Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA266. Praktek dokter kandungan


__ADS_3

"Nikah sudah dua bulan lebih, Dok," jawab Nahda, saat tangan dokter menggerakkan alat USG di atas perut bawah Nahda. 


"Hmmm…." Dokter terdiam dan manggut-manggut saja. 


Kenapa mulutnya tak segera mengatakan bahwa ada bayi di rahim Nahda? 


"Mari, Saya jelaskan." Dokter tersebut meninggalkan ruang USG, dengan memberikan Nahda beberapa lembar tisu. 


Aku membantu Nahda membersihkan perutnya dari gel tersebut, kemudian aku memegangi tangannya saat ia mencoba turun dari brankar periksa. Aku teringat saat aku menemani Izza di ruangan seperti ini, rasanya aku takut terjadi apa-apa pada Nahda karena dokter tak mengatakan bahwa Nahda tengah hamil. 


"Silahkan, Bu, Pak." Dokter perempuan tersebut tersenyum ramah. 


Tidak ada asistennya di sini. 


"Apa Saya hamil, Dok?" Nahda duduk di kursi yang aku tarik sedikit untuk aksesnya. 


"Nikah baru dua bulan lebih. Lalu, haid terakhirnya kapan?" Dokter tersebut menulis sesuatu pada sebuah map. 


Sepertinya, ia tengah membuat rekam medis untuk Nahda. 


"Haid terakhir, setelah seminggu menikah kalau tidak salah." Nahda lagi yang menjawab. 


"Berarti, sudah dua bulan belum haid ya?" Dokter tersebut memandangku dan Nahda dengan tersenyum. 


"Betul, Dok," sahutku kemudian. 


"Baik…." Dokter tersebut menutup map tersebut. 


"Ibu Nahda belum hamil. Dugaan Saya, Ibu Nahda tengah merasakan honeymoon blues. Ibu Nahda terlalu banyak berpikir buruk, membuat kondisi Ibu stress sendiri. Ada perasaan sedih dan khawatir yang membebani Ibu khususnya dan pasangan, karena harus kembali ke rutinitas pekerjaan sebelumnya. Akhirnya karena perasaan sedih dan khawatir dihantui rutinitas sehari-hari, kemesraan dan kebahagiaan Anda dengan pasanganpun menjadi berkurang. Kondisi ini bisa jadi serupa dengan perasaan lelah yang dirasakan setelah liburan dan kembali ke kehidupan nyata, bukan tak mungkin situasi ini akhinya menyebabkan Ibu Nahda mengalami stress yang kemudian berdampak terhadap siklus haid. Bisa jadi, Ibu Nahda juga mengalami stress karena tinggal di lingkungan baru. Contohnya, ikut dengan mertua misalnya." Dokter perempuan tersebut tersenyum simpul. "Kalau dari penggunaan alat kontrasepsi, sepertinya tidak ya, Bu?"


Nahda mengangguk samar. 


"Lalu…. Mungkin ada terjadinya kenaikan berat badan. Sebelum menikah, berat badan Ibu Nahda berapa? Boleh ditimbang lagi sekarang." Dokter perempuan tersebut bangkit dan mengajak Nahda ke sudut ruangan. 


Ada timbangan badan digital di sana. 


"Sebelum menikah, keknya enam puluh lima." Nahda mengikuti dokter perempuan tersebut. 


Ia tinggi, beratnya segitu pun tidak terlihat bulet seperti biyung. 


"Sekarang tujuh puluh dua." Dokter tersebut memasang senyum lebar sekali, pasti ia ingin tertawa sebetulnya. 

__ADS_1


"Alhamdulillah, bahagia ya, Bu Nahda? Tingginya berapa, Bu?" Dokter tersebut duduk di tempatnya kembali. 


Istriku berat juga ternyata. Aku tujuh puluh lima, dengan masa otot juga tentunya. 


"Tinggi badan seratus tujuh puluh satu, Dok." Nahda tersenyum dan duduk di sampingku kembali. 


"Nah, jika peningkatan berat badan terjadi secara signifikan, menstruasi bisa menjadi tidak teratur. Ini bisa terjadi karena tumpukan lemak di tubuh memengaruhi produksi hormon estrogen dalam tubuh, wanita yang memiliki tumpukan lemak yang banyak cenderung memiliki hormon estrogen yang tinggi. Peningkatan kadar hormon estrogen inilah yang pada akhirnya memicu siklus haid menjadi tidak teratur. Begitu, Bu," jelas dokter tersebut dengan ramahnya. 


"Tapi Saya merasa tidak memiliki tumpukan lemak. Perut Saya saja tidak berlipat." Nahda mencubit perutnya sendiri. 


Lucunya istri ini. 


"Maaf ya, Ibu. PD perempuan saja, itu terdiri dari tumpukan lemak. Paha, part belakang, p*****l, itu isinya lemak dan masa otot. Punggung yang ramping aja, itu ada lemaknya kok. Apalagi proporsi tubuh Ibu Nahda terbilang tinggi, jadi ada lemaknya pun tak terlihat." Dokter tersebut mengatakan dengan tersenyum.


Pasti ia takut Nahda tersinggung. Heran juga, Nahda merasa kurus saja. Tidak tahu apa, jika part belakangnya lebar dan tinggi. Jika dalam posisi d**** saja, cukup kesulitan kalau tidak dibuka atau tidak menuk** sekali. 


"Tapi Saya tidak gendut." Pernyataan Nahda memaksa sekali. 


"Saya menjelaskan pun, tidak mengatakan bahwa Ibu gendut. Hanya saja, mungkin kadar lemak itu berlebih. Ibu bisa mengakali dengan olahraga, agar tergantikan dengan masa otot. Olahraga pun, bisa membuat menstruasi lebih teratur."


"Beda, Dek. Gendut sama kadar lemak berlebihan tuh." Aku mencolek lengan Nahda. 


Nahda menoleh, ia sudah manyun saja. "Beda apanya?" ketus Nahda tak pakai ampun. 


Bugghhhh, Nahda langsung memukul dadaku pelan. 


"Makanya kalau olahraga jangan sendiri aja!" Ibu Nahda ini langsung ngegas poll. 


"Iya, iya, iya." Aku mengalah, karena tidak enak ribut di depan dokter. 


"Baik, Saya resepkan beberapa vitamin dan pelancar haidnya." Dokter tersebut menuliskan sesuatu di secarik kertas. 


"Ini, Bu, Pak. Bisa ditebus di depan, silahkan. Terimakasih." Dokter tersebut mengusir secara halus rupanya. 


"Baik, Dok. Terimakasih kembali." Aku mengambil resep tersebut, kemudian mengajak Nahda keluar dari ruangan dokter tersebut. 


"Aku tak gendut!" Nahda menginjak keras lantai praktek dokter ini. 


Ya Allah. 


"Iya, Sayang. Tinggi, kurus, kek Ceysa." Aku merangkulnya, berharap agar emosinya cepat redam. 

__ADS_1


"Dilihat dari mana coba gendut tuh?!" Mulutnya masih mengomel saja. 


"Dari part belakang sih sebenarnya." Aku mencoba menghiburnya. 


Aku harap ia bangga memiliki kelebihan di situ. 


"Abang sering nimpukin, gaplokin, pegang-pegang, mainin, kan jadinya besar."


Astaghfirullah. 


"Tangan kau sering aku genggam tak besar pun!" Kan emosi aku jadinya. 


"Apanih?! Aku, aku! Kau, kau!" Nahda mencubit bibirku. Namun, bibirnya yang mewek-mewek. 


Ia tidak begini awalnya, ia tidak drama dan tidak cengeng. Istriku tidak hamil, tapi moodnya seperti ibu hamil. 


Argghhh….


"Iya, Adek Nahda. Maaf ya?" Sensitif sekali istriku ini, aku jadi merasa bersalah. 


"Aku tak gendut, aku sakit hati dibilang lemakku berlebih." Ia masih membuka unek-uneknya, saat aku membukakan pintu mobil untuknya. 


"Iya, maafin dokternya ya?" Aku mengatakan hal itu, sebelum menutup pintu kembali. 


"Kenapa begitu? Abang memang siapanya dokternya? Kenapa sampai harus Abang yang minta maaf?" Nahda menahan pintu mobil saat aku hendak menutupnya. 


"Bentar, bentar." Aku akan mengajaknya berdebat di dalam mobil saja. 


Aku segera menutup pintu mobil, kemudian berjalan memutar. Aku segera masuk dan duduk di ruang kemudi. Aku mengusahakan keluar parkiran tempat praktek dokter dahulu, sebelum meladeni Nahda ini. 


"Mantannya kan?!" Tuduhan Nahda memaksa sekali. 


"Bukan, Dek. Mantan Abang cuma almarhumah." Sebenarnya kepalaku sudah ingin meledak. 


Kesabaranku tidak seluas ayah. 


"Sih minta maaf atas nama dia segala??!" Ia melirik sinis. 


Aku menepikan kendaraanku, tak lupa menarik rem tangan juga. Aku mengatur napasku, kemudian memperhatikan sekitar. 


Kok fokusku berubah melihat jalanan sepi? 

__ADS_1


Aduh, melihat istri semakin manyun. Aku malah lebih ingin membombardirnya, ketimbang mengajaknya berdebat. 


...****************...


__ADS_2