
Astaghfirullah….
Yang kemarin Cani enggan didekati, sekarang mereka malah jalan beriringan keluar dari gerbang sekolah mereka. Pasti Cani sudah mulai memiliki perasaan suka, mungkin juga ia tertarik dengan laki-laki pemilik motor besar itu.
Tinnnnn….
Aku membunyikan klakson lama dan panjang. Beberapa orang langsung memperhatikan mobilku, Cani dan laki-laki tersebut pun langsung menoleh ke belakang.
Mungkin ia tersadar dari kondisi sekitar, ia pun mungkin mengenali mobil milikku. Ia bergegas menuju mobilku, meninggalkan laki-laki yang satu emblem dengannya tersebut mematung di tempatnya.
Aku menurunkan kaca jendela, setelah Cani berusaha membuka pintu mobil yang masih terkunci.
"Abang, aku ada tugas kelompok." Cani menunjuk ke arah ketua kelasnya yang masih diam di tempatnya.
"Tugas kelompok apa?" Aku memperhatikan wajah adikku yang sedikit memerah karena sinar matahari, entah karena rasa takutnya.
"Itu, tentang rokok. Terus buat percobaan yang pakai tisu itu, Bang. Aku dapat kelompok sama dia itu, satunya tak berangkat." Cani menunjuk teman laki-lakinya itu.
"Tiga orang perkelompok?" tanyaku dengan membuka pintu mobilku.
"Iya, Bang. Ini kita mau ke rumah Sasa, yang tak berangkat itu." Cani selalu menoleh ke arah teman laki-lakinya itu.
"Di mana rumahnya?"
Cani tidak kunjung masuk ke dalam mobil, mungkin ia menunggu teman laki-lakinya itu memberi keputusan.
"Di daerah rumahnya kak Izza itu, Bang."
Yang ada aku tidak tenang, jika Cani pergi dengan temannya.
"Panggil teman laki-laki kau itu." Aku menunjuk ketua kelasnya yang tak terlihat gagah tanpa motor besarnya.
"Mau apa? Dia tak ganggu kok, dia udah pernah ditegur ayah." Ia nampak panik.
"Mau Abang tanya, sana panggil!" Aku menaikan kaca jendela mobil.
"Jangan dimarahi ya, Bang? Ini cuma buat tugas aja kok." Suara Cani tidak terdengar jelas, karena aku sudah menutup kaca jendela dengan rapat.
Cani berjalan ke arah laki-laki tersebut, ia berbicara dan laki-laki tersebut mengangguk. Entah apa pembahasan mereka, kemudian laki-laki tersebut mau berjalan ke arah mobilku kembali.
__ADS_1
Cani menarik pintu mobil, karena tidak terkunci ya langsung terbuka lebar.
"Kenapa, Bang?" tanya anak laki-laki yang jauh lebih tinggi dari Cani tersebut.
"Siapa nama kau?" Aku berusaha bermimik ramah, agar laki-laki muda tersebut tidak takut padaku.
"Fadli, Bang." Ia membuka masker wajahnya.
Memang lumayan tampan, gayanya itu cool.
"Motor kau mana?" Aku tahu bahwa laki-laki ini adalah laki-laki yang sama seperti laki-laki yang mengganggu Cani.
"Ada di dalam. Tak pakai jok tambahan, Bang. Jadi tak bisa bonceng dia. Nanti abang aku ambil katanya, tak apa ditinggal di parkiran sekolah aja katanya." Ia memandang Cani sekilas.
"Abang kau kerja di mana?" Aku belum puas bertanya tentang dirinya.
"Di kantor PLN." Fadli menunjuk ke arah timur.
"Jadi kau mau nganterin kunci motor ke kantor PLN dulu, baru mau ke rumah Sasa?" Aku ingin tahu ke mana niatnya membawa adikku pergi.
"Tak, Bang. Kunci motor udah di satpam, mau langsung ke rumah Sasa naik angkot," jawabnya kemudian.
Cani dan ketua kelasnya itu saling memandang. Mereka tidak berbicara, mereka seperti berkomunikasi dengan mata mereka. Beberapa detik kemudian, Cani masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku sampingku. Sedangkan si Fadli duduk di bangku belakang seorang diri.
"Nanti jemput Sasanya, ngerjain di rumah kau aja. Ada kakak ipar kau, minta arahan sama dia. Kenapa Sasa tak berangkat hari ini?" Sebenarnya pun aku tidak mengenal siapa Sasa.
"Dia ngakunya kesiangan, Bang. Tadi udah aku telepon, pas mau berangkat ke sana." Cani mengeluarkan ponselnya juga.
"Coba sekarang telepon kakak kau, tanyain abis kelas jam berapa." Mobilku masih berjalan pelan, karena di kanan dan kiri banyak anak-anak SMA yang tengah berjalan kaki.
"Speaker aja ya, Bang?"
"Ya, Dek." Aku masih fokus pada jalanan yang tiba-tiba sempit ini.
Sempit karena anak sekolah ada yang berjalan berjejer lima orang, ada yang bergandengan. Intinya, mereka tidak jalan sendirian. Meskipun memang satu dua ada saja.
"Hallo, Dek. Ayah tak jemput kah? Nanti Kakak jemput pakai taksi online."
Aku senang, mendengar Ra peduli dan terlihat urus pada adiknya begini.
__ADS_1
"Aku sama Bang Chandra sekarang. Kakak habis kelas jam berapa katanya?" Cani berbicara pada ponselnya yang berada di depan mulutnya.
"Ada jam tambahan, untuk soal-soal latihan. Mungkin satu jam lagi baru keluar kelas, Dek. Langsung pulang aja dulu, nanti Kakak naik taksi online aja." Ra seperti menekan suaranya, mungkin ia masih mengikuti pelajaran.
"Nanti Abang ke sana, sekalian mau ke kampusnya kakak ipar kau. Kau jangan pulang dulu, kalau tak ada mobil Abang depan kampus kau. Ini Abang mau anter adek kau sama temannya dulu." Aku melihat Fadli dari kaca spion tengah.
"Ohh, ya udah ke kampusnya kakak ipar aja. Aku bisa pulang sendiri kok."
Aku curiga jika Ra seperti ini.
"Mau pacaran kau?!" tuduhku cepat.
"Tak, Abang. Maksudnya, barangkali lama nunggu." Helaan napas Ra sampai terdengar jelas.
"Nanti Abang jemput, jangan pulang sendirian." Aku mulai celingukan, karena sudah sampai di jalan raya. Mobilku akan naik ke aspal.
"Iya, Abang," sahut Ra kemudian.
Ia bercakap-cakap dengan Cani, kemudian panggilan telepon tersebut terputus. Tidak jauh dari sekolah ini, kini gang rumah Izza aku masuki.
Tidak ada yang berbeda, hanya saja aku merasa asing di gang ini. Lihatlah, rumah keluarga mendiang istriku ditempati orang lain. Aku ingin berseru, bahwa Izza merehab total rumah tersebut dengan menggunakan uang dari pendapatan pertamanya setelah bisa bekerja.
Pundi-pundi rupiah ia kumpulkan, untuk merubah rumah reot menjadi rumah modern. Tapi setelah teduh dan nyaman seperti itu, ia meninggalkan semua yang sudah ia perjuangkan.
Kadang sesak di hati, kala teringat hal-hal seperti itu.
Aku memperhatikan Cani yang sepertinya kesulitan membujuk temannya, untuk mengerjakan tugas tersebut di rumahnya. Aku memasang tampang seram, kemudian keluar dari mobil, agar teman perempuannya yang lebih kecil darinya itu, merasa takut untuk menolak ajakan Cani karena abangnya ini.
Tapi mujarab juga, beberapa saat kemudian anak perempuan tersebut pun ada di mobil. Sesampainya di rumah, aku langsung memanggil Nahda untuk mengawasi dan menjaga anak-anak tersebut.
Sedangkan, aku kembali pergi berniat untuk menjemput Ra dan mengurus kuliah Nahda. Aturannya saja kan, hari ini Nahda aktif kuliah kembali dari cutinya yang sampai seminggu lebih itu. Tapi apa, nyatanya ia tidak datang kembali alasan kesiangan karena semalam begadang denganku.
Nahda, Nahda. Kau membuat PR dirimu sendiri namanya. Sudah benar kuliah di perguruan tinggi negeri terbaik, malah menyepelekan seperti ini.
Astaghfirullah, belum selesai aku mengetahui tentang Cani dan Fadli yang tiba-tiba jadi teman itu. Sekarang Ra ditemani oleh laki-laki, yang pancaran matanya memperlihatkan keseriusannya.
Ra nampak panik, saat mobilku hampir berhenti di depannya. Ia seperti akan menyulap laki-laki tersebut, agar menghilang dari sampingnya.
...****************...
__ADS_1