
"Sama aku aja yuk, Biyung?" Aku menghampiri biyung di kamarnya.
Aku mencoba menengahi istri ayah yang ingin dimanja ini, kasihan ayah tengah rumit sendiri.
"Tak mau!" Biyung persis seperti adik-adik perempuanku.
"Jangan gitu lah, Biyung. Ayah lagi pusing sama kerjaannya." Aku mencoba membawa ibuku ini dalam pelukanku.
"Bang, istri tuh tak punya teman lain selain suami. Kalau suami sih, udah rumah tangga tuh masih punya banyak teman. Istri sih gak bisa, Bang. Bayangin aja, keluar rumah aja harus izin." Biyung malah curhat.
"Ya makanya aku temani." Padahal minimarket dekat juga, ampun mereka ini.
"Tak mau!" Biyung melepaskan tanganku di bahunya, kemudian ia masuk ke kamar mandi.
Aku hanya bisa ngelus dada, ternyata watak biyung bisa jadi menyebalkan sekali juga. Pantas saja ayah kena darah tinggi, pemicunya istrinya sendiri soalnya.
"Mana Cendol?" Ayah memasuki kamar.
Wajahnya sudah lebih rileks, sudah cengar-cengir menyebalkan. Bagaimana caranya ayah memanage pikirannya?
"Tuh." Aku menunjuk pintu kamar mandi.
"Cendol…. Sini kau, ayo kita berantem." Ayah menahan tawa.
"Tadi pusing, sekarang cengar-cengir." Aku geleng-geleng kepala melihat ayah, aku hendak melangkah keluar kamar ayah.
"Daripada tambah pusing, lebih baik ladenin biyung kau." Ayah berjalan ke arah kamar mandi.
Takut ada suara cepak-cepak jeder, kan aku yang malu sendiri.
"MAS! Sana tuh, lagi pipis!" Seru biyung terdengar lepas, kala aku menutup pintu kamar mereka.
"Ayo kita berantem. Hmm, lawan nih jagoannya Dindul." Suara menantang ayah terdengar sombong dan berani.
Dindul adalah plesetan nama nenek Dinda, ayah mengaku dirinya adalah jagoannya nenek.
Jadi begitu ya kalau tengah pusing? Aku bisa tidak ya menghilangkan rasa pusing, dengan menikmati permainan seperti ayah. Aku jadi teringat permasalahanku dengan Izza, aku sampai menitipkannya pada pamannya karena aku tidak bisa menyelesaikan masalah.
Aku sadar sekarang, ternyata aku masih seperti anak-anak untuk mengayomi sebuah hubungan. Aku terlalu kalap, untuk menyelesaikan masalah.
Aku bersiap untuk mengganti pakaianku, meski naik mobil tapi udara tetap terasa dingin. Aku melapisi kaosku dengan hoodie, agar ketika aku merasa gerah aku bisa melepasnya.
__ADS_1
Jemput om Vendra dengan keluarga, mobil pink pastinya tak muat. Zio ada di rumah tidak ya? Aku ingin meminjam mobil yang ia pakai saja.
Namun, yang membuka pintu adalah adik ipar. Duh, canggung rasanya karena memang jarang bertegur sapa apalagi mengobrol.
"Zio ada?" Aku memperhatikan sekilas wajah istri Zio, cukup cantik tapi minim senyum ramah.
Seperti Ra, urat wajahnya masam.
"Berangkat, Bang. Antar rombongan ke Banda Aceh katanya." Istrinya Zio tetap menahan pintu rumahnya, agar tidak semuanya terbuka.
Apa ia takut aku menerobos masuk?
"Ohh, bawa mobil silver kah?" Mobil yang sering dipakai Zio adalah mobil ayah juga, tapi sudah seperti dihakin oleh Zio. Ayah yang malah mengalah menggunakan mobil biyung, sejak mobil dinas ayah rusak karena ledakan rumah kak Jasmine itu.
"Iya, Bang. Mobil travel udah ada sopirnya semua soalnya."
Aku mengangguk mengerti atas jawaban istrinya Zio. Aku lupa namanya, adakah yang masih ingat namanya?
Aku hendak berbalik, tapi pintu sedikit terdorong karena istrinya Zio mengambil sapu. Dari ekor mataku, aku melihat banyaknya baju menggunung di ruang tamu Zio. Jadi, itu yang disembunyikan?
Resikonya begitu ya istri kerja? Ditambah lagi istrinya Zio ingin memiliki hubungan baik dengan mertuanya, ia sampai bela-bela membantu biyung melipat baju, sedangkan bajunya sendiri seperti urab sayur hijau.
Istri anteng di rumah seperti Izza, rumah dan keperluan lain beres. Namun, ada saja masalahnya. Rupanya benar, jika perempuan itu bengkok semua.
"Pinjam mobil, Yah." Aku memasukkan tanganku ke kantong hoodie.
"Ke papa sana, papa kau malam ada di rumah terus." Ayah membukakan pagar untuk biyung.
Pasangan heboh, ke minimarket saja bertarung dulu.
"Ya, Yah." Aku melangkah ke arah pintu samping.
Papa Ghifar tahu belum ya, jika ayah pernah merusak istrinya? Tapi rasanya tak mungkin tahu, apalagi kan status mama Aca sudah janda ketika menikah dengan papa Ghifar. Pastinya, masa lalu mama Aca tidak pernah diungkit lagi.
"Hai, Kirei. Malam-malam masih main aja?" Ada Kirei dan Elzan di halaman rumah papa Ghifar.
Elzan berkulit cerah sepertiku, ia mirip nenek Dinda, tapi hidungnya cukup besar seperti kakek Adi. Ezza berkulit hitam manis, dengan postur tulang yang lebih lebar di usianya. Ada yang menyebutkan, jika model tulangnya seperti burung dara. Tapi dia anak normal, perbedaan itu pun tidak terlihat jelas.
"Adek lepas aja, Bang. Habis ngaji ke biyung, tak mau-mau pulang." Kirei mengejar Elzan yang naik ke teras rumah papa Ghifar.
"Panggil ibu gih, Elzan ditemani Abang dulu." Aku naik ke atas teras rumah papa Ghifar juga.
__ADS_1
"Jagain ya, Bang? Aku panggil ibu dulu." Kirei berlari dengan memeluk kitab sucinya.
"Oke siap." Aku menangkap anak bertelinga tebal ini.
Elzan tidak tuli, tapi tidak mau dengar. Anak usia lima tahun itu badung sekali, tidak pernah mau nurut dan tidak mau diatur.
"Masuk kau! Abang masak ya kau?!" Aku langsung mengangkat anak yang gerakannya licin seperti belut ini.
Ia tergelak lepas, bukannya takut padaku karena aku mengancamnya. Memang tidak ada takutnya, aku jadi ingat kecilnya Ra. Tangannya pun ringan seperti Ra, apapun dilemparkan atau dipukulkan dikira tidak sakit.
"Turun, Abang!" Ia masih tertawa lepas.
Aku menggendongnya seperti karung beras di bahuku.
"Pa…. Papa Ghifar." Aku memasuki rumah ini.
"Hmm, apa?"
Kirain orangnya di lantai atas. Ternyata orangnya di tangga, tengah mengamati istrinya yang tengah masak di dapur. Dapurnya sebelah tangga akses lantai atas.
"Ngapain, Pa?" Aku seperti membawa ular piton dalam karung, karena malah melilit leherku.
"Nungguin makanan, lapar." Wajah papa Ghifar begitu memelas.
Mama Aca terkekeh kecil. "Maaf, Pa. Ngantuk betul sore tadi, jadi lupa masak." Mama Aca terlihat begitu sibuk.
"Pa, minjem mobil. Mau jemput rombongan keluarganya om Vendra, mau liburan di sini." Aku menurunkan Elzan.
Anak itu langsung cosplay jadi gangsing.
"Ada kasus kah?" Papa Ghifar merogoh saku celana trainingnya.
"Liburan aja sih." Aku duduk di anak tangga juga.
"Nih kuncinya, Bang. Bawa parkir di halaman kau aja malam nanti, jangan langsung dibalikin malam-malam ketok-ketok Papa. Papa kalau udah bangun, susah tidur laginya tuh." Papa bertopang dagu memperhatikan Elzan yang kepo tentang barang-barang yang ada di sini.
"Lama tak dikeluarkan soalnya, Bang," sindir mama Aca dengan melirik papa Ghifar dan menahan senyum geli.
Jadi dia perempuan yang ayah rusak? Istri dari adiknya sendiri, tapi hubungan antar ipar di mereka terlihat aman dan baik-baik saja. Seolah satu sama lain, sudah melupakan hal itu dan berdamai dengan kejadian itu.
Bagaimana marahnya papa Ghifar pada ayah, karena kekasihnya diperkosa ayah, ditambah istrinya dirusak ayah. Ayah kimiawi sekali hawanya, pada keluarga sendiri pun dirinya sudah seperti toxic. Aku bukan tidak menganggap ayahku terbaik, hanya tidak percaya saja bahwa panutanku pensiun iblis.
__ADS_1
...****************...