Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA168. Pandangan Bunga


__ADS_3

"Kalau kau mikirnya gitu, ya udah jalanin aja hari-hari kau kek biasanya. Kalau memang pada akhirnya lanjut lagi sama Dayana, ya tekadkan niat kau untuk nikahin dia. Anak pejabat loh dia, Kaf. Janganlah main-main, bisa sengsara nasib kau." Aku pun berharap tidak akan main-main dengan perempuan manapun. 


Namun, aku memiliki ganjalan dengan Jessie. Ia sedikit aneh, seperti cemburu, seperti mengungkapkan sesuatu. Tapi aku belum bisa meraba maksudnya, sebelum aku tanyakan secara langsung. 


"Tapi kau jangan dekati Dayana terus pas di kampus, biasa aja kek teman biasa." Aku mulai merokok. 


"Biasanya, aku kacaukan dia terus. Pulang ya aku ajak bareng, Bang. Terus tiba-tiba harus jadi teman biasa, ya mana bisa." Kaf sampai memukul-mukul pahanya. 


"Bisa lah, Abang aja bisa." Aku malah ditinggal mati. 


Kaf menoleh ke arahku. "Caranya gimana?" Matanya sampai mekar sekali. 


"Rubah kebiasaan, pindah tempat sementara. Abang ikut pakcik Gavin ke Lampung. Tiga mingguan pulang, ikut repot di ladang sini bantuin garap ladang baru. Setelah istri Abang meninggal, Abang tidurnya ngasal. Maksudnya, tak tidur di kamar. Kadang di ruang tamu, kadang di ruang keluarga, kadang di kamar ayah. Sedapetnya nyaman aja, Kaf. Tapi jadinya terbiasa sendiri kok, terbiasa tidur di kamar awal sendiri. Yang jelas, semua itu butuh waktu. Tak bisa langsung tiba-tiba, tak bisa langsung terbiasa tanpa dia. Kau cuma pacaran, Abang diikat dengan pernikahan. Ya gimana? Jodohnya cuma dikasihnya segitu, yang penting pernah berjodoh. Masa mau nangisin terus? Masa mau terpuruk terus? Sayang beda alam, bukan lagi tangisan tanda sayangnya, tapi rutin kirim doa, biar dia di sana pun ikhlas ninggalin kita di sini." Getir rasanya jika ingat kenyataan itu. 


"Kau hebat sih, Bang." Kaf menepuk bahuku dan mengusapnya. 


"Tak juga, trauma ke rumah sakit yang ada." Aku tertunduk dan mengucek mataku. 


Izza tidak perlu berobat harusnya. Aku menyesali hal itu, aku menyesali keputusan untuk membuatnya sembuh. Izza tetap akan sembuh, meski tidak diobati. Aku tak akan membuat rahimnya sampai bolong, gara-gara tindakan untuk membuatnya lepas dari penyakitnya itu. 


"Ah, suatu saat kita pun pasti ada butuhnya di rumah sakit. Jangan bilang trauma, Bang. Semua orang pun pengennya sehat terus, tapi kesehatan juga rezeki, jadi mana tau rezeki sehatnya lagi digoyahkan sedikit." 


"Udahlah, tak usah dibahas." Karena moodku semakin bertambah buruk. 


"Kau pernah main sama Jessie, Bang?"

__ADS_1


Aku menoleh cepat, aku bingung dengan pertanyaannya. 


"Begituan?" tanyaku kemudian. 


Kaf mengangguk cepat, ia seperti menunggu jawabanku. 


"Tak pernah lah, dikiranya apa?" Mimpi basah yang ada. 


"Soalnya body language Jessie, kek mengatakan dia suka sama Abang. Kalian sering ketemu, dia anak kota, mana ada memang pernah ada nyicip." 


Kaf memahami body language ternyata. 


"Tak pernah nyicip." Aku tidak mau membayangkan Jessie. 


Namun, tanganku malah mengetikan DJ Valerie Allison. Postingannya masih utuh, meski katanya berniat untuk menghapus satu persatu. 


Ia cantik sekali tanpa hijabnya, tapi ia tidak terlihat risih dengan hijabnya sekarang. Jika ia berani segila itu, rasanya aneh saja jika ia masih perawan. Aku malah berpikir, itu hanya pengakuannya untuk memikatku saja. Secara, ia pasti tahu dari keluarganya yang di sini bahwa keluargaku digegerkan mencari menantu yang selalunya hanya ingin yang perawan. 


"Tidur yuk, Bang? Di ruang TV aja." Kaf menghabiskan kopinya. 


"Iya, duluan aja." Aku masih sibuk menscroll sosial media milik Jessie. 


Dilihat dari keterangan nama kota yang pernah ia singgahi, ia pernah singgah ke beberapa tempat. Ia pun pernah ada di suatu hiburan malam di Bandung, dengan nama Opiuci. Ia pernah ada di hiburan malam juga, yang ada di suatu hotel bintang lima di Cirebon. Ia pernah ada di Bali juga, ia pernah ke Semarang juga. Tapi tempat-tempat itu, identiknya dengan hiburan malam. 


Jika memang ia dari kalangan kelas bawah, pastinya ia tidak akan mendapat centang biru. Memang siapa yang bisa centang biru, jika ia tidak dikenal? Orang tuaku yang kaya raya saja, mereka tidak centang biru karena tidak dikenal media dan orang banyak. 

__ADS_1


Sepenasaran itu aku sama Jessie, hingga Minggu pagi aku mendatangi Bunga untuk membahas tentang Jessie.


"Di dapur aja sih, Bang. Jangan di kamar, aku takut diperkosa." Bunga memunguti baju kotornya, kala aku merebahkan tubuhku di ranjangnya. 


"Abang lagi tak n*****g, Dek." Aku sudah nyaman di ranjangnya. 


"Ya kan itu sih bisa bangun mendadak." Bunga menaruh baju kotornya di dalam keranjang plastik. 


"Dek, kata kau gimana tentang Jessie?" Aku menaikan dua bantal di bawah kepalaku. 


"Pembohong, aku tak suka karakternya. Aku baru tau semua semalam, aku malah ilfeel dengan pengakuannya. Ditambah lagi, orangnya panasan. Dia kek yang gimana kali pas buka cardigan itu, l**** sih dia kata aku." Bunga duduk di tepian ranjang dekatku, posisinya membelakangiku. 


"Kenapa kau bisa sebut dia l****?" Aku membuka dua kancing teratas kemejaku. 


Bunga menoleh sekilas, kemudian ia memandang jendela besar yang ada di hadapannya kembali. 


"Dia tak harus nunjukin badannya, masa aku bilang temen aku speak manhwa. Aku, Bang. Aku bukan perempuan baik-baik, aku tak pernah sengaja buka cardigan masa ada laki-laki yang lagi tertarik dengan perempuan lain. Dia seolah tak mau kalah, dia ingin menunjukan bahwa dirinya lebih baik dari perempuan tersebut." 


Aku memperhatikan wajahnya dari samping, ada bulir keringat di anak rambutnya. 


"Bisa jadi, dia lakukan itu karena dia tertarik sama Abang kan?" Aku terus memandangnya. 


"Bisa jadi juga, tapi aku tak akan begitu kalau laki-laki yang aku suka itu ngelirik cewek lain. Aku biarkan aja dia, aku tak mau terlihat murahan di depan beberapa saksi mata, meski nyatanya di depan laki-laki aku, aku pasti dianggap begitu murah. Aku begini, begitu, laki-laki seolah tertarik fisik aku, demi Allah aku tak sengaja mikat dia. Aku tak pernah lenggak-lenggokin badan di depan laki-laki dengan sengaja, meski beberapa orang mungkin menganggap aku sengaja. Marwah aku udah rusak, tanpa aku nunjukin seberapa hancurnya harga diri aku. Serusak-rusaknya aku, aku tetap jaga diri aku ke mereka yang udah tau bobroknya aku. Aku murahan, tapi tidak untuk diobral." Bunga baru melirikku setelah selesai berbicara. 


Meski begitu, ia tetap dihormati di sekitar sini. Ia bisa menjaga dirinya, meski harga dirinya sudah begitu hancur. 

__ADS_1


"Aku tak bermaksud mencelanya, tapi ini pandangan aku aja yang terlanjur tumbuh sebagai perempuan nakal. Dia kek l**** pinggir jalan, tau tak? Korban cinta, aku sendiri nih, tak pernah aku godain laki-laki aku. Aku tak pernah merasa menunjukkan tubuh aku, memang dasarnya udah nampak haram aja aku ini meski tak ditunjukkan. Bukan aku membenarkan diri aku sendiri, ini hanya pandangan aku ke seorang Jessie karena Abang tanya pendapat aku. Jadi, gimana Jessie menurut Abang?"


...****************...


__ADS_2