
"Maksud aku, kau nyambung diajak ngobrol." Aku yang malah gagap sendiri.
"Oh ya? Abang pun asyik diajak ngobrol. Abang dulu fakultas apa?" Jessie menyodorkan semangkuk ayam serundeng di dekat piring makanku.
"Loh? Kenapa? Tak suka kah?" Aku juga yang memesan ini.
"Perut aku sensitif sama santan, kelapa. Malah kuat aja meski tak sarapan, tapi minum alkohol. Jawab dong yang tadi." Ia lanjut memakan makanannya.
"Oh, aku tak tau. Sorry ya? Bisnis, biasa. Kau sih apa?" Aku menikmati juga ayam serundeng ini.
Aku terbiasa makan banyak lauk.
"Sama juga, Bang. Selama aku vakum di sosial media karena dipenjara, nama tenar aku tetap bersih. Malahan, identitas asli aku yang tercatat buruk di kepolisian."
Ada untungnya juga ia memiliki banyak nama.
"Kau kapok tak? Apa yang kau cari? Apa yang buat kau berhenti dari jaringan hitam itu?" Aku menekankan suaraku, khawatir ada yang mendengar pembicaraan kami ini.
"Tak kapok juga sih, Bang. Ini perihal uang, siapa sih yang tak doyan uang? Orang kaya juga butuh uang kok, iya kan? Ya aku cari uang, untuk pendidikan, alat DJ, untuk penampilan aku dan yang terbesar adalah untuk urusan perut. Aku bisa makan sederhana, bisa juga makan mewah. Tapi kan beli makanan itu pakai uang, pengeluaran terbesar aku ya untuk makan karena makan itu tiap hari dan berulang. Sisanya, untuk aset dong. Aku suka perhiasan dan aku punya banyak perhiasan yang aku simpan di semacam brankar Pegadaian, ada biaya pertahun untuk sewa brankarnya ibaratnya begitu. Terus kalau ayah, ya jelas untuk menuhin kebutuhan pendidikan aku dan selalu ingin kasih yang terbaik untuk aku. Ayah pun di kampung ada lahan karet, udah mulai sejak aku masuk kuliah dan dikelola saudara di kampung. Intinya, untuk masa tua lah. Dibilang hidup mewah, tak juga loh. Karena rasanya uang itu kek panas, tak bisa lama di rekening atau di dompet. Cepat dapat, cepat habis juga. Bisa dibilang, omset sehari itu bisa sampai ratusan juta. Tapi, minuman keras aku satu malam aja itu bisa tujuh juta delapan juta. Bermerek dan ternama yang aku pakai, minum juga bukan satu dua botol. Belum rokok, sehari aku bisa empat bungkus juga. Tak jual diri pun, aku perawatan rutin juga. Karena apa? Karena aku pakai pakaian terbuka, otomatis tubuh aku pun jadi point plus untuk profesi aku."
Tidak terasa, makanan kami habis juga di tengah obrolan.
"Jadi, hidung kau tak alami?" Aku curiga dari awal sih.
"Ini alami kok, cuma memang ada tanam benang begitu. Terus, aku juga pernah operasi ambil lemak di perut. Efek minuman keras itu bikin perut buncit dan kendor gitu, karena kan kandungan gulanya tinggi." Ia memegangi perutnya.
"Oh ya? Toleransi alkohol aku buruk, aku langsung pulas cuma beberapa gelas aja. Jadi, kau masih perawan?" Aku mengagumi rupanya dari samping.
Kenapa ya aku identik dengan pertanyaan itu?
"Menurut Abang?" Ia menyeruput minumannya yang tersisa.
"Udah tak." Aku terkekeh kecil.
"Mereka yang tau background aku pada segan sama aku, aku masih virgin." Senyumnya manis sekali.
"Tapi aku tak percaya." Mustahil sekali, ia DJ club malam.
"Aku bahkan tak pernah pacaran, Bang. Mereka yang tau jaringan aku, mereka segan sama aku. Karena kami ini terkenal bengis dan tega, Bang. Tapi pas aku ngeDJ itu, aku pernah ditawar seharga mobil. Kalau orangnya muda aja, udah mau aku. Ini dia tua, bapak-bapak lah. Ya tak mau aku ini." Ia tertawa renyah.
Gila sekali pengalamannya.
"Terus, pernah ditawar sama yang muda tak? Artis, aktor atau semacamnya?" Ia cantik sekali, man. Siapa yang tidak doyan?
"Tak pernah, kalau laki-laki muda itu biasanya dekatin untuk pacarin. Karena atas nama cinta, pasti perempuan dituntut untuk berhubungan suami istri. Aku sih tak mau rugi, Bang. Mungkin karena darah minang kan? Jadi apa-apa, aku pakai perhitungan semua." Ia menjelaskan lirih dan menepuk pangkuanku.
"Tapi aneh sih, agak tak percaya gitu." Aku meliriknya sekilas.
"Masa? Jadi Abang pengen manipulasi aku kah dengan kata-kata itu? Biar aku bilang, coba aja kalau tak percaya."
Kok pikirannya sejauh itu?
"Tak lagi, aku tak gila s**s." Kecuali untuk Bunga, aku terkadang ingin sekali membombardirnya.
Tapi tentu aku tidak akan berani merusak adikku sendiri. Aku sayang padanya, seperti aku sayang adik-adikku yang lain.
"Aku tak bohong, boleh bawa aku test. Aku masih V, terpegang laki-laki di club malam sih memang sering. Karena pada mabuk kan mereka? Jadi kadang pinggang kepegang, bahu dirangkul. Dengan keadaan rumah tangga orang tua aku begitu, aku itu takut nikah dan dapat ujian yang sama. Yaitu, kelilit hutang. Ngeri memang dunia komitmen itu, agak takut aku sama laki-laki tuh gitu. Mana aku bakal dihamili lagi, karena istri kan memang wajarnya dihamili suaminya. Ah, entahlah. Otak aku dari dulu duit aja, tak pernah tentang laki-laki. Soalnya kan club tempat aku kerja itu kek kalangan menengah aja sih, jadi pengunjungnya pun paling pekerja pabrik dan mereka yang transaksi barang. Tak pernah juga aku ketemu laki-laki royal, ada kenalan itu mereka kek maunya ke kostan gitu. Udah ketebak sih aku, kalau mereka ini butuh selang*****n gratis atas nama cinta. Lagian apa fungsi mereka gitu kan? Duit? Aku bisa cari sendiri. Makanya aku sering bilang ke Abang, split bill kah, atau aku yang bayar. Karena aku tak mau merasa punya hutang budi ke Abang, karena udah bayarin makanan aku. Karena pemikiran orang kota itu, tidak ada makanan yang gratis, jadi kek barter sama diri kita lah gitu. Aku ke Abang kan memang butuh teman, butuh ngobrol. Kenapa aku milihnya laki-laki? Karena anak perempuan di sini pasti astagfirullah lihat aku merokok. Aku ngebaca tentang lingkungan di sini sih, Bang." Jessie bersandar di lenganku.
__ADS_1
Logikanya berjalan di tengah kehidupan kota. Aku jadi teringat ucapan ayah, bahwa perempuan mandiri tidak butuh laki-laki.
"Aku punya teman perempuan yang gaulnya kek kau juga kok, aku udah biasa lihat perempuan merokok." Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Mungkin di Singapore ya?" Ia membereskan tasnya.
"Tak kok, di sini. Di Singapore aku tak punya teman perempuan, paling cuma kenal nama aja karena satu kampus. Aku orangnya sulit bergaul, apalagi kalau orangnya yang tak duluin." Di sini pun, teman ke mana-manaku hanyalah Izza selain saudara atau sepupuku. Dari dulu, aku liburan, bepergian atau jalan-jalan ya dengan Izza saja. Dia sudah cukup untukku, untuk menjadi kekasihku dan temanku. Jadi, aku tidak mencari teman lain.
"Hah? Serius? Siapa dia?"
Aku tidak berniat memberitahunya. "Nanti pun kau tau sendiri." Aku mengulas senyum untuknya.
"Oke lah, aku yakin kok pasti dikenalkan ke teman-teman Abang yang lain." Percaya dirinya keren.
"Biar apa?" Aku tertawa renyah.
"Yaaa, tak tau." Ia menyambungi tawaku.
"Eh, coba lihat sosial media kau." Aku menunjuk ponselnya.
Ia mengangguk, kemudian satu akun sosial media centang biru ditunjukkan padaku. Keren, sudah centang biru.
Alamak, gerahnya aku melihat style pakaiannya di sana. Warna rambutnya pun seperti kembang gula, berganti warna tidak satu warna saja.
"Nanti aku hapusin kok." Ia tertawa lepas. "Malu sendiri aku tengok Abang merhatiin sampai segitunya." Ia menepuk-nepuk lengan atasku.
Ia suka sekali mengusap bicepsku di situ.
"Aku jadi pengen minta foto t*******g kau, Dek." Aku gemas sekali melihat pusarnya ke mana-mana, mana ada permata di tengah sana.
"Ceileh." Ia tertawa kembali.
"Astaghfirullah, Abang." Kepalanya menjauhiku dan matanya membulat.
"Ehh…." Aku menutup mulutku sendiri.
"Eh, gila. Baru tau aku ternyata Abang pun tukang bully juga, mulutnya tajam-tajam asoy." Ia sampai geleng-geleng kepala.
Aku merangkulnya dan menjepit lehernya. "Coba ceritain tutorial pakai baju itu." Aku penasaran sekali dengan konsep baju tanpa wadah dada itu.
"Ada wadahnya juga, jadi dia silikon dan bisa nempel di kulit dada. Warnanya pun kek kulit, tapi gerah sih kata aku." Ia mengslide foto selanjutnya.
Aduh, aduh, sudah tegang saja Chandra kecil. Memang paling benar cari yang rumahan saja, karena aku n*******n.
"Sekarang warna rambut kau apa?" Aku memperhatikan warna kerudungnya yang berwarna seperti coklat muda itu.
"Sekarang baru dibleaching, rencana mau warna abu-abu gitu." Ia melirikku sekilas.
"Eh, aku jadi pengen t********in kau lagi." Aku bertopang dagu memandangnya dari samping.
"Ngeri, Abang jadinya cabul gitu. Apa memang Abang orangnya mesum ya?"
Astaghfirullah, bicara apa tadi aku? Sepertinya sudah bahaya, jika lebih lama bertahan di saung ini. Tempatnya malah mendukung untuk bermesuman, gilanya lagi aku jadi ingin melakukannya.
"Aku laki-laki baik-baik, tanpa ingin buat kau takut. Maaf ya?" Aku memasukkan ponselku ke saku. "Yuk siap-siap, kita cari taman atau tempat ngopi asyik." Aku bangun lebih dulu.
"Abang tak apa? Serius?" Ia masih duduk dan mendongak memandang wajahku.
__ADS_1
"Tak apa kok, memangnya kenapa?" Aku memakai jaketku kembali.
"Matanya agak merah gitu, barangkali memang lagi tak enak pandangannya." Ia bangkit dari duduknya dan mengenakan tasnya.
"Aku n****." Aku berjalan meninggalkannya lebih dulu.
Entah apa yang ia pikirkan sekarang, karena aku rasanya sudah kesemutan semua. Aku ingin sekali melahapnya, apalagi mendengarnya perawan. Bukan aku haus perawan, tapi aku butuh penyaluran di tempat yang bersih.
"Aku yang bayar, Bang. Abang ke motor aja dulu." Jessie mendahuluiku ke kasir.
Sudah dua kali ia membayar makanan kami, ia bukan perempuan yang ingin uangku saja sepertinya.
Aku menunggunya di parkiran, dengan otak yang travelling membayangkan lekuk tubuhnya di balik kemeja yang selalu kebesaran itu. Pakaiannya selalu sopan di sini, bahkan ketika aku lewat di depan rumahnya dan melihatnya sedang membersihkan halaman rumah, ia menggunakan pakaian sehari-hari yang sopan di mata. Aku jadi ingin tahu isinya, karena pakaiannya tidak menjiplak seperti Bunga.
Pikiranku seliar ini membayangkannya.
"Aku yang bawa motor deh, pikiran Abang keknya belum jernih." Ia sudah sampai di hadapanku.
"Pulang aja deh keknya." Milikku kesakitan terjepit di dalam celana.
"Serius? Kita belum lama loh di luar, biasanya Abang punya tujuan lain. Ke mana gitu? Kek biasanya, aku temani."
Karena biasanya aku sekalian membayar pupuk, atau membeli obat untuk tanaman.
"Ke OYO, mau?" Mungkin wajahku penuh harap sekarang.
Aku tidak bisa melupakan pusarnya yang memiliki permata, pinggangnya yang begitu kecil dan ramping dan juga bahunya yang mulus seksi. Jiwa jantanku rasanya ingin menggaulinya, seumur menduda aku baru ingin menggunakan perempuan lagi.
"Abang apa sih?" Ia menepuk bicepsku lagi dan tertawa geli.
"Pulang aja ya? Aku anterin sampai depan rumah, kek biasa. Nanti aku ngomong sama ibu aku, tentang kau yang mau belajar ngaji." Sorot mataku dalam mengarah padanya.
"Ya udah deh, oke. Maaf ya udah buat mata Abang jadi merah gitu." Ia mengusap bicepsku lagi.
"Tak apa, aku yang gatal keknya." Aku mengusap hidungku dan naik ke motorku.
Aku harus lebih bisa jaga jarak dengannya. Dalam perjalanan pun, aku sangat hati-hati sekali dalam mengerem. Karena punggungku mendapat hinggapan sesuatu, jika mengerem mendadak.
Akhirnya sampai di depan rumahnya juga. "Maaf ya tak jajan yang lain, nanti kapan-kapan aku bawa makanan untuk orang rumah." Aku membantunya turun dari motorku.
"Tak apa, Abang. Aku yang malah datang dan butuh teman kok." Ia tersenyum manis.
"Pulang dulu ya? Nanti aku kabari." Aku mengulas senyum sebelum menarik gas motorku lagi.
Masih tegang saja si Chandra kecil. Aku langsung menuju ke kamar mandi, kemudian mengurutnya cepat menggunakan sabun mandi agar licin saja. Aku tidak bisa bernapas dengan lega, sampai benda ini lemas kembali.
Benar-benar lemah, karena aku langsung bisa keluar dan membuang benihku ke dalam kloset. Maafkan ayah ya, nak. Ayah belum bisa menaruhmu di rahim seseorang.
Aku membasahi wajah dan rambutku setelah selesai bekerja di dalam kamar mandi. Lututku lemas sekali jika baru keluar begini, aku tahu ayah dan biyung memperhatikanku tapi aku bersikap masa bodoh saja, karena rasa nyaman dan kantukku langsung datang setelah pelepasan. Tanpa pikir panjang, aku langsung merebahkan tubuhku di atas karpet, di depan orang tuaku yang tengah bercengkrama sembari menonton televisi.
Mataku sudah berat untuk mengobrol dan mengatakan bahwa Jessie ingin belajar mengaji di sini. Aku terlampau letih, hanya untuk berbicara saja.
Aku paham, Jessie tidak begitu tertarik padaku. Ia hanya butuh teman, karena ia tidak punya teman. Namun, aku malah tertarik dengan dirinya.
Aku ingin dirinya menjadi tempat pelepasanku, tapi aku belum mau memiliki komitmen dengan siapapun. Ditambah lagi, masa lalunya terlampau bertolak belakang denganku. Jika aku memulai komitmen hanya karena aku butuh pelepasan, terkesan aku ini begitu jahat padanya.
Terlepas dari siapapun dia dan backgroundnya, dia adalah perempuan yang akan menjadi seorang ibu juga. Dia pun seorang manusia, yang jelas memiliki hati. Aku tidak mungkin memanfaatkannya, layaknya manusia tak berhati. Karena jika semuanya terungkap, aku akan menjadi penyebab trauma di ceritanya.
__ADS_1
Harus bagaimana selanjutnya aku bertemu dengannya? Aku takut mulutku dan bahasa tubuhku tidak bisa terkontrol lagi karena hal ini.
...****************...