
"Telpon aja, Dek. Ayah kau lagi dipanggil rekan dokternya." Ayah menepuk-nepuk pundakku, menyadarkanku dari khayalan yang tiba-tiba gila ini.
Kurang ajar aku memang, istri sakit tapi khayalanku dengan perempuan lain malah selangit.
Bunga manggut-manggut, ia duduk di kursi sebelah dan memainkan ponselnya. Aku tidak banyak memperhatikannya, karena aku mengalihkan pikiranku dengan mengobrol bersama ayah tentang adik-adikku.
Tengah malamnya, dikabarkan obat injeksi yang ditebus oleh Bunga itu mendapat kabar baik dari respon tubuh Izza. Ia kini sudah bersamaku, meski masih di kamar inap rumah sakit.
Ayah tahu fokusku terganggu, hingga Bunga diminta pulang sejak tadi bersama pak wa. Benar juga, khawatirnya Izza terpikirkan karena mataku sering melirik ke part belakang Izza. Masalahnya bukan tentang berpaling, tapi tentang mubazir. Ya begini lah mata laki-laki, aku yang alim saja nyatanya sulit menjaga pandanganku.
"Bang." Hadi memberiku secangkir kopi.
"Ngerokok di mana sih malam-malam tuh? Disediakan kaj tempatnya?" tanya Izza kemudian.
Ia masih terjaga, meski masih lemas dan lesu. Izza sudah cukup pulih, meski mengeluh kepalanya berputar.
"Di parkiran, Kak." Hadi dipanggil oleh ayah ke sini, sedangkan Ceysa dan Dayyan dibawa pulang oleh ayah.
Ayah kira, Ceysa dan Dayyan tidak dibawa. Tapi ternyata, mereka dibawa oleh Hadi. Hadi beralasan, tidak tega meninggalkan Ceysa sendirian di rumah.
"Mau ngemil kah?" tawarku kemudian. Izza dibebaskan makan, asal tidak yang pedas dan masam saja.
"Mau tidur aja, Bang. Pengen muntah, karena rasanya kepalanya muter terus." Keringat dingin terus membasahi pelipisnya.
Ia berbaring menyamping, aku sigap untuk mengusap-usap punggungnya agar ia nyaman. Dokter sudah memberikan obat lagi dari selang infusnya, tapi Izza belum kelihatan lebih baik dari rasa pusingnya.
Sekitar lima belas menit aku berusaha mengusap-usap punggung Izza. Alhamdulillahnya, ia nyaman dan sudah mendengkur halus.
__ADS_1
Aku mendengar suara Hadi menggeliat, kemudian ia duduk kembali di tepi ranjang sebelah. Ada sebuah ranjang, untuk keluarga yang menemani pasien.
"Perasaan, wajah kau kek lusuh gitu." Aku berjalan-jalan di sekitar kamar, karena ototku merasa pegal terlalu lama duduk.
"Iyalah, masih perawan aja Ceysa. Sulit dibujuk, stress aku karena tinggal bareng serumah sama perempuan tapi ditoel pun marah."
Aih? Ada yang lebih membuatnya rumit ternyata dari masalah ekonomi.
"Perawan." Aku terkekeh geli mendengar kata itu.
Perawan yang memiliki anak.
"Iya, Bang. Kasihan aku ini, kasih paham Ceysa sih, Bang." Ia berpindah duduk di sofa panjang.
Aku berjalan ke arah nakas di sebelah brankar Izza, untuk mengambil roti dan biskuit di sana. Lalu, aku duduk menemani Hadi di sofa panjang.
"Ya nanti dikasih paham. Memang kau tak yakinin dia, kalau kau bisa ngenakin?" Aku teringat kasusnya itu seperti pemerkosaan, jadi wajar bukan jika Ceysa trauma.
"Ya mungkin karena kau kasar, terus kau pipis di dalam juga. Kan Ceysa ada bilang juga, kau itu keluar berkali-kali dalam satu permainan itu." Logikaku seperti ini sih. Ceysa takut, karena khawatir Hadi kasar seperti awal.
"Kok aku jadi mikir ke situ juga ya?" Hadi mengusap-usap dagunya.
"Ya harusnya sih memang ada pikiran ke arah situ, karena tak mungkin dia jadinya takut untuk mesum sama kau. Pasti ada pengalaman menakutkan yang kau kasih." Apalagi mereka masih sama-sama awamnya, jadi mereka tidak mengerti mana titik sensitif pasangannya. Ditambah pula, mereka jauh dari orang tua. Jadi, tidak ada yang menjadi tempat bertanya mereka. Karena tidak mungkin, jika ia bertanya dengan tetangganya perihal urusan ranjang.
"Terus, gimana masalah ekonomi kau?" Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sama aja…. Rungkad, entek-entekan. Ceysa malah ada pikiran untuk nitip Dayyan ke biyung, karena dia mau kerja aja katanya. Dia tak bisa kerja bebas, dengan Dayyan yang mulai MPASI. Aku tak mau loh Dayyan dititipkan, mana biyung masih punya anak kecil. Sulit atur waktu tuh, Bang. Aku masih kuliah, pekerjaan rumah pun aku bantu. Masalah sawit, aku bantu juga. Cuma kan kek apa ya? Laki-laki kalau tak kerja itu kek disepelekan." Hadi sampai bertopang dagu.
__ADS_1
"Kau tak mau usaha? Sekalipun kau udah wisuda, pekerjaan bakal tetap sulit didapatkan juga. Kuliah itu untuk basic kehidupan kita, karena pola pikir kita beda pastinya. Kuliah bukan untuk kerja lah, Di. Kau tak tengok, di keluarga besar kita tak ada yang kerja? Semuanya jadi pengusaha, entah usaha kecil atau besar. Coba deh minta arahan untuk usaha di bidang yang kau gemari gitu. Misalkan alat musik, ya jadi distributor alat musik, minimalnya. Karena kalau buat, kan rumit juga karena keluarga kita tak ada di bidang itu. Atau kau suka tentang seni, ada pak cek Gibran sama abi Ghava yang bakal bantu. Kau minatnya ke mana?" Karena kalau tidak sesuai minat, kata ayah kita malah buang-buang modal karena melakukannya setengah hati.
"Begitu terus saran dari dulu. Aku tak tau aku bisa apa, aku gemar di bidang apa." Hadi mengacak-acak rambutnya.
"Kok tak tau. Coba diraba kembali, tak mungkin tak tau. Kita manusia loh, pasti ada aktivitas yang lebih dominan atau kesibukan yang terus kita ulang." Seperti Izza saja, ia rutin membuat artikel di sela kesibukannya.
Maksudku begitu, tapi Hadi tidak mengerti rupanya.
"Demi Allah, aku tak condong ngapa-ngapain. Aku tak punya kegemaran, aku pun bingung sendiri ini, Bang." Hadi geleng-geleng kepala.
Sepertinya, Hadi memang belum menemukan saja. Soalnya, ia pun baru setahun lebih saja lulus SMA. Atau mungkin, karena beda orang beda pikirannya. Seumuran Hadi, aku sudah rutin bolak-balik perusahaan untuk mengurusnya.
"Ya udah, sabar aja. Kuliah aja fokus, toh Ceysa pun punya sawit. Kan sekarang aja, kalian sama-sama kan urus sawit?" Karena memaksakan seseorang itu tidak bisa.
"Iya, Bang. Cuma kan kek yang aku bilang tadi, laki-laki kalau tak kerja itu disepelekan. Ceysa aja, Hadi lagi, Hadi lagi. Mentang-mentang aku nampak nganggur di rumah, disuruh-suruh terus."
Aku tidak tahu kebenarannya di sana. Tapi di sini Hadi merasa harga dirinya terinjak, karena ia tidak bekerja.
"Intinya, kau mau minta kerja kah? Kerja paruh waktu begitu? Kau minta ke ayah aja, karena Abang pun belum dapat penghasilan dari tambak." Aku mulai memahami kebutuhan jalan keluar masalah ini.
Begini ya jadi seorang kakak?
"Iya, Bang." Benar dugaanku ternyata.
"Tapi aku tak berani ngomong ke ayah, tolonglah Abang bilangin dan obrolin ke ayah. Aku tau, Ceysa jadikan aku pesuruh itu karena dia mau manja sama aku. Tapi dia udah keterlaluan, sering marah-marah dan ngomong Hadi tuh ngapain sih, orang nganggur aja juga tapi disuruh kok gitu. Aku marahnya di situ, Bang. Tak suka aku, tapi aku merasa salah juga. Salahnya aku, yang memang dasarnya aku ini tak bisa kasih Ceysa nafkah lahir yang jelas. Karena apa coba, Bang? Kalau tak dari ayah, ya dari abu. Mereka kasih ke Ceysa dan dipegang Ceysa, aku minta aja untuk bensin dan jajan di tempat kuliah. Sawit kan program barunya Ceysa tak setiap bulan, inovasi bikin runyam sendiri." Hadi tengah mengeluarkan unek-uneknya.
"Oke, Abang bantu ngomong ke ayah." Aku menepuk pundaknya.
__ADS_1
Setidaknya, aku tidak mampu memberikan bantuan materi. Ya aku memberikan bantuan yang lain, agar aku tetap menjadi abang yang terbaik.
...****************...