
"Kenapa sih dari di rumah tadi banyak diam? Kita lagi liburan loh, Dek." Chandra membebaskan tubuhnya di atas ranjang bila yang sudah ia booking.
Mereka baru saja sampai dari perjalanan menuju ke tempat liburan mereka. Izza pun sejak di perjalanan yang hanya memakan satu jam setengah tadi hanya diam saja, membuat Chandra merasakan lelahnya mengemudi tanpa obrolan.
"Tengok aja medsos Abang." Izza memalingkan wajahnya menghadap jendela.
Chandra langsung meraih ponselnya, ia mengecek semua sosial medianya tetap berbaring di ranjang. Ia benar-benar lelah, karena mengemudi selama satu jam setengah dalam keheningan. Tentu saja itu menjadi beban tersendiri untuknya.
"Oh, Hevina? Dia teman satu kelas aku waktu study kemarin." Chandra menemukan penyebab kemurungan istrinya.
"Pasti selingkuhannya! Pasti sering chat dan jalan bareng." Izza menahan gejolak yang memuncak di matanya.
"Chat, sering. Itu kita lagi jalan di musim dingin Jepang, kebetulan kan pas itu foto masa kek PKL gitu. Apa tuh namanya? Lupa aku nih. Makanya captionnya juga, ingat masa di mana bulu mata membeku." Chandra menjeda ucapannya. "Yaaa, namanya juga manusia yang biasa hidup di iklim tropis. Sekalinya nempel saku, bulu yang terbuka langsung membeku." Chandra mengatakan fakta yang sebenarnya.
"Tapi kalian cuma berdua." Suara Izza mulai bergetar. Ia pun menyeka air mata, yang tak jebol dari benteng pertahanan kelopak matanya.
"Itu tuh yang foto ramai-ramainya aku jadikan foto sampul. Hevina ambil foto, masa kita lagi jalan ramai-ramai. Kebetulan, masa itu aku dan Hevina jalan beriringan. Kalau aku niat selingkuh, mungkin yang di sana udah punya anak sekarang. Aku empat tahun di sana, Dek. Masa iya, selingkuhan aku tak ketahuan-ketahuan udah lama tuh? Bahkan, foto itu pun aku tak punya. Karena memang Hevina yang ambil gambar, masa kita jalan pulang bareng ke hotel. Waktu di Jepang pun, aku sering video call sama kau kan? Aku sering nawarin mau ini itu tak, terus barangnya aku paketin tuh? Ya kan? Masa itulah aku foto itu. Kebetulan, waktunya di sana lagi musim dingin." Chandra melirik istrinya yang mulai terisak, kemudian ia turun dari ranjang.
Izza seperti menguras kesabarannya. Ia lelah mengemudi, belum lagi sebelum itu Izza mendiamkannya sejak matanya terbuka. Ditambah, ketika baru sampai di tempat liburan istrinya malah menangis.
Chandra bukanlah penyabar seperti kelihatannya. Ada lelahnya untuk menyadari hal yang membuatnya lelah lebih dulu, itu sangat membuatnya menjadi sulit mengerti emosinya sendiri.
"Kenapa ngomong kalau punya selingkuhan, udah punya anak? Sedangkan aku yang istrinya, tak tentu dihamili taknya." Izza tidak menyadari suaminya sudah berada di dekatnya. Ia tetap mencoba menahan isak tangisnya, dengan memandang ke luar jendela agar ia merasa tidak cengeng.
"Kan baru juga sepuluh hari, masa iya langsung hamil aja? Sabar lah, Dek." Suara Chandra yang berada begitu dekat, ditambah dengan pelukan mendadak. Membuat Izza tersentak kaget, meski menyadari itu adalah suaminya.
__ADS_1
"Aku tak dihamil-hamili sama Abang." Tangisnya langsung pecah dalam pelukan suaminya.
Chandra terdiam, ia menghela napasnya dan mengusap-usap punggung istrinya. Persoalan merembet, dari foto bersama wanita, sampai datang ke hamil menghamili.
"Kan kepotong lecet tiga hari, terus haid tujuh hari. Aku capek sedikit, wajar lah. Kek mana harusnya aku ini? Aku kasian loh, kau lecet masa mau aku garap aja. Mana tega aku kalau kau begitu, Dek. Bisa berdarah-darah nanti, ditambah kena darah haid, khawatir infeksi. Untungnya, kemarin lecetnya udah sembuh, terus kau baru haid." Chandra pun tidak mengerti, ia sulit minat karena apa. Alasan itu ditariknya sesuai logikanya saja.
"Kan kita pengantin baru. Abang laki-laki, yang dari cerita biasanya harus buas dan agresif. Setidaknya, lapar sedikit gitu ke istrinya. Nah ini sih, kek butuh tak butuh. Butuh untuk siapin segala-galanya aja, tapi tak butuh di ranjang."
Chandra sempat berpikir, apa penyebab hilang minatnya itu karena ranjang empuk yang nyaman. Karena, ia langsung merasa nyaman ketika sampai ranjang.
"Aku ngantukan terus, keknya jangan tiduran dulu deh kalau kau begituan. Ini pun masih pagi, tapi ada rasa ngantuk karena capek mengemudi." Chandra melirik jam tangannya. Seketika itu juga, Izza melepaskan pelukannya, kemudian ia mendorong dada suaminya pelan.
Chandra terkekeh kecil, kemudian ia memeluk Izza yang terlanjur membelakanginya itu. "Makanya kita liburan nih, biar semangat begituan. Biar bulan depan udah positif hamil deg." Chandra mengusap-usap perut istrinya dari belakang.
"Heem, keknya karena itu deh." Chandra tidak mengatakan jelas, bahwa dirinya merasa kurang minat untuk melaksanakan kewajibannya.
"Aku kurang cantik kah?" Izza langsung memutar posisi duduknya, untuk menghadap pada suaminya.
Chandra cepat menggeleng. "Cantik, putih, hidung mancung, wangi lagi." Itu nilai plus Izza di mata Chandra.
"Dada kurang besar? Apa pinggul aku terlalu kecil untuk pegangan?" Izza menyentuh apa yang ia sebutkan.
Chandra tertawa lepas. Bahkan, ia menyaksikan perempuan benar-benar tanpa pakaian secara langsung baru istrinya saja. Ia tidak mungkin menepis keindahan istrinya, apalagi menilai tentang bentuk indah yang dimiliki istrinya.
"Coba buka bajunya, biar aku bisa nilai." Matanya memandang dada istrinya, dengan ia mengusap-usap dagunya sendiri.
__ADS_1
Izza langsung melepaskan hijabnya, kemudian melepas kemeja berbahan rayon twill tersebut. Ia menyisakan rok span berbahan rajut yang melingkar pas dari perutnya sampai ke menutup kakinya tersebut.
Chandra melongo saja, karena istrinya benar-benar melakukan hal ia anggap bergurau saja. Ia panik, ia cepat-cepat berlari ke arah pintu untuk mengunci pintu kamarnya.
"Ya ampun, Za. Dasar, Ciplukan!" Chandra mengusap-usap dadanya, dengan berjalan ke arah istrinya.
"Apa yang ciplukan?" Ia melirik dadanya yang masih mengenakan cup yang pas di lingkar dadanya tersebut.
Ia langsung berpikir, bahwa yang suaminya maksud untuk meledek dadanya yang menurutnya berukuran kecil tersebut.
"Kau, kek buah ciplukan. Biyung, kek es cendol." Yang Chandra maksud adalah ledekan untuk istrinya. Untungnya, tersampaikan oleh Izza.
"Kecil kah segini?" Izza membuat pengait wadah calon pabrik ASInya, kala suaminya sudah duduk di hadapannya.
Chandra melirik dan mulai fokus ke arah tersebut. "Hmm…." Ia mengira-ngira dengan menyipitkan matanya.
"Pas kok di tangan." Chandra langsung mengukurnya dengan telapak tangannya.
"Serius lah aku ini." Izza menepuk kedua tangan suaminya yang menangkupkan dadanya.
"Ehh…." Chandra terkekeh kecil kembali. "Kalau kecil memang mau diapakan? Apa aku harus tuker tambah? Kan tak mungkin, karena aku cintanya sama kau. Itu yang kau punya, aku nerima pastinya. Masa iya harus aku tiup? Itukan bukan balon." Chandra menarik tangannya kembali, lalu ia memandang wajah suaminya.
Izza memiliki ide. Karena keadaannya yang sudah setengah tidak berpakaian pun, nyatanya tak membuat suaminya menyerangnya. "Coba tiup, barangkali jadi ngembang." Ia tersenyum penuh arti.
...****************...
__ADS_1