi pulang, aku sih udah masak soalnya. Nanti Chandra aku yang urus, nanti aku bantu dia makan. Kau tenang aja, aku kontrol dia di sini selama kau masak." Mama Aca memandang biyung yang nampak khawatir itu. 


"Iya lagi, itu laki minta sayur asem." Biyung mengusap pelipisku. 


"Tak dikeringkan sih?" Biyung mengusap air bekas bilasan mama Aca tadi. 


"Iya sengaja, biar dia rileks. Anak kalau ngamuk aja, aku usap dia pakai air tapi tak aku keringkan. Gih buat sayur asem, nanti aku minta semangkuk. Aku tak nyayur, lupa Ghifar ada bilang lagi sariawan, minta makanan berkuah." Mama Aca menepuk lengan biyung. 


Mama Aca menyuruh biyung pergi secara halus, karena ia ingin membicarakan tentang anaknya. Aku paham, itu adalah suatu hal yang rahasia. 


"Oke, oke. Dimakan ya sarapannya, Bang?" Biyung mencium pipiku. 


"Iya, Biyung." Aku menoleh pada biyung dan tersenyum manis. 


Senangnya dikhawatirkan oleh biyung sampai sedemikian rupa, aku rupanya masih begitu penting di hidupnya. Meski anak laki-laki ini, sudah hidup dengan perempuan lain. 


Biyung bangkit, ia berjalan keluar kamar. Pintu kamar dibiarkan terbuka, meski AC kamar ini menyala. Entah ia bingung, atau sengaja agar tidak menimbulkan fitnah. Kan kemarin ada kasus antara ibu mertua dan menantu laki-laki. Tapi aku dan mama Aca tidak mungkin sih, aku sunat saja ia ikut merendamku dengan air hangat agar luka sunatku cepat sembuh katanya. 


Entahlah, itu salah satu alasan utama aku menjaga keperjakaanku. Yaitu, karena sunat itu sakit. Pengorbanan untuk sembuhnya juga, butuh air mataku yang lebih banyak lagi dari disuntiknya obat bius. Dari dulu aku tidak pernah mau sunat, tapi bujukan keluarga setengah mati iming-imingnya. Kalau saja aku tidak terkena infeksi katup, pasti aku tidak akan disunat juga. 


"Bang, dengerin Mama." Mama Aca bersuara lirih. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2