Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA42. Emosi Zuhdi


__ADS_3

"Kenapa turun di sini, Di?" Givan menyapa Zuhdi yang tengah berjalan di pinggir jalan, Zuhdi baru turun dari mobil keluarganya. 


"Tak apa." Zuhdi menutup-nutupi tujuannya. 


"Beli mia yayam." Cala merengek menunjuk gerobak mie ayam pinggir jalan, yang berada di depan rumah orang tua Zuhdi yang menjadi rebutan keluarganya tersebut. 


"Mie ayam, masa Mia Khalifa?" Chandra menciumi adiknya yang berada di pangkuannya. 


"Udah gede ngomong masih bingung aja sih, Dek?" Givan merapikan kerudung anaknya. 


"Jalan aja, Van." Zuhdi tidak ingin tindak langkahnya diketahui Givan. 


"Mau beli mie ayam." Chandra membuka pintu dan turun dari mobil ayahnya. 


"Beli banyak aja, Bang." Givan membiarkan anak laki-lakinya turun dengan membawa anak bungsunya. 


Pangkalan mie ayam tersebut berada di depan rumah orang tua Zuhdi, sedangkan keluarga iparnya menempati rumah dulunya yang ia minta membayar sebesar sepuluh juta pertahun. Ia sudah mengalah untuk rumah orang tuanya yang menjadi rebutan itu, ia tidak mau rumahnya dikuasai dan menjadi rebutan lagi. Oleh karena itu, ia memberi harga pada keluarga Sekar yang menempati rumah tersebut. 


Zuhdi menggaruk kepalanya, ia bingung karena kehadiran Chandra di lingkungan rumah orang berdekatan tersebut. Sudah pasti Chandra akan mendengar dan menghampiri keributan, jika Zuhdi mendatangi keluarga tersebut sekarang juga. Tapi, ia sudah terlanjur turun dari mobil dan sudah mengatakan akan datang pada keluarganya. Pasti mereka menunggu kedatangan Zuhdi, pikir Zuhdi seperti itu. 


"Jalan aja, Yah. Nanti biar mie ayamnya diantar. Aku biar jalan sama Cala, mau beli rokok juga temen-temen sini pada WA katanya mau pada datang." Chandra memilih ditinggal, karena pikirnya jaraknya pun dekat. 


"Oke." Givan menutup kaca jendela mobil tersebut, kemudian mobil perlahan meninggal mereka. 


Zuhdi masih mematung di tempat, melihat Chandra yang berjalan ke arah gerobak mie ayam yang bernaungkan terpal saja itu. Pedagang mie ayam tersebut merupakan tetangga belakang rumah Zuhdi, ia sejak dulu sudah meminta izin untuk berjalan di depan rumah orang tua Zuhdi. 


Pikir Zuhdi, Chandra sedang sibuk memesan mie. Ia bergerak meninggalkan tempatnya untuk menghampiri keluarga dari iparnya tersebut. 


Namun, ia salah besar. Karena saat ia melewati rumah orang tuanya, seruan untuk namanya terdengar. Zuhdi menyadari, jika keluarga iparnya tengah berkumpul di sana. 


Saat ia hendak masuk ke dalam rumah orang tuanya yang ramai, Zuhdi pun menoleh untuk memastikan keberadaan Chandra yang memesan bakso. Nyatanya, ia malah terkejut karena Chandra menggendong adiknya tengah melangkah ke arahnya. 

__ADS_1


"Abang mameh nyang lagak." Salah satu keponakan Zuhdi yang merupakan teman sekolah Chandra langsung keluar dari rumah pusaka tersebut dengan melambaikan tangan. 


Chandra menaik turunkan alisnya dan tersenyum manis. 


"Kapan resepsi, Bang?" Keponakan perempuan Zuhdi itu sudah ada di teras dan berjabat tangan dengan Chandra. 


Zuhdi menghela nafasnya, ia makin bingung untuk menegur keluarga iparnya karena mereka tengah berkumpul bersama. 


"Kapan-kapan," jawab Chandra dengan senyum. 


"Sepuluh hari lagi, aku pun nyusul. Datang sama Izza ya, Bang?"


Chandra terbiasa dipanggil dengan sebutan 'abang' karena status sosialnya yang tinggi dan dihormati. 


"Ehh, laku juga kau?" lontar Chandra dengan nada bercanda. 


"Iyalah! Aku duluan ya? Mau fitting baju." Keponakan Zuhdi itu berlalu setelah memakai sandalnya. 


"Kenapa tak ajak-ajak?" tanyanya kemudian.


"Waduh, anak juragan nikah di KUA. Biar gratis ya? Nikahi rakyat biasa sih soalnya." Mulut Ardi membuat Zuhdi kembali teringat tujuannya untuk datang ke sini. 


"Pak Cek tak datang sih, jadi tak tau ya?" Chandra teringat dirinya pernah memanggil laki-laki tersebut dengan sebutan 'abu'. Hanya saja, ayahnya melarangnya berulang kali. 


"Kau aja tak sebar undangan. Ayah kau aja tak ngabarin apapun, padahal masih keluarga ipar." Ardi berdiri di pintu dan membuka pintu tersebut lebih lebar. 


"Iya, sengaja sih. Soalnya nanti risih, kalian banyak komentar." 


Zuhdi melirik keponakannya yang terlihat santai itu. Zuhdi mengingat lagi siapa Chandra dan keluarganya, ia mencoba tak heran dengan mulut anak tersebut. Namun, nyatanya terlihat heran karena biasanya Chandra menghormati Ardi seperti dirinya karena Chandra tahu kebaikan Ardi dulu. 


"Ya komentar lah, masa orang kaya nikah di KUA. Nikah tak resepsi, nikah pakai dress aja. Kalau menantu, kek apa adanya aja. Beda kalau nikahin anak perempuan." Aini muncul dari dalam rumah, ia adalah istri dari Ardi. 

__ADS_1


"Kau pun nikah pakai hitam putih, kek mau ngelamar kerja." Untuk pertama kalinya Zuhdi meledek seperti ini. 


Ia terpancing, karena Ardi dan Aini seolah semakin memojokan Chandra. Ia tidak suka, jika keluarga istrinya yang amat baik padanya malah disudutkan seperti itu. 


"Dih, ya beda keadaannya. Aku kan bukan dari keluarga berada juga." Aini seperti menjadi pengganjal pintu dan tidak mempersilahkan mereka untuk masuk. 


"Habis berapa resepsi kemarin sama maharin Ceysa, Bu?" Chandra menoleh dengan tersenyum lebar. 


"Habis sekitar tujuh ratus jutaan, kasurnya aja tiga puluh jutaan. Isi kamar, isi rumah, kan Abu yang penuhi semua. Pelaminan di handle ayah kau, tapi catering dari abu." Zuhdi tidak mengerti arah pembicaraan Chandra, ia hanya mengikuti cara Chandra bermain. 


"Ohh, murah ya resepsi ini ternyata? Mahar aja aku habis empat miliaran, sama uang yang di akuarium itu tiga puluh satu jutaan aja. Ladang produktif, pohon masih bisa dipanen sampai dua puluh tahun ke depan. Maklum ya, tulang belulang soalnya. Jadi satu persatu gitu, Pak Cek." Chandra terkekek kecil dengan memandang Ardi. "Mahar aja, udah setengah tabungan aku. Langsung resepsi, yang ada nanti bingung makan sehari-harinya. Masa nanti kek Pak Cek, datang lagi ke Abu minjam uang untuk makan. Malu lah. Resepsi bisa, nanti makannya ngutang terus." Chandra berbicara begitu ringan. 


Ardi dan Aini saling memandang dengan mata melotot. 


"Mending ngutang, numpang pernah juga," timpal Zuhdi dengan melirik adiknya tersebut. Ia tidak mengerti dengan adiknya, ia tidak kurang-kurangnya membantunya. Tapi setelah hidup bersama dengan Aini, Ardi menjadi sosok yang sama seperti Aini. Hal itu yang membuat Zuhdi tidak pernah berkunjung ke saudaranya lagi, bahkan tahlil tahunan pengingat meninggalnya orang tuanya pun ia buat di rumahnya tanpa pernah memberitahu keluarganya sendiri. Karena Ardi yang merupakan saudara terdekatnya pun, sudah berubah seperti orang lain yang begitu benci pada keluarga istrinya. 


"Kan jangan sampai begitu aku ini, Pak Cek?" Chandra bertanya pada Ardi dengan memamerkan giginya. 


"Iya jangan, Bang. Nyusahin terus, tak enak sama umum." Zuhdi bersedekap tangan dan bersandar pada kusen jendela. 


"Kalau tak ikhlas bilang, Bang!" Ardi langsung berbicara lantang. 


"Bukan tak ikhlas juga, tapi tak suka dengan sikap kalian selama ini." Zuhdi masih mencoba santai, apalagi ditemani dengan pembawaan Chandra yang rileks. 


"Pak Wa, kloset penuh tau," adu Fitri, anak semata wayang Ardi pada Zuhdi. 


"Oh ya? Berapa orang di rumah? Berapa kepala keluarga di rumah? WC penuh pun tak bisa panggilkan mobil untuk kuras kah? Harus aku? Harus aku yang tak nempatin rumah ini?" Zuhdi terpancing emosi kala mengetahui keadaan rumah orang tuanya yang seolah tak terurus itu. 


"Lah, ini kan rumah abu ma yang perbaiki Abang." Adik perempuan Zuhdi keluar. 


"Oh ya? Jadi, Abang yang lebih berhak begitu? Kalau begitu, keluarlah kalian dari rumah ini." Zuhdi menggebarak pintu rumah dengan bicaranya yang lantang. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2