Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA260. Pangling


__ADS_3

Gangguan Jessie yang datang di kehidupan Nahda lewat sosial media, aku putus lewat pemblokiran karena Nahda selalu manyun. Bayangkan saja, sampai satu bulan gangguan itu berlangsung. Awalnya, aku kira sudah habis gangguan itu. Manyunnya Nahda pun, aku pikir karena moodnya yang tengah buruk. Sampai akhirnya aku bergerak mengecek ponselnya, kemudian aku menemukan fakta mengejutkan itu. 


Aku tidak yakin, jika Jessie akan berhenti di sini. Tapi aku usahakan, agar Nahda tidak mendapatkan gangguan darinya lagi.


"Abang, ada pacar Bunga nunggu di depan." Nahda masuk ke dalam rumah, dengan menenteng seplastik kerupuk. 


"Adek dari mana?" Aku baru selesai mandi sore. 


"Dari rumah biyung, minta kriuk-kriuk. Dikasih ayah ini, karena tak ada keripik. Aku mau makan duluan ya? Laper banget." Nahda berjalan ke ruangan lain. 


Aku merapikan rambutku dengan tangan, kemudian menutup kembali pintu rumah. Benar, ada laki-laki berbadan segar yang duduk di teras membelakangi pintu rumahku. 


"Hema kah itu?" Aku seperti melihat orang lain, karena tubuhnya tidak cungkring lagi. 


Sebulan lebih, badannya bisa berisi seperti itu. Ya memang belum segagah aku, tapi memang jauh lebih baik dari berat badannya kemarin. 


"Iya, Bang." Ia menoleh dan memamerkan giginya yang kuning karena kopi dan rokok itu. 


"Gila kau, jadi tak jelek betul kau sekarang." Aku pangling melihatnya. 


Ia manis, cukup menawan saat pipinya tidak kempot lagi. Jika kulit, memang masih hitam manis. Tapi kulitnya terlihat lebih sehat, tidak kering lagi. 

__ADS_1


"Iya dong, makanya Bunga nyiumin terus." Ia menj*l*rkan ujung lidahnya, dengan tertawa kecil. 


Damage sekali ia begini saja. Bahkan, aku yang laki-laki pun sampai mengakuinya. Semacam menarik loh, aura wajahnya pun seperti lebih menawan. 


"Wah, jangan-jangan nih." Aku duduk di sampingnya dan menunjuknya dengan tersenyum miring. 


"Ya benar apa yang dibilang ayah Ken, jalan keluarnya nikah itu."


Ambigu. Apa tuduhanku itu, mengarah ke sesuatu yang ia maksudkan seperti hal yang mesum? Padahal aku hanya menuduh kosong. 


"Kau serius? Di penginapan nenek aku?" Aku berpikir, tentang mereka tidur bersama. 


Aku masih gagal fokus. Aku yang pengantin baru, dia yang main hotel terus. Aku jadi ingin main ke hotel juga. Malam minggu nanti, mungkin aku libur futsal saja dan cari hotel dengan Nahda di kota. Aku ingin tahu juga sensasi bermain di hotel. 


"Untuk bawaan nikahan kalian?" tanyaku kemudian. 


"Heem, Bang. Sebenarnya sih aku pengen bawa Bunga setelah nikah ke Bekasi, tapi keluarga Bunga minta isi kamar. Aku tuh mikir juga, Bang. Isi kamar tuh, mau di taruh di mana? Rumah aja, kita belum punya. Sebenarnya, dari tabungan hasil pembagian waris itu, ya aku mampu belikan rumah. Tapi aku mikirnya, kehidupan setelah nikah itu lebih beresiko, karena pas nikahan aku pengeluaran besar-besaran. Sekalipun pabrik masih produksi, yang artinya aku masih tetap punya penghasilan, tapi keknya aku pernah menstabilkan dan memikirkan dari sekarang. Jangan sampai, rumah udah siap, tapi untuk makan setelah pernikahan, aku yang kalang kabut nyarinya. Paham tak pemikiran aku ini, Bang?" Hema memandangku. 


Beda satu tahun denganku, tapi pemikirannya seluas ini. 


"Paham kok, kau benar." Aku manggut-manggut. 

__ADS_1


"Tapi ya udahlah, kapan lagi kan memuliakan anak perempuan orang? Biar nanti anak perempuan aku pun dimuliakan oleh laki-laki yang nantinya jadi suaminya." Hema memeluk lututnya dan memandang lurus ke depan. 


"Rumah yang di depannya rumah pupuk aku, itu dikontrakkan, Hem. Katanya sih pemiliknya masih kakak beradik sama yang punya rumah pupuk aku itu, cuma kan itu cuma satu petak aja, karena memang itu rumah singgah di ladang sebelumnya." Ukuran bangunan tersebut jelas lebih kecil, hanya terasnya saja yang lebar untuk ngadem para petani. 


Kalau tidak salah, hanya ada satu ruangan, satu kamar mandi dan dapur kecil katanya. Aku tidak pernah masuk, karena memang aku membutuhkan rumah berukuran cukup besar untuk penyimpanan pupuk. Saat ditawarkan rumah itu, jelas aku langsung menolak di awal sebelum melihat bagian dalamnya. 


"Ya isi kamar pun sederhana juga sih, Bang. Ranjang, kasur, bantalnya juga. Terus katanya minta lemari gandeng empat, buat pakaian aku sama Bunga katanya bareng satu lemari besar itu aja. Terus katanya harus ada meja rias dan satu sofa panjang. Aku ada inisiatif untuk bawa TV, mesin cuci, magicom, kulkas, kompor dan alat dapur beberapa aja. Biar nanti misalkan aku bisa beli rumah sederhana setelah menikah dan setelah stabil kembali keuangannya, pas pindahan tuh kita tak perlu beli barang-barang lagi. Jadi bisa melanjutkan hidup lah istilahnya, tanpa terbentur tak punya barang-barang di rumah baru. Jadi biayanya bisa untuk makan sehari-hari, tak terbagi-bagi untuk beli barang-barang rumah tangga juga. Kalau misalkan harus ngontrak, ya kan bisa juga tuh. Soalnya aku baru tau silsilah sebenarnya juga, tentang siapa Bunga. Ternyata dia ini bukan siapa-siapanya keluarga ini ya, Bang? Kakeknya Nahda, sama nenek dan kakek Abang itu teman baik aja. Dibilang saudara, kan bukan juga? Kerabat, ya jauh sekali. Aku yakin, Bang Chandra sih pasti tak keberatan dengan kami yang nantinya menempati rumah warisan itu. Tapi khawatirnya, adik ayah, atau cucu yang lain mempermasalahkan. Jadi, aku sadar diri dari sekarang gitu kan? Biar nanti, aku ini tidak terkesan ngelunjak." Hema menggerakan tangannya sebagai isyarat ucapannya. 


"Ada budi baik, di masing-masing hubungan pertemanan ini. Ayah aku, dititipin ke kakeknya Bunga dulunya. Nenek aku janda dulunya, kerja cari nafkah, jadi ayah terlantar kasarnya. Yang ngasuh sih memang baby sitter, tapi kan yang gaji mereka kakeknya Bunga, tinggal pun di rumah kakeknya Bunga. Datang kakek, teman sekolahnya kakeknya Bunga, dikenalin sama nenek, terus jadi mereka sampai ke akhirat. Ya memang tak ada hubungan saudara atau kekerabatan, tapi ada budi baik di sana. Orang yang menolong kita di saat kita susah itu, budinya luar biasa, Hem. Orang yang kasih kita pinjam uang di saat kita benar-benar tak punya apapun pun, pahala mereka luar biasa besarnya. Makanya kenapa ayah beranggapan, anak mereka, anak kita juga. Kita sama-sama besarkan, karena ayah pun dulu sama-sama dibesarkan mereka. Kalau memang benar-benar pengen keluar dari rumah itu, karena alasan tak enak. Ya lebih baik ambil kamar di penginapan, yang paling dekat dengan security tuh. Kau tak usah bayar biaya perbulan, nanti aku sampaikan ke ayah. Biar sekarang, fokus kau ke nikahan dulu, sisain untuk makan setelah nikahan. Barulah stabil, pikiran rumah dan lain-lain." Ia harus tahu secuil sejarah, karena ia akan menjadi bagian dari kami. 


Aku merasa, Hema bukan seperti bang Vano. 


"Sekarang aja aku lepasin pendidikan aku, Bang." Ia menoleh ke arahku dan tersenyum kaku. 


Hah? Jadi Hema sudah tidak kuliah? 


"Kenapa sih? Satunya psikiater, satunya psikolog, kan hebat tuh." Aku mengacungkan kedua jempolku. 


Ada kerumitan apa nih, Hema sampai mengorbankan pendidikannya? Apa pengobatannya harus fokus lagi? Atau biaya yang menjadi salah satu penyebabnya? Tapi Hema ini memiliki warisan, belum stabil, bukan berarti harus melepaskan pendidikannya kembali. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2