
"Masalah cinta maksudnya? Masalah tentang itu, biarkan mengalir aja." Kami hanya perlu sering bersama.
Toh, tentang s**s juga kami merasa cocok.
"Sialan, nemu kau duda dapat perawan." Mama Aca memukul pelan meja makan, dengan tersenyum masam bercampur geli.
"Iya dong, orang baik memang dapatnya yang berkah selalu." Aku membusungkan dadaku dan tertawa geli.
"Ya udahlah, udah nikah juga. Jadi planning kedepannya gimana?" Mama Aca sudah merambah ke rokok yang kedua.
"Antar jemput Nahda, Ra dan Cani sekolah. Terus, tinggal seminggu di sini dan seminggu di biyung. Sambil kita ngumpulin perabotan rumah, biar kalau Nahda udah siap di rumah sendiri, dia udah tak bingung nyuci atau masak lagi. Itung-itung, dia pindah sana-sini untuk latihan masak dan pahami pekerjaan rumah dulu. Aku pengen aku bergantung sama dia, dengan urus makanan aku dan segala macamnya. Memang ini semua bukan kewajiban istri, tapi dengan begitu dia punya banyak kadang pahala." Mungkin semua orang tidak tahu, jika membuat makanan dan mencuci baju bukanlah kewajiban istri.
Tapi segala sesuatu yang dimaksudkan untuk suaminya, menjadi ladang pahala untuknya. Meskipun hanya air putih yang ia hidangkan untuk suaminya, tapi ganjarannya besar di akhirat nanti.
"Mama percaya, kau paham agama. Cuma tolong, Bang. Jangan bentak dia, dia takut kau marah, dia kaget suara kencang. Kau tau tutur kata papa kau selembut dan semanis gula halus, dari dia di sini dia terbiasa mendengar suara lembut papan kau. Mana anaknya nurut, dinasehati tuh dipakai, jadi lah dia dapat predikat kesayangan. Kau tau sendiri, Kal banyak nolaknya cuma untuk nemenin papanya makan. Alasan tugas, lagi tanggung ini, lagi ngerjain itu. Kalau Nahda, dia pasti tinggal tugasnya demi nemenin papanya. Terus gantian lah dia itu, ajak papanya untuk bantu nyelesain tugas sekolahnya. Papa kandungnya orang baik-baik, Bang. Dia keturunan orang baik, nasabnya ke pria baik-baik. Cuma memang, sedikit keras kepala aja."
Good girl dong?
"Bisanya dia anak yang patuh dan mau dinasehati, tapi dia keras kepala tuh gimana maksudnya?" Sedikit ambigu.
"Jadi, apa yang menurut dia benar itu dilakukan aja tanpa izin. Papa kau ngamuk besar, sampai Mama dibawa ke sekolah masalah Nahda ikut ekskul pecinta alam begitu."
Wah, ini persis tentang permasalahan tuxedo itu.
"Tapi dia minta izin pas beli barang ini itu kemarin." Aku meragu jika dibilang Nahda adalah anak yang sesuka keinginannya.
"Contohnya?" tanya mama Aca kemudian.
"Kek pewangi ruangan, tepung dan lain sebagainya." Ia meminta pendapatku ketika memilih aroma pewangi ruangan.
"Bisa jadi karena dia ragu. Kalau dia mantap, dia langsung pilih sendiri. Jadi keinget gaun nikah kemarin, dia gercep betul dan minta untuk beli. Coba kau tebak harganya berapa?"
Aku kaget mendengar gaun yang dibeli itu.
"Empat juta mungkin." Aku hanya tahu harga daster produksi konveksi biyung.
"Mirip sih, tapi kurang nolnya."
Hah? Mataku langsung membulat.
"Empat puluh juta???" tanyaku cepat.
__ADS_1
"Ya gitulah, katanya mau dipakai untuk anak cucu. Semoga aja anak cucunya badannya tinggi kek dia, soalnya keinget ada gen biyung dalam diri kau." Mama Aca meratap ke depan.
Aku terkekeh. "Alhamdulillah, aku tinggi gagah." Anak-anakku pun pastinya sepertiku.
"Cani? Ayah kau gagah tinggi loh, papa Ghifar kalah tingginya."
Aku jadi teringat adikku yang sering tembus ketika menstruasi itu. Jika saja ia mau menggunakan tips dariku, mungkin ia tidak harus repot menutupi roknya.
"Makanya Mama mau," ledekku dengan tertawa lepas.
Bungkus rokok langsung melayang ke arahku. "Jadi kau tau???" Matanya sipitnya membulat sempurna.
"Kan Mama ngasih tau." Aku menahan tawaku dan memicingkan mata.
"Mana pernah!" Mamah Aca memukul pelan meja makan.
Seperti ada emosi di sana.
"Itulah kenapa, ayah tak mau besanan." Sejurus dengan keluarnya kalimatku, mama Aca mengerutkan keningnya.
"Ayah kau selalu bilang tak enak hati sama papa kau, dia tak benar-benar ngerestuin sebenarnya. Jadi kek, ya udahlah gitu."
"Kenapa ayah tak restuin? Aku dapat perawan polos padahal." Aku mencampuri dengan candaan.
"Ihh!" Mama Aca bersiap menjitakku. "Ya iya! Anak Mama yang dapat duda jadinya." Ia melirik sebal.
Aku tertawa lepas beberapa saat. Beliau kira, aku duda nakal kah? Duda juga, aku hanya mencicipi satu wanita. Daripada bujang, tapi seperti teh celup.
"Ayah tak mau saudara dekat tapi menikah, jawabnya sih gitu. Tapi dekat apanya sih? Cuma ayahnya Mama sama makcik Dinda aja yang kakak adik kandung, terus ayah kau sama Mama kan sepupu. Nahda kan anak dari laki-laki lain, bukan dari bagian keluarga juga." Memang tidak salah penjelasan mama Aca.
"Tapi ayah berpikir, bahwa Nahda anak dari papa Ghifar. Begitu, Ma," tambahku kemudian.
Ayah itu tak enak hatinya dengan papa Ghifar, bukan karena status kekeluargaan lainnya.
"Ya udahlah, tinggal sering bawa Nahda ke sana aja. Jangan sampai dia jadi menantu tiri karena hal ini."
Apa kemungkinannya bisa begini?
"Nahda makan belum, Ma?" Aku akan sering mengatur waktu, agar Nahda dan ayah sering berdialog.
Khawatirnya, karena rasa tidak enak ayah pada papa Ghifar. Membuat beliau sedikit canggung, menyikapi menantu barunya itu.
__ADS_1
"Tanya aja, Mama mau urus kerjaan lain." Mama Aca lebih dulu meninggalkanku.
Coba ayah lebih santai diajak mengobrol begini, bukannya ngegas terus dan beranggapan bahwa aku ini merusak Nahda. Ia kira aku seperti dirinya rupanya, ayah lupa bahwa dirinya sering menyebutku anak biyung.
Aku melangkah menuju kamar istriku, memasukkan kode dan menarik gagang pintunya. Pintunya terkunci otomatis, tapi papa Ghifar aku yakin tahu kunci kamar ini. Terbuka dari kesalahpahaman itu dan pintunya terbuka dan terganjal dirinya. Tapi rasanya tak mungkin, ketika anaknya sudah bersuami dan papa Ghifar berani membuka pintu kamar anaknya saat ada suami anaknya di dalam.
"Hayo, lagi ngapain?" Aku menemukannya tengah berhias di depan jendela.
"Skincarean, Bang. Aku buatkan sarapan ya? Tadi dilarang mama." Ia nampak tergesa-gesa untuk menutup kembali produk kecantikannya itu.
"Udah disiapin sarapan sama mama barusan, Adek makan belum?" Aku mengambil salah satu produk kecantikannya dan membaca komposisinya.
Skincare pada umumnya, brand lokal yang biasa seliweran di televisi.
"Udah, sama capcay tadi. Maaf ya, Bang? Aku jujur, tadi mama larang aku." Ia seperti takut dimarahin.
"Hmm, dimaafin tak ya?" Aku memandangnya dan mengusap daguku.
"Tuh, Abang…. Aku minta maaf lah." Ia mengguncangkan lenganku.
Ampun, istri muda ini.
Eh, kok istri muda? Maksudku, istriku yang usianya masih muda ini.
"Iya, dimaafin kok. Gimana? Masih sakit tak?" Aku memandang ke arah tengah-tengah tubuhnya.
Malam pertama Izza denganku dulu, paginya aku sampai mengoleskan salep karena pintu miliknya memerah.
"Apanya, Bang?" Ia mencari-cari arah pandangku.
Duh, harus jelas saja.
"Iya, itunya…. Yang semalam kena bobol itu, sakit tak?" Darah perawan tak selalu terlihat banyak.
Saat Nahda semalam, darahnya bercampur dengan cairan rasa minatnya dan darahnya hanya menempel di milikku saja. Tidak sampai seperti Izza, meski sama-sama terasa ada penghalang.
"Ohh, kata mama suruh Abang tengok. Katanya barangkali ada lecet, nanti dikasih salep." Nahda sudah membuka kakinya saja.
Awalnya memang malu-malu, setelah tahu rasanya malah membuka sendiri. Aduh, tidak habis pikir aku ini. Semoga saja aku kuat melihat rawa-rawa pagi ini, karena cuacanya anget-anget sedap kali ini.
...****************...
__ADS_1