
Tahlil dilakukan setiap lepas Maghrib, sampai datang tujuh hari peringatan Izza meninggal. Tidak ada yang mengganggu konsentrasiku mengurus tahlil untuk Izza sampai selesai tujuh hari.
Hal yang membuatku tersinggung setelah semalam selesai tujuh harian untuk Izza adalah, esok paginya keluarga Izza datang untuk mengambil barang-barang milik Izza termasuk kendaraan Izza yang aku pakai bekerja setiap hari. Jadi, aku pun tak berhak menyimpan selembar pakaiannya juga kah?
Karena benar-benar diambil semua tak tersisa, berikut dengan mahar milik Izza yang berupa surat kepemilikan lahan kopi seluas satu hektar dan uang tunai sebesar tiga puluh satu juta tiga ratus dua puluh ribu. Mereka memaksa dan mengatakan bahwa itu hak keluarga, lalu apa pantas aku memperebutkannya?
Bahkan, barang pribadi seperti ponsel milik Izza pun diambil alih oleh keluarganya. Jangankan ponsel yang jelas berharga, alas kaki dan sprei tidur kami pun dibawa.
Jadi tak akan kenangan indah Izza untukku?
Tak apa, semua kenangan tersimpan jelas di hatiku bukan lewat barang-barang tersebut. Tak apa aku ikhlas harta istriku diambil keluarganya, semoga itu terhitung shodaqoh untuk Izza. Aku tidak akan meributkan hal itu, cukup kemarin mereka berkoar keluarga kami melakukan pesugihan. Aku tidak mau mendapatkan cap buruk, tentang harta Izza yang ditahan suaminya.
Anting, perhiasan dan semua aksesoris Izza yang dikenakan saat ia wafat pun diambil semua. Padahal, aku memiliki rencana lain untuk barang-barang tersebut.
"Handuk Izza mana?"
Astaghfirullah.
Aku berjalan ke dalam kamar mandi kami dan mengeluarkan banyak tumpukan handuk di sana. Kami menggunakan handuk bersama, jadi aku tidak tahu mana yang milik Izza. Handuk digunakan sehari sekali bersamaan denganku dan Izza, lalu esok harinya akan dicuci dan mengambil handuk lainnya.
Aku membiarkan persediaan handuk itu dibawa semua, karena aku tidak mau repot dengan urusan begini saja. Mereka di awal seolah tidak ikhlas akan kepergian Izza, tapi di akhir tujuh harinya mereka mengambil alih segala sesuatu milik Izza. Tak apa juga, semoga itu menjadi amal baik untuk Izza. Aku ikhlas-ikhlas saja, asal digunakan untuk kebaikan.
"Ranjang, lemari tak sekalian?" Itu adalah tawaran kekesalan ayah.
"Tak usah, Pak Givan. Izza kan nikah di KUA, dia tak dapat isi kamar apapun."
Nyelekit sekali mulutnya. Izza tak mendapatkan isi kamar, tapi maharnya bisa memenuhi isi rumah, bukan isi kamar saja.
Silahkan saja jual ladang produktif satu hektar itu, mereka bisa mendapatkan empat miliar untuk itu. Tak apa, sungguh tak apa. Yang penting itu sebuah amal yang pahalanya langsung Izza dapatkan.
"Oh ya?" Ayah sampai geleng-geleng kepala.
Mereka niat sekali untuk mengambil alih semuanya, sampai menyewa mobil pickup seperti itu. Mereka mungkin tahu, jika pakaian Izza begitu berlimpah, jadi mereka mempersiapkannya dengan membawa mobil pickup.
"Biarin, Bang. Ikhlaskan aja." Ayah menepuk-nepuk pundakku.
"Ya, Ayah." Aku duduk menikmati kopiku kembali di teras rumah.
__ADS_1
"Senyum lah." Ayah menemaniku kembali.
Bekerja pun, aku ditemani oleh ayah. Bahkan ayah rela menggantikanku mengurus ekspor kemarin, sampai ia tidak hadir di tahlilan Izza selama dua hari.
Tambak yang kau doakan ini sudah memanen hasil loh, Za. Tapi tak apa, aku sudah mensedahkan setengah hasil panen tambakku atas nama kau, agar menjadi hadiah indah di akhirat kau. Kau berhak mendapatkan itu, Za.
"Untuk apa? Tak ada yang seru, tak ada yang ramah dan tak ada yang menyenangkan. Senyum untuk apa?" Mungkin ini kutukan, karena bibirku kaku sekali untuk tersenyum.
Aku bisa pura-pura tertawa, untuk merespon orang-orang di sekitarku. Tapi untuk tersenyum, rasanya begitu kaku dan menyakitkan.
"Bang, Biyung bantu bereskan kamar kau ya?" seru biyung dari dalam rumah.
"Silahkan, Biyung. Biyung tak perlu minta izin untuk masuk ke kamar anaknya," sahutku dengan menoleh ke arah pintu.
"Jadi hari ini mau kerja juga? Katanya ada tak enak badan?" Ayah mengalihkan pembicaraan lagi.
"Kerja aja, Ayah. Ngapain aku di rumah? Udah dikerik biyung, udah minum obat juga." Jika aku berdiam diri di rumah, yang ada aku makin terpuruk.
"Oke, Ayah ikut. Ayah BAB dulu ya? Tungguin Ayah, nanti naik mobil Pinky aja." Ayah bergerak masuk dengan tertawa geli.
Mobil biyung begitu awet, padahal seusia Cala. Ya karena memang tak dikemudikan oleh biyung sendiri, karena biyung memang tidak bisa mengemudikan kendaraan. Hanya saja kadang geli sendiri, karena menjadi penumpang di mobil berwarna pink menyala. Mungkin warna yang trend sekarangnya adalah fushia. Pink terang pekat, yang begitu mencolok.
Dosen muda yang berperut cembung, mungkin alasan perutnya sehingga membuatnya bukan menjadi idola para mahasiswi. Bang Fa'ad berjalan mendekat, kemudian ia duduk di sampingku.
"Mau daftarkan Bunga kah?" Aku mencari nama Bunga di daftar kontak ponselku.
"Ya, berkas dan uang udah masuk. Maksudnya, ini sebenarnya kesungguhannya gimana gitu kan? Karena memang dari daftar lima hari yang lalu, dia belum ada datang ke kampus untuk pengenalan atau sekedar tau kelasnya aja. Jadi kek gimana gitu? Kek ayahnya aja yang semangat dorong dia, dianya pakai rantai di kaki jadi tak jalan-jalan." Bang Fa'ad menyalin kontak telepon yang aku sodorkan.
"Belum minat kali." Aku tidak tahu alasan Bunga, karena memang aku tidak pernah mengobrol dengannya meski di acara tahlilan juga.
"Ya mungkin, ya maksudnya bisa ditunda gitu. Cuti atau gimana, karena sayang uangnya tak sedikit." Bang Fa'ad mengangguk menyelesaikan menyalin nomor tersebut.
"Pak…." Kaleel berteriak dan berlari keluar rumah.
"Apa?! Mandi sana!" Bang Fa'ad berjalan ke arah anaknya yang berdiri di teras tanpa menggunakan pakaian.
"KALEEL!" teriak kak Key begitu lepas.
__ADS_1
Begitu ya serunya memiliki anak?
Aku belum memiliki kesempatan untuk itu, tapi Yang Kuasa mengambil indung dari anakku. Ya, itu pun tak apa juga. Ikhlas dan jangan mengungkit-ungkit lagi.
"Berangkat dulu, Bang." Bang Fa'ad berpamitan padaku, dengan mengangkat satu tangannya.
Pintu rumahnya sudah ditutup rapat, bahkan dikunci dari dalam oleh kak Key. Mungkin, agar anaknya tidak kabur kembali saat dimandikan.
"Ya, Bang. Hati-hati ya?" Aku pun mengangkat satu tanganku juga.
Bang Fa'ad mengacungkan ibu jarinya, kemudian ia meluncur menggunakan kendaraan maticnya. Di pintu rumah sebelah, ada pengantin baru yang tergesa-gesa memakai sepatu.
"Mau ke mana, Yo?" tanyaku pada adik laki-lakiku.
Mulutku masih peduli dengan orang-orang di sekitarku, tidak dengan keramahan wajahku.
"Berangkat kuliah, Bang. Bang, berangkat kerja jam delapanan kan? Istri aku ajak numpang sampai angkot ya?" Ia bergegas cepat masuk ke mobil ayah yang masih rutin dipakainya.
"Iya, Yo. Hati-hati ya?"
Jawabannya hanya suara klakson mobil saja, karena Zio sudah berada di dalam mobil tersebut. Istri Zio masih berjualan es teh di depan kampus Zio, ayah sudah menawarkan usaha lain tapi ia berdalih ingin tetap di sana dan memantau Zio.
Jujur sekali memang.
"Abang…." Adik kecilku yang rewel datang dengan memukuli pundakku.
"Apa sih Cali cantik?" Aku membawanya duduk di pangkuanku.
"Ke ayah Apin, tak mau sekolah hari ini. Antar aku kabur ke sana." Ia sudah mengenakan seragam merah putih panjang, tapi belum berangkat sekolah juga pukul setengah delapan pagi ini.
"Biyung, ini diantar ke pakcek kah?" Aku menggendongnya dan mendekati pintu rumah.
"Iya, udah telat juga kalau berangkat sekolah." Suara biyung masih berada di kamarku.
"Enak sekali kau, Dek. Boleh bolos sekolah. Abang dulu tak berangkat sekolah kalau sakit aja." Aku menggendong anak perempuan ini keluar dari halaman rumah.
Itung-itung berkunjung ke saudara, karena aku tidak pernah keluar rumah selain untuk bekerja.
__ADS_1
...****************...